
Setelah hampir satu jam menunggu akhirnya kalung bertuliskan nama FaVa pun jadi dan di berikan pada Fadlu
"Ini dek sudah jadi", Abang penjual aksesoris tersenyum ramah
"Ini bang uang nya, makasih ya bang", Fadlu memberikan selembar uang seratusan dan selembar lima ribuan
"Iya kembali Makasih dek", jawab Abang dan di balas anggukan iya oleh Fadlu
"VA kamu yang pakek kalung nya, kalau aku ya lucu lah masa anak laki pakai kalung?", Fadlu menatap Diva yang hendak naik di jok belakang
"Hah enggak ah dlu, makasih.... Itu kan kalung mu", sarkas Diva
"Ayolah va, lihat lah disini ada nama kita tau, FaVa Fadlu dan Diva bagus kan?", Fadlu nyegir
"Is apaan sih?", Diva tersenyum malu
"Aku tau aku masih kecil va makanya aku belum berani pacaran walaupun temen kita banyak yang sudah pacaran, aku mau kita sahabatan ya menjadi sahabat selamanya, kamu tau va bahwa sahabat tidak akan menyakiti lain jika kita pacaran pasti suatu saat kita akan saling menyakiti", ucap Fadlu dan menaruh di tangan Diva
"Terima kalung ini ya, anggap dari sahabat sejati mu", bisik Fadlu dan membuat Diva menunduk malu
"Baik lah Makasih ya dlu?", Lirih Diva
"Iya... Diva my best friend", Fadlu pun men starter motor untuk segera pulang ke rumah
Di sepanjang jalan kedua sahabat itu saling bercerita dan tertawa, seolah-olah hanya mereka berdua yang hidup di dunia ini
Tawa mereka alami tanpa di buat-buat apalagi pura-pura bahagia semua nya natural dan sesuai hati masing-masing
Ada sebuah asa dan rasa yang tersimpan jauh di hati sepasang sahabat sejati namun demi persahabatan dan demi masa depan mereka memilih diam tak mengatakan isi hati yang sebenar nya
"Makasih ya dlu, apa mau mampir dulu?", Tawar Diva saat sudah sampai di pekarangan rumah
"Enggak lah va makasih, pasti ibu sudah nungguin aku takut ibu khawatir gak pulang-pulang ini saja kita udah telat satu jam karena nunggu kalung ukiran tadi, aku takut ibu berpikir terjadi sesuatu sama aku, ya udah va aku balik dulu ya, see you tomorrow", ucap Fadlu
"Ish apa an sih, pakai bahasa Inggris segala?", Jawab Diva sewot
"Eh tunggu dlu?", Suara nenek Diva menghentikan laju motor Fadlu
Fadlu pun menoleh ke sumber suara
"Ada apa nek?", Ucap Fadlu
"Ini untuk mu ambil lah?", Nenek menyerahkan kantong berwarna hitam pada Fadlu
"Ini apa nek?", Tanya Fadlu penasaran
"Sudah lah ambil, itu makanan dlu, jangan khawatir nenek gak mungkin mengisi bom nuklir di dalam nya", ucap nenek sambil tersenyum menggoda
"Jangankan bom nuklir, sabun detergent merk bom aja kadang gak ke beli", ketus Diva meledek
"Hahahaha", ketiga orang itu tertawa renyah, oleh kata Diva..
****
"Pak... Ma.... ", Sapa Diva saat melihat kedua orang tua nya masih makan siang sambil bercengkrama ria dan tampak rukun bahagia
__ADS_1
"Kamu sudah pulang va, ayo makan dulu bareng kita, pasti kamu sudah laper kan?", Ucap Ilham bapak Diva
"Ah nanti saja pak aku mau sholat dulu sudah hampir jam dua siang nanti kalau di tunda-tunda aku nya jadi malas", balas Diva dan segera masuk ke dalam kamar sambil membawa tas ransel yang sudah pudar warna itu
Langkah Diva malas mau ke sumur untuk mengambil wudhu apalagi harus menimba air di sumur, apalagi di tambah saat Diva melihat banyak perkakas yang turun di bawah dan hampir kesemuanya kotor
"Apaan sih sampai semuanya kotor begini, wow banyak kerjaan nih?", Batin Diva
"Sudah cepet sholat terus cuci perabotan tuh dah pada numpuk malah bengong kayak gitu, gadis itu gak boleh melamun di depan sumur sendirian lagi", Meylin menaruh piring bekas milik nya dan piring bekas Ilham kedalam sebuah bak untuk mencuci piring
Diva pun menatap punggung Meylin yang sudah menghilang masuk kedalam rumah
"Huh... Capek banget tadi sebelum ke sekolah Diva sudah memenuhi seluruh gentong dan bak mandi, mencuci baju dan menyapu halaman, di tambah tadi udah jatuh dari motor sama Fadlu, udah di hukum bersih-bersih perpustakaan juga karena telat datang ke sekolah dan sekarang harus cuci piring kayak orang habis hajatan", gumam Diva sedih
Selesai sholat Diva segera mengambil piring buat makan "ampun piring satu pun gak ada yang bersih ada acara apa sih sampai piring turun semua" hati Diva bersedih dan mengambil mangkok plastik bergambar bunga Seroja atau bunga Kamboja entahlah gambar bunga apa itu Diva sendiri tidak paham yang penting mengambilnya sebagai wadah nasi
Saat membuka wajan Diva hanya mendapati empat kaki ayam, dua kepala dan dua kerongkongan, Diva pun mengambil dua kaki ayam dan menaruh ke dalam mangkok nya dengan wajah bahagia
