Menggapai Asa Dalam Doa

Menggapai Asa Dalam Doa
episode 12


__ADS_3

"va aku lihat dari tadi wajah mu murung sekali ada apa?" Fadlu duduk di samping Diva yang berada di bawah pohon kedondong


"Keluarga ku lagi ada masalah dlu?", Jawab Diva tersenyum getir


"Masalah apa va, kalau aku boleh tau?"


"Tapi kamu janji ya jangan bilang ke siapa-siapa?"


"Kenapa harus pakai janji segala sih....", Fadlu menatap lurus kedepan


"Aku malu dlu?", Diva menatap Fadlu dan Fadlu membalas tatapan Diva


"Ceritakan, aku janji gak akan ember!"


"Mama ku minggat...", Diva menghembuskan nafas


"Loh kok bisa?, Emang ada masalah apa sampai mama kamu pergi meninggalkan keluarga nya?"


"Aku sendiri gak tau, mungkin mama bosan hidup dengan kemiskinan di tambah lagi keadaan papa yang kamu tau sendiri kan kalau bapak ku lumpuh", Diva menatap langit dengan menyandarkan tubuh di batang pohon dondong


"Oh bisa jadi sih... Semoga bapak mu kuat ya menghadapi ini semua, aku yakin ini terasa berat buat bapak mu"


"Iya dlu apalagi mama pergi meninggalkan hutang yang banyak ke bank!"


"Apa....?, Kamu serius va",Fadlu kaget


"Iya dlu aku serius dan kamu tau jumlah nya berapa dlu seratus juta mama pinjam ke bank dan mama membuat perjanjian akan mengangsur selama satu tahun dengan angsuran sebelas juta rupiah setiap bulan, uang siapa coba dlu sebanyak itu"


"Oh gila... Kok mama mu bisa sejahat itu sih sama bapak kamu?, Terus gimana cara balik kan uang itu va?", Fadlu menatap Diva intens


"Entah lah sekarang saja sudah nunggak tiga bulan jadi harus bayar berapa itu, sebelas di kali tiga jadi tiga puluh tiga juta, mana jatuh waktu nya besok, andai ginjal dan paru-paru ku laku saat di jual maka aku akan menjual nya!", Balas Diva


"Va kamu ini bicara apa sih gak enak baget di denger nya, dan seandainya aku kaya aku pasti membantu mu va, aku ada sih uang di tabungan ku besok aku bawa untuk mu", Fadlu menatap bahagia ke arah Diva


"Gak usah dlu, jangan... Nanti ibu kamu marah, lagian aku gak mau merepotkan mu, kamu mau denger keluh kesah ku saja sudah Alhamdulillah", balas Diva


"Gak va pokok nya besok aku akan memberikan uang tabungan ku padamu, aku akan merasa bersalah jika tidak bisa membantu mu walau hanya sedikit sih!"


"Dlu...?", Fadlu menoleh


"Ini sapu tangan milik mu, kemarin setelah belajar menyulam di sekolah aku berinisiatif menyulam sapu tangan yang kau pinjam kan padaku?", Diva memberikan saputangan berwarna biru kepada Fadlu


."wah cantik sekali... Seperti yang buat", goda Fadlu


"Is modus", jawab Diva ketus


"FaVa... Dengan gambar bunga dan ini apa angsa apa bebek?", Tanya Fadlu


"FaVa itu sama kayak kalung yang kamu berikan ini kan, sedang ini FaVa dengan bunga aku sebagai sahabat mu dan ini kamu", Diva menunjuk ke arah gambar hewan


"Aku tau bunga ini kamu yang ini gambar apa aku gak paham, mau gambar apa jadi nya apa iya kan?", Fadlu tertawa terbahak-bahak


"Aku sendiri bingung mau gambar angsa apa burung, eh malah jadi nya bebek", lirih Diva dengan monyong


",Okay... Okay... Maaf , tapi aku suka va, makasih ya, aku akan menyimpan sapu tangan ini dengan baik"


"Harus....", Diva memegang tangan Fadlu


Mereka pun tertawa dan bersendau gurau


*****

__ADS_1


Esok hari nya nenek Diva bingung mendapat uang tiga puluh tiga juta darimana, nenek Diva menjual giwang yang ia pakai dan hanya berhasil mendapatkan uang satu juta saja


"Nek ini tadi Fadlu ngasih ini sama kita", Diva menyerahkan uang pemberian Fadlu


"Kamu cerita sama dia?", Sarkas nenek


"Aku hanya berbagi rasa dengan nya nek" Diva menunduk


"Ya sudah gak apa-apa, lambat laun berita ini pasti akan terdengar ke seluruh desa", jawab nenek


"Nenek ngomong apa?", Diva menatap mata nenek yang berembun, kulit keriput itu nampak bersedih


"Va.. dengarkan nenek, bagaimana mungkin nenek dapat mendapatkan uang sebanyak itu coba, untuk makan sehari-hari saja sudah Alhamdulillah sekali Diva", nenek memeluk cucu perempuan yang kini juga ikut meneteskan air mata karena bingung


"Mama jahat", ucap Diva


Nenek masih memeluk Diva dengan erat..


