Menggapai Asa Dalam Doa

Menggapai Asa Dalam Doa
episode 27


__ADS_3

"apa kamu mau ikut aku masuk kedalam, aku akan mengantar Sky masuk kedalam kamar karena Sky sudah tertidur?", Aidil menatap Fadlu yang terlihat setengah mengantuk juga


"Tidak Dil aku nunggu disini saja", Fadlu masih memejamkan mata


"Baik lah", Aidil mengendong Sky keluar dari mobil dan melangkahkan kaki ke dalam rumah yang sudah di sambut Diva di ruang tamu dengan sumringah


"Sky tidur?", Tanya Diva sambil akan meminta Sky dari gendongan Aidil


"Iya mba, apa mba mau mengambil alih mengendong Sky, apa mba kuat, biar aku saja, Sky ini sudah berasa berat Lo mba ?", Goda Aidil sambil membawa Sky ke dalam kamar pribadi Sky dan merebahkan tubuh di atas ranjang dengan perlahan


Bocah berusia sekitar sembilan tahun itu pun menggeliat


"Makasih ya Dil udah mau jemput Sky, tadi mba sibuk banget banyak pelanggan yang memesan baju", ucap Diva


"Iya mba tenang saja, kapan pun mba butuh bantuan ku pasti aku selalu siap, aku sangat menyayangi Sky mba"


"Terimakasih dil.... Apa kamu mau minum teh dulu biar mba buatin kebetulan bibik sedang keluar dengan Ibu?


"Tidak mba terimakasih lain kali saja, soalnya teman ku sedang menunggu ku di mobil"


"Kenapa tidak ikut turun teman mu itu?"


"Hah entah lah yang pasti teman ku sudah lelah dan ingin beristirahat tanpa mau melakukan aktivitas apapun lagi, aku pamit dulu mba?", Aidil pun beranjak ke luar pintu rumah ibu Aini, ya rumah ibu Aini, Aidil tinggal di apartemen bersama Liu


Sebenarnya Aidil sudah punya rumah sendiri tapi Liu belum mau pindah ke rumah baru, Liu masih betah tinggal di apartemen


Diva sendiri semumuran dengan Aidil hanya tua Diva enam bulan tapi Aidil menghormati Diva selayak nya kakak kandung

__ADS_1


Diva sendiri sudah membangun rumah di kampung menggunakan uang hasil dari butik yang ia kelola dan kini rumah itu di tinggali oleh nenek dan pak Ilham, Diva juga membuka usaha untuk pak Ilham sebuah toko kelontong dan toko obat buat para petani di kampung untuk bekal biaya hidup nenek dan bapak nya sehari-hari


Kini Diva masih menabung sebanyak mungkin, Diva ingin bisa menyekolahkan Sky sampai jenjang tinggi seperti paman nya Aidil yang sekarang sudah bekerja di sebuah perusahaan terkenal, Diva tak ingin Sky bernasib sepertinya yang ah sudah lah


Diva sebenar nya ingin pindah dari rumah Bu Aini agar Diva bisa mandiri tanpa merepotkan Bu Aini lagi, tapi Bu Aini melarang dengan keras, pernah Diva mencoba pindah namun akhirnya Aidil datang menjemput karena Bu Aini jatuh sakit


"Va.... Apa itu Aidil yang datang?", Tanya Bu Aini dari balik meja Hias, Bu Aini berdiri mematung menatap Diva yang baru menutup pintu utama


"Iya Bu, bukan kah ibu tadi keluar dengan bibik Ira ya, kok aku gak tau sih kalau ibu sudah pulang?"


"Masih muda sudah pelupa kamu ini va, bukan kah ibu tidak jadi ikut karena badan ibu terasa demam dan sekarang ibu merasa gatal akibat biang keringat"


"Benarkah... Maklum Bu aku banyak pikiran jadi pelupa gini, oh iya apakah ibu sudah mengobati biang keringat nya?", Tanya Diva dan mendekati Bu Aini


"Sudah va kamu tenang saja", Bu Aini berjalan menuju kulkas dan mengambil air dingin di dalam botol menuang ke dalam gelas dan meneguk nya


"Va boleh kah ibu bicara dengan mu?", Tanya Bu Aini


"Ibu takut menyinggung perasaan mu nak, tapi ibu harus berbicara ini padamu!", Bu Aini mendudukkan bokong di sofa dan menatap Diva dalam


