Menggapai Asa Dalam Doa

Menggapai Asa Dalam Doa
episode 13


__ADS_3

"aku pamit ya va?, Do'akan agar aku selalu sehat dan aku bisa meraih cita-cita ku", Fadlu pamitan saat bertemu Diva di jalan


Diva menatap Fadlu yang sudah rapi, menggunakan jaket dan celana panjang dan pakai kaos kaki


"Iya dlu do'a ku selalu menyertai mu", jawab Diva dengan mata yang berembun


"Fadlu pamit ya nek?", Fadlu mencium tangan nenek Diva dan pergi di bonceng motor oleh kakak lelaki nya Fadlu


Fadlu tersenyum dengan mata sayup sambil melambaikan tangan


Diva pun membalas lambaian tangan Fadlu hingga Fadlu sudah tak terlihat lagi, nenek yang menyadari cucu nya terdiam dengan terisak pun menepuk pundak


"Ayo pulang?"


Diva pun sedikit tersentak menyadari kesedihan nya atas kepergian Fadlu


"Ayo nek... ", Diva cepat-cepat berlalu dengan langkah yang cepat setengah berlari


Nenek Diva hanya terheran-heran dengan sikap cucu nya...


"Bu biar aku bantu?", Ilham berjalan tertatih mengambil keranjang di sepeda ibu Meli


"Apakah sudah lebih baik kaki mu, jangan di paksakan kalau belum terlalu bisa, pelan-pelan ham?"


"Iya Bu ...", Ilham pun menoleh ke samping kanan dan kiri mencari keberadaan Diva


"Apa ham?", Tanya Bu Meli


"Diva mana Bu?"


"Tadi sudah duluan masa iya belum sampai?", Jawab Bu Meli sambil masuk ke dalam rumah


Bu Meli yang tak lain Nenek Diva pun melangkah ke arah sumur untuk membersihkan badan tapi tersadar saat melihat ada Diva sedang menimba air tapi dengan mekamun


"Gak baik seorang gadis melamun di depan sumur?", Nasihat nenek pada Diva yang spontan membuat Diva terkejut


"Ih siapa lagi yang merenung", ketus nya


"Haha gak ada kok nenek cuma bercanda kok Diva langsung sewot?"


Nenek Diva pun segera berlalu menuju kamar mandi untuk segera mandi, Diva kembali kepergian Fadlu


"Kemarin waktu mama minggat aku gak begitu kehilangan, tapi saat Fadlu pergi untuk meraih cita-cita dengan melanjutkan sekolah aku malah merasa begini, kenapa hatiku terasa sakit sekali", lirih Diva dan duduk di kayu kering di samping kamar mandi

__ADS_1


Pikiran Diva menerawang jauh ke angkasa, kalau pun Fadlu mencintai nya pun demikian dengan dirinya tapi sulit untuk bersatu, Fadlu akan menjadi orang sukses dan pasti tidak akan mengenal cinta Diva lagi


Diva merasa minder dan kurang percaya diri tanpa sadar tangan Diva memotong kayu yang kering menjadi beberapa bagian


"Va.... Mandilah?", Teriak nenek yang sudah selesai mandi dan sudah berlalu dari hadapan Diva


Huh... Diva pun segera mandi


****


Setahun berlalu...


"Pak Ilham maksud kedatangan kami kesini ingin menjodohkan putra kami dengan Diva anak pak Ilham?", Ucap pak kades membuka obrolan


"Wah pak kades kami merasa terhormat atas rencana pak kades"


"Ya sebenar nya secara pribadi aku sendiri sangat mengharap Diva mau menikah dengan putra ku pak, Karana aku lihat Diva itu anak baik dan pekerja keras, Diva juga sangat menyayangi orang tua nya", tambah pak Kades


"Ah bapak jangan terlalu memuji secara berlebihan", jawab Ilham dengan senyum dan mengarah ke arah Diva yang tertunduk Diam


"Bagaimana pak Ilham apa bapak setuju atas rencana ini?", Tanya pak kades serius


"Kalau saya mah terserah sama anak nya pak kades, ini kan masa depan Diva jadi hanya Diva yang bisa menentukan bagaimana mau nya saya sebagai orang tua mah ngikut saja", Ilham tampak sopan menjawab pertanyaan pak kades


Diva langsung tertunduk tak bisa menjawab apapun, bahkan sepatah kata pun nyaris tak keluar dari bibir nya


"Baik lah aku tidak memaksa kamu buat jawab sekarang Diva, kamu perlu memikirkan hal ini secara matang, seminggu lagi putra ku datang dari kota dan rencana nya aku akan mengajak kesini"


"Ya sudah kalau gitu aku pamit dulu pak Ilham?", Lanjut pak kades dan segera berlalu meninggalkan rumah Diva


Salah bukan rumah Diva karena setahun yang lalu pak kades sudah membeli rumah itu


Selepas kepergian pak kades Ilham mendekati Diva dan menatap Diva dalam


"Jangan takut dan jangan khawatir, bapak tidak akan memaksa kamu buat menerima rencana pak kades?"


