
Ini adalah hari pertama Diva bekerja di Rumah makan Padang, Anis lah yang memberikan informasi tentang lowongan pekerjaan ini pada Diva dan Diva sendiri sangat mensyukuri nya
"Siapa nama kamu?", Tanya Aman sang pemilik Rumah makan Padang
"Diva pak", jawab Diva sopan
"Bekerja lah yang rajin, baik dan jujur, semoga kamu betah bekerja disini?", Aman mengulurkan tangan
"Baik pak terimakasih banyak atas kesempatan ini, saya akan berusaha untuk bekerja dnwgan rajin dan giat bekerja", jawab Diva
"Bagus lah, silahkan kamu boleh gabung sama kawan-kawan mu", Diva pun segera berlalu dan menemui seluruh pegawai di Rumah makan Padang tersebut
Diva memulai hari bekerja nya dengan sangat semangat rajin dan hati yang berbunga...
Diva bersikap ramah dan sopan pada semua karyawan, bahkan Diva termasuk karyawan yang cekatan dalam segala hal
Hati Diva teramat senang saat mendapat jatah makan siang di rumah makan Padang tersebut, ada nasi lengkap dengan lauk dan sayur dengan bumbu yang melimpah dan Diva sangat bersyukur karena dengan begitu Diva akan menggunakan gaji nya untuk kebutuhan yang lain
Dengan bekerja sebagai Joker di rumah makan Diva banyak tau tentang seluk beluk Rumah makan tersebut, Diva bisa menjadi pramusaji, menjadi Kasir saat sang kasir ke toilet, Diva juga bisa membersihkan lantai, mencuci piring, Membantu mengerus bumbu dan yang pasti Diva bisa ke pasar saat tenaga nya di butuh kan untuk membeli keperluan yang habis mendadak
Diva sangat menikmati Job nya dengan hati yang bahagia, karena dengan bekerja, setiap bulan Diva mendapat gaji berkisar dua juta delapan ratus ribu rupiah dengan catatan no off day
Tak terasa hari berganti hari, Minggu ke bulan dan bulan ke tahun
"Va aku kini sudah di angkat sebagai Manager kabar pengangkatan ku ini sangat menyenangkan va", seru Leon saat baru tiba di rumah
"Syukur lah mas, Tuhan maha baik dan Tuhan mendengar harapan mas untuk mengabulkan segala keinginan mas?", Jawab Diva
"Iya va aku seneng banget, uang tabungan yang terkumpul juga sudah aku masukan DP buat membeli rumah, setelah sertifikat keluar aku langsung menjaminkan nya ke Bank", Leon menunjukan buku tabungan pada Diva
"Jadi ini jumlah tabungan mas?", Tanya Diva dengan bahagia, karena di tabungan itu juga ada uang nya walau tidak sebesar gaji suami nya
"Iya va, dan besok aku dan pemilik rumah akan serah terima, kebetulan rumah itu masih milik salah satu mantan direktur yang dulu jadi pemilik itu masih mempercayakan uang sisa pembayaran dengan tempo minimal satu Minggu nunggu proses pencairan?", Mas Leon tampak sumringah
"Wah gak nyangka mas bisa membeli rumah mantan Direktur pasti rumah itu besar sekali ya mas?", Tanya Diva
"Iya pasti lah va"
Diva pun tersenyum dan mengambil tespack di balik saku baju tunik milik nya dan menunjukan pada Leon, mata Leon terlihat mendelik tak percaya
"Kamu hamil?", Sarkas Leon
"Iya mas", lirih Diva dengan senyum manis
"Va kita kan mau beli rumah dulu, lagian rumah itu belum lunas baru di DP dan kita harus mengangsur setiap bulan, kalau kamu hamil dan melahirkan itu pasti akan menguras uang kita?", Leon tampak tidak suka
__ADS_1
"Mas setiap bayi itu sudah ada rejekinya sendiri, nyatanya kamu sekarang sudah di angkat jadi Manager kan", Diva coba menjawab ke khawatiran Leon
"Ah entah lah... Aku mau mandi mau tidur aku capek", Leon pergi meninggalkan Diva yang sudah menyiapkan makan malam
"Apa sebaiknya tidak makan malam dulu?, Aku sudah masak rendang ayam mas?
