
"va bagaimana dari tawaran pak kades apa jawaban mu, katakan lah nak jangan merasa takut apalagi gak enak, jika tidak maka katakan tidak dan jika kamu setuju maka katakan iya?", Ucap Ilham yang sudah rapi dan duduk di teras sambil menyesap secangkir kopi
"Bukan kah cinta hadir Karana sering nya bersama pak?", Tanya Diva
"Bisa jadi iya bisa jadi tidak. Bapak sendiri gak tau karena bapak menikah karena atas dasar cinta"
Diva tersenyum ke arah Ilham dan Ilham pun membalas senyuman Diva dengan penuh kehangatan kasih sayang seorang ayah
Tin... Tin....
Suara klakson motor pak kades, pak kades di bonceng sedang yang nyetir motor belum di ketahui karena memakai masker
Diva dan Ilham yang tengah duduk di teras menatap motor yang berhenti di pekarangan rumah dengan seksama
"Assalamualaikum pak Ilham?", Pak kades menjabat tangan Ilham dan Diva
Kemudian seorang pria dewasa telah membuka masker dan jaket dan menaruh ke atas motor milik nya
Pria tersebut mendekati Diva dan Ilham lalu berjabat tangan "ini Leon anak saya pak Ilham, Leon Baru saja sampai dari kota tadi siang"
"Oh iya iya", jawab Ilham dan Diva pun berlalu ke dalam untuk membuatkan dua tamu itu secangkir kopi
"Leon tadi itu Diva anak nya pak Ilham calon istri kamu kalau dia mau?", Celetuk pak kades
Leon tak menjawab hanya membalas ucapan bapak nya dengan tersenyum kecut
"Leon ini sudah bekerja di salah satu perusahaan di kota pak, gaji nya lumayan cukup kalau hanya untuk memenuhi tanggung jawab sebagai kepala keluarga?"
"Bagus lah .... Diva akan menjafi perempuan yang beruntung jika menikah dengan Leon", ucap Ilham
"Silahkan diminum?", Ucap Diva dan menaruh dua gelas kopi ke atas meja
"Diva boleh minta waktu sebentar buat ngobrol?", Cegah pak kades saat Diva hendak masuk ke dalam
"Ayo Leon, ngobrol lah dengan Diva biar kalian saling kenal dan bisa akrab", pak kades menatap Leon dan Leon pun berdiri dan mengajak diva berbicara
Mereka duduk agak jauh dari pak kades dan Ilham bahkan bila mereka ngomong keras pun agak sulit di dengar kedua orang tuanya yang sedang asik bercengkrama
"Apakah kau tidak punya pacar Diva?", Tanya Leon saat Diva memilin ujung baju nya
"Tidak"
"Lalu bisa jelaskan kenapa kamu mau di jodohkan dengan ku?"
"Aku.... Aku.. ", diva bingung harus menjawab apa
"Kenapa diva katakan lah, aku sudah siap mendengar jawaban mu?"
__ADS_1
"Aku ikut arus saja, ibarat air aku mengikuti bagaimana alur nya"
"Bagus lah anak baik dan penurut tidak seperti aku yang liar", ucap Leon
"Hah.. ", Diva menghela nafas, nyatanya duduk berdua dengan Leon tak seindah saat dirinya duduk bersama Fadlu "ah mikir apa aku ini?", Batin Diva memberintak
"Kamu tau alasan bapak menjodohkan kita?, Alasan nya cukup bikin aku ketawa, masa aku yang liar jika di jodohkan dengan mu yang kalem maka akan jadi rumah tangga yang bahagia, benarkah begitu!, Aku sendiri tidak yakin?", Sarkas Leon
"Biar lah waktu yang menjawab", Diva menimpali tanpa menoleh
"Apa kamu yakin akan bersungguh-sungguh mau menikah dengan ku va, apa kamu gak takut aku akan melukai mu, sedang kamu tau pernikahan kita tanpa cinta"
Diva mengeluarkan airmata tanpa berbicara apa pun lagi, matanya menerawang jauh ke angkasa raya, apa yang di katakan Leon benar, apa dia bisa hidup bahagia menikah tanpa cinta
Sedang Diva sadar hati dan jiwa nya mencintai Fadlu
"Tapi setelah melihat mu aku yakin pilihan bapak ku tepat dan terbaik, aku menerimanya va, semoga kita akan segera bertemu di penghulu", Leon meninggalkan Diva yang masih menangis sesenggukan
Diva berusaha menghapus air mata di pipi nya dan berusaha berjalan di belakang Leon dan menghampiri kedua orang tua yang lagi berunding
"Bagaimana Anak ku Leon apakah kamu setuju bapak jodohkan dengan Diva!", Pak kades tersenyum ke arah Leon
"Iya pak Leon setuju", Leon menjawab dengan tegas dan yakin
"Kamu Diva bagaimana, apa kamu bersedia menikah dengan Leon?"
