Menggapai Asa Dalam Doa

Menggapai Asa Dalam Doa
37


__ADS_3

"va menurut mu makanan yang cepet bikin tekdung itu apa ya, secara kan kamu pernah tekdung jadi pasti sedikit banyak tau lah tentang makanan yang bisa bikin cepet tekdung?", Anis menghampiri Diva yang baru akan merebahkan diri di kasur karena lelah baru pulang dari butik yang ramai


"Gak tau aku nis, kamu kan yang sekolah tinggi pasti lebih tau, kalau aku ya alami saja tanpa makanan atau apapun, sudah saat nya hamil ya hamil aja", balas Diva dengan menguap


Huam... Huam....


"Ya elah va baru saja aku mau curhat kamu nya udah menguap berulang kali, gak seru kamu ih", Anis memonyongkan bibir


"Ngantuk nis, capek banget hari ini, lagian ini juga sudah malam loh, lihat sudah pukul sebelas malam emang Aidil gak nyariin kamu apa, pengantin baru kok kayak gitu?", Tanya Diva sambil menyangga wajah nya dengan tangan yang di tumpu di atas bantal


"Dia sudah tidur dari jam sembilan tadi, aku sendiri gak bisa tidur va, aku kepikiran pengen cepet-cepet hamil, aku mau buktikan kalau omongan Liu tempo hari itu gak bener, aku pengen menyelamatkan nama baik suami ku va?"


"Baik lah... Eh tapi kamu kan bisa konsultasi ke dokter, kalau kamu tanya ke aku itu salah Anis ku sayang, lebih baik kamu tanya ke dokter Sherina bukan nya dokter Sherina itu dokter kandungan iya kan, coba deh berkunjung ke sana?", Ide Diva


Anis berdesis dan memutar bola malas


"Males banget kalau harus kesana?", Jawab Anis sambil merebahkan badan yang tadinya duduk di pinggir ranjang


"Ya terus kalau gak mau menemui dokter Sherina lebih baik temui dokter Fadlu, eh tapi tunggu dulu deh kok akhir-akhir ini firasat ku tertuju pada dokter Fadlu ya nis", Diva telentang dan menatap plafon sambil membayangkan Fadlu


"Hahaha kamu jatuh cinta kali sama dokter Fadlu ?, Tapi kamu lucu deh va emang dokter Fadlu itu dokter apa coba, masa progam hamil ke dokter spesialis penyakit dalam gak masuk akal", Anis masih tertawa saat melihat Diva tersenyum-ssnyum sendiri


"Diem nis, suara mu tuh tolong di pelan kan, bisa menganggu pendengaran, yang tadinya orang sehat bisa berubah gak waras secara instan saat mendengar gema suara mu!", Diva kini kembali memiringkan badan memunggungi Anis


Anis pun keluar dari kamar Diva karena Diva malah tertidur saat Anis mencoba mencurahkan isi hatinya, dasar menyebalkan!


"Darimana kamu nis?", Tanya Aidil saat Anis membuka pintu kamar dengan sangat pelan takut membangunkan Aidil yang sudah terlelap


"Eh kamu kok bangun sih Dil, ku pikir kamu masih tidur, aku dari kamar nya Diva, aku gak bisa tidur pengen curhat sama dia eh malah di tinggal ngorok sama Diva"


"Hem... Lagian kamu tau ini sudah jam berapa pasti mba Diva butuh istirahat lah nis dia kan lelah habis kerja dan ngurusin tugas Sky", Aidil pindah duduk ke sofa yang ada di dalam kamar dekat dengan jendela


"Dil besok temani aku ke rumah sakit ya, aku pingin Konsul ke dokter spesialis For you", Anis duduk di dekat Aidil


"Tapi nis?", Aidil ragu dan malu


"Dil ada aku disini, kamu gak perlu malu dan gak perlu ragu, hapus semua gundah gulana di hati isi dengan semangat, pokok nya aku akan selalu di samping mu sampai kamu benar-benar sembuh okay?", Anis mencoba menyakinkan Aidil yang sedikit ragu dan bimbang


"Baik lah", Aidil mengambil handphone yang sedari pagi belum ia aktif kan


Aidil membuka sebuah aplikasi di ponsel nya


Dan melihat Sherina menandai akun Fadlu


Mata Aidil membelalak antara percaya dan tidak!


"Ada apa Dil?", Anis mendekat ke arah Fadlu yang begitu fokus di depan layar ponsel milik nya


"Coba lihat ini nis, ini bener apa cuma prank?", Seru Aidil penasaran sambil menunjukan sebuah foto yang berisi dimana Fadlu tengah berbaring di ranjang pesakit dengan banyak selang yang menempel di tubuh nya


"Coba kamu telpon Sherina, tanyakan kebenaran status yang Sherina buat", terang Anis memberi saran atas rasa penasaran Aidil


"Iya betul nis, aku akan mencoba menghubungi Sherina", Aidil segera menekan tombol panggil


Tut.... Tut.....


