Menggapai Asa Dalam Doa

Menggapai Asa Dalam Doa
episode 16


__ADS_3

Rumah Diva di hias tapi tidak begitu meriah, hanya hiasan biasa agar terlihat lebih cantik dalam menyambut akad pernikahan Leon dan Diva


Tamu undangan hanya tetangga sebelah, aparat desa dan keluarga dekat saja.


Akad nikah ini di gelar cukup pivasi tanpa pesta, hanya ada pengajian itu pun di panjatkan di rumah pak Kades


Diva di dandani oleh perias yang sudah terkenal di desa Campa tersebut!


Memakai kebaya putih dengan rambut di sanggul lengkap dengan aksesoris di kepala


"Sepertinya calon suami mu membelikan baju kebaya ini terlalu besar untuk mu va, lihat lah masih sedikit kebesaran di bagian pinggang", ucap sang perias dan Diva hanya membalas dengan senyum merekah


"Va kamu gak ada kawan apa gimana, masa di acara yang sakral begini tamu undangan hanya dari keluarga kedua belah pihak dan orang-orang penting di kampung!, Kamu tau va ini terlalu mengundang curiga buat kaum emak-emak", sang perias masih bermain di pipi Diva untuk memberi blush on


"Maksud mba perias bagaimana?", Tanya Diva


"Di kira kamu nabung dulu, jadi nanti kalau lahiran bilang nya baby nya prematur", sarkas sang perias tanpa merasa apakah Diva baik-baik saja apa merasa sedih atas ucapan nya


"Sudah.. sudah jangan dipikirin va, kadang mba perias mah gini kalau udah ngomong suka baper akut?", Sang perias menambahkan lipstik merah cabe ke bibir mungil Diva


Diva hanya diam tak berniat menjawab pertanyaan mba perias, mau jawab apa juga percuma ini bukan waktu buat debat


Pintu kamar di buka "Va sudah siap kan, ayo kita keluar akad akan segera di mulai?", Nenek mendekat dan memegang tangan Diva


"Sudah mulai?", Diva menatap nanar mata nenek yang sudah memakai kebaya dengan senyum yang berbinar


"Iya va ayo....", Nenek mengandeng tangan Diva di sebelah kanan bersama sang perias di sebelah kiri Diva menuju meja akad


Diva berjalan sangat lambat dan dengan pelan perlahan-lahan Diva duduk di dekat Leon, mba perias segera mengambil veil untuk menaruh di atas kepala Leon dan Diva


Entah bagaimana awal nya saat penghulu mulai mengucap salam dan memberi arahan dalam prosesi ijab kabul mata Diva tanpa permisi mengeluarkan cairan bening di kedua netra nya


"Air mata ini tidak sopan, turun di tempat umum tanpa di minta", diva membatin


Acara ijab kabul yang di selenggarakan cukup tenang dan berjalan dengan begitu lancar tanpa ada kendela, ketika penghulu selesai mengucap Doa untuk kedua pengantin tiba-tiba pandangan Diva menjadi buram lama kelamaan jadi gelap


Suasana jadi riuh karena pengantin wanita pingsan seleppas akad nikah, mungkin Diva terlalu bahagia itulah komentar salah satu warga yang datang sebagai saksi


"Bawa ke dalam kamar saja?", Ucap Ilham saat Leon mengendong tubuh Diva

__ADS_1


Leon menatap kasur lusuh Diva dan membaringkan tubuh Diva disana


Setelah nenek Diva mengusap minyak angin ke beberapa bagian tubuh Diva tak berselang lama Diva pun membuka mata nya dengan oandangan datar


"Nenek tau kamu terlalu bahagia, berbahagia lah cucu ku, nenek senang akhir nya kamu sudah menikah va, nenek merasa bahagia yang luar biasa", nenek masih memijit kaki Diva


"Nek....", Diva bangkit dan memeluk nenek dengan erat


"Sekarang kamu bukan anak kecil lagi, kamu sudah jadi seorang istri jadi nenek harap jadilah istri yang baik buat suami mu?"


