Menggapai Asa Dalam Doa

Menggapai Asa Dalam Doa
episode 66


__ADS_3

"Bu, aku pamit pulang ke rumah bapak dulu ya?", Diva pamit


"Nanti dulu va, tunggu masalah ini bisa selesai dan ada jalan keluar setelah nya"


"Aku tau Bu, tapi aku enggak bisa berpikir apapun dalam kondisi yang rumit seperti ini"


"Va... "


"Aku janji tidak akan menceritakan masalah ini sama bapak ku Bu, percayalah!"


Bu Hadi memeluk Diva erat dan penuh kasih, dari awal Bu Hadi sudah mantap dan yakin jika Diva orang baik dan tulus


"Baik lah jika kamu mau pulang kerumah pak Ilham, Fadlu tolong antarkan Diva pulang ke rumah pak Ilham", titah Bu Hadi pada Fadlu


"Ah tidak Bu, aku bisa jalan kaki saja"


"Diva dari sini kerumah bapak mu itu jauh nak", Bu Hadi tampak menangkap sinyal perubahan di wajah Diva


"Kalau begitu di antar oleh Aldo saja bu, mau kan do antar mba pulang ke rumah bapak!", pinta Diva pada Aldo yang memperhatikan itu


"Boleh lah mba, ayo!", Seru Aldo


Fadlu Tak menjawab apapun, Fadlu tau dan faham saat ini hati Diva hancur dan sakit, bahkan Diva enggak mau di antar pulang oleh nya


Diva pamitan pada Bu Hadi dan pak Hadi lalu gegas naik ke dalam mobil bersama Aldo, di sepanjang perjalanan Diva hanya diam


"Eh do kita berhenti di sini, aku mau istirahat dan mau lihat di kayu doyong itu", tunjuk Diva pada sebuah pohon yang men doyong di atas sungai, tempat dimana dulu Diva dan Fadlu sering adu pendapat soal PR atau masalah apapun


"Okay", Aldo memarkirkan mobil di sisi jalan lalu membiarkan Diva keluar dari mobil mendekati pohon doyong tersebut


Diva duduk di atas pohon tersebut dengan kaki yang ia tenggelamkan ke sungai


"Pantas sepi, tengah hari gini jarang orang keluar rumah", lirih Diva mendapati jalanan yang sepi tersebut


Aldo membuka ponsel dan dari jarak jauh Aldo memotret Diva dari kejauhan lalu mengirimkan pada Fadlu lengkap dengan emoji menangis bombai


"Dimana!", Balas Fadlu cepat


"Di pinggir jalan tidak jauh sebelum kebun jagung mas"


"Tunggu aku on the way kesana"


"Oke", balas Aldo sambil membuka aplikasi lain nya di folder handphone milik nya


Sebuah sepeda butut berhenti di samping mobil Aldo, dan sontak hal itu membuat Aldo tertawa dari balik mobil "memang benar ya terkadang cinta itu bisa membuat orang waras jadi gila"


"Pulang lah!", Seru Fadlu dan Aldo pun mengangguk mengiyakan perintah Fadlu


Diva menatap kedatangan Fadlu dengan sepeda nya, Diva tidak ingin tertawa atau apapun, maklum hati nya sedang tidak baik-baik saja


"Va... Boleh aku duduk disini?"


Diva hanya mengangguk tanpa menjawab


"Va mau kah kamu mendengar penjelasan dari ku, sebentar saja, aku mohon va"

__ADS_1


"Katakan lah", lirih Diva


"Terimakasih va, kamu tau enggak va bahwa yang di katakan oleh Sherina itu tidak benar, kamu percaya padaku kan va?


Diva hanya bergeming tak menjawab


"Aku memang melakukan nya dengan Sherina tapi itu sudah sangat lama sekali, mungkin enam bulan yang lalu setelah itu aku tidak pernah lagi melakukan nya va, masa iya aku melakukan nya dulu hamil nya sekarang"


"Va maafkan aku?", Fadlu menatap mata Diva namun Diva menghindari tatapan itu


"Kenapa harus minta maaf padaku dlu, apakah kamu sudah minta maaf pada Tuhan mu, apakah kamu sudah mohon ampun padanya, kamu tidak sadar dlu apa yang kamu lakukan itu sama dengan Zina dan dosanya besar"


Fadlu terkesiap mendengar perkataan Diva


"Masih untung hanya Sherina minta di nikahi, lah kalau kamu sampai terkena penyakit kelamin siapa wanita yang mau sama kamu, selain keluarga mu?"


