
Mobil terparkir sempurna di halaman rumah tepat menjelang subuh
Fadlu mengucapkan salam dan pintu terbuka lebar
Masuk lah Fadlu, Aldo serta Diva setelah berjabat tangan dengan Bu Hadi.
"Mari Sholat berjama'ah terlebih dahulu, ini sudah masuk waktu subuh, tidak baik menunda-nunda waktu Sholat", terang Bu Hadi dan menunjukan tempat wudhu, kali ini Bu Hadi tidak terlalu banyak bicara
Selesai berwudhu mereka menata saf masing-masing, Diva telah di beri pinjam mukena oleh Bu Hadi dan berdiri sejajar dengan Bu Hadi, sedang Fany tidak ikut sholat berjamaah bersama di rumah sebab sudah kembali ke pondok pesantren beberapa hari yang lalu
Selesai melakukan sholat berjamaah Bu Hadi ke dapur untuk membuat sarapan dengan di bantu oleh Diva, sementara pak Hadi mengaji Al Qur'an di tempat sembahyang tadi
Fadlu dan Aldo berada di ruang tamu sambil merebahkan tubuh di kursi kayu bersofa
"Ibu ini aku ulek ya cabe nya?", Seru Diva di depan cobek yang sudah penuh oleh cabe dan bawang rebus
"Boleh, jika kamu bisa"
"Loh kenapa tidak bisa Bu, aku sudah terbiasa masak di rumah, tapi tentu harus masih banyak belajar dari senior seperti ibu misal nya", kekeh Diva dan Bu Hadi tersenyum
"Ya kali kamu enggak bisa mengulek cabe dan lebih memilih menggunakan blender untuk membuat nya lembut, padahal jelas dari rasa sudah berbeda"
Diva pun tertawa dan menimpali "kalau masak nya banyak kayak di restoran bisa kram dong Bu tangan nya jika harus di ulek semua tanpa bantuan blender"
"Makanya masakan di restoran itu banyak yang asal, ada yang enak juga sih"
"Hehehe ibu bisa saja", selesai mengulek sambal, Diva mengoreng kerupuk
Sebenarnya diva lelah pengen baring dan istirahat tapi tidak enak jika tidak membantu Bu Hadi masak
"Goreng telur nya di teflon saja ya Bu", tawar Diva
"Iya...", Seru Bu Hadi dan memberikan lima butir telur untuk di dadar
Dengan telaten Diva mengoreng telor dan lanjut mengoreng tempe untuk di buat sambal orek tempe
Jadi pagi ini Bu Hadi mengajak Diva untuk masak nasi uduk komplit, untung kelapa nya sudah ada yang di parut di dalam kulkas jika tidak hah bakalan memakan waktu yang lama banget proses masak memasaknya
"Seandainya kamu tau akan ada kekacauan setelah ini, apakah senyum mu itu masih akan terbit", Bu Hadi membatin
Diva mengambil sepiring nasi uduk yang sudah di bulatkan dengan mangkuk, lalu mengisi orek tempe dan kacang, telur dadar, ayam goreng jahe, mi bihun, kerupuk dan sambal serta sedikit irisan timun
"Buat enam piring ya va!", Perintah Bu Hadi dan Diva pun hanya mengiyakan walau hakikat nya hati nya bertanya bukankah di rumah ini hanya ada lima orang saja, Fany kan sudah berangkat sekolah ke pondok pesantren, lalu yang satu punya siapa
Selesai menaruh makanan ke atas meja makan, menuang air putih ke dalam gelas, Bu Hadi memanggil semuanya untuk sarapan pagi bersama
"Ayo makan lah dulu, ibu mau ke dalam sebentar", titah Bu Hadi dan mengusap lengan Diva, saat semuanya sudah kumpul dan duduk di kursi masing-masing
"Kenapa enggak sekalian saja Bu, bareng-bareng pasti lebih enak"
"Iya tapi makan lah terlebih dahulu untuk kali ini dan menuruti kata ibu, makan lah terlebih dahulu okay", sekali lagi Bu Hadi menegaskan semua nya untuk sarapan duluan
Fadlu pun menyipitkan mata pada Diva sebagai tanda agar Diva mengiyakan perintah ibu
Diva pun menjejalkan sesuap nasi kedalam mulut nya, begitu dengan Aldo, Fadlu dan pak Hadi
__ADS_1
Sesungguh nya masakan ini enak dan di buat dengan bersih tapi mengapa Bu Hadi malah pergi meninggalkan mereka semua
Diva menangkap ada guratan sedih dengan mata yang memerah di wajah tua Bu Hadi, Diva ingin sekali bertanya tapi ia urungkan
Bu Hadi pergi dari ruang makan, terlihat pak Hadi mengunyah dengan sangat pelan, membuat makanan yang awal nya enak menjadi beraneka ragam rasa, rasa enggak enak, sungkan dan lain sebagai nya hinggap di dalam benak Diva
Tak selang berapa lama Bu Hadi kembali dan duduk di kursi yang ada di sebelah pak Hadi, disana terlihat Bu Hadi makan dengan pelan dan lambat, nampak mata nya berembun
"Ayo habiskan sarapan kalian!", Bu Hadi menatap kearah Diva, beralih menatap Fadlu dan Aldo
Tap.. tap...
