Menggapai Asa Dalam Doa

Menggapai Asa Dalam Doa
episode 15


__ADS_3

"pak Ilham saya mohon maaf sepertinya pernikahan anak kita akan segera kita langsungkan, Karana kedua nya sudah cocok jadi tidak perlu menunggu apapun lagi, saya takut salah satu di antara mereka berubah pikiran", pak Kades menemui Ilham yang sedang menanam sayuran di polibag


"Tapi ini terdengar seolah terburu-buru pak kades, bukan kah kemarin bapak bilang nunggu setahun lagi, ini baru tiga bulan dari rencana awal pak?"


"Tapi Leon ingin mempercepat pernikahan ini pak Ilham, Minggu depan bagaimana pak, pak Ilham pokok nya terima beres saja saya yang akan mengatur, rencana awal saya ingin membuat pesta yang meriah tapi Leon meminta untuk mengadakan pernikahan dengan sederhana saja?", Seru pak kades


"Saya ikut saja lah pak bagaimana baik nya?", Ilham masih merapikan polibag dengan teliti


"Baik lah, besok saya akan kesini lagi memberi tahu apa saja yang di perlukan kedua putra putri kita", pak kades tersenyum


"Baik pak saya setuju-setuju saja", Ilham pun tersenyum


"Leon bilang uang yang akan di gunakan buat pesta akan ia gunakan buat bisnis di kota yang akan di jalan kan oleh Diva jadi saya pribadi sangat setuju dengan usul Leon"


"Wah benarkah begitu, sepertinya Leon sangat perhatian terhadap Diva, saya merasa terharu mendengar nya?", Ilham menaruh tangan nya di dada sambil tersenyum


"Baik lah pak Ilham saya pamit dulu, besok saya kesini lagi?", Pak kades pun pergi dari tempat Ilham menanam sayuran di samping rumah


Diva yang mendengar kabar itu dari balik celah jendela seketika merasa lemas, Diva tau siapa Leon, pasti Leon tidak main-main dengan ucapan nya


"Pergilah dan lari lah dari ku dengan pacar mu jika kamu ingin orang yang kamu sayang mati tergantung?", Diva teringat ucapan Leon tempo hari


"Ingat va kalau bukan karena pertolongan bapak ku entah bagaimana nasib nenek dan juga Bapak mu?, Tolong lah va untuk selalu berpikir sebelum bertindak", ucapan Leon tergiang di benak Diva


Diva takut jika nenek atau Bapak nya di aniaya persis seperti yang di katakan oleh Leon, dengan hati yang teriris Diva mengusap air mata di pipi nya


"Mungkin begini takdir hidup ku?", Diva meratapi nasib hidup dengan memandang nanar dinding

__ADS_1


"Saat uang dan jabatan punya cara untuk melakukan apapun yang di ingin kan, bahkan kita si miskin hanya bisa menerima tanpa mampu bertindak", keluh Diva menutup wajah dengan kedua telapak tangan


"Baik lah hembuskan nafas keluar kan!, Aku pasti bisa", Diva menyemangati dirinya, toh memamg benar semua ini baik-baik saja karena pertolongan pak Kades


Aku ingat itu!


Diva keluar kamar dan mendapati sang nenek sedang duduk di kursi sedang terbatuk-batuk


"Ada apa Diva sayang kenapa mata kamu sembab begitu?, Katakan sama nenek ada apa!"


"Tidak nek, aku gak kenapa-napa, aku hanya ah sudah lah Mungkin Diva terlalu bahagia mendengar kabar pernikahan Diva yang di percepat"


"Bahagia apa terkejut?", Sindir nenek


"Ah nenek... Doakan saja yang terbaik buat Diva ya nek?"


"Makasih ya nek udah sayang sama Diva?"


"Ngomong apa kamu ini va, tanpa di minta pasti nenek sudah sayang sama kamu dan nenek gak butuh rasa terimakasih darimu itu, nenek tulus menyayangi mu"


"Nek apakah wajah ku mirip dengan ibu?", Tiba-tiba Diva bertanya yang membuat nenek mengerutkan kening


"Kenapa kok bertanya begitu?"


"Aku hanya ingin tau nek, ayolah katakan wajah ibu dan katakan bagaimana awal mula bapak dan ibu bisa sampai menikah?", Diva menuntut sang nenek menceritakan semuanya


"Ibu mu tentu lebih cantik dari mu va, tapi Diva juga manis, kalau ukuran putih nenek kira kulit kalian beda va, ibu mu berkulit putih sedang kamu berkulit gelap", nenek tertawa meledek

__ADS_1


"Ya kan aku kerja ke ladang nek makanya hitam, ah nenek gak seru ah", sungut Diva


"Baik lah itu benar dan satu lagi Diva anak yang baik dan pekerja keras", jawab nenek menenangkan hati Diva


"Hehehe", Diva senang di puji nenek nya


"Kalau Bapak mu mengenal ibu mu saat di perantauan di kota seberang sana!"


"Oh lalu bagaimana kisah nya nek, ayo bagi lah kisah dengan ku"


"Ibu mu itu anak saudagar kaya di kota seberang sana, tapi bohong", ucap nenek dengan gaya anak muda


"Ah nenek ini apa-apaan sih, malesin banget?", Ketus Diva sembari mengelus lengan sang nenek


"Ibu mu itu yatim piatu saat menikah dengan bapak mu, tapi ibu mu mempunyai seorang adik perempuan tapi kini sudah menikah juga?"


"Oh tapi kenapa Bibik ku gak pernah datang menemui ku nek, apa bibik tidak tau kalau ibu mempunyai anak?", Seru Diva


"Nenek gak tau, ya dulu bibik mu pernah datang kesini saat ibu mu hamil kamu tapi setelah itu nenek gak tau lagi kabar bibik mu itu"


Diva hanya tersenyum mendengar penuturan nenek, aneh sih tapi itulah hidup, saat kita tak punya uang maka apa yang bisa di lakukan


Apa uang, ya benar uang, kalau tidak ada uang tidak akan bisa sampai di desa Campa apalagi bibik Diva ada di kota seberang


"Nek ... ", Panggil Diva


"Iya kenapa sayang?", Nenek masih mengelus pucuk kepala Diva

__ADS_1


"Gak ada aku cuma pengen manggil nenek, aku sayang nenek!", Diva mengeratkan pelukan di lengan nenek nya


__ADS_2