
Hari ini Fadlu mendatangi butik milik Diva
Fadlu melihat dari kejauhan Diva yang masih mengukur beberapa kain untuk di bentuk dan di jahit
"Mas jadi masuk apa enggak, apa mau disini terus sampai malam?", Suara Aldo membuyarkan lamunan Fadlu
"Sebentar lagi do, aku masih pengen disini", Fadlu tersenyum ke arah Aldo
Setelah beberapa saat akhirnya Fadlu masuk ke butik dan menemui Diva
"Lagi sibuk banget ya?", Tanya Fadlu
"Enggak juga sih, eh tumben main ke butik ada apa?", Tanya Diva kembali
"Gak ada apa-apa va, cuma pengen main saja, apa kamu keberatan?"
"Ah tidak, pintu rumah maupun pintu butik selalu terbuka untuk sahabat ku"
Aldo pun pergi meninggalkan Fadlu yang sedang mengobrol dengan Diva
Aldo nampak mendekati seorang karyawati yang bekerja di butik Diva yang sedang kesulitan memasang baju ke badan patung yang akan di pajang
"Perlu bantuan tidak?", Seru Fadlu
"Boleh... Jika tidak merepotkan mu, ini tolong gunting ya?", Titah Diva
Fadlu pun menggunting bahan pakaian itu menurut pola yang sudah Diva tandai
Setelah beberapa saat sudah selesai menggunting Diva langsung menjahit di beberapa bagian pinggir dan ujung pakaian
"Ini baju apa va?", Tanya Fadlu
"Hem biasa lah baju untuk santai bisa untuk dinner bisa, untuk tidur juga bisa, kan baju nya nurut mau di pakai apa saja sama pemakai nya gak bakal lari teriak bilang aku gak mau iya kan"
"Is kamu ini aku tanya bener-bener jawaban nya ngelantur", Fadlu merasa dongkol
"Iya.. iya maaf, ini baju bisa di pakai di luar rumah dlu, sejenis dress gitu"
"Berapa harganya?", Tanya Fadlu
"Dua ratus ribu saja", jawab Diva menempel renda di bagian tengah di bawah dada dengan melingakar dari depan ke belakang
Lalu memasang tali samping kanan dan kiri
Lengan berbentuk bunga-bunga sampai siku dan ada bordir berbentuk butterfly di atas kanan baju, bagian kerah yang berbentuk huruf U menambah kesan anggun pada dress berwarna Salem tersebut
__ADS_1
"Aku beli ya?", Seru Fadlu dengan tersenyum
Dan memegang dress tersebut
"Boleh banget", jawab Diva
Fadlu pun menunggu Diva menyelesaikan jahitan baju yang sedang di kerjakan nya sampai benar-benar selesai
"Bayar nya ke kasir ya pak?", Goda Diva saat Fadlu akan membayar pakaian tersebut
"Baik Bu", Fadlu menggoda Diva kembali
"Memang nya gak rugi apa va baju sebagus ini hanya kamu patok harga dua ratus ribu?", Keluh Fadlu saat melihat baju di genggaman nya dan berjalan menuju kasir dengan di barengi Diva
"Ya rugi dan untung itu tergantung dari hati kamu saja sih dlu, aku membeli kain itu dari produsen langganan aku, lalu aku membuat pola dan mulai membuatnya, sebenarnya harga baju itu jika di butik lain akan mencapai lima ratus ribuan"
"Lalu kenapa di butik mu kamu jual begitu murah?"
"Bukan murah sih tapi aku tidak akan memberatkan setiap orang yang ingin tampil cantik, kamu ingat bagaimana susah nya hidup aku dulu kan dlu, jangan kan baju cantik untuk bisa makan saja aku sudah sangat bersyukur"
"Enggak gitu juga kali VA, kamu bisa lihat-lihat dong, kamu boleh menaikan harga baju mu karena aku yakin orang yang membeli baju mu itu adalah orang mampu, nah baru kemudian sebagian uang nya kamu sumbangkan ke tempat amal iya kan?"
