
Diva duduk di tepi pantai di temani oleh Fadlu sambil memantau Sky yang sedang asyik bermain air dan pasir di pinggir pantai
Beberapa kali Sky melempar senyum dan candaan pada Fadlu, sambil terus bermain pasir, membuat lukisan dan rumah dari pasir
Diva kali ini fokus ke layar handphone karena Anis sedang bertanya bagaimana cara memasak Pindang, bukan tidak mau membuka goggle atau you tube tapi Anis lebih yakin resep dari Diva jauh lebih nyata enak nya
Diva tersenyum saat Anis sulit membedakan mana ketumbar mana lada yang sudah berbentuk bubuk, sementara Diva tidak menulis pada setiap wadah tentang apa isi di dalam nya walau diva yang menata perabot di dapur
"Yah Tante rusakin lukisan pasir aku, padahal aku sedang melukis wajah paman dengan susah payah", Sky berkata dengan sendu
"Oh ma'af tante tidak sengaja, soalnya Tante tidak lihat ada lukisan kamu disini"
"Huh....", Sky mendengkus kecewa
Fadlu pun mendekat ke arah Sky dengan mengesot "sudah lah jangan bersedih nanti paman akan bantu Sky melukis lagi, bagaimana?", Fadlu melirik sekilas wanita di samping Sky dan Fadlu pernah melihat bahkan sampai ramai sebelum nya
"Baik lah", jawab Sky cepat
"Maafkan aku mas, aku benar-benar gak sengaja, soalnya aku sedang... ", ucapan wanita itu terhenti saat ada seseorang dengan wajah merah padam mendekati nya
"Ayo pulang!", Ketus si lelaki yang tak lain adalah Leon
Diva pun menoleh dan menghentikan memberikan tutorial masak pindang kepada Anis
Mata Diva memanas, jantung nya kian berdetak lebih cepat, selama sepuluh tahun baru kali ini Diva bertemu Leon kembali
"Aku gak mau mas, jangan paksa aku!, Aku mau pulang kerumah Ibu saja titik", jawab si wanita itu lantang
"Apa kamu bilang, pulang kerumah ibu mu, jangan mimpi kamu?", Leon menyeret si wanita itu walau si wanita terus meronta
Leon menyeret si wanita yang berusaha menghentakan badan nya ke tanah dan mengundang perhatian banyak orang
"Tolong saya mas?", Lirih wanita itu pada Fadlu, menatap dan memohon penuh Iba.
Fadlu yang bimbang pun hanya diam mematung tanpa reaksi.
"Apa kamu gak salah mau minta tolong sama orang cacat, sungguh tidak masuk akal, dasar wanita bodoh plus murahan kamu", pekik Leon dan menarik lengan si wanita kembali
"Dia fisik nya yang cacat mas, lah kamu cacat hati dan pikiran", sengit si perempuan dan membuat Leon merasa lebih marah, Leon menekan lengan si wanita lebih kencang
Diva pun mendekat dan menghentakan tangan Leon dengan kekuatan penuh hingga pegangan tangan itu terlepas, jelas terlihat lengan si wanita memerah kebiruan
Mata Leon memerah dengan rahang nya mengeras, Diva pun tak kalah menatap tajam mata Leon
"Jangan ikut campur penghianat, ah apa kalian sama-sama wanita murahan jadi mau saling tolong menolong?", Gumam Leon
"Aku bukan ikut campur tapi kamu melakukan kekerasan di tempat umum dan saya bisa saja melaporkan kamu ke kantor polisi, jika kamu orang punya malu tentu tidak akan mengulang kesalahan untuk yang kedua kalinya", seru Diva
"Apa kamu mau memenjarakan ku untuk yang kedua kalinya jangan harap wanita murahan, kamu pikir kamu itu siapa gak usah sok kamu", ketus Leon
__ADS_1
"Kamu ya ... dari dulu gak pernah bisa berubah, jika ada masalah tolong selesaikan dengan baik-baik di rumah jangan pakai kekerasan apa gak bisa?", Seru Diva menatap tajam ke arah Leon
"Ibu.... ", Sky memeluk ibu nya, Sky takut ibu nya di tatap seorang lelaki dengan wajah penuh amarah, Sky takut ibu nya di lukai
"Paman jangan kasar dong bicara nya!", Sky mengenggam tangan Diva dan menatap wajah Leon yang hampir mirip dengan nya
Leon seketika menunduk dan berlalu pergi tanpa berucap apapun lagi, hati Leon bergemuruh, dulu Leon sama sekali tidak mengharapkan kehadiran seorang anak dari Diva namun sekarang Leon sangat berharap memiliki anak namun sang istri maupun dirinya sama-sama tidak subur juga
"Apakah dia anak kandung ku, kenapa aku jadi Kelu walau hanya untuk sekedar menatap nya", Leon membatin dan terduduk di dalam mobil milik nya
"Terimakasih mba", ucap si wanita dengan senyum yang berkaca-kaca
"Iya sama-sama, mari ikut kami duduk dulu", tawar Diva lalu memberikan sebotol air mineral
"Makasih banyak mba", si wanita meneguk beberapa teguk air mineral yang di berikan Diva dan menutup botol air tersebut lalu terdiam tanpa suara
"Sabar mba aku juga pernah mengalaminya", lirih Diva sambil mengusap punggung wanita di samping nya
"Benarkah, lalu bagaimana akhir nya mba, apakah suami mba bisa berubah?", Tanya si waniya dengan mata berkaca-kaca
"Tidak!", Jawab Diva
"Lalu... ", Si wanita menatap Fadlu dan Sky yang sedang bermain pasir
"Dia bernama Fadlu sahabat ku mba, dan itu anak ku bernama Sky, anak kandung ku bersama suami ku yang dulu", lirih Diva memejamkan mata, Diva sadar terlalu perih untuk mengingat kenangan itu
"Oh iya kita belum berkenalan, perkenal kan nama ku Diva mba, nama mba siapa?"
