
"Bu sarapan dulu?, Ini tadi aku masak mi bihun goreng loh... enak banget Bu aku tambahkan tauge sama bakso HM... Mak nyus rasanya, ayo sarapan dulu gih bu?", Ucap Diva saat melihat Bu Aini berjalan hendak keluar rumah
"Tidak makasih", ucap Bu Aini lirih
"Bu... Diva masak banyak loh, masa ibu gak mau nyicipi masakan Diva sih, ayo lah Bu sarapan dulu?", Bujuk Diva sambil menaruh mi bihun ke dalam piring Sky
"Ibu bilang tidak ya tidak!", Bu Aini pergi meninggalkan Diva dan Sky di ruang makan
Diva pun menghela nafas berat "mungkin ibu masih jengkel dengan ku", batin Diva
Diva menoleh dan mencari keberadaan bik Ira yang tak terlihat oleh mata nya
"Sky sebentar ya ibu mau nyari bibik dulu, ibu mau ngajakin bibik buat sarapan bersama kita?", Diva pergi setelah Sky menganggukan kepala
Diva menuju belakang rumah dan benar saja nampak bibik sedang menyapu halaman belakang
"Bik sarapan dulu yok?", Ajak Diva
"Haduh mba, bibik belum terlalu lapar", jawab Bik Ira dengan seutas senyum
"Ayolah temani kami makan bik?", Ucap Diva lagi
"Baik lah", bik Ira menaruh sapu dari tangan dan mengikuti langkah Diva ke ruang makan setelah mencuci tangan terlebih dahulu menggunakan sabun
"Ibu Aini kemana mba?, Kok Bu Aini gak ikut sarapan?", Tanya bik Ira
"Gak tau bik, tadi sudah pergi keluar mungkin mau ke salon untuk merefresh tubuh" ,jawab Diva asal
"Bu... ?", Panggil Sky pada Diva yang sedang mengobrol dengan bibik
"Iya ada apa sayang?", Diva menatap Sky yang masih mengunyah sarapan dengan begitu semangat
"Ibu suka apa?", Tanya Sky pada Diva , Diva yang tidak maksud ucapan Sky pun mengerutkan kening
"Ibu... Suka ... Apa...?, Gimana sih maksud Sky, ibu bener deh gak maksud", Diva pun tertawa
"Ibu... Jangan tertawa", Sky nampak tidak suka Diva menertawai nya
"Baik lah maaf kan ibu?, Sekarang coba Sky ngomong yang jelas ya, maklum ibu itu tidak pandai jadi harus di jelasin se detail mungkin agar ibu paham okay sayang", bujuk Diva dengan senyum lebar
"Huh, tidak jadi", balas Sky dan mengakhiri sarapan pagi nya, Diva yang melihat sikap aneh sang putra pun hanya menatap penuh tanya dan heran
Tin.... Tin....
"Itu suara bus sekolah nak?", Diva mengambil tas Sky yang ada di kursi dan membawanya menuju ke teras rumah
"Sky berangkat dulu Bu?", Sky mengambil tangan sang ibu dan mencium nya
"Baik lah yang pinter ya belajar nya jangan bandel dan hati-hat....i", Diva berbicara juga belum rampung Sky sudah berlari masuk ke dalam bus
Selepas Diva yakin Sky masuk kedalam bus dan bus benar-benar sudah jalan Diva segera masuk kedalam untuk mengambil tas dan menuju butik milik nya
"Bik aku pamit mau berangkat ke butik?", Diva berjalan terburu-buru keluar rumah
Karena taksi sudah menunggu di depan rumah
Setelah taksi yang di tumpangi Diva berhenti di depan butik Diva di kejutkan dengan Anis yang sudah menunggu nya dan duduk di teras dengan wajah kusut
"Anis....", Lirih Diva dan menghampiri Anis namun Anis berlari dan memeluk Diva dengan isakan yang menyayat hati
"Nis ada apa?", Tanya Diva yang kaget dengan sikap Anis
__ADS_1
Anis masih tak bergeming masih betah memeluk erat Diva
"Nis tunggu bentar aku buka pintu butik dulu ya, jangan disini nangis nya disini banyak orang yang melihat", Diva mencoba menenangkan Anis
Perlahan Diva membuka pintu kaca butik tanpa membuka tanda open bahwa toko sudah buka dan mengajak Anis masuk kedalam kemudian mengajak Anis duduk di kursi rotan yang ada di dalam butik
"Nis ada apa, aku kan sudah janji padamu bahwa aku akan menyelesaikan gaun pengantin mu sebelum hari H pernikahan mu, jadi jangan kahwatir sampai sedemikian rupa?"