Suara langkah kaki seseorang membuyarkan tatapan Bu Hadi, begitu pun dengan Fadlu dan Aldo
Saat menoleh ke arah belakang, Fadlu mendapati seseorang dengan wajah yang cantik namun mampu membuat jantung Fadlu hampir meloncat dari tempat nya, bagaimana tidak, Sherina tersenyum lebar di sana, mungkin kah sebuah Cinta akan berubah menjadi benci ketika tau watak asli seseorang
"Kenapa terkejut, biasa saja kali", Sherina langsung duduk di kursi samping Diva yang sedang mengunyah nasi di meja makan tersebut
Sekilas Sherina menatap Diva dengan tatapan penuh remeh lalu melihat nasi uduk di piring yang sudah tersaji sempurna
"Makan lah terlebih dahulu?", titah Bu Hadi dan Sherina hanya bisa menjawab dengan sebuah anggukan lalu menjawab
"Aku enggak bisa makan makanan ini Bu, bukan apa tapi aku enggak bisa sarapan yang terlalu berat, sepotong roti dan susu aku rasa sudah cukup"
"Disini tidak ada makanan yang seperti kota, kalau kamu mau ya itu yang ada di makan, kalau enggak mau ya sudah", sengit Bu Hadi
Sherina akhir nya menyendok dan mengunyah nasi yang ada di depan nya, dari pada dia kelaparan, sedari kemarin siang perut nya belum di isi, Sherina memilih mengurung di kamar tamu rumah pak Hadi tersebut
"Enak kan!", Seru Bu Hadi
"Iya Bu ini enak sekali", jawab Sherina dengan malas
Uhuk... Uhuk....
Sherina mengambil segelas air putih lalu meneguk nya, hati nya merasa jengkel karena di bandingkan dengan Diva si wanita kampungan, demi apa jika di bandingkan bak langit dan bumi gerutu Sherina
"Sebetul nya enggak harus sih Bu, kan kalau kita kerja dan punya duit kita bisa ambil jasa pembantu", sinis Sherina
Bu Hadi merasa di skak mat oleh jawaban Sherina bagaimana bisa seorang perempuan selalu menjawab ucapan nya, itu terasa sangat menjengkelkan bukan!
"Oh iya kalian pasti bertanya-tanya ada apa kita di kumpul kan disini, dan aku akan memberi tahu kalian semua sekarang tentang hal itu", seru Sherina sambil tersenyum
Aldo dan Fadlu sudah paham akan apa yang di sampaikan Sherina, sedang Diva tampak menyimak setiap ucapan Sherina
"Aku hamil anak Fadlu", tegas Sherina jelas dan to the poin
"Jangan fitnah kamu!", Seru Fadlu langsung reflek
"Aku ada bukti nya, aku punya foto sebelum kita melakukan itu, apa perlu mereka melihat foto mesra kita saat di kamar ku waktu itu", ancam Sherina
Tes
Air mata Bu Hadi luruh dari netra tua nya, nampak Bu Hadi begitu terpukul dan memejamkan mata, sedang pak Hadi mengusap punggung Bu Hadi untuk menguatkan hati
"Kita.... ", Fadlu mengantung ucapan nya, tidak mungkin Fadlu mengatakan jika memang dirinya pernah tidur dengan Sherina
__ADS_1
"Kita apa Fadlu ku sayang, jangan di gantung dong", sebuah senyum Sherina hadirkan, sedang Fadlu mengepalkan tangan nya dengan hati yang berapi-api
"Aku tidak yakin dan aku pastikan yang kamu kandung itu bukan anak ku", tegas Fadlu lebih pelan dari ucapan sebelum nya
"Kamu jahat Fadlu, kamu mengingkari semuanya", Sherina menatap tajam ke arah Fadlu
"Pak, aku mohon agar bapak menyuruh Fadlu bertanggung jawab atas perlakuan nya padaku, bukan kah bapak juga punya anak perempuan, bagaimana perasaan bapak jika anak perempuan bapak di rusak lelaki brengsek seperti Fadlu"
"Dlu tolong jawab jujur, apakah kamu pernah melakukan hubungan badan dengan Sheeina?", Tanya pak Hadi
Tidak ada jawaban, Fadlu hanya menunduk dan mengeraskan rahang dengan kuat, Aldo disamping Fadlu hanya menepuk pundak Fadlu dengan lembut, sebagai kata kuat
"Fadlu ayo jawab!", Ketus pak Hadi kali ini
"Katakan tidak Fadlu", seru Bu Hadi dengan air mata yang mengenang di pelupuk matanya
"Katakan lah Fadlu sayang kenapa harus takut dan malu, waktu kamu melakukan nya dengan ku kamu enggak malu dan enggak takut juga"
Hiks... Hiks.....