"Hey sudah mau makan?", Sapa nenek Diva yang habis dari depan sambil membawa nampan berisi gelas kotor
Diva hanya mengangguk tanpa menjawab
Nenek mengangkat sebuah dandang yang masih nyantol di papan kayu lalu nenek Diva mengambil sebungkus daun pisang dan memberikan pada Diva "ini makan lah lauk untuk mu?", Ucap nenek dan meletakan bungkusan daun pisang di hadapan Diva
"Daging Ayam...", Lirih Diva saat membuka bungkusan daun tersebut
"Lah iya daging ayam emang apa?", Jawab nenek Diva
"Makasih ya nek?", Ucap Diva sambil mengambil sepotong paha ayam yang ada di balik bungkusan daun tersebut
"Biar Diva saja nek yang nyuci", ucap Diva sambil mengunyah makanan
"Sudah lah makan lah dulu kalau sudah selesai baru bantu nenek cuci piring", nenek Diva tak mengindahkan ucapan Diva dan itu membuat Diva makan lebih cepat
"Ini udah bersih ya nek?", Diva membawa perabotan yang sudah bersih ke dapur dan menata nya disana
"Emang ada acara apa sih nek kok piring nya kotor semua?", Tanya Diva
"Tadi temen bapak mu sama istrinya pada datang jadi mereka makan bersama di sini?", Jawab nenek
"Ouh gitu....", Balas Diva sambil manggut manggut
Setelah selesai mencuci piring Diva ikut dengan nenek untuk ke ladang mencari kayu bakar
"Kita gak ajak bapak nek, bapak kan lelaki pasti akan lebih banyak dapat kayu kalau kita ajak?", Diva memakai celana training dan kaos oblong panjang lengkap dengan topi
"Jangan va biarkan bapak mu tidur siang, bapak mu capek baru pulang merantau, jadi kita saja yang keladang buat nyari kayu, lihat kayu dah habis nenek mau masak air minum gak ada lagi, ayo?" Nenek duduk di belakang sedang Diva yang mengoes sepeda dengan kecepatan tinggi
"Hey pelan-pelan nanti kalau jatuh bagaimana?", Nenek mencubit perut bagian pinggul Diva
"Hahahah iya iya nek, lagian jalan nya lurus dan bagus Diva jadi khilaf"
"Nah itu lah manusia kalau di kasih jalan yang lurus dan bagus pasti kebanyakan pada khilaf, kalau di kasih jalan berlubang pasti akan lebih hati-hati karena waspada bisa saja jatuh iya kan?"
"Ah nenek bisa saja?", Goda Diva dan mengayunkan pelan sepeda milik nya
__ADS_1
Setelah sampai di ladang Diva segera membantu nenek mengumpulkan kayu bakar dan menaruh di sepeda tua itu
"VA... Diva....", Teriak Fadlu yang membajak ladang menggunakan kerbau
"Itu kan Fadlu ngapain dia?", Gumam Diva
"Ngapain... Ya bantuin bapak nya lah va", jawab nenek
"Oh iya ya lupa aku nek", Diva menuntun sepeda dari ladang ke ladang sampai akan menuju rumah
Sampai di rumah Diva menselonjorkan kaki di teras rumah sambil melihat nenek nya membawa kayu ke belakang
"Biar Diva bantu nek?", Diva berdiri dan membawa sebagian kayu ke dapur belakang
Diva pun bergegas mandi dan rebahan di kamar usang tua itu
"VA di cari Fadlu katanya mau ngerjain PR bersama?", Ucap nenek di balik pintu
Diva pun keluar dan menyapa Fadlu
"Ini PR nya aku sudah kerjain kamu tinggal nyalin aja?", Fadlu menyerahkan buku tulis pada Diva
"Iya kah... Makasih ya?', jawab Diva dan mengambil buku dari tangan Fadlu
"Ya sudah aku pulang dulu sudah sore"
"Ya memang kesini nya saja udah sore", balas Diva nyengir
"Hehehe iya soalnya aku baru pulang dari ladang habis bantuin bapak bajak ladang buat di tanami sayuran?"
"Anak baik dan anak rajin", diva menggoda
"Baru tau apa baru sadar kalau aku rajin, baik dan suka menabung", Fadlu kembali menggoda Diva
"Sudah sudah sana pulang udah mau Maghrib ntar di cariin ibu mu kapok?"
"Iya iya bawel kamu" , Fadlu pun pergi dengan motor milik nya dan menyisakan Diva yang mematung di teras
"VA.... Tolong lipatin baju dong?", Meylin datang dari dalam dan menarik tangan Diva
"Loh bapak kemana ma, bukan nya tidur y?" Tanya Diva saat mendapati bapak nya gak ada di kamar
"Pergi main ke rumah temen nya", jawab Meylin sambil tersenyum melihat ponsel nya
"Cepetan dong", Meylin berkata lagi
"Iya ma", Diva pun melipat baju Bapak nya dan memasukan kedalam lemari
Tak berselang lama pintu kamar terbuka "Loh va lagi ngapain?", Ilham yang baru masuk ke kamar melihat diva yang akan segera keluar kamar
"Oh itu habis minta di ajarin PR sekolah mas?", Jawab Meylin dan meletakan ponsel ke bawah bantal
"Ya udah va kamu juga udah paham kan jadi sana kerjain PR nya di kaamr mu sendiri ya?", Meylin menyuruh Diva keluar
Diva tisak terkejut lagi, bahkan Diva sudah terbiasa dengan tingkah mama nya yang seolah baik saat ada bapak nya dan akan memaki serta menyuruh jika tak ada bapak nya
__ADS_1
Entah lah mama itu mama kandung apa mama tiri ku? Begitulah batin Diva saat perasaan jengkel ada di hati nya