Menggapai Asa Dalam Doa

Menggapai Asa Dalam Doa
episode 43


__ADS_3

"gimana kabar mu dlu, sudah ada perubahan kah?", Aidil menaruh sebuah paper bag di atas meja yang ada di kamar Fadlu


"Ya begini lah Dil, masih sama kayak dulu, kaki ku juga belum bisa di gerakkan, mau apa-apa dan melakukan aktivitas apapun juga masih memerlukan bantuan ibu", jawab Fadlu lirih


"Sabar ya, pasti suatu hari nanti kaki mu bisa sembuh dan sehat seperti semula", semangat Aidil pada Fadlu


"Makasih bro", Fadlu mengambil paper bag di atas meja dan membuka nya


"Apaan ini?", Seru Fadlu sambil mengeluarkan sebuah gelang dan menatap nya lekat


"Gelang... Dari akar yang ada di pulau Kalimantan sana, disini belum ada yang jual bukan, simpan lah dengan baik itu hadiah dari ku, dan itu ada sedikit cemilan makanan khas dari Kalimantan"


"Terimakasih dil", Fadlu menaruh kembali paper bag itu dan menyenderkan di kepala ranjang


"Oh iya bagaimana ibu sama bapak kamu, apa mereka betah tinggal disini?", Tanya Aidil


"Ya betah gak betah sih kelihatan nya Dil, kalau di kampung kan silaturahmi dan gotong royong serta sosialisasi kan masih terjaga, lain kalau di apartemen begini, pasti ibu sama bapak ku jenuh"


"Bisa jadi begitu"


"Tadinya bapak dan ibu akan membawa ku ke kampung halaman ku sana, tapi aku menolak nya Dil, aku masih ingin tetap tinggal di sini, lagi pula pihak rumah sakit tempat ku bekerja juga masih memberi ku gajih setiap bulan, yah walaupun hanya gaji pokok"


"Lalu... Langkah apa selanjut nya yang akan kamu ambil, bagaimana hidup mu setelah ini dlu, gak mungkin kan bapak dan ibu mu harus stand bye jaga kamu disini, lagi pula kenapa kamu keras kepala gak mau tinggal di kampung?", Aidil ikut duduk di samping Fadlu


"Aku masih bingung Dil, jika harus menikah dengan Sherina jujur jauh di relung hati ku masih belum yakin"


"Lalu...?, Apa selamanya kamu akan hidup sendirian, dlu jangan pesimis, aku yakin suatu hari nanti kamu bisa sembuh"


"Entah lah Dil sekarang aku ikuti alur nya saja, oh iya Dil aku boleh bercerita kepada mu tentang suatu hal", Fadlu menatap Aidil dan Aidil pun mengkerutkan dahi


"Diva itu dulu kekasih hati ku", lirih Fadlu namun mampu membuat hati Aidil tersentak bukan main


"Maksud mu gimana dlu?, Hah apa ucapan mu dapat di percaya?", Aidil membelalak kan mata bingung dan terkejut


"Kami pernah sekolah bersama dan aku pernah menyatakan cinta pada Diva, aku telah mengatakan agar Diva menunggu ku sampai aku sukses, naas nya waktu itu ibu tiri Diva meninggalkan hutang yang begitu banyak dan mengharuskan Diva menikah dengan lelaki brengsek seperti mas Leon"


"Jadi kamu kenal mas Leon juga", seru Aidil


"Tentu, mas Leon anak kepala desa di kampung ku pada saat itu, aku sangat menyesal Dil, seandainya aku bisa pasti dulu aku mencegah pernikahan Diva dan mas Leon agar Diva tak hidup menderita selama itu"


"Lalu bagaimana perasaan mu sekarang pada mba Diva dlu?, Maksud ku apa kamu masih menyimpan cinta itu, setidak nya sisa-sisa cinta mu untuk mba Diva?"