Diva menutup mulut nya dengan kedua tangan nya, agar tangis nya tidak pecah keluar
Fadlu mendekati dan berusaha mengambil tangan Diva untuk menyakin kan bahwa itu tidak semuanya benar walau sulit
"Va maafkan aku, ini semua tidak seratus persen seperti apa yang kamu pikir kan"
Diva hanya memejamkan mata dengan isakan tanpa menjawab ucapan Fadlu
"Va... Aku mohon percayalah padaku", Fadlu terduduk di bawah kursi dimana Diva terduduk
"Bagaimana kami bisa percaya Fadlu, bahkan kamu tidak menyangkal nya", Bu Hadi menjawab ucapan yang Fadlu lontarkan
"Bu, ibu harus percaya pada ku?", Fadlu memeluk ibu nya meminta agar ibu Hadi memberikan kepercayaan dan membela nya
"Kamu juga punya adik perempuan, tentu kamu tidak ingin kejadian ini menimpa Fany bukan, lalu kenapa kamu merusak anak orang Fadlu", tegas Bu Hadi
"Betul apa yang ibu ucapkan", jawab Sherina puas
"Kamu juga jadi wanita jangan terlalu gamp**an, tidak akan ada perempuan yang mau di ajak berhubungan badan sebelum dia menikah kecuali perempuan ga*** dan hiks... Hiks.. ", Bu Hadi menyadari semua juga tak luput dari kesalahan putra nya
"Ibu...", Teriak Sherina merasa tidak terima
"Setelah dan sebelum melakukan dengan anakku, apakah kamu juga melakukan nya dengan lelaki lain", ketus Bu Hadi
Wajah Sherina memerah menahan amarah dan emosi, sedang pak Hadi berusaha menahan perdebatan antara Sherina dan Bu Hadi
"Kita bisa bicarakan ini dengan pikiran yang jernih jangan pakai emosi", pak Hadi mengelus pungung Bu Hadi
Fadlu masih terduduk di bawah kursi sang ibu, Fadlu merasa bersalah karena telah membuat sang ibu membela nya sepeti itu
"Apakah harus Fadlu bertanggung jawab atas kehamilan mu, sedang Fadlu sendiri tidak yakin itu anak nya?", tanya pak Hadi
"Tentu, bapak bayangkan saja jika aku ini anak perempuan bapak, apa bapak akan melepaskan lelaki yang membuat nya menjadi seperti ini"
"Tidak... Sampai kapan pun aku tidak akan ridho anak ku menikah dengan mu", lantang Bu Hadi dan membuat suasana kembali riuh
__ADS_1
Fadlu memeluk sang Ibu "sudah Bu, kita bisa mencari kebenaran, bahwa yang di kandung Sherina bukan anak ku Bu, ibu jangan terlalu bersedih, maafkan aku bu"
"Aku akan menunggu jawaban apa dari kalian semua nanti malam, jika kalian menolak bahkan mengelak nya maka aku akan membawa masalah ini ke jalur hukum, dan kamu tau kan Fadlu om ku adalah seorang pengacara terkenal itu, dan sudah bisa ku pastikan kamu akan kalah", Sherina pergi meninggalkan mereka menuju kamar tamu di rumah Bu Hadi tersebut