
"mas sarapan dulu?", Ajak Diva saat melihat Leon datang ke kontrakan, Diva berusaha melupakan apa yang telah Leon lakukan semalam, meski wajah Diva masih terlihat memar namun Leon enggan sekedar meminta maaf
"Aku tak Sudi makan masakan mu, jangan sok baik kamu?", Leon meninggalkan Diva yang masih mematung di samping pintu
Diva menatap Leon yang mengambil tas kerja milik nya dan berjalan melewati Diva yang masih setia di samping pintu
"Oh ya berkemas lah nanti malam kita akan pindah ke rumah baru ku, jangan bahagia dulu itu rumah ku, kamu hanya menumpang ", Leon pergi dengan motor ke kantor dan Diva masih bengong melihat Leon dari teras rumah
"Va..... Mau ikut aku kuliah gak!", Anis yang sudah rapi berteriak dari depan pintu kontrakan
"Hah ada-ada saja kamu nis!", Balas Diva
"Nanti jadi ke mall gak?", Tanya Anis dan mendekat
"Kayak nya gak jadi nis maaf ya?, Soalnya mas Leon nyuruh aku berkemas mas Leon ngajakin aku pindah kerumah baru kita"
"Wah kamu sudah punya rumah baru va?, Wih enak dong?", Anis tersenyum
"Alhamdulillah nis"
"Ya tapi aku sedih bakal jarang ketemu kamu lagi, eh tapi kamu punya nomor telepon ku kan, nah kalau kamu perlu bantuan ku langsung hubungi aku okay", Anis memberi tau Diva sambil memeluk Diva dengan erat
"Okay Anis, ya sudah sana berangkat kuliah nanti telat lagi"
"Iya bawel... Ya sudah aku berangkat kuliah dulu ya va, bye Diva see you?", Anis pun pergi keluar pagar dari kontrakan sambil melambaikan tangan ke arah Diva
Diva pun membalas lambaian tangan Anis dan setelah Anis sudah tak terlihat lagi Diva masuk kedalam rumah buat packing baju milik nya dan milik Leon
Tak lama setelah Diva berkemas datang sebuah mobil pick up carry di depan pagar dan sang sopir memberitahu Diva bahwa dia di suruh mengangkut perabotan dan barang milik Leon ke rumah baru nya
Dengan bantuan sang sopir Diva mengangkut barang-barang dan menyusun nya di bak mobil
"Ayo mba apa sudah siap?", Tanya sang sopir
"Iya bang sudah", Diva pun melihat rumah kontrakan yang ia tempati selama setahun terakhir, kemudian Diva menatap pintu rumah Anis dan kemudian bergegas masuk kedalam mobil
"Apakah jauh pak letak rumah nya?", Diva membuka suara
"Tidak mba paling dua puluh menit sampai"
Tak lama kemudian, sampailah Diva di sebuah rumah minimalis di pinggir kota yang ramai, rumah tak begitu besar dengan cat bernuansa gold keemasan
__ADS_1
"Nah ini rumah nya mba, sesuai arahan pak Leon tadi", sopir memberi tahu Diva
Diva segera turun dari mobil dan membantu sopir menurunkan kembali barang-barang ke dalam rumah
"Sudah selesai saya pamit pulang mba?", Sopir mengundurkan diri
"Oh baik lah, terima kasih banyak ya pak sudah membantu"
"Iya sama-sama", selepas kepergian sang sopir Diva segera merapikan barang-barang bawaan nya sesuai tempat nya
Butuh waktu yang cukup lama untuk merapikan serta membersihkan rumah itu, walau rumah itu tidak terlalu besar tapi maklum rumah yang sudah lama tak di tempati pasti sangat kotor bukan!
"Wah sudah sore rupanya, aku belum makan, HM... Aku kan gak punya duit bagaimana mau beli makanan, tadi makanan di sana sudah aku kasih pemulung lagi, aku pikir mas Leon ada disini", gumam Diva sambil menselonjorkan kaki di sofa
"Mas... Kok sudah pulang?", Diva terkejut saat mendapati pintu secara tiba-tiba terbuka dan mendapati Leon sudah pulang
"Emang kenapa ini sudah sore jadi wajar dong kalau aku sudah pulang, apa kamu pikir aku gak bakal pulang jadi kamu bisa leluasa menempati rumah ini, jangan ngarep kamu?", Ketus Leon
Diva yang tadinya mau meminta uang buat beli makanan pun jadi diam membisu, rasa lapar seketika hilang sudah menjadi sesak di dada
Leon pun mengambil ransel baju Diva dan melempar nya keluar dari kamar utama
Bugh...