"Betul juga ide kamu dlu!", Seru Diva
"Makasih dlu"
Fadlu mendekati kasir dan membayar sejumlah uang yang diminta
Fadlu membeli sebuah kemeja berwarna senada dengan dress yang ia beli barusan
"Do jangan godain anak orang?", Seru Fadlu saat melihat Aldo tertawa cekikikan dengan karyawati butik
"Apaan sih mas ini", keluh Aldo
"Ayo pulang?", Ajak Fadlu kepada Aldo yang masih nampak enggan untuk pulang kerumah sangking keasyikan ngobrol sama seorang karyawati
"Ada apa sih dlu?", Tanya Diva saat melihat Aldo dan Fadlu saling tertawa
"Ini va karyawati mu ada yang di godain sama si Aldo, nanti kita nikahkan saja mereka berdua langsung jika masih cekikikan begitu"
"Ide bagus dlu", seru Diva
"Siapa nama mu?", Tanya Fadlu menatap seorang gadis yang duduk berdua dengan Aldo
"Sinta mas", jawab nya lirih
__ADS_1
"Baik Sinta, jika kamu setuju aku bisa menikahkan kalian segera bagaimana,menarik bukan?", Goda Fadlu dengan sebuah senyuman
"Wah nanti aku kado gaun pengantin yang indah untuk kalian", seru Diva menggoda Sinta yang nampak malu-malu
"Ih kalian ini apa-apaan sih, aku masih terlalu kecil kali buat nikah, lah kalian yang sudah sama-sama dewasa kapan nikah nya?"
Sontak ucapan Aldo membuat Diva maupun Fadlu saling menatap dan diam
"Kan bingung mau jawab apa?", Tawa Aldo pecah huahuahua
Sinta pun diam-diam ikut tertawa lirih
"Dasar bocah som*lak", Fadlu menarik tangan Aldo untuk segera pergi
"Sampai bertemu lagi mba Diva, Sinta aku pulang dulu", seru Aldo yang di tarik oleh Fadlu menuju mobil
****
"Bagaimana kalau kita coba Dil?", Tanya Anis pada Aidil
Malam ini Anis memakai baju lingerie nan seksi untuk mencoba membangkitkan gairah kelelakian suaminya
Setelah beberapa lama mereka mencoba namun gagal itulah kata akhirnya
Membuat Aidil sebagai lelaki merasa malu dan hilang harga diri
"Jangan sedih Dil, kita kan masih berusaha ya?", Seru Anis mengusap punggung Aidil
"Tapi mau sampai kapan nis, aku malu padamu Karana penyakit ku ini"
"Sabar Dil, aku yakin dengan kita rajin berobat kamu akan segera membaik dan sembuh dan kita akan punya anak ya?", Anis menyemangati Aidil yang mulai mengubur sehala impian
"Kalau seandainya aku gak sembuh bagaimana nis, apakah kamu akan selalu disisi ku?", Tanya Aidil dengan mata berkaca-kaca
"Apapun itu aku akan selalu bersama mu hingga memutih rambut ku, aku yakin suatu hari nanti kamu akan sembuh Dil, percaya padaku?", Anis memeluk tubuh Aidil yang merasa terpuruk
Sebagai lelaki Aidil merasa sangat tidak berguna, untuk apa Harta benda yang ia punya melimpah ruah kalau pada hakikat nya hidup nya tidak lah normal
Aidil merasa di tengah keputus asaan ada sosok yang sangat membuat dirinya semangat dan kuat, dialah Anis, wanita yang bersedia menemani dan menerima segala kekurangan nya tanpa memberi tahu kepada siapapun tentang derita nya
"Nis... Besok aku akan mengambil cuti, aku akan mengambil pengobatan ke luar negeri, ini sungguh tidak bisa di tunda lagi, kita sudah menikah hampir tiga bulan lebih dan aku belum menunaikan kewajiban ku memberi mu nafkah batin sebagai seorang suami yang seutuh nya"
"Aku akan mendukung apapun keputusan mu Dil, karena aku yakin itu yang terbaik untuk kita berdua", seru Anis dan memakai baju piyama
Anis pun keluar untuk mengambil air minum di dapur, namun dirinya di kejutkan dengan
__ADS_1