
"mas maaf pagi ini aku gak masak mas, aku bangun telat lagian kepala ku pusing sekali, mungkin hari ini aku gak masuk kerja", lirih Diva saat Leon sudah rapi dengan kemeja nya
"Ya sudah aku bisa sarapan di luar, aku berangkat kerja dulu?", Leon meninggalkan Diva yang masih berbaring di ranjang
Diva sendiri hendak bangun untuk mengisi perut, tak baik diri nya yang mual membiarkan perut nya kosong sementara perut harus di isi guna agar dirinya bisa lebih fresh
Diva mengambil nasi sisa kemarin sore, lalu menuang air dan garam ke dalam nya
Diva memakan sedikit dan memuntahkan nya kembali akibat gejolak dari dalam
"Tidak apa-apa aku pasti bisa", batin Diva dan bangkit dari kamar mandi menuju kamar.
Diva membaringkan tubuh dan memejamkan mata sekedar menahan pusing dan mual tapi naas nya Diva tidak bisa tidur
Diva miring kanan dan kiri dengan segala rasa di tubuh nya, tak lama kemudian Diva duduk di tepi ranjang sambil melihat dinding
Mata nya terus menatap jam di dinding, jam terus berputar hingga Leon pulang dari kerja
"Mas sudah pulang?", Tanya Diva yang duduk di tepi ranjang
"Iya... ", Jawab Leon dan duduk di samping Diva, Leon mengambil ponsel dari saku celana dan menyentuh dengan jemari nya tak lama kemudian Leon tersenyum
"Mas, boleh kah bikinin aku teh hangat aku ingin sekali minum teh hangat?", Lirih Diva
"Cih.... ", Leon mendesis dan berlalu keluar rumah, padahal Diva berharap Leon pulang dari kantor dengan membawa makan malam untuk nya, apa Leon tak berpikir sampai situ?", Seperti itulah Diva membatin
Tak lama Leon datang dan memberikan teh Gelas pada Diva
"Ini teh, tadi aku beli rokok dan gak ada kembali nya maka di kasih teh gelas dan ku taruh di jok motor, ini katanya tadi mau teh!", Leon memberikan teh tersebut pada Diva
Dengan tangan bergetar Diva menerima, Leon kembali berbaring dan melihat ponsel sambil senyum-senyum
Mata Diva memanas terasa ingin menangis yang keras tapi ia urungkan
"Mas aku lapar?" Lirih Diva lagi
"Manja amat sih, okay lah kamu lagi hamil tapi jangan manja gini dong, kalau lapar bisa masak kan, oh kalau malas masak bisa beli di luar dan kalau malas keluar bisa pesan makanan lewat Go food kan, apa susah nya!", Pekik Leon dan mendelik ke arah Diva
"Maaf mas, aku kan gak punya ponsel mau pesan makanan lewat aplikasi?", Jawab Diva takut
"Ya sudah kamu mau makan apa biar aku pesan kan?", Leon kembali menatap ke arah Diva
"Terserah mas saja mau pesan kan aku makanan apa"
"Denger ya Diva kita menikah bukan atas dasar cinta, kita ini di jodohkan, dan kenapa aku mau menyentuh mu karena aku tidak tahan dengan tuntutan bapak tentang cucu, dan satu lagi jangan pernah berharap aku akan bisa memanjakan mu, aku tidak suka di khianati?", Sarkas Leon dengan mata memerah dan kasar
"Khianati apa maksud mas, aku gak pernah selingkuh!,", Diva meremas ujung baju dengan mata berkaca-kaca
"Aku tau kamu mencintai lelaki yang pernah memeluk mu itu, bahkan mungkin sampai sekarang kamu mencintai nya tapi dengar baik-baik Diva sampai maut memanggil mu aku akan mempertahan kan rumah tangga ini, biar apa?, Biar kamu menderita", Leon tertawa sinis
"Mas.... Apakah mas tidak sakit saat harus hidup bersama ku sedang mas tak menginginkan ku dan apakah mas bahagia saat bisa melihat ku menderita?"
"Bodoh!, Aku bertahan karena bapak sudah mengirimkan beberapa uang padaku untuk membuka bisnis usaha untuk mu tapi aku tidak rela uang bapak kamu pakai, dan aku sekarang sudah mempunyai pacar "
"Pacar...?, Kamu gila mas, ingat kamu sudah menikah mas"
"Iya aku tau aku hanya memberi tau kamu dan kamu tau pacar ku sangat cantik dan seksi, tidak seperti mu yang buruk rupa dan hitam", ketus Leon dan menatap jijik Diva
"Kamu jahat mas, aku sudah mati-matian berusaha belajar membuka hati untuk mu, belajar menjadi istri yang baik dan aku juga membantu ekonomi mu mas walau tak seberapa, kamu jahat.....", Teriak Diva dengan penuh amarah dan kecewa
"Hentikan!", Pekik Leon dengan nada tinggi
"Tidak mas kamu jahat kamu jahat kamu gak punya hati kamu berkhianat di rumah tangga kita?", Diva lebih meninggikan suara, dan Leon pun merasa naik pitam
Plak.... Plak.....
"Ah.... " Diva terhuyung ke lantai sambil memegang pipi nya yang terasa panas dan perih karena tamparan Leon yang sangat kasar
__ADS_1
"Hentikan ucapan mu wanita miskin, masih untung aku memberikan Bapak dan nenek mu di kampung tempat tinggal, dan aku juga memberikan bapak mu pekerjaan yang layak sebagai petani sayur lengkap dengan ladang, kamu malah mau bikin masalah dengan ku rupanya?"