"Loh kenapa di lempar sih mas?", Diva mengambil ransel baju itu
"Ambil ransel baju mu, jangan kamu harap aku akan tidur sekamar dengan mu, itu kamar mu?", Leon menunjuk sebuah ruangan yang mirip di sebut gudang
"Tapi kenapa?", Diva menatap manik Leon tak menyangka
"Entah lah akhir-akhir ini aku ilfeel sama kamu, kok bisa-bisa nya aku dulu mau menikah sama perempuan jelek dan Kumal kayak kamu, apalagi kalau aku ingat kamu mau menikah dengan ku karena uang aku tambah menjadi ilfeel ?"
"Mas... Cukup, hentikan omong kosong mu itu, mulut mu terlalu kasar saat berbicara, kau menuduh ku perempuan mata duitan?", Diva memegang ransel baju milik nya meremas dengan erat
"Iya, kamu juga sebagai seorang istri malah mencintai lelaki lain, dasar wanita murahan, dan wanita seperti mu tidak pantas bersanding dengan ku, tapi aku masih berbaik hati padamu va, aku masih berpikir jika tiba-tiba aku menceraikan mu pasti bakal ada orang yang stroke setelah tau itu"
"Apalagi itu?"
"Siapa lagi kalau bukan nenek dan bapak mu yang menyusahkan itu"
"Cukup mas, jangan hina keluarga ku, mereka tidak pernah menyusahkan mu?"
__ADS_1
"Oh ya... Tapi menurut ku mereka menyusah kan ku dengan memberikan kepercayaan padaku untuk menjaga mu, itu menyusahkan, lagian apa kamu lupa bapak mu bisa bekerja di ladang dan bercocok tanam atas bantuan siapa?"
"Jika mas keberatan menjaga ku antarkan aku pulang kerumah bapak ku mas, dan aku akan menyuruh bapak ku berhenti bercocok tanam di ladang milik mu?"
Plak....
Lagi-lagi tangan Leon menampar Diva dengan beringas sampai membuat Diva belingsatan di lantai
"Diam kamu Diva, jika aku bisa pasti aku akan melakukan nya tapi sialnya bapak mengancam ku, jika sampai aku menceraikan mu maka aku tidak akan mendapat warisan apapun dari bapak ku, seluruh hartanya akan di berikan pada orang miskin seperti mu?"
Ucapan Leon begitu membuat Diva terkejut, Diva yang masih memegang erat pipi nya pun menangis terisak-isak, Diva tidak mengerti kenapa hidup nya seperti ini
Selesai bertengkar dengan Diva dan meninggalkan bekas luka dan memar di badan, Leon pergi meninggalkan Diva lagi
Diva meringkuk di lantai dengan isakan yang memilukan
Sungguh mustahil dirinya bisa lepas dari manusia laknat seperti Leon, jika pun dirinya bisa pergi lalu bagaimana dengan keluarganya di kampung
Diva paham betul lelaki macam apa si Leon tersebut, pasti dia akan benar-benar membunuh keluarganya
"Dia jahat pak, suamiku jahat", lirih Diva sambil memegang dada yang sesak
****
"Ini makan lah?", Leon melempar sebungkus makanan pada Diva yang masih tertidur di sofa
Diva tak mengambil makanan yang di lempar itu yang jatuh tepat di lantai di bawah dia bersandar, Diva menatap mata Leon
"Jadi wanita jangan pemalas, jika mau makan ya bekerja jika tidak mau bekerja ya terserah?", Leon meninggalkan Diva yang masih berdiam di atas sofa
Mata Diva seketika menjatuhkan air mata, dengan langkah gontai Diva memunggut makanan yang Leon lempar
Diva memegang beberapa bekas luka yang Leon tinggalkan, Dengan air mata yang merembes Diva memakan nasi dengan lauk telur dadar tersebut
Rasa makanan itu asin karena di makan dengan air mata yang mengalir, Diva mengusap air mata dan mencoba kembali untuk bekerja di rumah makan Padang
Dengan langkah terseok-seok Diva berjalan dan mencoba mencari jalan untuk ke rumah makan Padang, Diva akan meminta pak Aman untuk menerima dirinya untuk bekerja lagi
"Loh mba mau kemana, mba orang baru ya?", Tanya seseibu di pinggir jalan
"Iya Bu aku mau ke rumah makan Padang Cempaka?", Jawab Diva lirih
__ADS_1
"Loh kenapa wajah sama tangan nya memar begitu, sini biar ibu obatin?", Tawar si ibu
"Tidak Bu terima kasih", Diva menolak pertolongan ibu, tepat saat itu Leon kembali dari kantor karena ada yang ketinggalan