
jadi kamu di pecat mas?, Kok bisa sampai di pecat coba, tolong lah kalau kerja tuh yang bener jadi enggak mungkin ke pecat kan!", Seloroh Meylin di ruang keluarga
"Kamu itu kalau ngomong bisa pakai rem apa tidak, memang kamu pikir kerja itu mudah, apa kamu enggak tau bos yang sekarang itu disiplin banget"
"Dasar gak becus ya gak becus saja kali mas gak usah sok", ucap Meylin meninggi
Plak... Plak....
Sebuah tamparan mendarat di pipi Meylin, begitulah setiap pertengkaran terjadi pasti tidak hanya adu mulut bahkan saling adu tonjok
Meylin mengusap pipi nya yang perih lalu pergi keluar rumah dengan menyambar tas yang ada di atas meja
Sepanjang perjalanan mulut nya tidak berhenti meromet enggak jelas "dasar lelaki kasar, sudah hidup susah, sok pulak!", Begitulah romet yang Meylin senandung kan
Dalam hati Meylin ingin pergi ke suatu tempat dimana dirinya pernah menjadi ratu di gubuk reyot, Meylin penasaran bagaimana kabar mereka semua, masih hidup kah atau sudah tewas
Meylin berpikir lagi, apa mungkin ia akan kembali pada Ilham suami yang ia tinggalkan tanpa sebab, tapi Meylin ragu apa mungkin Ilham mau menerima nya kembali setelah ia meninggalkan banyak hutang
Ah rasanya tidak perlu menemui Ilham, lelaki di luar sana masih banyak, tinggal pilih mau yang mana tapi hati kecil Meylin penasaran dengan kehidupan Ilham yang sekarang
Seulas bibir tersenyum tipis terbit disana sebagai tanda keegoisan yang tergambar jelas di wajah Meylin yang merasa tanpa dosa
*****
Hari ini Fadlu berniat pulang ke kampung halaman untuk menemui kedua orang tuanya, sekaligus ingin menyampaikan niat hati yang sudah ia rencanakan untuk melamar Diva dan segera menikah
"Mas gak pakai kursi roda?", tanya Aldo sambil melirik Fadlu yang sudah duduk di samping kemudi sambil sesekali menguap
"Tidak", jawab Fadlu cepat
"Apa setelah ini aku harus berhenti bekerja mas, padahal aku butuh banget kerjaan loh mas?"
"Kenapa harus berhenti , kerjaan banyak hanya saja", Fadlu mengantung kalimat nya
"Hanya apa mas?"
"Enggak ada duit nya", tawa Fadlu mengisi mobil seolah menggoda Aldo
"Di rumah bapak dan ibu ku juga banyak kalau cuma kerjaan mah mas, tapi ya itu gak ada duit nya", Aldo mencebik kecewa
"Ya itu di pikir kan nanti, untuk sementara bekerja lah sampai aku sudah benar-benar menikah dengan Diva terlebih dahulu"
"Setelah mas sudah menikah dengan mba Diva, maka kontrak kerja ku pun habis, hah ini menyedihkan, padahal aku sudah nyaman banget kerja sama mas", lirih Aldo
"Jangan sedih dong, masih banyak kerjaan tenang saja"
"Kerjaan kalau enggak ada duit nya buat apa, aku kan butuh nabung buat masa depan ku mas", keluh Aldo
"Ya nanti aku akan rembukan sama Diva, kira-kira kita membutuhkan tenaga kamu lagi apa enggak"
"Bener ya mas, janji nih"
"Iya nanti aku akan lihat di resto yang baru selesai kami bangun butuh karyawan seperti mu apa tidak?"
"Resto, wah mas buka usaha resto?
"Tidak, bukan usaha ku saja tapi kita berempat, aku, Aidil dan istrinya serta Diva"
"Usaha kuliner dua keluarga bahagia dong", seru Aldo antusias
"Bisa jadi seperti itu"
"Mudah-mudahan ada lowongan untuk ku lah mas"
__ADS_1
"Ya pasti ada, kita juga masih harus merekrut sekitar sebanhak sepuluh orang untuk bekerja disana"
"Wih mantul mas", Aldo terkesiap
Fadlu hanya tersenyum dan melempar bungkus permen ke bahu Aldo dan Aldo lamgsung tertawa
"Ini masih jauh banget ya do?", tanya Fadlu melihat GPS jarak tempuh
"Masih secapek am lagi mas, mungkin kita akan sampai rumah jam satu siang an"
"Ya lah, fokus menyetir aku mau tidur dulu", Fadlu pun memejamkan mata
"Hais enak jadi bos mah", balas Aldo namun tak di jawab oleh Fadlu yang kemungkinan sudah tidur pulas
Perjalanan dari kota ke desa Campa memang lumayan jauh sekitar lima jam perjalanan
Untung jalan masih aman dan lumayan bagus, ada beberapa jalan yang berlubang tapi belum begitu parah
Aldo memutar musik slow rock, sambil sesekali berdendang agar tidak mengantuk, lagi pula perjalanan yang lumayan membutuhkan tenaga ekstra bukan, seperti camilan
Maka sedari tadi Aldo pun terus mengunyah camilan yang Fadlu beli dari supermarket
*****
"Mas kita sudah sampai?", Aldo membangun kan Fadlu yang masih tertidur dengan begitu nyenyak
Fadlu mengerjap lalu duduk dengan tegap sambil menoleh ke kanan dan ke kiri
"Bener kita sudah sampai, ini sampai mana coba, kenapa ramai begini?", tanya Fadlu sambil menatap Aldo ingin tahu
"Ini pasar mas, aku mau turun dulu mau beli oleh-oleh buat bapak dan ibu ku, mas mau beli apa enggak ", Aldo membuka pintu mobil hendak keluar ke kedai buah yang ada di pinggir pasar
