
"mba....", Panggil seorang wanita dan berlari menghampiri Diva yang masih memilih belanjaan di supermarket
"Anggia kapan kamu datang?", Tanya Diva setelah berjabat tangan dengan Anggia yang begitu antusias
"Sudah lama mba, aku sekarang kerja di supermarket ini loh mba", jawab Anggia begitu senang, Diva pun menatap baju yang Anggia kenakan dan benar saja Anggia bekerja di supermarket ini
"Bagaimana kabar mu Anggia, sekarang kamu tinggal dimana?", Tanya Diva sambil memilih beberapa bahan makanan dan keperluan pribadinya
"Baik mba sama seperti dengan yang mba lihat saat ini, sekarang aku tinggal di kontrakan dekat dengan tempat kerjaku ini mba. Oh iya mba makasih banyak mba sudah mau bantu aku saat itu, karena bantuan mba lah kini aku jauh lebih bisa menikmati hidup", lirih Anggia
"Iya sama-sama, kalau ada apa-apa jangan sungkan buat kontak mba ya?", Diva berjalan menuju kasir
"Mba sekali lagi makasih", Anggia memeluk Diva dengan penuh perasaan haru
Diva mengusap punggung Anggia yang bergetar
"Iya Anggia , sekarang kamu bekerjalah yang semangat dan giat, raih lah masa depan cerah mu setelah di pending sekian lama, jangan menyerah untuk melanjutkan hidup dan menggapai impian"
"Aku sudah punya do'i mba, mba sendiri bagaimana masa sih mba belum bisa move on dari lelaki KDRT itu", Anggia berujar takut-takut
"Syukur lah kalau kamu sudah punya calon pengganti mas Leon, yang penting telusuri dulu bagaimana karakter dan sifat nya jangan sampai membuat kesalahan yang sama, menikah itu bukan untuk main-main, kalau bisa sih sekali seumur hidup hehehehe", diva merasa malu dengan kalimat yang ia ucapkan sendiri
"Ye siapa juga yang mau nikah, ini mah cuma pacar buat ngilangin suntuk dan bete kali mba, kalau buat serius ya belum", Anggia tertawa renyah
"Ya kali sudah kebelet", Diva menimpali
"Is apaan sih mba ini, kalau mba yang sudah lebih lama gak pernah dapat itu-ituan hehehe, tapi mba hebat ya bisa menahan untuk tidak menikah lagi sampai sekian lama"
"Ya belum menemukan yang cocok saja Anggia, kalau hanya teman tidur atau teman senang-senang mah banyak diluar sana tapi jika mencari teman sejati yang mau menerima segala kekurangan dan tulus itu yang sulit"
"Temen... Kok temen sih mba, suami lah", protes Anggia
"Ya temen hidup sehidup semati kalau bisa sih Anggia", mereka pun terpisah saat Anggia di panggil atasan nya untuk melanjutkan pekerjaan dan di larang mengobrol terlalu lama di tempat kerja
"Dasar pemimpin galak plus sok!", Gumam Anggia sambil mengikuti langkah atasan nya, dan melambaikan tangan ke arah Diva yang sudah ada di depan meja kasir
Diva yang begitu terhanyut oleh ucapan Anggia hanya tersenyum simpul saat mengingat nya
"Aku masih mencintai nya dalam doa dan berharap alam akan menyatukan cinta kami", bisik Diva sambil berlalu dari supermarket
Diva menyusuri jalan setapak karena rumah yang di tinggali nya tidak terlalu jauh dari supermarket dimana Anggia bekerja
Sebenarnya Diva sudah cukup mempunyai uang untuk membeli kendaraan roda empat tapi Diva urungkan karena ada hal yang lebih penting dari itu, yakni pendidikan Sky
"Kenapa jalan kaki, kenapa gak minta jemput pak sopir apa pesen taksi?", Sergah Anis yang masih bermesra-mesraan dengan Aidil
"Gak apa-apa Deket ini kayak apa saja deh, kayak gak pernah jalan kaki saja", balas Diva
"Ya kalau aku sih sudah malas kalau di suruh jalan kaki terlalu jauh, kalau ada satu kilo meter perjalanan dari supermarket ke rumah tuh iya kan"
__ADS_1
Diva mengernyit bagaimana Anis tau kalau dia habis dari Supermarket
"Belanja apa?", Tanya Anis dan membuat Diva sadar akan kantong plastik yang di bawanya
"Ya ampun sangking indah nya melamun sambil berjalan sampai lupa kalau dia baru belanja dari supermarket", diva membatin ingin mengumpat kebodohan nya
Tak lama mobil Fadlu terparkir di halaman rumah, Sky langsung berhambur memeluk ibu nya
"Hey darimana saja kamu anak bujang?", Seru Anis
"Aku dari rumah paman Fadlu lalu aku di ajak main ke taman oleh mas Aldo", jawab Sky sambil membawa Plastik berisi siomay berwadah kotak di tangan nya
Diva pun mengamati mobil Fadlu dan membuat Aldo buka suara
"Mas Fadlu gak ikut mba, katanya mau keluar sama mba Sherina", ucap Aldo
"Oh ya sudah ayo masuk ke dalam rumah dulu do, mba masak dulu lalu makan malam bersama", ujar Diva
"Makasih mba tapi kayak nya aku gak bisa deh, aku mau pulang dulu ke rumah mas Fadlu, takut mas Fadlu sudah pulang dan memerlukan bantuan ku", Aldo tersenyum
Aldo pun naik kedalam mobil dan mobil pun perlahan berlalu dari halaman rumah Bu Aini
"Bu... Sky mau mandi dulu ya?", Sky berlari menuju kamar mandi
Diva pun hanya tersenyum, belum sempat menjawab ucapan Sky saja sudah pergi jauh masuk ke dalam
Sebuah mobil mewah berhenti tepat di halaman rumah dan sesosok perempuan cantik keluar dari dalam mobil
"Lagi ngapain kalian disini, oh iya ibu bawa oleh-oleh buat kalian, ayo kita masuk ke dalam", titah Bu Aini dan memberikan beberapa kantong paper bag ke dalam tangan Aidil
"Ibu darimana?", Ujar Aidil sambil meletakan kantong paper bag di atas meja
"Biasa lah jalan-jalan sama kawan sosialita ibu, Dil apa kamu tidak ingin menemui bapak mu yang sedang sekarat di Singapura sana!", Bu Aini meneguk jus yang sudah tersedia di dalam gelas
"Entah lah Bu, aku bingung", jawab Aidil
"Bingung kenapa, jika kamu mau kamu bisa mengambil tiket penerbangan secepatnya dan kamu bisa segera menemui bapak mu disana"
"Kenapa bapak bisa sampai di rawat disana Bu?"