"Iya pak", Diva masih menunduk


"Dengarkan bapak kamu adalah prioritas pertama kebahagiaan bapak, kalau kamu bahagia bapak adalah orang yang paling bahagia tapi jika kamu bersedih bapak lah orang pertama yang menderita atas kesedihan mu", Ilham menepuk pundak gadis kecil yang kini beranjak dewasa itu dengan senyum manis


"Pergilah tidur, besok kita akan manen sayur tempat pak Hadi?", Nenek Diva berlalu namun Diva menahan lengan nenek nya


"Duduk lah nek, aku ingin bertanya sedikit dengan nenek?"

__ADS_1


"Bicaralah!", Nenek pun menghadap ke arah Diva tanpa duduk terlebih dahulu


"Apa yang harus aku lakukan nek, tolong katakan pada ku nek, aku bingung"


"Pergilah tidur jangan memaksakan kehendak jika belum siap, siapa tau esok semua akan terjawab dengan sendirinya"


Diva pun membiarkan nenek meninggalkan nya yang masih terpaku di ruang tamu, Diva menatap ke arah dinding dengan tatapan hampa


*****


"Va mau kemana?", Seru pak kades saat melihat Diva berjalan sambil membawa keranjang


"Menyusul nenek ke ladang pak Hadi, tadi nenek berangkat terlebih dahulu", jawab Diva karena nenek nya sudah berangkat setelah mentari mulai terbit sedang Diva harus mengurus pekerjaan rumah dan masak terlebih dahulu


"Ouh... Boleh kita bicara sebentar?", Pak kades turun dari motor dan duduk di sebuah kayu mati


"Bicara apa ya pak?", Diva ragu


"Tolong pikirkan rencana yang ku minta va, itu juga demi masa depan kamu agar lebih baik, kamu tau anak ku Leon dia teramat manja dan semuanya selalu kami turuti, bahkan pergaulan nya di luar sana kami sebagai orang tua juga gak tau"


"Jadi aku sebgai ayah ingin memberikan yang terbaik untuk Leon, aku ingin sedikit-sedikit kamu membantu Leon untuk berubah menjadi orang yang lebih bersyukur?", Tegas pak kades


"Tapi aku yakin aku bisa pak?", Diva berkata lirih


"Kenapa gak bisa va, kan belum di coba!"


"Pernikahan bukan hal yang bisa di coba pak, semua harus di pikirkan secara matang"


"Va setidak nya jika kamu mau menikah dengan Leon rumah yang kamu tinggali tidak akan aku limpahkan ke Leon yang sudah pasti Leon akan menjual nya"


Diva menatap mata pak kades dalam


"Bapak mu juga butuh dana untuk pengobatan alternatif itu kan va, aku dengan senang hati akan memberi dana untuk mengobati kaki bapak mu dan setelah sembuh aku juga akan memberinya pekerjaan"


"Lihat lah nenek mu va dia sudah tua sudah rapuh bukan saat nya lagi dia harus bekerja, pikirkan tawaran ku Diva?, Lagi pula aku serius dan tulus", pak kades pun pergi


"Pikirkan secara baik-baik va?"


Tin..... Suara klakson motor pak kades meninggalkan diva yang mematung di jalan, pilihan hidup yang rumit


"Setahun aku berusaha melupakan mu Fadlu tapi perasaan ini masih sama?, Maafkan aku Fadlu mungkin cinta kita pun tak bisa bersatu, benar apa yang di katakan pak kades kalaupun ada orang kaya yang akan menikahi ku maka dia akan berpikir seribu kali tentang asal usul keluarga ku", lirih Diva


Diva memegang kalung yang ada di leher nya dan tersenyum miring menertawakan peran hidup yang harus ia lalui

__ADS_1


"Sungguh miris?"


__ADS_2