
Pagi ini Diva mengajak Sky untuk ikut mengunjungi Fadlu di Bougenville Hospital
Hari Minggu yang cerah secerah hati Diva untuk Fadlu, apalagi Sky yang begitu welcome pada Fadlu dan senang bisa mempunyai saudara seperti Fadlu
Yah Diva menceritakan pada Sky jika Fadlu adalah sahabat kecil Diva
Sky yang di ajak mengunjungi Fadlu pun turut senang bukan main
Sepanjang perjalanan dari rumah menuju Bougenvill Hospital Sky bersenandung ria
Anis dan Aidil pun ada kepentingan hingga tak ikut serta dengan Diva dan Sky
Kepentingan yang sangat penting tentunya, tentang jadwal pengobatan secara tradisional di sebuah kampung yang lumayan jauh dari kota tepat nya di sebuah desa yang ada di Kalimantan
"Ibu.... ", Diva menghampiri Bu Hadi yang membeli sarapan di kedai makanan yang ada di depan rumah Sakit
"Hey Diva, siapa?", Bu Hadi beralih menatap Sky yang mengandeng tangan Diva dengan begitu erat sambil tersenyum riang
"Ini Sky Bu anak ku dan mas Leon", jawab Diva dengan senyum simpul dan penuh kebahagiaan
"Oh jadi ini anak kamu va, sudah besar ya, ganteng lagi", seru Bu Hadi dengan begitu ramah dan mengusap pipi Sky yang tembem
"Makasih nek aku di bilang ganteng", Sky malu-malu dan menyumput di balik tubuh Diva, Bu Hadi yang melihat tingkah lucu Sky pun nampak gemas
"Ibu lagi beli apa di kedai?", Tanya Diva melihat Bu Hadi yang masih mengantri makanan
"Ibu mau beli sarapan dan kopi untuk bapak, tapi ya itu lah va harus antri panjang begini"
"Ini aku bawa makanan dari rumah Bu", Diva menunjukan sebuah rantang berisi makanan yang Diva masak pagi tadi
"Wah jadi ngerepotin kamu terus va?", Bu Hadi tersenyum
"Ah tidak Bu, tadi Diva masak sekalian banyak", seru Diva sambil menurunkan wadah makanan di genggaman
"Ya sudah kalau begitu, ibu beli kopi saja tidak jadi beli sarapan nanti malah mubazir kan sayang, lagian kamu sudah capek-capek masak jadi ya harus di makan, kita gak boleh buang-buang makanan kita harus ingat bagaimana susah nya cari uang buat beli beras betul tidak?", Bu Hadi menepuk pundak Diva
"Iya Bu", sahut Diva dan mengikuti langkah kaki Bu Hadi yang mendahuluinya
"Biar aku bantu bawa kopi nya nek?", Tawar Sky
"Oh boleh banget sayang!", Bu Hadi memberikan kantong plastik berisi kopi pada Sky
__ADS_1
Dan mengajak nya berjalan beriringan dengan sesekali bercanda ria
"Mana ruangan paman Fadlu nek?", Tanya Sky ingin tahu sambil menoleh ke kanan dan ke kiri
"Sebelah sini sayang", Bu Hadi membuka pintu sebuah ruangan
Fadlu tersenyum saat mendapati sang Ibu masuk dan di susul Sky
"Hay.... Sky dengan siapa kamu datang?", Seru Fadlu
"Sama ibu ku dong paman, bagaimana kabar paman apakah paman masih sakit, Sky selalu mendoakan paman loh setelah Sky selesai Sholat, paman janji ya nanti kalau sudah sembuh buatkan Sky mi rebus kan Sky sudah doakan paman", Sky duduk di tepi ranjang
"Wah Sky baik sekali selalu mendoakan paman, makasih ya?, Doa kan saja paman bisa segera pulih dan paman bisa menepati janji untuk membuatkan Sky mi rebus spesial"
"Siap paman", Sky tersenyum dan menatap sang ibu yang sedang berdiri tanpa ekpresi
"Ibu kok diam saja disitu, tadi katanya mau ngasih makanan untuk nenek dan paman Fadlu kok malah di pegang terus makanan nya".
Diva pun terkesiap dan menaruh wadah yang telah berisi makanan di atas meja
Krek....