"Kalau rumah ini di jual bagaimana ya va?", Tanya nenek


"Nek menjual rumah itu tidak lah mudah, butuh proses yang cukup lama?", Jawab Diva


"Nenek akan menemui pak Kades siapa tau beliau dapat membantu kita?", Nenek melepas pelukan Diva dan beranjak pergi


Diva hanya melihat nenek nya bersepeda ke arah rumah pak kades, Mata Diva gak bisa bohong, sakit yang ia rasa sampai ke ginjal


Diva sangat kecewa dengan mama nya


Diva gak rela melihat nenek yang sudah tua begitu menderita karena ulah mama nya, dulu Diva menerima walau mama nya gak mau membantu pekerjaan rumah dan gak mau membantu apapun itu


Bahkan Diva rela ia harus membantu nenek nya bekerja untuk membiayai hidup, Diva rela di marahi dan di caci maki tapi kini Diva gak rela jika nenek nya harus menderita dengan hutang yang ia tinggalkan


Diva masuk ke kamar bapak nya


"Pak ...?", Diva menatap bapak nya yang sakit demam semenjak berita hutang mama yang ia limpahkan kepada kami


"Va maafkan bapak, bapak gak bisa buat Diva bahagia tapi bapak malah membuat Diva semakin menderita dengan keadaan bapak yang menyusahkan"


"Pak jangan bicara seperti itu?"


"Va seandainya mati adalah sebagai penebus dosa bapak ingin mati saja tapi bapak gak boleh mati sekarang va, bapak masih ingin melihat mu bahagia dengan anak-anak mu kelak?"


"Bapak.....", Diva memeluk tubuh ringkih bapak nya


"Sudah jangan sedih, anak bapak gak boleh sedih?"


Diva pun masih memeluk bapak yang teramat ia cintai "jangan tinggal Jan Diva ya pak?", Ucap Diva


"Iya nak", Ilham mengusap pucuk kepala anak semata wayang nya itu


****


"Nek.... Kenapa nenek terlihat bahagia sekali?", Tanya Diva yang sedang menyiram bunga di teras


"Pak Kades mau membeli rumah kita Va, pak Kades membeli rumah dengan harga seratus lima puluh juta jadi tadi nenek dan pak Kades habis dari bank melunasi seluruh hutang Meylin?", Ucap nenek


"Jadi....?", Tanya Ilham yang masih setia duduk di kursi roda nya


"Ya ibu masih punya delapan belas juta sisa uang dari penjualan rumah, untuk sementara rumah ini boleh di tempati sampai anak pak Kades mau membangun rumah disini?"


"Maafkan Ilham ya Bu?"

__ADS_1


"Sudah lah jangan di bahas lagi, yang lalu biarlah berlalu sekarang kita harus berpikir maju ke depan jangan terlalu meratapi yang sudah berlalu!"


"Makasih ibu makasih banyak?"


Nenek Diva masuk kedalam rumah dengan wajah tersenyum tapi tidak di pungkiri hati nya nyeri begitu hebat, bagaimana tidak


Rumah yang ia bangun dengan sekuat cinta bersama sang suami harus terjual begitu saja


Banyak kenangan manis di rumah ini, saat Diva di lahirkan dan ibu Diva mengalami pendarahan tak lama kemudian meninggal


Saat suami Bu Meli tiba-tiba sakit Liver akut nya kambuh dan tak berselang lama juga ikut meninggalkan Bu Meli


Ilham yang menikah lagi dengan Meylin seusai empat tahun kepergian mendiang istri nya, tenyata kasih sayang yang Bu Meli berikan pada Meylin adalah kesalahan


Ya kesalahan yang membuat Meylin menjadi semena-mena dan bersikap arogant


Bu Meli berpikir lagi, setelah ia boleh menumpang di rumah nya sendiri dan setelah nya ia juga akan di usir dari tempat yang ia bangun dengan jerih payah nya


"Sudah lah aku harus ikhlas", gumam Bu Meli


Saat duduk di tepi ranjang lusuh milik nya


****


Hari kelulusan pun sudah di umum kan, banyak kawan Diva yang bergembira ria akan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, salah satu nya Fadlu


"Va kira-kira kamu mau melanjutkan kemana?", Pertanyaan konyol macam apa yang di lontarkan Fadlu


"Kamu bertanya dengan ku dlu?", Diva menunjuk dirinya dengan telunjuk


"Siapa lagi ya kamu lah", ketus Fadlu


"Jangan kan buat melanjutkan sekolah buat bisa makan saja sudah cukup bagi ku Fadlu?", Jawab Diva santuy


"Tapi aku denger-denger bapak mu sudah mulai bisa jalan ya?"


"Iya Alhamdulillah dlu, ini semua berkat pengobatan alternatif yang kamu sarankan, ya tentu nya atas ijin yang kuasa juga?", Diva tersenyum


"Va boleh gak aku ngomong sesuatu sama kamu?", Fadlu menatap wajah Diva


"Apa?"


"Aku cinta sama kamu va?", Ungkap Fadlu dan di jawab oleh tawa Diva yang terbahak-bahak


"Aku serius diva?", Tegas Fadlu dan membuat Diva berhenti dan menatap mata Fadlu dengan senyuman yang merekah


"Terus....?", Jawab Diva


"Ya ... Sudah aku cuma ngomong doang, itu kenyataan yang aku rasakan, aku hanya ingin kau tau, sudah gitu aja", Fadlu memegang pohon dondong dan tak menatap Diva


"Aku juga cinta sama kamu dlu, tapi maaf kayak nya jalan kita gak sama lagi....", Lirih Diva


"Loh kenapa va?"


"Masa depan kamu masih panjang, bukan kah kamu bercita-cita ingin menjadi Dokter?", Diva menatap mata indah Fadlu


"Va....?", Ucap Fadlu


"Aku akan mencintai mu dalam setiap baris doa ku dlu, sekali lagi maafkan aku, cinta gak harus selalu bersama kan?", Diva meninggalkan Fadlu yang mematung tak mengerti arti ucapan yang Diva sampaikan


"Aku akan sukses va, aku akan datang saat aku sudah sukses", lirih Fadlu

__ADS_1


__ADS_2