Namun tidak di jawab oleh sang pemilik nomor


Membuat Aidil mengulangi panggilan telepon nya namun tetap sama tidak ada jawaban


"Kenapa gak di angkat sih sama dokter Sherina?", Anis bertanya-tanya


"Mungkin Sherina masih sibuk, apa malah dia sedang tidur sehingga tidak mendengar panggilan telepon dari ku", Aidil menaruh ponsel di atas meja dan menatap Anis bimbang


"Ya sudah lah besok saja kamu hubungi dokter Sherina lagi", Anis membaringkan tubuh di samping Aidil dan menarik lengan Aidil supaya tidur di samping nya

__ADS_1


"Di kasur saja kalau mau tidur jangan di sofa nanti kamu jatuh gak ada yang tau", Aidil mengendong Anis menuju ranjang lalu di baringkan tubuh Anis dengan perlahan


"Tunggu aku sembuh ya?", Bisik Aidil dan Anis hanya mengangguk pelan


Dengan perlahan Anis mulai memejamkan mata berharap segera terlelap dan menjemput mimpi


Sejauh mana hati Anis mencoba berlapang dada saat mengetahui penyakit Aidil


Seluas itu pula lah Anis yakin jika Tuhan sedang menguji kesetiaan nya sebagai seorang istri


Apapun itu Anis yakin Aidil adalah lelaki baik dan Anis harus membantu Aidil sembuh, itu harus...


*****


"Hay Sky kamu sarapan pakai apa?", Tanya Anis yang baru bangun tidur dan segera bergabung di meja makan


"Pakai nasi goreng spesial buatan ibu dong", jawab Sky masih dengan mengunyah


"Wah boleh bagi gak buat Tante soalnya Tante laper sekali?", Anis mengambil piring dan mengambil beberapa centong nasi goreng kedalam piring nya


Sky hanya tersenyum melihat Anis yang akan melahap nasi di piring nya


"Suami mu mana kenapa gak kamu tunggu, malah makan duluan kamu itu nis", Diva menuang susu pada gelas Anis dan Anis pun menghentikan gerakan tangan nya lalu menatap pintu kamar yang tak kunjung terbuka


"Aidil lama banget dandan nya kayak cewek saja!", Lirih Anis


"Ah masa... Kamu nya aja yang gak sabaran kali, coba kamu siapkan baju dan yang


Keperluan Aidil yang lain nya pasti dia tidak akan lama", Diva menimpali dan duduk di samping Sky


"Harus begitu kah?", Tanya Anis lagi


"Iya nis, masa harus di ajari sih!", Diva menatap Anis geregetan


"Bu Sky berangkat dulu ya, itu suara bus sekolah sudah datang?", Sky mengambil tas sekolah milik nya


"Biar Tante yang antar sampai depan pintu!", Anis mengandeng tangan Sky dan membiarkan Diva hanya melongo atas keakraban mereka berdua


"Mba kok sendirian mana yang lain nya?", Tanya Aidil sambil menarik kursi dan duduk di depan Diva


"Sky baru saja berangkat sekolah di antar Anis ke depan karena bus sudah menunggu, kalau ibu sedang olahraga di luar bersama teman-teman nya dari pagi tadi?", Jawab Diva sambil menyendok nasi kedalam mulut nya


"Eit dah kamu va duluan saja, nunggu in aku ngapa, tadi aku di suruh nungguin Aidil eh kamu nya malah makan duluan gak nungguin aku?", Suara Anis datang dan duduk di sebelah Aidil sambil menyeruput susu yang telah di buatkan Diva


"Kok susu nya rasanya aneh gak kayak biasanya sih va, susu apaan ini apa jangan-jangan kamu ngerjaim aku ya?", Anis menatap gelas dalam ngenggaman nya


"Susu khusus promil Anis ku sayang!", Jawab Diva sambil mengunyah dan meneguk susu di dalam gelas nya


Aidil pun hanya menahan senyum, atas tindak Anis dan Diva


"Makanya besok-besok bangun pagi, jadi tau susu apa yang aku buat untuk mu, tapi untuk sebulan ini bangun siang juga gak apa-apa aku paham jika kalian pengantin baru dan sedang gencar buat adik buat Sky, its okay", Diva menghentikan suapan nya dan menatap Aidil yang menunduk lesu


"Kenapa Dil?", Tanya Diva saat melihat wajah kusut Aidil


Yang pertama hati Aidil tersentak atas ucapan Diva walau sebenarnya Diva hanya bercanda


Yang kedua Aidil bingung hari ini ia harus kerja sementara tadi pagi Sherina mengabari jika Fadlu masuk rumah sakit


"Fadlu masuk rumah sakit mba, sedang aku gak bisa langsung nengokin dia, soalnya aku sudah cuti hampir dua Minggu dan hari ini hari pertama aku masuk kerja setelah lama ambil cuti, kalau aku ijin gak masuk kerja lagi aku takut bigbos marah besar?", Aidil tampak sedih


Diva yang mendengar kabar Fadlu mengalami kecelakaan pun tersentak bukan main, ada rasa khawatir menyusup kedalam relung hatinya


Diva ingin sekali melihat kondisi Fadlu yang sedang sakit


"Kenapa dokter Fadlu bisa masuk rumah sakit?"