"Pagi semuanya!", Sherina datang membawa kantong plastik berisi makanan
"Oh iya ini masih ada satu lagi, untuk ibu", seru Sherina dan menaruh plastik berisi bubur ayam di atas meja
"Makasih sher?", Jawab Bu Hadi
"Ayo makan dulu biar aku suapin?", Sherina menyuapi Fadlu beberapa suap
"Sudah sher aku kenyang", Fadlu mengakhiri sarapan nya
"Haduh dlu baru sedikit masak sudah sih ayo nambah lagi dong, aku capek-capek beli bubur ayam ini di Resto yang terkenal akan kelezatan dan ke higenis an nya jadi ayo makan lagi?", Bujuk Sherina pada Fadlu dan Fadlu sungguh sudah kenyang
"Sudah sher aku kenyang banget!", Fadlu menolak suapan dari Sherina dan menatap ke arah Diva yang tampak biasa saja
"Pintar sekali dia menyembunyikan rasa, mustahil dia tidak merasakan cemburu", batin Fadlu saat melihat Diva berdiam di sofa dekat dengan pak Hadi
"Kamu masak apa va?", Tanya pak Hadi membuyarkan kesunyian Diva
"Masak jengkol balado pedas manis pak, sama ada tumis kangkung dan ikan gurame goreng, tadi ada rempeyek juga tapi hanya sedikit"
__ADS_1
"Enak sekali bapak jadi laper", ucap pak Hadi dan melangkah menuju meja untuk mengambil wadah makanan yang Diva bawa
"Ini kan jam sarapan kok menu makanan udah berat-berat sih va?", Ujar Sherina sambil menatap ke arah Diva yang akan mengambil makanan untuk pak Hadi dan Bu Hadi
"Tidak apa-apa Sher, bapak dan Ibu sudah terbiasa makan nasi saat sarapan", jawab Fadlu sambil tersenyum
"Oh baik lah, ya sudah dlu aku mau kerja dulu, dan cepet sembuh ya, aku gak mungkin hanya menjenguk orang sakit saja karena aku punya pekerjaan bukan pengangguran dan bukan penikmat harta orang tua ?", Seru Sherina dan menatap Diva sinis
Diva hanya diam tak menanggapi ocehan Sherina, karena Diva tak merasa demikian
Diva masih fokus mengambilkan makanan kedua orang tua Fadlu
Setelah Sherina berlalu Fadlu mengelus dada Karana apa yang di katakan Sherina itu tidak masuk akal, apakah Sherina menyindir orang tua nya yang helas-jelas punya pekerjaan di ladang atau menyindir Diva yang juga punya pekerjaan di butik
"Jadi kapan kamu akan menikah dengan dokter Sherina itu?", Ucap Pak Hadi di tengah kunyahan nasi di dalam mulut nya
"Aku gak tau pak", jawab Fadlu begitu enteng nya
"Nunggu apa lagi, kalian sudah sama-sama mempunyai kecocokan bukan?"
"Iya pak tapi..", Fadlu bingung akan bicara apa
"Tapi apa, gak ada tapi-tapian setelah kejadian kecelakaan ini bapak jadi berpikir jika kamu masih di butuh kan di Rumah sakit tempat mu bekerja ya tentu kamu harus sudah ada yang ngurus"
"Aku tidak tau pak, aku masih bingung"
"Apa yang kamu bingung kan, bapak dan Ibu tidak mungkin menjaga kamu nonstop dua puluh empat jam Fadlu, namun jika kamu mau ikut ibu dan baoak ke kampung bapak malah semakin senang"
"Itu tidak mungkin pak, Direktur di tempat ku bekerja masih menginginkan aku untuk tetap bekerja di rumah sakit dan akan menunggu sampai aku benar-benar pulih", jawab Fadlu
"Aku begitu susah untuk mendapatkan semua ini pak, rasanya sayang jika harus berhenti dan putus di tengah jalan, masih banyak hal yang perlu aku lakukan"
"Baik lah, bapak akan menunggu jawaban mu yang satu tadi?", Seru pak Hadi lagi sambil memasukan jengkol kedalam mulut nya
"Enak sekali masakan mu va?", Pak Hadi memuji masakan Diva yang pas di lidah nya
"Alhamdulillah jika bapak suka", Diva merasa senang
"Iya seribg-sering masakan bapak ya selama bapak dan ibu ada di kota"
"Baik pak, aku akan memasakan bapak dan ibu setiap hari selama di kota,bagaimana pun kita saudara sekampung pak"
__ADS_1
."makasih banyak ya va?", Bu Hadi mengulas senyum