"Nama ku Anggia mba", Anggia nampak mengusap air mata yang masih setia di sudut netra nya
"Aku sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi selain mas Leon suami ku mba, maksud ku bapak dan ibu ku menentang keras hubungan ku dengan mas Leon tapi aku menentang nya, hiks... Hiks...."
Diva mengusap bahu Anggia memberi kekuatan agar Anggia jauh lebih sabar dan ikhlas
"Aku malu jika harus pulang ke rumah orang tua ku, tapi... Aku gak kuat jika harus hidup bersama mas Leon mba?"
"HM.... Sulit di mengerti Anggia, aku juga pernah berada di posisi mu, aku tau bagaimana rasanya"
"Mba tolong aku, aku tidak punya uang jika harus pulang ke kampung halaman orang tua ku?", Lirih Anggia
"Iya Anggia aku pasti membantu mu jangan khawatir, tenang kan hati mu ya"
"Terimakasih banyak mba", Anggia mengenggam tangan Diva
Diva pun tersenyum penuh kasih "oh iya kamu tinggal dimana, maksud ku kampung halaman mu?"
"Aku tinggal di desa Kamboja mba"
"Kamboja... Itu kecamatan desa Campa kan, wah kita masih satu kecamatan dong!"
__ADS_1
"Benarkah, mba orang mana memang nya?"
"Bapak dan nenek ku tinggal di desa Campa, bapak ku bernama Ilham apa kah kamu mengenal nya?", Tanya Diva
"Iya mba aku pernah mendengar nya, pak Ilham itu mempunyai toko yang besar dan bapak ku salah satu pelanggan pak Ilham, bapak ku kalau membeli obat dan sembako ke toko pak Ilham, dan mba ini anak nya pak Ilham aku gak nyangka bisa bertemu mba disini"
"Iya ya", jawab Diva
"Mantan suami mba orang mana?", Tanya Anggia
"Orang Campa juga, dulu anak nya pak Kades, dia membawa ku ke kota dan setelah itu dia ... Ah aku tidak mau mengingat nya lagi, aku cukup merasakan tanpa mau mengingat kembali nggi"
"Siapa namanya mba?", Tanya Anggia penasaran
"Apa kamu benar-benar gak tau Anggia?", Diva menatap manik Anggia
Anggia menggelengkan kepala
"Suami mu lah mantan ku!", Lirih Diva dengan memejamkan mata karena menahan agar air matanya tidak tumpah hanya karena ingat lelaki seperti Leon
"Apa... Mas Leon mantan mba Diva?", Anggia membelalakan mata dan mengepalkan tangan menahan sesak
"Aku gak nyangka mba, ini benar-benar sebuah kebetulan atau apa?", Gumam Anggia dengan mata yang kembali berembun
"Sudah lah Anggia jangan menangis lagi, terlalu sayang air mata mu jika harus menangisi lelaki seperti mas Leon"
"Mas Leon tidak pernah mengatakan jika mantan istrinya adalah mba Diva, yang ia katakan hanyalah jika mantan istrinya adalah seorang penghianat, menikah dengan nya karena uang tanpa cinta dan hanya bertahan selama satu tahun", lirih Anggia menatap mata Diva
"Apa mas Leon mengataka jika aku menjebloskan nya kedalam penjara?", Tanya Diva
"Tidak!", Anggia mengelengkan kepalanya
"Biarkan mas Leon mengatakan apapun yang ingin dia katakan, yang terpenting jangan pernah meminta hak asuh Sky dan menginginkan Sky, mas Leon tidak pernah mengakui jika Sky itu anak nya dan aku kabul kan keinginan nya"
"Mba.. kenapa aku baru tau sekarang, disaat semuanya sudah terlambat, setelah aku kehilangan nyawa ibu ku mba", Anggia menangis terisak-isak
"Maksud mu apa Anggia!", Seru Diva
"Ibu ku meninggal setelah aku memilih kawin lari dengan Mas Leon mba, aku menyesal mba, apa yang harus aku lakukan?", Anggia menangis histeris
Anggia menangis meraung-raung menyesali kebodohan nya yang mencintai lelaki seleti Leon, "mba tolong aku?", Anggia menangis di pangkuan Diva dengan wajah yang ia benamkan di tanah
"Anggia sabar, Ikhlas, inilah jalan takdir yang harus kamu tempuh"
"Mba... Apa yang harus ku lakukan?", Anggia masih menangis terisak
"Pulang lah, minta maaf lah kepada kedua orang tua mu, jangan pikir kan masalah biaya biar itu menjadi urusan ku", Diva mengusap rambut Anggia yang berantakan karena kepiluan
Fadlu yang sedikit banyak mendengar ucapan antara Diva dan Anggia hanya mampu menghela nafas berat, Fadlu Tidak menyangka dan tidak habis pikir jika Leon mampu menyakiti dua wanita yang pernah menjadi istri sah nya.
__ADS_1