Menggapai Asa Dalam Doa

Menggapai Asa Dalam Doa
episode 8


__ADS_3

"ham kamu udah pulang kok ngabari ibu dulu sih, apa sudah selesai borongan nya?", Ibu Meli memeluk anak lelakinya yang baru pulang merantau itu dengan sendu


"Iya Bu borongan nya udah rampung jadi kita pulang ke rumah masing-masing sambil nunggu kerjaan borongan satu nya lagi, gimana kabar ibu?", Ilham mencium tangan ibu nya


"Kabar ibu baik ham, ayo masuk kamu pasti capek?", Ibu mengenggam tangan Ilham dan menaruh tas ransel milik Ilham ke dalam kamar


"Nih Bu", Meylin menyerahkan plastik berisi buah dan makanan yang tadi di beli Ilham di pasar


"Kamu darimana saja, kenapa semalaman gak pulang, ibu khawatir kamu pergi gak bilang mau pergi kemana?", Tanya Bu Meli sambil membuat segelas teh dan menaruh buah ke dalam piring


"Aku habis main di rumah temen, tadinya mau pulang tapi kemalaman aku takut di jalan makanya aku nginep saja sekalian, lagian aku mau menelpon ibu pun percuma ibu gak punya telepon juga", jawab Meylin


"Ya sudah lain kali jangan kayak gitu lagi", jawab ibu dan keluar menemui Ilham yang masih duduk di kursi ruang tamu


"Bapak?", Diva menghampiri Ilham dan mencium tangan bapak nya dengan takzim


"Jam berapa baru mau berangkat sekolah apa tidak terlambat?", Ilham menengok ke arah jam yang mengarah setengah delapan pagi


"Masuk jam delapan pak hari ini, aku juga masih nunggu Fadlu?", Jawab Diva


"Kamu ke sekolah bareng Fadlu?", Ilham mengelus lengan Diva


"Iya pak, aku dengan Fadlu sekelas lagian sekolah kita sama dan dari desa kita ini juga hanya aku dan Fadlu yang sekolah di SMA harapan"


Ilham mengangguk tanda paham dan memberi uang pada Diva "ini kasih Fadlu sebagai uang bensin, ya mungkin ini gak seberapa tapi setidaknya bisa sedikit membantu Fadlu buat beli bensin", Ilham memberikan Uang seratus ribu pada Diva


"Baik pak terimakasih", jawab Diva


"Ini minum dulu ham mumpung masih hangat, nanti ibu mau ke warung dulu buat beli minyak goreng sama ketumbar, nanti tolong kamu potong ayam yang ada di bawah keranjang itu ya ham, ibu mau masak ayam pagi ini ?", Bu Meli bergegas keluar rumah buat beli minyak goreng dan ketumbar


Tin... Tin....


"Pak itu Fadlu datang, Diva berangkat sekolah dulu ya?", Diva pamitan dengan Bapak dan mama nya tanpa uang saku lagi-lagi begitu


"Ayo VA nanti kita telat lagi, buruan?", Teriak Fadlu

__ADS_1


"Iya bawel....", Jawab Diva dan segera naik di jok motor belakang "pengang an aku mau ngebut, setidaknya lima belas menit kita harus sampai sekolah biar gak kena hukuman karena terlambat", ucap Fadlu dengan mengegas motor nya


"Woy pelan.... Pelan.... Takut aku dlu, aduh dlu bibir ku sampai mleyot ke kanan dan ke kiri ini haduh dlu please deh?", Teriak Diva dengan rambut yang udah awut-awutan kayak kena angin topan


"Diem beringsik deh, pengang an yang kenceng biar gak jatoh", Fadlu menambah gas motor


"Argh......", Teriak Diva


Hugh.... Bugh .....


"Auw sakit..... ", Diva meringis memegang kakinya yang lecet


"Maaf ya va, mana yang sakit sini... ", Fadlu meniupu kaki Diva yang berdarah


"Tunggu bentar ya?", Fadlu berlari ke semak-semak mengambil rumput sejenis daun rayutan dan mengunyah nya lalu menempel kan di kaki Diva


"Makasih....?", Diva menatap Fadlu


"Iya va, lagian ini salah ku aku gak denger apa kata mu aku terlalu ngebut naik motor", Fadlu memapah Diva naik motor lagi dan kali ini Fadlu melajukan motor dengan pelan-pelan


"Pagi Bu.. maaf kami terlambat?", Ucap Fadlu


"Jam berapa ini terlambat kok selama ini?", Jawab Guru dengan marah


"Tadi kami jatuh buk?", Jawab Fadlu lagi


"Makanya jadi anak jangan pecicilan, ngapain pakai ngebut-ngebutan naik motor, untung kakian gak kenapa-kenapa?"


Diva dan Fadlu hanya menunduk dalam


"Setelah kalian menulis semua materi, nanti di jam istirahat kalian datang ke ruang guru buat lap dan bersihkan ruang perpustakaan?", Jawab Bu guru dan menyuruh mereka berdua untuk segera duduk di bangku masing-masing


*****


"VA gimana masih sakit apa gak?",Fadlu memegang kaki Diva dan melihat luka yang sudah mengering

__ADS_1


"Sudah lah gak apa-apa dlu udah sembuh kok, oh iya dlu ini ada uang titipan dari bapak, buat beli bensin", Diva menyerahkan uang seratus ribu pada Fadlu


"Gak usah lah va, bensin ku masih banyak untuk mu saja?"


"Jangan begitu ini amanah dlu, terima ya!", Diva mengambil tangan Fadlu dan menaruh uang di telapak tangan nya


"Ya sudah lah ayo pulang kalau begitu, sekarang aku akan pelan-pelan saja naik motor nya?", Ucap Fadlu


"Baik lah", Diva pun tersenyum


Montor melaju dengan pelan, melewati jalan biasanya dan Fadlu melihat sebuah tempat aksesoris, Fadlu penasaran dan berhenti di depan toko Aksesoris di pinggir jalan tersebut


"Ngapain berhenti?", Diva menatap Fadlu


"Bentar, turun lah dari motor",jawab Fadlu dan menarik tangan Diva masuk kedalam toko di pinggir jalan tersebut


"Beli apa dek?", Tanya Abang oenjul aksesoris


Fadlu senyum dan melihat-melihat aksesoris dan memilih sebuah saputangan


"Berapa bang?" Fadlu menangkat sapu tangan berwarna biru muda


"Lima belas ribu dek"


"Aku mau ini bang", jawab Fadlu dan melihat ke sebuah kalung berukiran nama


"Itu kalung nama dari titanium dek, awet gak mudah berkarat, adek bisa request nama serta bentuk sesuai selera", jawab Abang yang meluhat Fadlu tertarik ke kalung tersebut


"Berapa harganya bang?", Tanya Fadlu


"Sembilan puluh ribu dek?"


"Aku mau bang"


"Boleh... Mau di kasih nama siapa?", Tanya Abang sambil memperlihatkan motif yang seperti apa pada Fadlu

__ADS_1


"Yang seperti ini bang Fadlu memilih tulisan miring, beri nama FaVa aja bang?", Jawab Fadlu dan menunggu Abang mengukir nama sedangkan Diva hanya diam tak berbicara apapun


__ADS_2