"Entah lah Dil, hati ku gamang saat ini, aku masih ingin tau di antara dua wanita yang mengisi hati ku mana yang bisa benar-benar mencintai kekurangan ku dengan tulus"


"Baik lah dlu, apapun keputusan mu nanti aku yakin itu yang terbaik untuk hidup kalian", lirih Aidil


Setelah mengobrol banyak hal Aidil pun merasa lelah dan ngantuk sehingga membuat nya undur diri


Namun ketika hendak pamit pulang Bu Hadi menitipkan makanan untuk Sky


Sayur gulai daging dan ada beberapa tusuk sate yang Bu Hadi berikan pada Aidil


Aidil pun menangkap sinyal jika Bu Hadi bisa membuka ruang hati untuk Diva namun seperti apa yang di katakan Fadlu tadi bisa jadi Bu Hadi hanya menganggap Diva dan Sky layak nya saudara satu kampung yang bertemu di kota


Setelah menempuh perjalanan yang tidak begitu jauh akhirnya Aidil sampai di rumah.


Bu Aini, Anis, Diva dan Sky sudah menunggu nya di meja makan

__ADS_1


Aidil memang mengabari Anis jika ia akan pulang dan akan ikut makan malam bersama


"Apa itu!", Tanya Anis membuka kantong kain yang di taruh di atas meja oleh Aidil


"Sate ... Sama apa ini?", Anis memutar plastik berwarna putih itu dan menatap nya lekat-lekat


"Itu dari Bu Hadi, katanya untuk Sky", jawab Aidil yang baru keluar dari kamar mandi, habis mencuci kaki dan tangan


"Wah Bu Hadi ingat sama kamu Sky tapi gak ingat sama Tante", ucap Anis dengan sebuah senyuman sedih


"Kita kan bisa makan bareng-bareng Tante, mana mungkin Sky bisa menghabiskan makanan sebanyak ini", ujar Sky sambil mengigit sate


"Anak baik", ucap Anis dan ikut menyatap satu tusuk sate di tangan nya


"Enak banget, bumbu nya melimpah ", lirih Anis dan mengambil sate lagi


****


"Mba hari ini mau ke butik?", Tanya Aidil yang sudah siap dengan pakaian kerjanya


"Iya Dil, hari ini mba mau belanja kain", Diva memakai flatshoes di teras yang sudah ia siapkan


"Bareng aku aja mba", Aidil mengajak Diva untuk pergi bersama karena mereka satu arah


"Iya va bareng sama Aidil saja", Anis yang menyiram bunga pun menimpali


Akhirnya Diva berangkat ke butik menggunakan mobil milik Aidil


Di perjalanan banyak hal yang Aidil obrolkan, tentang pekerjaan yang kini tengah Diva geluti


"Iya Dil, aku rasa perlu lah ya menyalurkan hobby, dulu aku dan Anis berniat akan membuka sebuah usaha kuliner dan kalau bisa bulan depan sudah bisa mulai terealisasikan, kan lumayan kan ya jika hobby bisa menghasilkan uang"


"Itu malah bagus mba, nanti aku bantu deh dimana lokasi yang bagus dan strategis serta apa saja sih makanan yang kini sedang digandrungi kaum milenial"


"Wah makasih banyak dil, aku senang dengar nya", jawab Diva dengan seulas senyum


"Bila perlu aku akan mengajak Fadlu untuk join bersama kita mba", celetuk Aidil


"Dokter Fadlu untuk apa Dil, kayak nya belum perlu deh"


"Mba... Jika ada yang mau ikut usaha bareng-bareng kita kan lumayan, siapa tau itu bisa menjadikan ladang bisnis untuk kita bersama"


"Tapi... Dil", Diva menatap Aidil gelisah, bagaimana mungkin Diva bisa bekerja sama dengan Aidil sementara Diva tau bagaimana perasaan nya saat ini


"Loh ini mau kemana?", Tanya Diva saat mobil yang di tumpangi Aidil dan Diva mengarah ke sebuah cafe


"Ikut turun dulu yuk", ajak Aidil pada Diva


"Mau ngapain kita berhenti disini Dil?"