Diva terdiam sesaat sebelum akhirnya Diva menganggukan kepalanya sebagai tanda terima
Setelah mereka berbincang banyak hal apa saja rencana mereka ke depan nya dan sedikit ngobrol ngalir ngidul akhir nya pak kades pun segera pulang ke rumah nya
Ilham juga sudah masuk kedalam kamar nya, nenek juga sudah tertidur di kamar hanya menyisakan Diva yang masih duduk di teras
Diva menatap bintang berharap ada keajaiban yang datang namun itu semua nihil bagi nya
"Fadlu aku mencintai mu, maafkan aku dlu?, Biarlah cinta ini hanya menjadi sebuah doa yang tanpa di ketahui orang lain?", Lirih Diva dan beranjak ke dalam kamar
Selesai menangis di kamar Diva pun memejamkan mata indah nya dan beralih ke alam mimpi
*****
Setelah di bahas secara gamblang maka pernikahan di tetapkan tahun depan
Tepat sebulan setelah Diva berumur dua puluh tahun
Diva baru pulang dari pasar sehabis belanja keperluan rumah karena sang nenek mulai sakit-sakitan jadi kini Diva lah yang menjadi satu-satu nya orang yang harus mengurusi rumah, Diva bertemu dengan orang yang sangat tidak asing bagi nya
"Diva.....", Seru lelaki itu dengan sumringah
__ADS_1
"Fadlu...?", Diva ragu mengucapkan nama itu, kini Fadlu terlihat keren dan modis seperti orang-orang kota, di tambah kulit Fadlu kini lebih putih di banding kulit Diva dan itu membuat Diva minder
Fadlu menatap leher Diva yang masih memakai kalung pemberian nya dan itu sungguh luar biasa mampu membuat Fadlu tersenyum lebar
"Bagaimana kabar mu va?", Tanya Fadlu
"Baik dlu?"
"Va aku denger kamu mau menikah sama Leon ya, va jangan menikah sama Leon ya?", Ucap Fadlu tegas
"Apa urusan dan apa hak mu bilang seperti itu coba?", Ketus Diva
"Karana aku mencintai mu Diva, aku ingin hanya aku satu-satu nya orang yang akan selalu kau cinta"
"Lalu jika aku membatalkan pernikahan ini apa kamu sudah siap menikah dengan ku hari ini juga, kamu belum bisa kan dlu?"
"Jadi kamu ngebet nikah Karana pengen itu-itu ya?", Tanya Fadlu
"Tutup mulut mu kamu ini bicara apa?"
"Va aku mohon tunggu aku lima tahun lagi, setelah aku bisa meraih cita-cita ku aku janji akan langsung meminang mu?", Fadlu meminta dan memelas pada Diva
"Dlu... ?", Jawab Diva
"Aku janji setelah aku sukses aku akan datang melamar dan menikahi mu, aku janji Va!" Fadlu meyakin kan Diva lagi
"Baik lah aku pegang ucapan mu Fadlu", Fadlu pun memeluk Diva untuk pertama kalinya
Diva sendiri ingin memberontak saat Fadlu memeluk nya tapi cinta memaksa nya menerima pelukan itu
"Hey kalian ini apa-apaan?", Seru Leon yang tiba-tiba datang
"Mas Leon?", Lirih Diva
"Aku pikir kamu itu perempuan baik va nyatanya kamu sama saja kayak perempuan yang lain, kamu munafik va... Wanita seperti ini kok di bilang wanita baik-baik, hello bapak menilai baik darimana nya?", Seru Leon keras
"Cukup mas?", Fadlu mencoba membela Diva
"Kamu lagi ngapain mau jadi pahlawan buat dia, kamu siapa?", Leon menatap tegas wajah Fadlu
"Aku ... Sahabat Diva dan sekarang aku kekasih Diva", tegas Fadlu sok gentle man
"Hahaha lucu ini lucu", jawab Leon
Diva hanya berdiam mematung menyaksikan kedua lelaki itu beradu argumen
"Maju lah selangkah saja untuk berusaha menghianati ku maka tamat lah riwayat mu Diva sayang", bisik Leon di telinga Diva dan membuat tubuh Diva bergetar
__ADS_1
"Hey hentikan apa yang kamu ucapkan pada Diva, kamu jangan coba-coba mengancam nya ya?", Fadlu menatap nyalang Leon
Leon tak perduli ucapan Fadlu, dengan cepat Leon pergi menggunakan motor milik nya