Menggapai Asa Dalam Doa

Menggapai Asa Dalam Doa
episode 57


__ADS_3

Selepas dari Klinik Fadlu masih mengenggam erat tangan Diva tak mau melepas nya walau sebentar


"Terima kasih ya sudah menolong ku?", Ucap Diva pelan


"Iya sama-sama, lagi pula itu sudah kewajiban ku untuk menjaga mu di siang dan malam mu", balas Fadlu


"Hehehe bisa saja", lirih Diva masih dengan senyum yang sama


"Mulai sekarang tidak akan ada satu lelaki pun yang bisa menyentuh apalagi sampai menyakiti mu va, aku akan memastikan keselamatan dan kebahagiaan mu slalu"


"Dan aku tidak akan mau berpacaran lagi Fadlu, kita sudah dewasa"


"Kita akan menikah, besok!"


"Apa..., Is ada-ada saja", jawab Diva terkekeh


"Ini serius va, selepas kamu sembuh dari luka mu, aku akan datang menemui pak Ilham dan aku akan meminta restu nya langsung padanya, kamu berhak bahagia va"


"Aku tau dlu, tapi ini terlalu cepat"


"Cepat apanya, dua belas tahun setelah aku dan kamu saling menyatakan cinta namun terpisah oleh tembok penghalang yang bernama waktu dan kini kita sudah bersatu lagi va, jadi mau nunggu apa?"


"Dua belas tahun yang lalu", lirih Diva


"Iya dua belas tahun kamu menyimpan cinta untuk ku sebegitu rapi dan baik, lain dengan ku yang sudah berkali-kali bermain api cinta"


"Tapi kamu belum pernah terjerat hubungan pernikahan", Diva menundukkan pandangan ke bawah sambil memilin ujung baju nya


Baju kemeja yang baru saja Fadlu berikan padanya karena baju Diva robek oleh tarikan Leon yang beringasan


"Tapi aku lebih parah dari itu va, siapa perduli dengan status sementara pergaulan ku lebih buruk dari pada status mu", tegas Fadlu


Diva pun menatap wajah Fadlu tak percaya, lalu menunduk lagi


"Percaya lah semoga dengan kita bersama kita mendapat kebahagiaan yang nyata, kamu bahagia dan aku pun sama"


"Baik lah semoga saja", lirih Diva dan tersenyum lagi


"Hebat ya mas Fadlu, kekuatan cinta bisa membuat kaki Lumpuh bisa sembuh seketika", celetuk Aldo dari kemudi sana


Diva pun menatap mata Fadlu yang melirik kanan dan kiri "benar aku sampai lupa!", Kini Diva memegang kedua kaki Fadlu


"Sudah lah jangan di bahas lagi, jika ada yang tanya bilang saja kaki ku masih sakit", Fadlu sedikit menekan


"Aneh loh mas, bukan nya senang kaki nya bisa jalan lagi, eh malah kita di suruh berkata dusta lagi"


"Tinggal Zip tutup mulut apa gaji ke potong, gitu saja kok repot"


"Kebiasaan deh, pasti pakai ancam potong gaji, aku perlu banget yang namanya duit mas jadi jangan sampai gaji ke potong"


"Bagus", ucap Fadlu mengejek sambil memainkan mata dan membuat Aldo mendengkus kesal


Setelah sampai di depan rumah, dengan santainya Fadlu masih menggunakan kursi roda dan Diva berjalan di samping Fadlu, sementara Aldo yang mendorong kursi tersebut

__ADS_1


Tiba-tiba Fadlu menarik tubuh Diva hingga Diva jatuh di pangkuan Fadlu


"Seperti ini saja", lirih Fadlu sambil mendekat ke wajah Diva


"Ingat ada bocil disini", sergah Aldo, sekilas Diva tersenyum dan hendak bangkit


"Kan aku bilang jangan bergerak cukup duduk di pangkuan ku saja, atau kamu sengaja bergerak-gerak di atas pangkuan ku buat menggoda anu ku"


Sebuah cubitan Diva daratkan di pinggul Fadlu "aduh sakit... ", Fadlu mengusap bekas cubitan Diva


"Kasian Aldo dong pasti Aldo keberatan jika harus mendorong kita berdua", Diva bangkit


"Nah kan kalau mba Diva mah selalu pengertian gak kayak mas Fadlu yang kejam", keluh Aldo sambil mencoba mendorong kursi roda yang di tumpangi Fadlu dengan perlahan


Dengan sigap Fadlu berdiri dan Diva di gendong menuju teras rumah, tiba-tiba teras terbuka dari dalam, Diva pun di turunkan secara tiba-tiba dan Fadlu pura-pura duduk


"Ciye malah pangku-pangkuan kayak film Bollywood saja", ucap Anis


Diva pun dengan cepat segera berdiri dan Sky dari dalam menghambur memeluk Diva begitu erat


"Darimana saja sih kamu ini, kamu tau tidak kamu tuh sukses membuat orang serumah khawatir dan cemas", keluh Anis


"Ceritanya di dalam saja ya, aku lelah", potong Aldo sambil mendorong kursi roda Fadlu masuk kedalam ruang keluarga


"Jadi gimana ceritanya?, Kok kamu bisa sampai di perumahan di jalan Diponegoro?", Anis penasaran


Diva merebahkan badan di sofa dan Sky pun ikut rebahan di samping Diva, sementara Anis duduk di samping Aidil


"Ini semua karena Leon", jawab Fadlu yang ada di sebelah Aidil


"Mas Leon, mau apa lagi sih dia itu, selalu saja menganggu hidup orang lain", sarkas Anis geram


"Perlu di kasih pelajaran tuh si Leon, apa tidak puas membuat mu menderita selama ini", Bu Aini tak kalah geram


"Apa kamu sudah lapor polisi atas tindak kejahatan yang di lakukan Leon, dlu?"