"Ayo lah mba ikut turun dulu nanti juga bakal tau", Diva pun ikut turun dari mobil dan mendapati seorang Fadlu tersenyum ke arah nya


"Duduk lah, jangan bengong", Fadlu menyuruh Diva untuk duduk, karena Diva hanya mematung


Diva pun menarik kursi dan duduk di sebelah Aidil dengan hati yang bergetar


"Mau Pesan makan apa minum?", Tawar Fadlu

__ADS_1


"Gak perlu kayak nya dlu, aku buru-buru", Aidil berdiri dan beranjak akan pergi


"Ikut.... ", Diva pun ikut berdiri


"Jangan mba, mba ngobrol saja dulu sama Fadlu soal rencana bisnis kuliner tadi"


"Untuk apa sih Dil mba rasa gak perlu?", Tanya Diva


"Sekarang mba belum butuh tapi tidak menutup kemungkinan besok mba membutuhkan bukan, aku pamit pergi ke kantor dulu dlu", Aidil menepuk bahu Fadlu dan pergi meninggalkan mereka berdua


"Apa-apaan Aidil ini, kurang asem", batin Diva menggerutu gak jelas


Hanya ada keheningan antara Fadlu dan Diva, entah mereka masih bingung dan canggung akan membahas topik pembicaraan apa


Tiba-tiba seorang wanita ber-make up menor, memakai baju dress di atas lutut dan dengan rambut di gerai lewat dengan membawa tas selempang


Diva mengernyit setelah wanita itu duduk di kursi dan memesan makanan


Fadlu pun melihat ke arah dimana mata Diva masih memandang tak berkedip ke arah wanita itu, dengan perasaan penuh amarah Diva mendekati wanita itu dan duduk di kursi tepat di samping nya


"Hay ibu Meylin bagaimana kabar nya?", Tanya Diva dan memandang penuh pertanyaan yang akan meledak


Fadlu mendekati Diva dan Meylin menggunakan kursi roda


"Di..va... Ngapain kamu disini?", Pekik Meylin


"Kenapa memang nya apa ibu pikir setelah kepergian ibu aku akan mati bunuh diri, kenapa ibu begitu tega dengan ku dan bapak serta nenek, dimana hati dan pikiran ibu"


Meylin masih terdiam membisu tanpa sepatah kata pun


"Jawab Bu, untuk apa ibu berhutang sebanyak seratus juta di Bank, ibu jahat, ibu penjahat", hardik Diva


"Kamu gak akan tau rasanya jadi aku va, aku hanya ingin bahagia dengan cara ku, selama hidup dengan bapak mu tak sekalipun aku merasa di buat bahagia, serba kekurangan, bukan hanya kekurangan harta tapi kekurangan kasih sayang"


"Ibu jahat... Ibu egois, jika ibu pergi kenapa harus meninggalkan hutang pada kami?", Mata Diva mulai berkaca


"Maafkan ibu va, ibu hanya ingin bahagia itu saja, jika meminta bapak mu itu suatu kemustahilan"


"Bagaimana mungkin aku bisa memaafkan ibu secepat itu, Aku benci ibu karena ibu aku hidup jauh lebih Menderita"


"Ah apakah kamu menderita, tapi itu bukan sepenuh nya karena aku Diva, tapi karena salah mu sendiri mau menikah dengan pria cacat seperti Fadlu", Meylin melirik sinis ke arah Fadlu


Fadlu pun tersentak kaget mendengar ucapan Meylin yang begitu tidak sopan


"Kenapa melotot apa kamu terkejut dengan ucapan ku, aku juga pernah hidup di posisi mu, jadi aku paham, lelaki cacat dan lumpuh seperti mu mana bisa memberi nafkah lahir dan batin, pasti gak lama lagi Diva bakal ninggalin kamu"


"Cukup Bu. Jangan sama kan aku dengan ibu, kita beda jauh, jika ibu menikah hanya karena ingin bersenang-senang


Sedang aku ingin menikah hingga sampai ke surga", lantang Diva dengan penuh amarah


"Bull ****.. aku tidak percaya ucapan mu, paling juga gak lama lagi kamu akan selingkuh, jika yang normal saja banyak kenapa milih yang cacat?", Meylin berlalu meninggalkan Diva yang mematung


"Wanita laknat, berhati iblis, karma apa yang cocok untuk mu", teriak Diva dengan mata berembun


Meylin tidak menghiraukan ucapan dan tangisan Diva yang memilukan


Diva tidak habis pikir dengan pola pikir ibu tirinya itu

__ADS_1


__ADS_2