Diva masih tergugu di lantai
"Glog.... Glong.... ", Tendangan kaki Leon menempati paha Diva dan membuat Diva meminta ampun
"Ampun mas .. cukup mas sakit", ucap Diva sambil menangis
"Dasar wanita murahan, harga diri bisa di tukar dengan uang bapak ku, wanita bodoh!", Umpat Leon
Leon pergi meninggalkan rumah dengan menutup pintu dengan kasar hingga menimbulkan bunyi dor....
Diva keluar dan melihat Leon pergi menggunakan motor milik nya lengkap dengan jaket dan tas ransel, Diva terduduk di teras sambil terisak tanpa menghentikan kepergian Leon
Anis yang baru pulang kerja melihat diva duduk di teras pun mendekat
"Astaga Diva, kenapa dengan wajah mu Diva kok merah begini?, Diva kenapa cepat katakan sama Anis?", Ucap Anis sambil memegang tangan Diva
Diva memeluk Anis dengan erat
"Diva ada apa katakan, siapa yang melakukan ini pada mu va, apa Mas Leon yang melakukan nya?", Tebak Anis
Diva mengangguk sambil mengeratkan pelukan pada tubuh Diva
"Mas Leon bisa masuk penjara atas kasus kekerasan dalam rumah tangga, aku akan membuat laporan?", Anis menatap mata Diva
"Tidak nis jangan, aku malu jika orang tau masalah rumah tangga ku, aku mohon nis jangan?", Ucap Diva
"Terus kamu rela di perlakukan seperti ini, please Diva kamu jangan bodoh, ini perbuatan yang bisa di pidanakan!"
"Nis sudah... Aku gak apa-apa", Diva tersenyum ke arah Anis
"Va... Itu gak benar?", Anis memohon
"Aku tau tapi beri aku waktu untuk menyelesaikan masalah rumah tangga ku secara kekeluargaan tanpa melibatkan polisi", Diva tersenyum lebar walau hatinya perih sangat perih
"Ini....?", Anis menyodokan sebuah ponsel pada Diva
"Kok cepet banget aku kan belum gajian nis nanti saja kalau sudah gajian aku ambil nya?", Ucap Diva
"Ini untuk mu Diva, ambil lah?"
"Hah?", Diva menatap Anis tak maksud ucapan nya
"Ini ponsel lama ku yang sudah tak ku pakai, tadi pagi aku membawanya ke konter untuk di servis dan sekarang ponsel nya sudah di sulap sangat cantik iya kan dan ponsel ini untuk mu, gratiiiss?", Ucap Anis dengan senyum merekah
"Jangan begitu nis aku merasa tidak enak, aku sungkan menerima pemberian orang?"
"Orang ... Va aku ini sahabat mu bukan orang lain, please terima ya, aku akan sedih jika kamu menolak nya?"
"Makasih ya nis?
Anis pun tersenyum menanggapi ucapan Diva, Anis mengambil sesuatu dari dalam tas pundak nya
"Makan lah, ini ada roti panggang?", Anis menyodorkan roti panggang dengan selai coklat yang melimpah
"Hais cepat ambil?", Perintah Anis dan menaruh roti di telapak tangan Diva
"Makasih nis, kamu baik banget?"
"Iya sama-sama, ayo makan lah aku tadi beli dua potong dan satu nya sudah ku makan dan masih sisa satu, aku pikir kamu belum makan jadi makan lah?"
Diva pun membuka bungkus plastik dan mengigit Roti langgang cokelat lumer itu dengan pelan
"Enak banget nis roti nya?"
"Iya dong itu roti mahal tau"
__ADS_1
"Iya kah?"
"Satu potong dua puluh lima ribu, tapi tidak kalah sama rasanya yang endulita, mantap", ucap Anis bangga
"Suatu hari nanti aku akan buka bisnis roti ah, sepertinya bukan ide buruk", Diva tiba-tiba membuka suara
"Boleh, nanti aku yang jadi pelayan nya kamu jadi big bos nya tapi gaji ku harus di bawah persis gaji mu?", Ledek Anis dengan tertawa
"Kamu ada-ada saja nis, kamu sekolah tinggi masa mau jadi bawahan ku yang tak berpendidikan ini, sebaiknya kamu buka usaha apa gitu biar aku bisa kerja dengan mu?", Diva memberi ide
"Ah tidak, aku tidak suka jadi bigbos"
"Aneh....", Tegur Diva pada Anis yang mengoyangkan kaki
"Aku gak suka berfikir va, aku malas berpikir sesuatu yang akan membuat kita pusing dan sakit kepala"
"Hah....", Diva mendengus
"Va apa kamu benar-benar mau berhenti di rumah makan Padang, bukan kah gaji mu lumayan besar?"
"Iya nis aku sekarang lagi hamil muda aku sering mual dan pusing jadi aku takut mengecewakan pak Aman?"
"Aku setuju dnwgan keputusan mu, jika memang itu yang terbaik, lalu apa yang akan kamu lakukan pada mas Leon?
"Aku bingung nis, untuk saat ini aku harus mempertahan kan rumah tangga ku sebisa mungkin, aku gak ingin mengecewakan banyak hati"
"Tapi mereka akan jauh lebih sedih jika tau yang sebenarnya va"
"Bisa jadi begitu, apapun itu nis aku akan mencoba nya dulu"
Diva dan Anis pun mengobrol...
Setidak nya Diva bisa melupakan masalah rumah tangga nya dengan Leon walau hanya sebentar saja
Diva
Fadlu
Leon
Anis
Aidil
Meylin mama tiri Diva
Ilham ayah Diva
bu Aini ibu angkat Diva
__ADS_1
Sherina tunangan Fadlu