
"kamu mau kemana Sky?", Diva yang sedang menyisir rambut menghentikan aktivitas nya saat melihat Sky bergegas keluar dari kamar setelah berpakaian rapi
"Sky mau main Bu, di depan rumah Tante Anis rame banget banyak anak kecil nya?"
"Oh main lah tapi jangan lari-lari dan ingat jangan main jauh-jauh apalagi sampai nakal, Sky kan masih baru belum tau jalan jadi jangan keluyuran ya?"
"Siap Bu", Sky berlari keluar rumah dan menuju halaman rumah Anis yang rame anak kecil sedang bermain
Diva melihat ibu Aini yang tertidur pulas, pasti ibu Aini kelelahan sampai tertidur begitu, Diva pun mengambil jepit rambut lalu mengikat nya
Diva keluar dari kamar lalu menutup nya perlahan, takut jika Bu Aini kebangun karena suara keras.
Diva mendekati kursi kayu dan duduk disana sambil menyeruput teh hangat yang tadi belum sempat di minum nya ternyata di bawa ke rumah pakde Parman oleh pihak keluarga Anis
Pintu kamar kedua terbuka tampak lah Fadlu yang keluar dari kamar tersebut.
Fadlu yang belum mandi masih terlihat kusut
Dan rambut yang acak-acakan, mungkin baru bangun tidur, Fadlu mendekati Diva yang tengah duduk di kursi dan duduk di kursi depan Diva sambil menatap wajah Diva
"Bagaimana kabar mu?", Fadlu masih menatap dalam wajah Diva
Diva masih menunduk dalam berharap air mata nya tidak jatuh "baik dlu", jawab Diva pelan
"Aidil sering menceritakan tentang kakak angkat nya dan aku sama sekali tidak tau jika orang yang selalu Aidil ceritakan itu adalah kamu va, aku turut sedih atas jalan hidup yang harus kamu lalui?", Fadlu masih menatap Diva intens
"Makasih atas pengertian nya", jawab Diva pelan
"Kenapa sikap mu berubah va, dimana Diva yang selalu berbicara riang dan gembira, terkadang suka ceplas ceplos kenapa kamu sekarang jadi lebih dingin sangat berbicara dan apakah kamu selalu menunduk jika di ajak bicara orang?"
"Tidak begitu dlu", Diva mengangkat wajah nya dan mencoba tersenyum
"Nah gitu dong, oh iya apa kamu jarang pulang ke kampung Campa va, sepertinya aku tidak pernah bertemu dengan mu setelah kepergian ku untuk melanjutkan sekolah kala itu?"
"Ya pernah lah hampir setiap setahun sekali aku pulang ke kampung Campa"
"Tapi aku tidak pernah bertemu dengan mu, sekarang kamu kerja apa va?"
"Aku buka usaha butik dlu", Diva menunduk lagi, entah lah Diva tak sanggup jika harus memandang apalagi sampai menatap mata Fadlu
"Apa setelah perceraian mu dengan Leon kamu belum mengisi hati lagi, tampak nya kamu masih betah menyendiri padahal Sky sudah berusia sembilan tahun?", Fadlu memcoba mengakrab kan diri seperti waktu silam
"HM.... ", Diva hanya tersenyum dan tidak menjawab pertanyaan Fadlu
__ADS_1
Diva tidak tau harus menjawab apa, yang jelas Diva sedang tidak ingin membahas urusan hati
"Aku sekarang sudah jadi dokter loh Va?", Fadlu mengatakan dengan eksperi penuh bangga
"Selamat ya, dan semoga ilmu yang kamu dapat bisa membantu orang lain tanpa terkecuali"
"Makasih", Fadlu mengisi gelas dengan teh yang ada di teko kemudian meneguk nya hingga tandas
"Ngapain kalian?", Tiba-tiba Sherina keluar dari kamar ke satu dan menatap Diva sinis
"Gak ada kita cuma lagi ngobrol sambil minum teh, sini Sher minum teh?", Fadlu menimpali dengan senyum
Sherina pun duduk tepat di samping Fadlu dan mengambil gelas Fadlu menaruh nya kembali ke nampan
"Jangan minum teh dengan gula sembarangan, kamu harus jaga agar tidak terkena diabetes terlalu dini?", Sherina berucap
"Iya Bu Dokter Sherina, makasih sudah mengingatkan tapi kayak nya jangan berlebihan deh", Fadlu membalas ucapan Sherina dengan masih tersenyum
"Aku permisi dulu, nanti jika ibu menanyakan aku tolong katakan aku ke rumah Anis?", Pamit Diva dan segera berlalu keluar dari rumah pakde Parman untuk menemui Anis
Sherina hanya tersenyum kecut, sedang Fadlu masih menatap punggung Diva yang berjalan semakin menjauh
"Jangan tergoda janda gatel beib, masih cantik kan juga aku, ingat dia itu siapa, dan aku adalah seorang dokter dan cantik", Sherina berucap karena seolah menerima sinyal buruk dari Diva dan Fadlu
Fadlu dan Sherina pun menghabiskan waktu dengan mengobrol tentang pekerjaan dan karir serta masa depan yang cerah mereka sampai lupa kalau hari sudah menjelang malam.