"Bukan va bukan itu?", Jawab Anis sedih
"Lalu?, Katakan lah padaku jika ada yang membuat hatimu sesedih ini aku akan mendengar nya, bukan kah dulu disaat aku hancur kamu lah malaikat penolong ku?"
Hiks.... Hiks....
Tangisan Anis jelas terdengar menyayat hati Diva, tanpa Diva sadari mata Diva pun ikut berkaca-kaca melihat Anis sesedih ini tanpa Diva tau sebab nya
"Nis katakan ada apa?", Tanya Diva lagi
"Calon suami ku va, dia.... Dia .. hiks... Hiks....", Anis tak melanjutkan ucapan nya
"Calon suami mu kenapa?", Diva penasaran
"Dia pergi tanpa kabar va, padahal aku sudah memberikan ATM ku padanya, aku mempercayakan semua nya pada nya dan kamu tahu kan va tiga hari lagi seharus nya aku dan dia pulang ke kampung untuk mengadakan ijab qobul"
"Nis... Jangan berpikiran buruk dulu, coba kamu datangi rumah nya dan tanyakan ke temen-temen nya dulu atau kamu hubungi keluarganya?", Diva mencoba menenangkan Anis
"Sudah va, aku sudah ke kontrakan nya dan ibu kontrakan bilang dia sudah pergi dengan membawa seluruh barang-barang nya, lalu aku tanyakan ke pada teman-teman nongkrong nya pun sama jawaban nya mereka semua tidak tahu, va bagaimana ini tolong aku va?"
Diva pun terdiam dan mencoba mencerna perkataan Anis, Diva tau pasti bagaimana perasan Anis saat ini, antara hancur sedih dan kecewa dan khawatir menjadi satu
"Tenangkan dirimu, aku akan bantu kamu okay, apakah kamu sudah menghubungi keluarga calon suami mu?", Bujuk Diva dan menghapus bulir bening di pipi Anis
"Itu bodoh nya aku va, aku lupa meminta nomor telepon keluarga nya!", Ucap Anis sedih
Diva berniat tak membuka butik hari ini, ia ingin membantu Anis memecahkan teka teki kepergian calon suami Anis
Padahal pernikahan sudah di depan mata
"Ayo kita ke bank?", Ajak Diva
"Untuk apa?", Anis menatap mata Diva
"Aku ingin melaporkan kehilangan kartu ATM milik mu dan menanyakan apakah uang di rekening mu aman apa sudah raib, jadi ada dua alasan jika masih ada berarti ada sesuatu hal yang di rahasiakan calon suami mu dan kalo uang mu raib berarti kita harus melaporkan kasus ini ke polisi?
"Va jangan pakai polisi aku mohon?", Lirih Anis penuh penekanan
"Nis ini tidak benar, pokok nya kali ini tolong ikuti apa kataku?", Diva mengenggam tangan Anis dan menuju ke Bank
Sesampainya di Bank Diva menceritakan soal kehilangan ATM ke pihak Bank
Setelah bank melacak, uang di dalam rekening Anis sudah tidak ada dan baru saja di ambil seluruh nya tak bersisa
"Va.... Aku di tipu sama lelaki Bajin*** va bagaimana ini, va tolong aku, mati aku va kalau bapak sampai tau kejadian ini?", Anis menangis terisak
"Tenang nis, aku sudah membuat laporan atas kasus penipuan yang dilakukan sama calon suami mu dan aku yakin polisi akan segera menangkap dia okay?", Diva menyakinkan Anis yang terlihat frustasi
"Va.... Aku malu va, apa kata orang di kampung atas kabar gagal nya pernikahan ku padahal bapak di kampung sudah membuat pesta yang meriah va?", Anis masih menangis terisak
"Nis... Sudah ya jangan sedih lagi?", Bujuk Diva
"Aku bayar pakai apa, sedang kamu tau bapak meminjam uang uwak ku buat resepsi pernikahan itu dan aku akan mengganti nya setelah aku sampai kampung halaman?"