"Sudah tenang lah aku sudah melumpuhkan nya, aku sudah membuat nya babak belur, syukur-syukur dia enggak mati, setelah aku dan Aldo pergi polisi datang ke TKP"


"Syukur lah", ungkap Bu Aini lega dan memeluk Diva dengan erat, masih teringat jelas saat pertama kali Bu Aini bertemu Diva yang babak belur karena KDRT yang di lakukan Leon dan kini hampir terulang lagi


"Kenapa Ayah jahat sama ibu, kenapa Ayah seperti itu Bu, Sky benci sama Ayah, Sky benci orang namanya Leon melebihi apapun", lirih Sky namun terdengar oleh Diva


"Sky... Sky enggak boleh ngomong kayak gitu", Diva membelai pipi Sky yang merah dengan tangan terkepal


"Kenapa tidak boleh sedang orang yang bernama Leon itu selalu saja menyakiti ibu, jika suatu hari nanti Sky sudah besar dan orang itu menyakiti ibu, Sky janji akan menghajar atau bahkan Sky akan membunuh orang yang bernama Leon tersebut"


Bukan hanya Diva tapi yang lain nya pun terperangah oleh ucapan yang di lontarkan Sky, bagaimana mungkin anak berusia sepuluh tahun itu bisa berkata demikian rupa


Diva mengusap lengan putra semata wayang nya dengan lembut, Diva tau Sky sedang emosi, di jawab atau di nasehati pun akan susah di terima oleh akal anak-anak seusianya


Setelah emosi Sky mereda Aldo membujuk Sky agar mau kembali bobok karena hari sudah mau menjelang pagi dan mata Aldo begitu lengket


"Sky bobok yok ini sudah malam?", Ajak Aldo pada Sky dan dengan langkah berat Sky mengikuti ajakan Aldo, setelah di janjikan akan berlibur ke Labuhan Bajo setelah ulangan semester nanti

__ADS_1


Aldo malas tidur dengan Fadlu yang mengatakan jika dirinya beringsik karena mengorok, dengan Aldo tidur dengan Sky, Fadlu bisa leluasa tidur di kamar tamu tanpa menganggu tidur Diva


Sementara Diva membersihkan badan nya dan berganti pakaian di dalam kamar


Sambil masih mengobrol bersama Anis, Aidil dan Fadlu sambil sesekali menikamtai pure tea yang di buat oleh bik Ira tadi


Bik Ira sendiri sudah kembali istirahat begitupula dengan Bu Aini yang kelelahan


Banyak hal yang mereka ceritakan hingga hampir pagi hari menjemput


Diva pun beristirahat di kamar tanpa berniat keluar menemui Fadku dan yang lain nya, lelah dan sakit menyelimuti badan nya


"Kenapa mas Leon selalu berlaku jahat padaku?", Sebegitu benci kah ia padaku?, Apa ada salah ku hingga membuat nya bersikap demikian, ya Tuhan bukalah pintu hatinya agar bisa bersikap baik terhadap ku dan terhadap siapa pun", Lirih Diva mengusap air mata yang membasahi pipi kuning langsat nya


Diva terus memejamkan mata namun tak bisa, akhir nya Diva beranjak ke depan ke ruang keluarga, disana tampak Fadlu dan Aidil sedang mengobrol dengan riang


"Lah enggak jadi tidur mba?", Tanya Aidil


"Enggak bisa merem", balas Diva lalu duduk di singel sofa


Aidil pun menguap beberapa kali dan beranjak masuk menyusul Anis yang sudah terlelap didalam sana


"Ngantuk banget, aku tidur dulu ya", pamit Aidil dan menepuk pundak Fadlu


Fadlu pun tersenyum sambil mengangguk mengiyakan.


Setelah menyaksikan Aidil benar-benar masuk kedalam, Fadlu langsung bangkit dari kursi roda mendekati Diva


"Hey mau ngapain?", Bisik Diva sedikit mendesis


"Ya mau dekat sama kamu lah, mau ngapain lagi coba?", Jawab Fadlu sambil mesem-mesem


"Ih sok imut", hardik Diva, dengan spontan kini Fadlu sudah duduk di samping Diva


"Ini untuk mu", Fadlu memberika sebuah kotak bertuliskan Xai jewelry pada Diva


"Apaan?"


"Sini biar aku buka", Fadlu membuka bok tersebut, tampak lah sebuah kalung berwarna putih glow dengan liontin Love bermanik di sebagian tengah


"Kalung untuk apa?", Tanya Diva menatap mata Fadlu dalam


"Aku ingin kamu memakainya va"


"Aku tidak mungkin menerima nya dlu, kita belum ada ikatan apapun dan aku tak berhak untuk menerima kalung itu"


"Va ayolah, anggap saja ini kalung sebagai tanda jadi kita, aku ingin serius sama kamu va, aku sudah mengabari ibu bahwa Minggu depan aku akan pulang ke desa untuk melamar mu"


"Apa.....", Diva terkejut sangat terkejut


"Kenapa, senang apa senang", goda Fadlu sambil memakai kan kalung tersebut ke leher Diva


Awal nya Diva menolak tapi setelah Fadlu merayu berbagai cara akhir nya Diva menyerah dan pasrah saat kalung itu melingkar menghias indah di leher milik nya

__ADS_1


__ADS_2