Menggapai Asa Dalam Doa

Menggapai Asa Dalam Doa
38


__ADS_3

Setelah memastikan Bu Hadi dan pak Hadi sarapan walau hanya sedikit Diva gegas melihat kondisi Fadlu di dalam ruangan bercat putih tersebut


"Ibu istirahat saja dulu, pasti ibu dan bapak capek, biar siang ini aku yang jagain dokter Fadlu?", Diva berucap sebelum benar-benar masuk kedalam ruangan


"Sebenarnya iya va tapi ibu gak tenang ninggalin Fadlu sendirian disini", ucap Bu Hadi, nampak wajah nya lesu kecapekan, kurang tidur itu pasti


"Kan ada aku Bu, ibu jangan khawatir aku akan menjaga dokter Fadlu sunguh-sungguh lebih baik sekarang ibu sama bapak pulang dulu ke apartemen dokter Fadlu untuk istirahat dan membersihkan diri ganti baju"


"Iya benar juga apa katamu va!", Seru pak Hadi dan membujuk istrinya agar mau pulang ke apartemen Fadlu walau hanya sekejap, tidak di pungkiri pak Hadi juga teramat lelah dan pengen meluruskan pinggang


"Baik lah kalau begitu ibu dan bapak pulang ke apartemen dulu ya, kamu sungguh jagain Fadlu ya, jangan kamu tinggalin walau sebentar, nanti kalau bapak sudah mendingan pinggang nya kami langsung kesini", Bu Hadi bangkit dan hendak pergi


"Iya Bu", Diva membalas dengan penuh kelembutan


Pak Hadi dan Bu Hadi pun di Carikan taksi oleh Anis di lantai bawah Rumah sakit


"Kenapa sampai seperti ini dlu?", Diva mendekati Fadlu yang terbaring lemah di ranjang dengan mata yang masih terpejam


"Bangun lah dlu, jangan membuat ku cemas, aku mohon bangun lah, aku masih ingin melihat mu bahagia bersama orang yang kau kasihi", Diva mengusap jemari Fadlu


"Va....?", Suara Anis masuk kedalam ruangan, dengan cepat Diva menyeka sudut matanya yang basah tanpa menoleh


"Aku mau pergi dulu ya, aku ada kepentingan sebentar, nanti kalau urusan ku sudah selesai aku langsung datang kesini", Anis pun berlalu tanpa masuk kedalam ruangan Fadlu terlebih dahulu


Diva masih mengusap jemari Fadlu


"Bangun lah aku mencintaimu dlu, aku masih mencintai mu, aku akan selalu mencintaimu dalam sepanjang doa ku"


Diva menatap mata indah yang mulai bergerak membuka


"Dlu.... Hah kamu bangun Fadlu, kamu beneran bangun dlu...?", dengan setengah berlari Diva keluar ruangan untuk memanggil dokter yang menangani Fadlu


Dokter pun segera memeriksa keadaan Fadlu


Dan tersenyum "syukur lah dokter Fadlu sudah sadar, aku sempat khawatir dengan keadaan dokter", ucap Dokter yang masih memeriksa keadaan Fadlu


Fadlu masih diam belum mengeluarkan sepatah kata pun dan hanya ada air mata yang mengalir di kedua sudut mata yang terlihat kehitaman itu


"Biarkan saja Bu, pasien mungkin sedang mencerna dari kesadaran", ucap dokter


"Dokter Fadlu tidak kenapa-napa kan dok?", Tanya Diva saat dokter yang merawat Fadlu beranjak keluar

__ADS_1


"Iya Bu tenang saja, semua baik-baik saja ibu gak perlu khawatir?", Dokter pun berlalu


Diva mendekat di dekat ranjang Fadlu sambil mengusap jemarinya


"Yang mana yang sakit?", Tanya Diva sambil melihat seluruh badan Fadlu yang tertutup selimut


Fadlu menggelengkan kepala dan tersenyum


"Terimakasih ya va?", Fadlu menggengam tangan Diva yang masih berdiam di tempat


"Maaf aku baru tau jika kamu masuk rumah sakit, kenapa kamu sampai seperti ini sih dokter Fadlu?", mata Diva berkaca-kaca dan duduk di kursi dekat ranjang Fadlu


"Namanya juga musibah siapa yang tau, kalau di tawari aku juga pasti menolak iya kan!"