"Katakan lah Bu?", Diva pun duduk di sebelah Bu Aini


"Apakah kamu tidak keberatan jika ibu meminta sesuatu hal darimu nak, ibu sedang tidak membalas tentang balas Budi, ibu mohon jangan salah pahamva, melainkan ibu sedang menginginkan seorang cucu?", Mata Bu Aini berkaca-kaca


"Bu.... Kenapa ibu bersedih sebenarnya apa yang sedang ibu pikirkan, katakan lah bu?", Diva memegang tangan Bu Aini yang sedang agak demam itu dan terasa sedikit hangat, tangan wanita yang hampir sepuluh tahun ini menyayangi Diva dan Sky tanpa batas


"Apa kamu mau jika ibu nikah kan dengan Aidil nak, ibu sudah sangat ingin menimang cucu dari Aidil, lagi pula kamu sudah lama sendiri nak sudah hampir sepuluh tahun, apa kamu tak berniat mengisi harimu dengan pernikahan, ayolah Diva pikirkan masa depan mu jangan egois nak, kamu masih normal kan?"

__ADS_1


"Bu... Tapi kenapa harus dengan Aidil, aku dan Aidil tidak ada perasaan apapun Bu, kami hanya saling menyayangi ibarat kakak dan adik kandung Bu, permintaan ibu sulit aku cerna, maaf!", Balas Diva dengan bibir bergetar karena terkejut dengan ungkapan Bu Aini


"Ibu tau pasti ini jawaban mu va, ibu hanya ingin Aidil mendapatkan wanita yang baik-baik, dan wanita itu bisa memberikan ibu cucu, maaf kan permintaan ibu yang berlebihan ini va, maaf?"


"Bu Aidil itu sudah menikah aku minta ibu jangan mengusik rumah tangga nya dengan membahas dan berusaha membuat ku masuk ke dalam pernikahan mereka, maaf Bu jika kata-kata Diva salah?"


"Apa ibu terlihat seperti seorang pengusik rumah tangga anak, ibu tidak akan meminta hal ini jika ibu tidak melihat Liu jalan dengan seorang pria dengan mesra, ibu kecewa dengan Liu va, ibu sangat yakin bahwa rumah tangga mereka sedang tidak baik-baik saja"


"Maksud ibu apa?", Tanya Diva dengan sorot mata prihatin


"Ibu melihat Liu berjalan dengan begitu mesra dengan seorang pria waktu di mall Seventeen dan ketika ibu mengikuti mereka ibu kehilangan jejak mereka va padahal ibu ingin menangkap basah mereka berdua, ibu kecewa dengan Liu"


"Bu jangan berprasangka buruk dulu, bukan kah kita harus berpikir positif dulu, apalagi yang ibu lihat itu belum tentu benar, bagaimana kalau lelaki itu adalah saudara Liu Bu atau rekan kerja Liu, ibu kan tahu kalau Liu itu seorang Model?


"Jadi kamu meragukan penglihatan ibu va, ibu pasti paham va mana saudara dan mana pasangan, terserah kamu kalau tidak mempercayai ucapan ibu.


Memang ya di rumah ini tidak ada yang perduli dan benar-benar sayang sama ibu, tidak Aidil tidak kamu sama-sama egois!", Bu Aini pergi ke kamar pribadi nya


Sepeninggal kepergian bu Aini Diva hanya menghela nafas panjang, Diva masih bingung dengan apa yang di ucapkan dan apa yang Di pikirkan Bu Aini


Mungkin beginilah pikiran orang yang sudah lanjut usia jadi Diva harus sabar menghadapi nya


Diva mendekati ponsel nya dan melihat banyak chat masuk yang belum sempat di balas dan salah satunya dari Anis, sahabat terbaik Diva


"Va gimana pesanan ku, pokok nya baju pengantin ku harus selesi sebelum hari H, ayolah va pernikahan ku tinggal seminggu lagi?", Tulis Anis


"Pokok nya beres", balas Diva dan segera mengirim nya.

__ADS_1


Diva memejamkan mata di atas sofa karena lelah dan beberapa kali menguap, Diva pun tertidur tanpa pindah ke kamar milik nya


*****


__ADS_2