"Hey tunggu do, aku titip tolong belikan, ini uang nya sekalian punya mu bayar pakai uang ini saja", Fadlu menyerahkan beberapa lembar uang merah
Aldo mendekati kedai buah dan membeli beberapa kilogram aneka macam buah
"Beli apa do?", Seorang perempuan berdiri di samping Aldo sambil membawa belanjaan
"Buah", Aldo menoleh ke samping sosok perempuan itu tersenyum menatap Aldo
Perempuan itu adalah mantan kekasih Aldo sebelum Aldo pergi merantau ke kota, namanya Adelia anak dari salah satu warga di kampung Campa
Adelia dan Aldo mengakhiri hubungan karena Adelia tertangkap sedang pacaran dengan lelako dewasa lain, atau bahasa istilah nya selingkuh
"Kamu ke pasar sama siapa do?", tanya Adelia
"Sama mas ku"
"Mas yang mana, perasaan kamu anak pertama deh"
"Mas keponakan, tuh lagi nungguin di dalam mobil"
Aldo membayar sejumlah pesanan buah yang sudah rapi di dalam kardus bok menggunakan uang merah beberapa lebar membuat mata Adelia terkesiap
"Duluan ya", Aldo membawa kardus dan beberapa kantong plastik menuju mobil di bantu sang pemilik kedai buah
Adelia hanya terbengong saja melihat Aldo berlalu dari hadapan nya, mata menyipit seolah menyesal telah meninggalkan Aldo saat itu
"Sekarang Aldo keren, putih, punya uang lagi", Adelia membatin berharap suatu hari nanti Aldo mau kembali dengan nya
"Terima kasih ya pak?", Seru Aldo pada pemilik kedai buah yang sudah membantu membawakan buah sampai di bagasi mobil
"Iya sama-sama", balas sang pemilik kedai buah
__ADS_1
Aldo pun melajukan mobil, sebelum benar-benar pergi Aldo membuka kaca mobil dan menyapa Adelia yang masih berdiri mematung menatap mobil yang di tumpangi Aldo
Fadlu yang merasa heran pun bertanya "siapa dia, saudara mu?"
"Bukan mas, perempuan itu bernama Adelia, dia mantan ku"
"Hahahaa mantan, ternyata kamu punya mantan, kenapa putus padahal dia cantik loh", goda Fadlu saat melihat penampilan Adelia yang terkesan bar-bar
"Apanya yang cantik, rempong begitu", balas Aldo
"Rempong karena kamu jarang lihat dia, coba dulu dia gadis paling cantik kan di hati kamu"
"Cantik kan juga mba Diva", seru Aldo
"Oh itu pasti", jawab Fadlu
"Cantik mana mba Sherina sama mba Diva?", Goda Aldo
"Menurut mu?", Fadlu menatap wajah Aldo yang tampak khawatir atas pertanyaan nya
Aldo pun menggeleng kan kepala nya
"Kalau di lihat dari full wajah Sherina memang cantik, tapi Diva jauh lebih cantik, karena bukan hanya wajah nya yang cantik hati nya pun teramat baik.
Sherina cantik karena rajin perawatan ke salon kecantikan, sedang Diva cantik nya alami dan aku yakin jika Diva rajin perawatan ke salon kecantikan ia pun akan jauh lebih cantik"
"Ciye... Iya iya orang mah kalau lagi kasmaran begitu"
Bugh... Sebuah bungkus permen mendarat di hidung Aldo, "ih di bilang fakta gak percaya?", Seru Aldo dan membelok ke sebuah rumah yang sudah lama Fadlu rindukan
Fadlu melihat Bu Hadi sedang membalik kasur di halaman rumah
"Ibu...", Lirih Fadlu, setelah mobil menepi Bu Hadi mendekati mobil yang terparkir.di halaman rumah nya
Fadlu pun membuka pintu mobil lalu berlari memeluk Bu Hadi yang sudah menyambut dengan kedua tangan nya
"Bagaimana kabar Ibu?", Suara Fadlu bahagia
"Alhamdulillah baik, kaki mu sudah sembuh nak", Bu Hadi memegang kaki Fadlu sambil meneteskan air mata bahagia
"Alhamdulillah sudah Bu, ini semua berkat doa Ibu jua"
Bu Hadi memeluk anak lelaki nya lagi dengan penuh Cinta dan rindu "ayo masuk pasti kamu capek", Bu Hadi memegang lengan Fadlu menuju masuk kedalam rumah, suatu kebahagiaan tersendiri bisa melihat Fadlu kembali sembuh seperti sedia kala
"Ayo masuk Aldo, kok malah mematung kayak patung", seru Bu Hadi mendapati Aldo diam mematung
"Mas... Kapan datang, pulang kok enggak ngomong-ngomomg sih", seru Fany adik kandung Fadlu yang kini masih menempuh pendidikan tinggi tersebut
"Kalau ngomong bukan kejutan dong namanya"
Setelah berjabat tangan dan memeluk sebentar Fany menyuruh kakak lelakinya duduk, sementara Fany ke dapur untuk membiat minuman teh hangat
"Bapak kemana Bu?", Fadlu membuka suara
"Ada di ladang sana melihat orang memanen sayur dan semangka", seru Bu Hadi sambil mengusap lengan putra kesayangan nya
"Sudah panen ya Bu"
"Sudah dlu, Alhamdulillah panen nya melimpah banyak"
Fadlu pun mengangguk paham, sambil melihat rumah yang ia rindukan, masih sama hanya cat nya yang beda
Bahkan foto nya yang masih SD masih nyata ada terpampang di sana, membuat nya malu pada Aldo yang memandangi nya sambil tersenyum
__ADS_1