"Apa nya yang sakit biar aku usap-usap sampai gak sakit lagi?", Tanya Diva bersungguh-sungguh


"Gak ada va, aku haus boleh ambilkan aku minum?", Diva pun segera bangkit dari duduk mengambil air minum di atas nakas dan segera memberikan nya pada Fadlu yang tampak kehausan


"Minum lah yang banyak supaya cepet sembuh", Diva mengambil gelas yang kosong habis di teguk dan menaruh nya ke atas nakas kembali


"Kembung lah kalau minum melulu", Fadlu mencoba duduk di ranjang dari posisi terbaring dengan perlahan mengangkat tubuh agar bisa duduk dengan di bantu Diva


"VA kok kaki ku gak bisa di gerakkin sih?", Fadlu membuka selimut dan terbuka lah kaki yang tertutup celana panjang khas pasien rumah sakit


Fadlu coba mengangkat namun gak bisa


"Va kaki ku kenapa?, Katakan kaki ku kenapa gak bisa di gerakkin va?", Fadlu histeris mendapati kaki nya yang gak berfungsi


Diva kembali keluar ruangan mencari dokter yang merawat Fadlu


Dokter pun setengah berlari dan masuk keruangan Fadlu


"Tenang dokter Fadlu, tenangkan diri anda, semuanya baik-baik saja okay!", Dokter yang belakangan di ketahui bernama Zaki dari papan nama di jas putih nya itu tampak menenangkan Fadlu yang teriak histeris


Dokter Zaki memeriksa kaki dokter Fadlu dan menusuk sebuah jarum ke kaki doktet Fadlu namun dokter Fadlu mengatakan tidak terasa apapun


Kemudian dokter Zaki melakukan serangkaian tes yang lain nya tampak wajah Fadlu sedikit sulit di artikan teramat pias


"Dokter Zaki bagaimana keadaan kaki dokter Fadlu?", Diva tampak panik


"Ibu boleh ikut saya keruangan saya", jelas dokter Zaki

__ADS_1


Diva mengiyakan dan menatap Fadlu sendu


"Aku ke ruangan dokter dulu?", Diva beranjak


Menuju ruangan dokter Zaki dengan tergesa-gesa


"Duduk lah Bu", perintah dokter Zaki


Diva pun duduk di kursi yang telah di sediakan


Dokter Zaki mengambil sebuah kertas yang ada di dalam sebuah map dan menyodorkan pada Diva


Dengan sigap Diva menerima dan mulai membacanya


Mata Diva membelalak saat membaca kalimat demi kalimat yang tertulis di kertas tersebut


"Apakah dokter Fadlu bisa sembuh dok?", Tanya Diva


"Bisa saja tapi kemungkinan untuk bisa sembuh total hanya 0.5,%", tegas sang dokter Zaki


"Apa?, Lalu bagaimana dengan kehidupan selanjut nya dok jika keadaan beliau begini, beliau kan seorang dokter dan... ?", Tanya Diva cemas tak melanjutkan kalimat nya


"Maaf saya tidak tau itu bukan kapasitas saya Bu, yang terpenting kita selalu berusaha dengan kemoterapi untuk hasilnya bisa di lihat tiap seminggu sekali"


"Baik lah terimakasih dok saya permisi?", Diva mengundurkan diri menuju keruangan Fadlu terbaring kembali


Langkah kaki Diva terasa berat, bagaimana cara menyampaikan isi kertas itu pada Fadlu


Diva menghentikan langkah kaki dan memasukan kertas tersebut kedalam tas milik nya


Dengan menguatkan hati Diva membuka pintu Ruangan yang di tempati Fadlu dengan perlahan


"Apa kata dokter va?", Sergah Fadlu


Diva menghela nafas kasar, belum juga Diva masuk sudah di todong pertanyaan yang Diva khawatirkan sedari tadi


"Va aku tanya padamu, apa kaki ku lumpuh dan apa kelumpuhan ku permanen?", Tanya Fadlu serius


"Dlu...", Diva menatap sendu ke arah Fadlu sekaligus terkejut


"Aku juga seorang dokter sedikit banyak aku tau va, aku sudah menerimanya va jika memang aku di takdirkan lumpuh, kalaupun aku menolak dan meronta itu juga sia-sia tidak akan bisa mengembalikan kekuatan kaki ku kan!"

__ADS_1


Diva heran baru beberapa saat yang lalu Diva meninggalkan Fadlu dengan keadaan kacau dan histeris tidak terima kenyataan tapi dalam waktu sekejab Fadlu sudah bisa sebijak itu, hebat sekali batin Diva sambil tersenyum hambar


__ADS_2