__ADS_1
"Nis sabar ya!, Ayo ikut aku pulang kerumah ku dulu saja, aku tidak tega membiarkan mu sendirian di kontrakan?", Diva mengandeng tangan Anis yang terasa melemas
****
Diva menuntun Anis masuk kedalam rumah dan di sambut penuh keheranan oleh Bu Aini yang melihat wajah Anis yang sembab
Tak lama kemudian mobil Aidil terparkir di halaman rumah Bu Aini dan membuat Diva mengerutkan kening, Diva merasa heran tidak biasanya Aidil pulang siang ke rumah Bu Aini
"Duduk lah?", Perintah Bu Aini pada Diva
Diva mengajak Anis duduk di sofa dan meminta bik Ira membuatkan teh hangat untuk Anis
Anis masih memegang tangan Diva dengan erat, Anis rasa ingin mati saja sangking pening merasakan hidup nya
"Ibu....?", Aidil mencium tangan ibunya dan duduk di samping ibu tercinta
"Kak ada apa dengan Anis?", Tanya Aidil
"Panjang ceritanya Dil", jawab Diva pelan sambil mengusap tangan Anis
"Dil sekarang kamu sudah di rumah jadi ibu mau bilang sama kamu sekarang", Bu Aini memandang lurus ke depan
"Katakan lah Bu", jawab Aidil menoleh ke arah ibu nya walaupun ibunya tak melirik sama sekali
"Bagaimana kabar pernikahan mu dengan Liu apakah baik-baik saja?"
"Kenapa ibu tanya begitu, tentu baik-baik saja Bu!", Jawab Aidil yakin
"Jangan bohongi ibu?" ,Ketus sang ibu
"Apa maksud ibu?", Aidil bingung dengan ucapan sang ibu, sedang Diva menunduk dalam tak sanggup menyaksikan perdebatan antara ibu dan anak ini
"Kamu pikir ibu tidak tau kalau Liu istrimu itu selingkuh hah, ibu kecewa dengan mu Dil, kamu sebagai lelaki tidak ada tegas sama sekali, bahkan kamu diam walau kamu tau istrimu selingkuh lelaki macam apa kamu itu?"
Aidil terdiam mendengar penuturan sang ibu, bahkan Aidil sendiri sudah tau saat Liu lupa membawa handphone dan dengan sengaja Aidil membuka chat mesra Liu di handphone dan beberapa foto kiss di memori handphone Liu
Tapi Aidil berusaha bertahan dengan pernikahan gila ini agar sang ibu tidak sedih dan kecewa tapi nyatanya sang ibu malah mengetahui nya sendiri
"Kenapa diam, jawab ibu Aidil?", Bentak sang ibu
"Maaf kan Aidil Bu, maafkan Aidil yang mengecewakan ibu, maaf kan Aidil Bu?"
"Ceraikan perempuan murahan itu dan menikahlah dengan Diva?", Ucap Bu Aini tajam
Mata Aidil membelalak ssmpurna tak yakin dengan ucapan sang ibu
"Tapi Bu, aku dan kak Diva tidak saling mencintai dan aku tidak mau memaksakan kehendak Bu, aku ingin kak Diva bahagia setelah kepedihan nya, aku gak mau kak Diva menderita di pernikahan kedua nya", jawab Aidil tegas
"Kamu menentang ibu, bukan kah ibu tidak pernah menyuruh mu Aidil, bukan kah ibu selalu memberi kebebasan padamu sampai akhir nya kamu memilih Liu padahal dengan jelas ibu menolak nya saat itu dan kini kamu menentang ibu lagi?", Bu Aini terisak
"Ibu aku mohon pilih lah wanita manapun tapi jangan kak Diva aku mohon Bu, aku menyayanginya selayaknya kakak kandung ku sendiri Bu, aku tidak mungkin mampu melakukan hubungan lebih dengan nya?"
"Oh... Baik lah bagaimana kalau dengan Anis saja, bukan kah Anis masih lajang dan belum menikah?", Tiba-tiba Bu Aini melirik ke arah Anis yang pucat pasi dengan mata membengkak karena menangis sehari semalam
"Apa?", Lirih Anis
Aidil menatap Anis yang nampak menyedihkan, entah lah ada apa dengan wanita itu sampai penampilan nya begitu menyedihkan
"Iya bagaimana kalau dengan Anis nak?", Tanya Bu Aini memelas
"Baik bu aku setuju, bahkan seminggu lagi aku siap sangat siap, menikah lah dengan ku Aidil", jawab Anis tergugu
__ADS_1
Diva pun refleks tegang dan memanas dengan ucapan Anis yang menyanggupi bahkan mengajak tanpa di pikir terlebih dahulu