
Leon berhenti tepat di depan Diva, Leon turun dari motor dan menghampiri Diva
"Ngapain disini?", Lirih Leon
"Mas siapa nya mba ini?", Sela sesosok ibu-ibu yang menawari bantuan untuk mengobati luka memar di tubuh Diva
"Suami nya", tegas Leon
"Oh itu kenapa istri nya luka memar begitu, apa habis jatuh?", Tanya sang ibu
"Kemarin jatuh dari motor Bu", Leon menjawab dengan cepat kemudian mengenggam tangan Diva dan menyuruh untuk naik ke motor
"Masa jatuh sampai kayak gitu, kayak gak mungkin", lirih ibu itu dengan menatap Diva dan Leon yang menaiki motor
"Saya pamit pulang dulu buk?', Diva tersenyum dan kemudian motor melaju
Sampai di rumah belum juga motor terparkir sempurna, Leon sudah menarik tangan Diva menuju masuk kedalam rumah, setelah pintu terbuka Leon mendorong tubuh Diva ke Sofa dengan kasar
"Ngapain keluar rumah, mau pamer sama warga sini kalau kamu habis di hajar sama suami iya?", Leon bertanya dengan sorot ingin menerkam
"Tidak mas...."
"Halah, perempuan seperti mu itu memang ya otak nya selalu busuk, selalu ungin mencari sensasi, ingin di kasihani dan merasa diri paling terdholimi?"
"Mas aku keluar rumah karena aku ingin kembali kerja ke rumah makan Padang di Deket mall Century"
"Persetan dengan bualan mu"
"Lalu aku harus bagaimana mas, aku di rumah saja salah, kembali untuk kerja juga salah"
"Kamu hidup juga itu salah, ya kesalahan kamu itu karena kamu hidup!", Seringai Leon
"Kalau begitu bunuh saja aku mas?", Teriak Diva
Leon mendekat dan mencengkeram dagu Diva dengan kuat
" Belum saat nya Diva sayang, aku tidak akan membunuh mu sekarang tapi nanti secara perlahan-lahan, dan awas kalau kamu sampai berani keluar rumah lagi, aku potong kaki mu!", Leon menedang paha Diva yang terduduk di bawah sofa
Leon nampak mengunci pintu dari luar dan meninggalkan Diva di rumah sendirian dan tanpa makanan
"Kamu jahat mas?", Batin Diva
"Kenapa dia jadi berubah jahat seperti ini?, Kenapa dia jadi jadi begini, kenapa?", Diva menepuk-nepuk dada dengan suara tercekat
"Bukan kah dulu dia menginginkan ku, kenapa sekarang menjadi seperti monster yang menyeramkan?" Diva mengambil ponsel untuk memberi tahu Anis tapi Diva urungkan niatan itu
Diva ke dapur mencari makanan namun tak ada, Diva mencari bahan makanan pun juga tidak ada, bukan kah baru kemarin siang dia pindah ke tempat ini dan sudah pasti di rumah ini tidak ada apapun yang bisa di makan
__ADS_1
Diva mengambil cangkir dan meminum air di keran, Diva minum sampai benar-benar merasa puas atas dahaga yang ada di kerongkongan
"Tuhan... Apa yang harus aku lakukan?", Lirih Diva menatap luar dari balik jendela
"Apa aku harus kabur dari rumah lalu bagaimana dengan bapak dan nenek di kampung?", Gumam Diva sambil memegang hordeng
Diva kembali ke ruangan yang semalam Leon katakan bahwa itu adalah kamar nya, Diva menatap nanar ruangan itu
Ruangan tanpa alas hanya ada beberapa bekas kayu dan kaca yang tak terpakai
Diva menyapu lalu mengepel lantai, selesai membersihkan Diva berpikir dengan alas apakah dirinya akan tidur di tempat itu?
Diva membuka tas ransel milik nya dan mendapati sebuah kain panjang
"Ya kain ini bisa aku gunakan sebagai alas agar tidak terlalu dingin, dan tas ransel ini sebagai bantal"
Diva duduk di dalam ruangan dengan pikiran yang kacau balau, diva berbaring di atas kain tersebut dan menatap plafon rumah
Kring.... Tong... Kring... Tong...
