Menggapai Asa Dalam Doa

Menggapai Asa Dalam Doa
episode 63


__ADS_3

Pagi hari Fadlu dan Aldo bergegas kembali ke kota, Fadlu sudah akan kembali bekerja di Bougenvile Hospital sebagai dokter


Perjalanan yang harus di tempuh selama lima jam tersebut dapat di lalui oleh Aldo dan Fadlu dengan cepat


Kebetulan hari pertama kerja, Fadlu mendapat sip malam, jadi dari desa Campa mereka berangkat jam tujuh pagi dan sampai kota jam dua belas siang.


Sesampainya di apartemen Fadlu langsung tidur dan kembali bersiap untuk kerja setelah jam lima sore


"Mas mau berangkat, ayo aku antarin", seru Aldo dan meraih jaket di atas sofa


Fadlu pun mengikuti Aldo dari arah belakang, setelah mobil melaju Aldo mulai membuka suara


"Mas, kalau bisa tolong Carikan aku pekerjaan yang lain saja"


"Loh kenapa memang nya kamu enggak betah kerja sama aku, apa gaji nya kurang besar?"


"Bukan begitu mas, aku enggak enak cuma makan tidur dan antar jemput mas dapat gaji dan makan"


"Udah lah jangan merasa enggak enak, kalau kamu merasa bete dan boring saat nganggur enggak ada kerjaan, kamu boleh bantu-bantu di butik Diva"


"Wah serius nih mas", Aldo tampak bersemangat


"Kerja ya, bukan godain anak orang"


"Is apaan sih mas ini", desis Aldo


"Sebulan lagi resto akan buka jadi kamu siap-siap saja pindah kerja kesana", ucap Fadlu serius


"Sebulan lagi ya?"


"Iya... Sekarang kita lagi progres pelunasan barang-barang furniture dan perabot apa saja yang di perlukan, dana nya gak sedikit, apalagi aku harus nabung juga buat biaya nikah"


"Semangat dong mas!"


"Semangat lah masa enggak"


Tak berselang lama mobil terparkir di halaman Bougenvile hospital dan Fadlu segera turun dari mobil


"Nanti jemput jam sebelas malam", lirih Fadlu di kaca mobil yang terbuka dan di acungi jempol oleh Aldo seraya berkata "siap bos"


Saat Fadlu mulai masuk banyak karyawan yang memandang Fadly senang, pasal nya semenjak kecelakaan yang membuat kaki nya lumpuh Fadlu tak sekali pun menginjak kan kaki nya ke Bougenvile hospital


"Hey sudah sembuh kamu dlu, syukurlah aku senang lihat kamu sudah baikan", seru Antony dokter spesialis THT


"Alhamdulillah ton, bagaimana kabar mu sekarang?", Fadlu kembali menepuk bahu Antony yang hendak melangkah pulang tersebut


"Kabar ku ya begini lah dlu, aku juga lagi dapat musibah"


"Semoga ada hikmah di balik musibah yang sedang kamu alami ya ton?"


"Mudah-mudahan dlu, walau kecil kemungkinan nya"


"Jangan pesimis gitu dong, katakan pada dunia bahwa aku bisa'

__ADS_1


"Aku bisa hidup tanpa istri ku begitu kah dlu", Fadlu mengernyit dengan ucapan Antony


"Maksud mu masalah apa sih ton?", tanya Fadlu gamang dan mencari jawaban atas ucapan yang baru saja di lontarkan oleh Antony


"Istri ku meninggal dlu bersama anak yang sedang di kandung nya", air mata Antony luruh di hadapan Fadlu, nampak jelas kesedihan yang teramat dalam di wajah Antony


"Aku turut berduka cita ton, maaf aku enggak tau musibah yang menimpa mu, sungguh aku tidak tau, maafkan lah aku ton?"


"Iya tidak apa-apa dlu, aku ngerti dan aku paham keadaan mu, kamu juga pasti terpukul karena kelumpuhan mu waktu itu"


"Kuat ya ton, sabar dan ikhlas", Fadlu menepuk bahu Antony yang masih bergetar menahan tangis


"Aku masih mencoba untuk selalu ikhlas dlu"


"Duduk lah", Fadlu mengajak Antony duduk di kursi yang ada di lorong rumah sakit sambil sesekali melirik ke arah Antony


"Bagaimana kejadian nya istri mu meninggal ton?", tanya Fadlu


"Saat itu istri ku bilang sakit perut, setelah ku cek suhu tubuh nya pun panas tinggi juga, aku mengajak nya ke dokter tapi ia menolak dengan dalih tidak apa-apa.