__ADS_1


"Kecelakaan va", jawab Anis sambil mengunyah


"Dokter Fadlu di rawat di rumah sakit mana?", Tanya Diva lagi dengan raut wajah khawatir


"Bougenville hospital mba", jawab Aidil sambil menyesap susu yang di buatkan oleh Diva, Aidil menangkap sinyal dari raut wajah yang Diva perlihatkan


Diva bukan kah artis yang bisa menutupi kesedihan hati dengan drama


Walau bibir nya mencoba tersenyum tapi mata indah itu sedikit berembun


"Kamu berangkat lah kerja, nanti mba yang akan menjenguk dokter Fadlu di rumah sakit bersama Anis, iya kan nis?", Diva menatap ke arah Anis yang diam dengan makanan di depan nya, Anis diam menikmati nasi goreng buatan Diva


Anis pun hanya bisa mengangguk mengiyakan


"Makasih banyak ya mba, sebenarnya aku pengen banget jengukin Fadlu, tapi nanti setelah pulang kantor aku langsung ke rumah sakit", Aidil kembali menyesap susu


Setelah sarapan selesai Aidil pun berangkat ke kantor dengan mobil pribadinya


Diva sendiri tidak ke butik melainkan ke rumah sakit untuk menjenguk Fadlu


Di perjalanan Diva menceritakan kepada Anis jika Fadlu adalah tetangga dan juga teman dari Diva saat sekolah


"Jadi sebenarnya kamu sudah kenal dokter Fadlu dari dulu dong, tapi kenapa cara kalian seperti orang baru kenal, gak ada akrab-akrab nya gitu?", Anis menatap manik Diva


"Ya aku tau diri lah nis, aku ini janda dan dokter Fadlu itu sudah punya tunangan dan sebentar lagi akan menikah, aku gak mau terlihat seperti janda gatal!"


"Kan cuma ngobrol atau bersapa hoho hihi gitu va", seru Anis


"Aku diam saja dokter Sherina cemburu apalagi aku bertindak bisa di gorok leher ku oleh nya!", Diva pun mengungkapkan ke khawatiran nya


"Hahaha kamu takut sama dokter Sherina, wah sekarang mah janda semakin di depan, gadis gulung tikar, UPS sorry...


Maksud ku jangan terlalu membatasi apapun lah va, menurut ku sih gak apa-apa kamu dekat dengan dokter Fadlu kan kalian temen gak lebih jadi jangan takut gitu dong"


"Seharus nya sih begitu, makanya aku ngajakin kamu kalau-kalau ada dokter Sherina kan ada kamu, setidaknya aku tidak mencuri perhatian seorang diri kan ada kamu yang selalu dukung dan bela aku", Diva menggoda Anis


"Is siapa kamu harus di dukung dan di bela", Anis kembali meledek Diva


"Sudah sampai nis, ayo turun?", Taksi yang di tumpangi Anis dan Diva sudah parkir di halaman Bougenville hospital


Setelah membayar Anis dan Diva keluar dari taksi dan menuju ruangan dimana Fadlu di rawat


"Wih rumah sakit nya mewah banget?", Lirih Anis saat melihat rumah sakit yang modern dan rapi


Diva tak menanggapi ocehan Anis, hanya ada Fadlu, Fadlu dan Fadlu di dalam isi kepala Diva saat ini


"Loh itu bukan nya orang tua dokter Fadlu ya?", Ucap Diva menghentikan langkah


"Apa va, orang tua nya dokter Fadlu, ya sudah sih gak apa-apa temui saja sekalian, masa sudah sampai sini malah mau balik lagi", Aniis menarik tangan Diva mendekat ke ruangan dokter Fadlu


"Permisi Tante?", Seru Anis dan membuat kedua orang tua Fadlu mengangkat wajah


"Loh kamu bukan nya Diva?", Bu Hadi menatap Diva yang hanya diam mematung


"Iya benar Bu", jawab Diva pelan


"Gimana kabarnya va, sekarang kamu tinggal dimana, Fadlu ada di dalam lagi hiks....hiks....." ,Bu Hadi malah menangis kemudian berdiri dari duduk nya dan memeluk Diva


"Iya Bu aku tau, ibu yang sabar ya, semoga dokter Fadlu segera sembuh dan sehat kembali"


"Makasih va, makasih banyak", Bu Hadi masih enggan melepas pelukan dari Diva


"Bu sudah lah Fadlu tidak kenapa-napa sebentar lagi juga sadar dan sembuh", pak Hadi masih berusaha menenangkan Bu Hadi yang begitu terpukul


"Oh iya ibu sudah makan belum, ini aku bawa nasi goreng dari rumah?", Seru Diva meletakan wadah nasi kecil di tangan Bu Hadi

__ADS_1


"Aku gak tega dan gak ketelen nasi va", Bu Hadi mengusap air matanya


"Ketelan dan tidak ibu harus tetap makan, kalau sampai ibu sakit kasihan pak Hadi jadi tambah bingung Bu, Fadlu sakit ibu juga sakit iya kan!", Rayu Diva dan mengajak Bu Hadi duduk


__ADS_2