"Apa yang di katakan nenek mu itu benar ga, sekarang waktu nya kamu berbahagia bersama pendamping hidup mu, kamu tudak perlu cemas memikirkan nenek dan bapak lagi", Ilham memeluk Diva yang masih terisak


"Bapak sayang dengan mu nak!"


****


"Harus hari ini pulang ke kota Leon apa tidak bisa lusa jadi nenek bisa membuat oleh-oleh untuk kalian?", Nenek Diva termanggu saat Leon berpamitan akan ke kota selepas jam sepuluh pagi


"Sebenar nya Leon itu hanya cuti lima hari nek, kalau Leon tidak segera pulang ke kota yang pertama Leon akan kena sanksi yang kedua Leon akan kesulitan memberi tau Diva tentang kehidupan di kota"


"Tapi Leon... Nenek masih belum tega melepas Diva untuk berjauhan dengan nenek"


Nenek Diva masih berdiam merenung


"Sudah lah Bu... Biarkan Diva belajar hidup mandiri bersama suami nya, kita doakan yang terbaik buat Diva", Ilham memberi pengertian pada nenek


"Baik lah, jika kalian mau ke kota pergi lah?", Lirih nenek


"Baik dan terimakasih nek?"


"Kalian mau berangkat sekarang?", Nenek menatap Leon


"Iya nek aku harus ke rumah bapak terlebih dulu untuk pamitan juga"


"Oh.... Baik lah"


"Kami pamit ya nek?", Leon menjabat tangan nenek dan kemudian menjabat tangan Ilham


Diva yang sedari tadi berkaca-kaca pun menangis saat menjabat tangan sang nenek

__ADS_1


Ini pertama kali nya Diva meninggalkan rumah, Diva pasti akan selalu merindukan nenek dan Bapak


Begitu lah suara tangis Diva


"Hati-hati Diva jaga diri baik-baik, nenek sayang Diva?", Nenek mengenggam tangan Diva yang sudah berada di jok motor belakang


"Nek....", Diva tak kalah bersedih saat dengan pelan tapi pasti motor itu melaju meninggalkan rumah yang telah membesarkan nya selama ini


"Sudah lah Diva hapus air mata mu, aku gak suka lihat perempuan cengeng!", Ketus Leon


"Iya mas maaf", lirih Diva


Tak lama kemudian sampai lah mereka di rumah pak kades, kedatangan mereka di sambut ramah oleh pak kades tapi tidak dengan Bu kades


"Mana barang bawaan mu va?, Apa kamu yakin pindah rumah hanya membawa ransel saja, astaga apa kamu gak punya baju?", Cibir Bu kades saat memberikan satu kardus makanan pada Leon


",Ibu ini ngomong apa sih?", Lirih pak kades tak suka dengan ucapan Bu kades


"Kami pamit pak.. Bu...?",Leon berpamitan dengan kedua orang tua nya dan di susul Diva mengikuti di belakang nya


"Hati-hati Leon?", Ucap Bu kades dengan senyum


"Iya Bu", Leon pun segera naik motor dan Diva juga bersiap saat motor melaju dengan kecepatan yang lumayan


"Kamu tahan kan naik motor jauh?", Tanya Leon


"Iya mas?"


"Mungkin sekitar lima jam kita akan sampai tempat tinggal ku?"


"Iyaa mas", jawab Diva


Dan Leon hanya tersenyum getir mendengar jawaban Diva yang hanya pasrah itu


Leon mulai melanjutkan motor dengan kecepatan tinggi


"Pegangan yang erat dan jangan ngantuk", ucap Leon


Dan Diva lagi-lagi hanya menjawab "iya mas"

__ADS_1


Leon semakin tak senang atas jawaban Siva


__ADS_2