Sherina tetap pada pendirian awal, jika mereka akan menikah setelah mampu membeli rumah mewah
Padahal Fadlu sebenarnya sudah ingin mengakhiri masa lajang nya, namun Sherina terlihat enggan membahas masalah pernikahan
"Woy kalian asyik bener ngobrol nya?", Aidil baru bangun karena mendengar adzan Maghrib berkumandang dari mushola terdekat
"Iya dong, wah calon pengantin baru sudah bangun rupanya?", Tanya Fadlu dengan menggoda
"Maghrib woy maghrib?", Balas Aidil ketus dan mengambil handuk di gantungan
"Ayo Bu ... Boleh ya ayo lah?", Suara Sky dari luar teras terdengar meminta sesuatu hal dan membuat Aidil mendekati arah suara itu
"Sky mau apa mba?", Tanya Aidil menatap Sky yang memegang erat pergelangan tangan Diva
"Ngajakin ke mushola Dil", jawab Diva
"Ya sudah tinggal ke mushola kok harus pakai drama merengek segala sih Sky?", Aidil kembali bersuara
__ADS_1
"Sky gak mau sendirian paman, Sky mau sama ibu, Sky mau ke mushola tapi harus sama ibu", jawab Sky masih dengan menghentak-hentak kan kaki
"Ya sudah sih mba tinggal temenin Sky ke mushola, aku mau mandi dulu?", Aidil berlalu membawa handuk yang di ngenggam nya ke kamar mandi
Semetara di mushola sudah terdengar orang sedang melantunkan pujian sambil menunggu jamaah datang untuk sholat Maghrib bersama
"Ayo Bu.... Ayo....?", Sky menarik-narik tangan Diva namun Diva masih diam terpaku Diva bingung bagaimana cara menyampaikan masalah nya pada Sky
"Berangkatlah va, biasanya kamu juga senang sholat berjama'ah!", Seru Fadlu yang mendekati Diva dari arah pintu
"Aku lagi M.... Dlu, aku gak bisa ke mushola?", Diva akhirnya mengatakan alasan nya enggan ke mushola dan Fadlu pun tersenyum mendengar penuturan Diva
"Ngomong dong dari tadi, ayo Sky sama Paman saja, ibu mu sedang sakit perut dan butuh ke kamar mandi", Fadlu mengambil tangan Aku
Sky masih bergeming "ayo nanti keburu iqomat loh ayo?", Sky pun berjalan ke mushola beriringan dengan Fadlu
Diva masuk kedalam rumah dan Sherina sudah ada di depan pintu sambil tersenyum miring "dasar janda gatal?", Ucap nya
"Apa?", Diva yang merasa Sherina sedang oleng pun memberanikan diri menatap wajah Sherina tak percaya dengan ucapan dokter muda itu
"Apa kamu pikir aku gak tau kalau kamu berusaha mengambil hati kekasih hatiku, kamu menggunakan anak mu untuk menarik perhatian nya, dasar wanita mura***?", Sinis Sherina
"Itu tidak benar dokter Sherina yang terhormat, anda salah paham?", Jawab Diva lembut
"Jangan kamu pikir kamu bisa merebut kekasih ku dari ku ya, apa kamu sudah lama haus belaian kasih sayang sampai pacar orang juga mau kamu ambil?"
"Cukup dokter Sherina?", Pekik Diva dan membuat Bu Aini yang baru keluar dari kamar menatap dua wanita yang sedang saling menatap
Aidil
Anis
Sherina
Diva
__ADS_1