
Sore mulai beranjak semakin senja pak Hadi dan Bu Hadi sudah datang ke rumah sakit kembali dengan terlihat lebih segar
Anis juga sudah datang untuk menjemput Diva untuk lekas pulang kerumah
"Va kita pulang nya nunggu Aidil sebentar lagi dia akan sampai, Aidil pengen jenguk Fadlu sekalian", Anis mengutak Atik ponsel dengan sangat cekatan
"Boleh lah", Diva duduk di sofa yang ada di dalam ruangan rumah sakit dengan berselonjor ria
Pak Hadi dan Bu Hadi yang baru masuk ke ruangan Fadlu pun tersenyum ke arah Diva karena Diva menepati janji untuk menunggui Fadlu sampai mereka datang ke rumah sakit lagi
"Makasih va sudah mau gantian jagain Fadlu, sekarang pulang lah hari sudah mau malam biar kami yang jaga Fadlu?", Ucap Bu Hadi lemah lembut
"Iya Bu sama-sama, sebentar lagi aku dan Anis pulang tapi masih nunggu suami Anis datang menjemput"
"Oh baik lah, apa kalian berdua sudah makan, jika belum itu ibu bawa bekal dari rumah tadi ibu masak rendang", Bu Hadi menunjuk sebuah plastik yang terdapat sayur dalam kantong dan nasi yang di bungkus memakai plastik nasi
"Ibu gak nemuin wadah di rumah Fadlu jadi ibu pakai mika nasi saja, jika kalian gak mau makan disini kalian boleh bawa pulang, itu ibu bawa dua kantong yang sekantong untuk Fadlu dan yang sekantong buat kalian"
"Wah boleh banget Bu, jarang kan kami bisa makan masakan ibu, pasti masakan ibu enak", seru Anis dengan sumringah
Diva hanya menatap Anis yang terlihat begitu semangat
"Bu ini", Diva mengulurkan sebuah kertas yang berisi hasil rekaman kesehatan Fadlu
Bu Hadi membuka dan mulai membaca dengan mata yang berembun
Mata tua nya tidak kuasa lagi menahan air yang memaksa keluar dari pelupuk matanya
Diva mengusap-usap punggung Bu Hadi sebagai isyarat kekuatan dan semangat
"Aku tau ini berat Bu tapi ibu harus kuat demi dokter Fadlu", ucap Diva masih dengan mengusap punggung
"Hiks.... Hiks.... Hati ibu yang mana yang gak hancur jika mendapati kabar seperti ini, bahkan Fadlu akan menyandang kelumpuhan ini sepanjang usia nya, lalu bagaimana masa depan yang telah ia bangun?", Bu Hadi memegang tangan Diva
"Aku tau Bu... Sekarang hanya ikhlas lah jalan yang bisa kita tempuh, berobat dan berusaha untuk sembuh itu juga yang utama, berharap ada keajaiban untuk dokter Fadlu!", Diva membalas memegang tangan Bu Hadi
Bu Hadi memeluk Diva dengan terisak, hati Bu Hadi terlalu perih menerima takdir yang harus di lewati Fadlu
Bu Hadi teramat mengasihi Fadlu sampai Bu Hadi hafal bagaimana kesedihan yang Fadlu ssmbuyikan di balik senyum aku baik-baik saja itu
__ADS_1
"Apa....?, Fadlu mengalami kelumpuhan", suara Sherina mengalihkan perhatian
Mereka menatap Sherina yang baru datang
Sherina bergegas mendekati Fadlu dan menggengam tangan nya "katakan itu tidak benar dlu?", Lirih Sherina dengan mata berkaca-kaca
Sherina masih menunggu jawaban dari bibir Fadlu namun tak kunjung ada jawaban
"Itu benar nak", jawab Pak Hadi lirih
"Kenapa sampai sefatal ini dlu?, Kamu harus kuat dan sabar aku akan selalu bersama mu, menemani mu sampai kamu sembuh", tegas Sherina dengan memeluk Fadlu
"Kemungkinan aku bisa sembuh hanya 0.5% Sherina, aku tidak terlalu berharap bisa sembuh total namun jika kamu selalu setia di sisi ku itu suatu keajaiban untuk ku"
Lirih Fadlu
"Jangan pesimis Fadlu, kita belum mencobanya, dokter bisa saja salah memvonis kemungkinan-kemungkinan yang kelumpuhan yang kamu lalui, mereka sama dengan kita"
"Iya Sherina aku ngerti, makasih ya?", Fadlu mencoba meregangkan pelukan Sherina yang terlalu erat dan menatap kearah ibu dan bapak nya
Pak Hadi dan Bu Hadi hanya diam dengan heran, bagi keluarga Bu Hadi pelukan dan ciuman antara lelaki dan perempuan dewasa yang status hanya pacar itu berlebihan apalagi di lakukan di depan umum
"Maaf Bu kami terbawa suasana", Fadlu paham isi hati Bu Hadi
Pintu di buka dan sosok Aidil masuk kedalam ruangan bercat putih itu dengan membawa parsel berisi buah-buahan
"Hay pengantin baru?", Fadlu bertanya dengan sikap seolah-olah dirinya baik-baik saja tanpa beban apapun
"Lihat lah aku tampak baik dan lebih baik dari sebelum nya, kamu kenapa bisa sampai kecelakaan sih, sayang umur masih muda apalagi belum pernah merasakan surga dunia", Aidil menggoda sambil menepuk bahu Fadlu
"Namanya musibah siapa juga yang mau Dil, kalau sudah waktunya kita bisa apa?", Fadlu membalas dengan sebuah senyuman
Aidil tampak begitu akrab dan dengan terus saling melempar lelucon hingga waktu sudah benar-benar gelap
Diva nampak gusar karena hari sudah beranjak malam, Sky pasti akan mencarinya terbukti dengan banyak nya chat masuk dari Sky yang menanyakan keberadaan Diva saat ini
"Kenapa va, Sky nyariin kamu ya?", Anis yang tau kegelisahan Diva pun membuka suara saat Sky juga mengirim pesan padanya
Diva mengganguk pelan, "iya nis Sky gak mau makan malam, dia nungguin kita pulang!"