"Hallo Anis?", Sapa Diva setelah menekan tombol jawab
"Kenapa tidak mengabari ku, apa karena terlalu bahagia jadi lupa aku?", Ketus Anis dari seberang telepon
"Mana mungkin aku lupa dengan mu nis, kamu tau kan nomor baru ku tanpa pulsa?"
"Iya juga, ya sudah besok minta mas Leon untuk beli pulsa dong?"
"Gimana rumah nya bagus gak, kapan aku boleh main kesitu, tapi kayak nya jadwal ku padat banget?"
"Bagus nis, gak apa-apa kalau gak sempet main kesini, aku juga sama dengan mu sibuk, aku sibuk bekerja sekarang?", Bohong Diva
"Hah kerja, kamu kerja apa, katanya mau berhenti kerja kan kamu lagi hamil?"
"Bisnis lah nis, kan suami ku sayang aku makanya aku buka bisnis?"
"Benar nih va, wah semangat ya, nanti kapan ada waktu aku bakal main ke rumah mu"
"Okay nis aku tunggu, tapi kalau mau main kabari aku dulu ya jangan mendadak takut aku gak ada di rumah"
"Okay... Alamat rumah mu di mana ini?"
"Jalan kenanga nomor lima belas kalau gak salah"
"Is alamat rumah sendiri saja lupa, dasar!"
"Maklum lah nis banyak pikiran"
__ADS_1
"Okay deh percaya aku, ya sudah ya aku mau balik nih mau berangkat kerja?"
"Kok sudah sih?", Diva memelas
"Va aku harus kerja, bukan nya kamu juga buka bisnis masa di tinggal telponan lama-lama lagi?"
"Iya iya", ketus Diva
"Ya udah bye Diva", Anis memutus sambungan telpon, sementara Diva mendengus karena merasa belum puas mengobrol dengan Anis, Diva yang merasa bosan pun mencoba memejamkan mata
Untuk beberapa saat diva memiringkan badan ke kanan dan ke kiri sambil memegang perut yang terasa keroncongan
Lama kelamaan Diva tertidur pulas, bukan kah semalaman Diva menangis dan tak tidur jadi siang ini Diva tertidur dengan nyenyak walau beralas kain dan perut yang berdisko
*****
Leon yang baru pulang kerja heran kenapa rumah begitu sepi, "dimana Diva?", Lirih Leon
Leon menaruh belanjaan keperluan rumah dan beberapa ikat sayur
Leon mencari Diva dan mendapati Diva sedang tidur nyenyak di dalam kamar nya
"Enak sekali dia!", Gumam Leon
Leon berjalan dengan tergesa-gesa mengambil air dengan ember dan menyiram ke tubuh Diva seluruh nya
Byur.....
"Ya Tuhan....", Diva terkejut bukan main, kepalanya mendadak pusing sekali dengan jantung yang berdegub lebih kencang
"Mas....?", Lirih Diva yang terduduk karena terkejut, belum lagi seluruh tubuh nya basah oleh genangan air tersebut
"Apa?, Enak banget hidup mu ya, suami capek kerja kamu sebagai istri malah enak-enak tidur, bagus...", Seru Leon
"Maaf mas?, Aku bingung mau ngapain?", Jawab Diva
"Hah tu di depan ada keperluan rumah yang habis ku beli, tata dan gunakan seperlunya jangan boros!", Ucap Leon sambil melenlar ember ke arah Diva lalu pergi meninggalkan Diva yang masih terduduk sambil memegang jantung nya
Selepas kepergian Leon Diva menitikan air mata, dan dengan cepat mengusap, lalu beranjak ke depan dan menaruh barang - barang sesuai tempat nya
Ada lima kilo gram beras, sabun cuci, bawang putih, garam dan lima ikat sayur kangkung, hanya itu iya hanya itu
"Mas...?, Makan malam dulu yok?", Ajak Diva mengetuk pintu kamar Leon namun tidak ada jawaban
"Apa sudah tidur", diva membatin
Diva mendorong pintu yang tidak terkunci dan mendapati Leon tidur di kasur empuk
__ADS_1
Dengan memeluk guling
Diva beranjak keluar dari kamar Leon, Diva mengambil sayur kangkung yang entah apa rasanya itu yang terpenting perut nya tidak kosong