Menggapai Asa Dalam Doa

Menggapai Asa Dalam Doa
36


__ADS_3

"apa Fadlu mengalami kecelakaan?", Sherina kaget bukan main saat mendengar kabar tersebut dari sambungan telepon


Sherina dengan langkah cepat segera menuju Rumah sakit untuk melihat kondisi Fadlu


"Sedang kritis ", itulah ucapan dokter yang menangani Fadlu


"Ini terdengar lucu dlu, kamu seorang dokter tapi membutuhkan bantuan dokter lain untuk merawat mu", gumam Sherina dari balik pintu rumah sakit


Sherina mengusap layar handphone dan memberi tahu keadaan Fadlu pada keluarga Fadlu di kampung, terutama bapak dan ibu Fadlu mereka harus tahu


Bagaimana pun Sherina pernah di ajak berkunjung ke desa Campa selama beberapa hari, Sherina juga sudah mengenal baik keluarga Fadlu


Setelah menghubungi kedua orang tua Fadlu, Sherina duduk di kursi tunggu


Mata Sherina menatap kosong ke arah depan, Sherina masih terus berdoa dan berharap tidak terjadi hal yang buruk terhadap Fadlu


Sherina masuk ke ruangan dimana Fadlu di rawat, mata Sherina berkaca-kaca melihat kondisi Fadlu yang begitu memprihatinkan


"Ada apa dengan mu dlu, kenapa kamu bisa sampai kecelakaan sedemikian rupa?", Sherina mengenggam tangan Fadlu berharap Fadlu segera membuka mata


Sherina yang hanya sendiri pun lambat laun merasakan mata yang mengantuk dan lama kelamaan tertidur persis di di samping Fadlu masih dengan posisi duduk di kursi dan kepala yang tertumpu di tangan Fadlu


"Fadlu?", Rintihan sang Ibu saat melihat putra nya terbaring lemah di atas ranjang dengan banyak selang yang menempel di berbagai tubuh nya


Hiks.... Hiks....


"Sudah lah Bu, ini cobaan", pak Hadi yang tak lain adalah bapak Fadlu mencoba menenangkan Bu Hadi yang terlihat sangat sedih


"Hiks....hiks.... Bangun dlu, ini ibu sama bapak sudah datang kesini, ayo bangun nak?", Ucap Bu Hadi pelan


Sherina yang mendengar suara rintih tangisan pun mengerjapkan matanya dan menyadari jika kedua orang tua Fadlu sudah datang


"Ibu.... Bapak?", Sherina mengucap salam dan berjabat tangan


"Kenapa Fadlu bisa sampai mengalami kecelakaan seperti ini nak?", Tanya pak Hadi


"Entah lah aku sendiri juga tidak tau pasti, sekarang yang aku harap Fadlu segera sembuh, masalah apa penyebab nya biar polisi yang menyelidiki"


"Apa kalian lagi ada masalah, maksut bapak kamu dengan Fadlu?"

__ADS_1


"Ah tidak pak, aku sama sekali tidak ada masalah apapun, aku kira mobil yang Fadlu kendarai mengalami kerusakan sehingga mengakibatkan terjadi kecelakaan atau Fadlu terlalu ngebut saat berkendara"


Pak Hadi manggut dan mengelus punggung Bu Hadi yang masih terisak


"Sepertinya kamu lelah, pulang lah dan beristirahat pasti kamu capek?", Seru pak Hadi lagi


"Iya sih pak tapi.....", Sherina menghentikan kalimat nya


"Sudah tenang disini sudah ada bapak dan ibu yang akan menjaga Fadlu, jika ada kabar baik tentang perkembangan Fadlu pasti bapak akan langsung menghubungi mu"


"Baik lah, aku juga harus masuk kerja hari ini pak, tapi rasanya aku mau ambil cuti dulu buat jagain Fadlu, setelah aku mandi dan beristirahat aku akan langsung datang kemari"


Sherina pun bergegas pulang ke apartemen milik nya karena hari sudah pagi


Sherina butuh mandi, makan dan istirahat tentu nya


****


"Hay... Hay....", Seru Anis yang baru datang dari berlibur


"Loh kok gak ngabari kalau hari ini sudah pulang, kan kalau kasih tau terlebih dahulu ibu bisa minta tolong sopir buat jemput", seru Bu Aini yang masih duduk sambil membaca majalah