Antony menghela nafas berat lalu menghembuskan nya kembali, lalu aku mengendong nya menuju mobil untuk pergi ke rumah sakit, istri ku muntah-muntah dan kaki nya bengkak padahal usia janin nya masih di bilang muda, sampai di rumah sakit istri ku masuk ruang ICU, aku panik dong"


Antony memejamkan mata


"Selang beberapa jam dari situ, detak jantung istri ku melemah dan .......", Antony mengusap wajah nya berulang kali


"Aku tau ini berat ton, kamu harus kuat ya, aku yakin sekarang istri mu sudah tenang di alam sana"


"Iya terimakasih dlu, maaf aku terlalu sedih jika ingat peristiwa itu, meski kejadian itu sudah berlalu sebulan yang lalu, tapi hatiku sakit jika mengingat hal itu, istri ku wanita baik dan penuh cinta kasih terhadap ku tapi mengapa dia meninggalkan ku dan Zey terlalu cepat"


"Aku pulang dulu ya", Antony berdiri dan pamit akan segera pulang, Zey pasti sudah menunggu nya di rumah


"Hati-hati di jalan, salam untuk Zey", jawab Fadlu


Setelah pertemuan nya dengan Antony, Fadlu jadi berpikir untuk lebih menjaga dan tidak menyia-nyiakan waktu saat masih di beri kesempatan bersama dengan orang yang di cintai di dunia ini, jika kisah nya sudah seperti Antony, tidak akan ada jenis materi apapun yang mampu mengembalikan nyawa seseorang yang telah hilang


Fadlu masuk ke dalam ruangan nya dan di sambut ramah dan penuh senyum oleh suster khusus di ruang kerja nya


Malam ini tidak terlalu banyak pasien yang berkunjung di meja kerja Fadlu dan itu sedikit meringankan pekerjaan nya, jika di tilik nyatanya Fadlu belum terlalu full tenaga dan pikiran, masih lelah dan butuh energi baru


Tepat jam sebelas Fadlu keluar ruangan dan hendak pulang kerumah, Fadlu menunggu Aldo di halaman rumah sakit, karena akan memudahkan Aldo mendapati nya sedang menunggu


Seseorang menepuk pundak nya dari belakang " Fadlu. ... Kamu sudah sembuh?" Seru Sherina begitu antusias


"Alhamdulillah seperti yang kamu lihat Sher"


"Wah kapan nih acara makan-makan buat ngerayain kesembuhan kaki mu, sudah ku bilang kan kalau kamu bakal sembuh, dan benar kan ucapan ku", seru Sherina sambil senyum yang terus mengembang


"Iya", jawab sedikit Fadlu sambil melirik ke kanan dan ke kiri menatap Aldo yang tak kunjung tiba


"Nungguin supir ya, bareng aku saja sekalian dari pada lama-lama nunggu iya kan"


"Ah tidak, terimakasih atas tawaran nya sher"

__ADS_1


"Ayo lah kita pulang bareng saja, enggak apa-apa lagi, biasanya juga selalu bareng iya kan"


"Tapi kini aku sudah punya calon istri Sher jadi aku harus bisa menjaga sikap untuk tidak berdua-dua dengan wanita lain"


"Apa calon istri sejak kapan?"


"Semalam", balas Fadlu


"Siapa kah calon istri mu tersebut"


"Diva"


"Apa Diva si janda gatal itu, hahaha aku enggak nyangka dlu setelah kamu ngajakin aku nikah dan aku tolak kamu frustasi dan memilih akan menikah dengan si janda ... Hahhaha"


"Memang apa bedanya Diva sama kamu, kalian tidak jauh berbeda kan", sahut Fadlu dengan senyum jahat


"Ya beda lah dlu, mata kamu ini apa tidak berguna dengan sempurna, oh my God, kamu sama kan aku sama si janda itu ya pasti beda banget lah"


Fadlu melirik jam tangan sudah hampir sepuluh menit ia menunggu Aldo dan sialnya ada Sherina yang menganggu mood nya, hati yang awalnya baik jadi keruh kek kolam


Mobil pun tampak dan sebuah senyum hadir di bibir Fadlu "aku pulang duluan", ucap Fadlu tanpa menoleh dan langsung masuk kedalam mobil "ayo jalan cepat!"


"Ih ada apa mas, galak amat"


"Ada apa ada apa, gak nyadar kalau lagi salah, ngapain telat?"


"Maaf sih mas, tadi aku pelan-pelan karna jalanan masih rame dan padat"


Fadlu menatap lurus ke depan dengan wajah masam, entah lah mengapa dengan hatinya, dulu ia begitu memuja Sherina namun sekarang ia begitu ilfeel saat menatap wajah Sherina


"Wanita sepertinya tidak akan bisa di ajak hidup susah, kalau pun kita terpuruk sudah pasti kita akan di tinggalakan", desis Fadlu dan terdengar oleh Aldo


"Wanita yang mana mas?", tanya Aldo keppo


"Siapa lagi kalau bukan mba mu"


"Mba ku yang mana, perasaan aku anak pertama deh"


"Sherina si idola mu itu lah"


"Oh mba Sherina to ku pikir siapa, enggak papa lagi mas kalau dia nyebelin faktanya mba Sherina cantik"


"Cantik kamu bilang, huh"


"Lah cantik lah, body nya aduhai, pekerjaan bagus apalagi yang kurang coba"


"Kurang setia"


"Hahaha jaman sekarang mah uang yang bicara mas, ada uang Abang di sayang enggak ada uang Abang ku tendang", Aldo sedikit bernyanyi sambil mengejek


"Halah kalau di kasih kamu juga enggak bakal nolak"


"Di kasih apaan dulu tuh mas, kalau di kasih ya mau lah kayak enggak tau barang bagus saja", Aldo kembali tertawa

__ADS_1


"Dasar ....", Fadlu mengacak-acak rambut Aldo dan kembali duduk dengan tenang


__ADS_2