"Yah namanya juga sudah tua pasti banyak penyakit nya dan peralatan medis yang ada di Surabaya belum begitu lengkap dan bapak mu perlu tindakan medis yang lebih memungkin kan"
"Besok aku akan mengambil cuti dan aku akan membesuk bapak ke Singapura?", Aidil melangkah kan kaki menuju kamar
Pintu kamar tertutup rapat dari dalam, mata Anis menatap pintu yang sudah tertutup itu, bagaimana mungkin Aidil meninggalkan nya kedalam dengan mengunci nya dari dalam "dasar aneh", Anis membatin
"Anis tolong kamu beri pengertian pada Aidil untuk menjenguk bapak nya yang sedang sakit, apapun alasan yang Aidil punya Aidil harus tetap bisa menghargai bapak nya, tanpa bapak nya Aidil tidak akan ada di dunia ini", ucap Bu Aini
"Iya Bu akan Anis coba nanti"
__ADS_1
"Terimakasih nis, ya sudah ibu mau masuk ke dalam kamar dulu, ibu capek pengen istirahat", Bu Aini menepuk pundak Anis dan berlalu ke dalam kamar
Anis merasa dilema lalu perlahan Anis menatap diva yang sedang asyik memasak membantu bik Ira yang sedang memotong cabe dengan begitu antusias
"Woy bagaimana kabar restoran yang akan kita buka itu, apa sudah selesai apa bagaimana?", Tanya Anis mendekati Diva
"Ye kata nya big bos masa gak tau sih!", Diva memasukan potongan cabe kedalam wajan sambil mengaduk nya
"Hais... ", Anis terlihat murung
"Ada apa nis, lesu amat, itu ada beberapa bumbu yang perlu di ulek boleh dong aku di bantuin, ya itung-itung olahraga biar sehat berkeringat dan tidak lesu lagi", Diva menunjuk bumbu yang sudah siap di atas cobek
"Ogah... ", Balas Anis
Diva pun mendekat ke cobek dan segera mengerus nya dengan penuh perasaan, bumbu pun sudah halus sempurna
"Mau masak apa sih?", Tanya Anis penasaran
"Tebak mau masak apa coba?"
"Mana aku tau aku kan gak bisa masak"
"Makanya belajar kalau gak bisa tuh, apalagi sekarang kamu sudah jadi seorang istri jadi harus bisa nyenengin suami baik di kasur, di sumur atau di dapur, ya setidak nya bisa masak walau cuma oseng kangkung lah"
"Iya Bu ustadzah aku bisa masak, masak air maksud nya"
"Serius aku mah Anis", Diva memasukan beberapa potong daging ke dalam kuali satu nya lagi
"Rendang ya?", Tanya Anis
"Yes benar sekali", jawab Diva pasti sambil mengaduk agar rata
"Yang ini sambal orek tempe ya, wah wangi banget", Anis mencomot sedikit lalu melahap nya "enak banget", lirih Anis sambil mengunyah
"Memang ada acara apa kok masak banyak banget?", Tanya Anis kemudian
"Lupa ya?", Diva menatap wajah Anis yang mengkerutkan Dahi
"Hari ini hari ulang tahun Sky yang ke sepuluh tahun Tante Anis yang cantik", seru Diva mencolek hidung Anis
"What's beneran va, aku kok bisa lupa sih, huf gara-gara banyak pikiran sampai lupa hari ulang tahun ponakan tersayang"
"Tidak apa-apa nis aku paham kok"
"Duh sorry ya va, ya sudah aku pergi dulu ya?", Anis berlalu dengan langkah kaki seribu menuju kamar yang di kunci dari dalam oleh pemilik nya
Tok... Tok....
Anis mengetuk pintu berkali-kali hingga pintu terbuka dan keluar sosok Aidil dari dalam
__ADS_1
Anis segera mengajak Aidil ke mall untuk membeli kado untuk Sky
Meski itu terlihat dadakan tapi tidak apa-apa, belum terlambat!