"Va....", Fadlu mengenggam tangan Diva begitu erat


"Pikir kan masalah ini dengan benar dlu, jadilah Fadlu yang dulu, Fadlu yang baik, rendah hati dan masih memakai agama sebagai penuntun"


"Apa pun keputusan mu nanti aku akan selalu mendukung mu, tapi satu pinta ku, jangan pernah datang ke rumah untuk mengkhitbah ku sebelum kamu mempraktekan agama yang kamu genggam, aku takut kamu mengingkari janji suci pernikahan kita suatu hari nanti"


"Va itu tidak mungkin, percaya padaku"


"Percaya itu sama yang maha kuasa bukan sama kamu, musrik percaya sama kamu tuh", senyum Diva kembali mengembang


"Inti nya berubah lah menjadi pribadi yang lebih baik dlu, aku enggak mau gagal dalam pernikahan untuk yang kedua kalinya"


"Bagaimana aku harus berubah sih va?", Fadlu bingung dan heran dengan ucapan Diva yang tiba-tiba Agamis


"Fany....", Lirih Fadlu


"Aku pun mulai besok akan membiasakan diri memakai hijab dlu, aku akan berusaha progres memperbaiki diri, ku harap kamu pun begitu"


Fadlu semakin bimbang dan bingung "apakah kamu juga memakai barang haram tersebut dlu?", Selidik Diva dan membuat Fadlu terkesiap bukan main


"Jika iya tolong hentikan, kamu seorang dokter tapi lihat lah gaya hidup mu"


"Va kamu ini ngomong apa sih?", lirih Fadlu pelan


"Lebih baik lagi kamu di mutasi dari pekerjaan mu, misal di pindah ke desa Campa, di sini kan belum ada Klinik yang besar"


"Kamu mau aku pindah kerja nya?"


"Itu jauh lebih baik, jika siang kamu bisa bekerja menjadi perantara penolong kesehatan orang dengan menjadi dokter, dan jika malam kamu bisa belajar ilmu agama di pondok pesantren dimana Fany menimba ilmu"


"Tapi tidak semudah itu va!"


"Aku sudah bilang semua keputusan ada di tangan mu"


Fadlu menunduk lesu tak bersemangat, kejadian demi kejadian membuat nya rumit dan tersudutkan


"Mari kita buka lembaran baru dengan gaya hidup yang baru juga, kita akan sama-sama saling nasehat menasehati dalam kebaikan, aku bukan orang baik begitupun kamu tapi kita akan belajar bersama menjadi orang yang lebih baik"


"Baik lah jika menurut mu aku harus begitu, aku akan mencoba nya tapi kamu memaafkan aku kan va?", Lirih Fadlu

__ADS_1


"Aku akan memaafkan mu jika kamu sendiri bisa memaafkan dirirmu sendiri dan berjanji tidak akan mengulangi hal demikian tadi"


"Terima kasih va"


"Sekarang mari kita cari jalan keluar dari masalah yang sedang menimpa mu ini dlu?"


"Aku sungguh tidak ingin mempertanggung jawabkan suatu hal yang bukan tanggung jawab ku va"


"Tapi bagaimana tantangan Sherina soal tindakan hukum yang akan ia ambil, kamu tau dlu, hukum sekarang itu banyak main materi, dimana yang kaya akan lulus dan yang Miss queen akan jatuh terpuruk"


"Kan Ada Allah bersama kita", jawab Fadlu dan Diva pun menanggapi dengan senyum


"Semoga kita selalu di jalan lurus dan selalu di ingatkan dalam kebaikan"


"Va aku punya ide, bagaimana jika kita lakukan tes DNA ke si janin yang di kandung Sherina?"


"Emang bisa ya?"


"Kenapa tidak, tapi itu sangat berbahaya bagi kesehatan si janin"


"Kalau begitu jangan dong!"


"Terus aku harus siap gitu menikahi Sherina, ogah sampai kapan pun aku enggak mau"


"Ya jalan yang lain nya"


"Pokok nya jalan terakhir yang bisa ku tempuh adalah tes DNA, ya aku harus pakai jalan itu"


"Dlu jangan egois"


"Va aku mohon jangan hentikan keinginan ku, aku perlu tau tentang kebenaran itu, aku enggak mau anak itu jadi korban kejahatan Sherina"


"Huh lalu kalau kamu memang bapak nya gimana?", Goda Diva pada Fadlu


"Entah lah kepala ku rasanya mau pecah memikirkan itu semua, baru saja aku akan mengecap indah nya bersama mu eh cobaan kok Yo pada mau di cobain saja"


"Hehehe sabar lah, orang sabar badan nya melar"


"Terimakasih ya va"


"Untuk...."


"Untuk cinta dan keikhlasan hati mu, I love you Diva"


Diva pun tertawa dan memukul bahu Fadlu


"Hey bukan nya di jawab malah di pukul, aneh sekali", gerutu Fadlu


"Memang nya cinta harus di koar-koar kan, lihat bapak dan ibu mu, menyayangi mu tanpa harus di katakan setiap saat kan?"


"Lain lah"


"Apa nya yang lain?"


"Ya lain saja"

__ADS_1


"Dasar aneh", akhir nya Diva dan Fadlu mencurahkan beberapa obrolan di atas sungai tersebut hingga sore menjelang datang dan Fadlu mengantarkan Diva kerumah pak Ilham


__ADS_2