"Aku sudah kenyang, aku makan di kantor tadi", Leon masuk ke dalam kamar dan
Dengan cepat Diva mengembalikan makanan yang sudah tertata ke dapur dan menutupi nya kembali
Diva berjalan masuk ke kamar di dapati nya Leon sudah tertidur dengan memeluk guling, Diva pun melihat jam masih jam delapan belum terlalu larut
Lalu Diva mengambil baju untuk di setrika, ya begitulah rutinitas Diva Pagi-pagi mencuci baju menggunakan tangan, menyapu dan mengepel lantai, membuat sarapan dan mencuci perabotan baru akan berangkat kerja ke Rumah makan Padang
Sepulang dari kerja Diva akan memasak untuk makan malam dan di lanjut menyetrika baju
Apa Diva pernah mengeluh tentu tidak!, Bagi Diva jika pekerjaan ini di jalani dengan ikhlas semua akan berbuah manis akhir nya, Diva yakin begitu
Diva mengambil sepatu suami nya dan mengelap sampai bersih lalu menyemir nya agar terlihat glowing, jika baju kemeja dan celana rapi maka sepatu juga harus rapi
Batin Diva berkata demikian
Diva hendak menutup gorden, nampak seseibu sedang berjalan mengambil sampah di tong sampah depan kontrakan nya, "pasti ibu itu belum makan dan dia bekerja begitu pun untuk mencari makan", Diva keluar rumah dan memanggil ibu itu untuk mendekat
"Ada apa nak?", Tanya ibu tersebut
Diva menuju dapur mengambil kantong plastik sayur memasukan separuh ayam rendang yang ia masak kedalam nya
Lalu membungkus nasi memakai kertas nasi
"Selesai", Diva senang dan segera beranjak ke teras depan
"Ini ada makanan Bu, silahkan di ambil?", Ucap Diva sambil menyerahkan nasi yang di beri kantong plastik
"Tapi nak... Ibu merasa di merepotkan"
"Tidak Bu, Diva gak merasa di repotkan lagian ini nasi masih bagus Bu sayang kalau di buang, lauk nya juga bukan lauk sisa Bu ini masih baru", seru Diva
"Baik lah nak dan terima kasih banyak, semoga hidup mu selalu sejahtera, ibu pamit", ibu itu pun berlalu meninggalkan Diva yang masih mematung di teras melihat ibu itu melangkahkan kaki sampai tak terlihat lagi
"Mas....?", Pekik Diva saat mendapati Leon berdiri di ambang pintu
"Kenapa terkejut?", Ketus Leon dengan wajah masam
"Iya lah"
__ADS_1
"Ngapain ngasih makanan ke pengemis macam itu, dia masih muda harus nya bekerja kalau mau makan bukan malah mengemis, sekali kamu kasih dia akan selalu datang kesini berharap kamu kasih terus"
"Mas gak boleh gitu ah, lagian nasi dan ayam nya kan banyak dari pada mubazir mending di kasihkan ke orang", jawab Diva
"Makanya kalau masak jangan banyak-banyak, jadi istri kok boros", maki Leon
Diva menatap mata Leon tak suka atas ucapan nya namun Leon bergegas masuk kedalam dan duduk di kursi sambil memainkan ponsel milik nya
Leon senyum-senyum sendiri saat melihat ponsel itu, dan itu membuat Diva penasaran apa yang di lihat Leon hingga membuat nya senyum-senyum sendiri, cepat sekali berubah nya baru saja marah-marah sekarang udah tersenyum sendiri
"Mas kenapa?" ,Tanya Diva sambil mendekat
"Apa sih, gak usah kepo deh, udah sana tidur udah malam, besok harus kerja kan?", Leon menatap Diva sambil mematikan layar ponsel nya
Diva dengan perasaan jengkel pun masuk kedalam kamar "awas saja besok kalau gajian aku bakal beli handphone", batin Diva sambil menyelimuti badan nya
Ya begitulah Diva di jaman se modern ini dia sama sekali belum punya Handphone, Diva terlalu kuno alias gaptek gak kenal perkembangan tekhnologi
****
Pagi-pagi Diva sudah berangkat kerja, setelah pekerjaan rumah beres dan membuat sarapan untuk Leon tentu nya
"Anis....?", Panggil Diva
Anis yang sedang berjalan pun mendekati Diva yang memang sengaja menunggu Anis
"Hey va, ada apa?", Tanya Anis yang sudah rapi mau kuliah
"Aku mau tanya tentang handphone dong, nanti sore kalau kamu gak sibuk aku mau ikut kamu ke mall nis aku mau beli handphone"
"Handphone... Emang kamu gak punya handphone va?, Ya ampun ketinggalan jaman sekali kamu, tapi tenang saja, besok aku akan ambil cuti dan aku akan mengajari mu tentang handphone seharian penuh bagaimana, menyenangkan bukan!", Seru Anis
"Wah ide bagus tuh nis, makasih ya?", Ucap Diva
"Iya Diva sayang, ya sudah aku berangkat dulu ya bye?", Anis berjalan menuju kampus
Diva sendiri berjalan menuju tempat nya bekerja
Di sepanjang jalan Diva membayangkan dia akan seperti mama nya yang kecanduan handphone oh tentu tidak, Diva hanya perlu handphone buat hak yang positif
Diva jadi teringat bagaimana kabar mama tiri nya, mama yang telah membuat nenek, bapak dan dirinya jadi seperti ini.
Karena mama nya lah Diva kini harus menjalani rumah tangga bersama Leon, Diva pikir dengan berjalan nya waktu Diva bisa mencintai Leon nyatanya tidak
Diva tidak bisa jatuh cinta pada Leon, Diva masih mencintai Fadlu, meski cinta itu kini terlarang
__ADS_1
"Aku mencintaimu Fadlu, semoga engkau bisa hidup bahagia, aku akan selalu mendoakan mu, cinta ini hanya akan menjadi doa, cukup aku yang menderita dengan pernikahan ini engkau jangan", batin Diva