"Gimana ceritanya nih yang baru pulang berlibur?", Diva menghampiri sambil membawa minuman dingin


"Yang pasti seru dan ada deh.... Kepo kamu", jawab Anis


"Sudah... Sudah sini minum dulu, ini ada jamu khusus untuk mu yang sudah ku tambahkan madu dan air dingin biar lebih sejuk" seru Diva sambil menunjuk sebuah teko berisi jamu tradisional


"Jamu apaan, terlalu mengada-ada kamu va!", Ketus Anis yang merasa terledek, sebener nya Diva tidak sedang menggoda tapi tapi hanya Anis yang merasa terledek


"Jamu kuat", tawa Diva pecah


"Yeah kayak situ sudah pengalaman saja?", Balas Anis meledek


"Lah nyatanya sudah ada Sky, ya mau tidak mau aku jauh lebih berpengalaman"


"Iya sih tapi pasti sudah lupa rasanya kan, secara sudah sepuluh tahun gak di sentuh ya kan, maka nya cepet nikah biar bisa hahhaha", Anis spontan menutup mulut saat melirik ke arah Bu Aini yang menatap nya


"Maaf", lirih Anis

__ADS_1


Diva mengerti candaan mereka kali ini tidak lucu karena ada hati Bu Aini yang harus di jaga, sedang Aidil hanya ikut tertawa riang bersama mereka


"Ya sudah aku pamit dulu ya, aku ada acara janji sama customer ku sore ini?", Seru Diva bergegas meninggalkan mereka


"Hati-hati di jalan", jawab Anis sambil tersenyum riang dan menatap Aidil


"Ayo mau ikut aku istirahat di dalam gak, kita bersihkan badan dulu baru bisa santai-santai lagi?", Ajak Aidil


Anis mengangguk dan mohon ijin pada Bu Aini untuk masuk kamar, Bu Aini hanya memicingkan mata mendengar penuturan Anis yang lucu


Bu Aini menggelengkan kepala saat Anis benar-benar masuk ke dalam kamar bersama Aidil


"Wah kamar kamu luas baget dil, ada kamar mandi nya juga!", Anis tampak senang


"Iya nis, kamar ini sudah lama gak aku tempati"


"Loh kenapa?", Tanya Anis penasaran


"Ya semenjak aku Kuliah aku sudah tinggal di apartemen pemberian bapak ku, aku lebih suka tinggal disana dan hanya berkunjung kerumah tiap libur sekolah atau ada acara keluarga", jawab Aidil sambil membuka lemari baju milik nya, banyak baju lama yang masih menggantung disana


"Terus sekarang kamu dan Liu itu tinggal dimana sih?", Anis menaruh koper di samping meja rias


"Aku dan Liu tinggal di sebuah apartemen yang telah kami beli bersama"


"Wah alangkah banyak nya rumah yang kamu miliki Dil, aku boro-boro rumah gubuk saja gak punya!", Seru Anis sambil mengeluarkan baju untuk salin


"Ya mulai sekarang kamu akan punya, kita akan tinggal di apartemen pemberian bapak ku?", Seru Aidil


"Aku rasa jangan dulu deh Dil, kita tinggal dulu saja disini sampai kita bisa membeli rumah untuk kita tempati sembari mencari obat untuk kesembuhan mu"


"Kenapa begitu nis, aku pengen banget mandiri dan tinggal di rumah kita sendiri ya meski hanya apartemen juga sih"


"Dil.... Aku mohon kali ini ikuti kata ku ya?", Anis memegang tangan Aidil dengan menatap penuh harap dan peduli


"Baik lah kita coba", Aidil membalas memegang tangan Anis dengan erat dan penuh harapan


"Makasih sudah mempercayai ku Dil", seru Anis dan memeluk Aidil


Aidil merasa terhanyut dan menginginkan namun lagi-lagi ngangguan yang di alaminya tak mampu membuat nya bangkit

__ADS_1


Dalam hati Aidil merutuki diri yang sangat tidak berguna dan memalukan tersebut


__ADS_2