__ADS_1
"Ya sudah ayo kita pulang sekarang!", Seru Diva dan mengajak Aidil untuk pulang bersama
"Ya beginilah dlu kalau sudah punya istri, aku nya masih betah ngobrol sama kamu dia nya udah ngajakin pulang", sungut Aidil
"His apaan sih!", Anis memukul bahu Aidil sambil tertawa
"Kita pulang dulu ya dlu, besok aku kesini lagi?", Aidil pun berlalu disusul Anis dan Diva di belakang nya
Sherina nampak senang mereka sudah berlalu dan hanya menyisakan dirinya dan kedua orang tua Fadlu yang menonton berita dari ponsel milik Fadlu
"Apa kamu tidak pulang dulu sher, bukan kah kamu capek seharian bekerja", Fadlu menatap Sherina yang sibuk mengusap layar ponsel milik nya
"Iya sih bentar lagi dlu, ini baru jam berapa coba, nanti lah aku pulang sekitar jam sembilan malam", jawab Sherina tanpa menoleh ke arah nya
"Dlu makan malam lah dulu biar ibu siapkan, lihat lah nasi yang dari rumah sakit kamu biarkan begitu saja, kamu ini kebiasaan!", Bu Hadi menuang rendang daging kedalam bungkus nasi
Rendang daging dengan bumbu melimpah khas Padang mengoda iman Fadlu
"Makan lah!", Seru Bu Hadi dan menaruh wadah makanan ke hadapan Fadlu
"Suapin dong Bu?", Fadlu menggoda Bu Hadi
"Manja....", Bu Hadi pun mencuci tangan dan mulai menyuapi anak lelaki satu-satu nya itu dengan telaten, seperti seorang ibu yang menyuapi anak balita nya
Ak.... Nyam.. nyam... Fadlu memikmati tiap suapan sang ibu dengan begitu bahagia,serasa anak balita yang sedang di suapi sang mama
"Kamu gak mau cobain masakan ibu sher, daging rendang buatan ibu enak banget loh!", Seru Fadlu menatap Sherina yang masih fokus ke layar handphone nya
"Gak ah makasih", balas Sherina melirik sekilas dan fokus kembali ke ponselnya
"Kenapa, ayo cobain deh enak banget tau", Fadlu mengambil secuil daging dan memberikan pada Sherina yang menutup rapat mulut nya
"Ini sudah malam dlu, dan aku gak mau makan yang banyak lemak nya aku takut gendut", balas Sherina agar Fadlu tidak menyuruh nya makan rendang buatan ibu nya
Fadlu pun mengganguk tanda paham, tidak dengan Bu Hadi yang merasa Sherina berlebihan
Bu Hadi merasa dirinya dan Sherina tidak ada kecocokan semua berbanding terbalik
Sherina anak kota sedang dirinya ibu dari kampung yang kuno dan masih mengenggam erat makanan tradisional
__ADS_1
Dari segi pakaian Bu Hadi pun sebenarnya sedikit ingin berkomentar tapi ia urungkan karena itu privasi orang
"Aku balik ke apartemen saja dulu ini sudah malam, aku capek banget pengen istirahat, besok banyak banget jadwal pasien pastinya, setelah selesai makan kamu cepet istirahat ya dlu?, Sherina mencium pipi kanan Fadlu dan berlalu pergi untuk pulang ke apartemen milik nya