Menggapai Asa Dalam Doa

Menggapai Asa Dalam Doa
episode 42


__ADS_3

"nis makasih ya sudah mau menemani aku untuk mencari obat buat kesembuhan ku?", Aidil mengenggam tangan Anis menyusuri jalan setapak karena mobil tidak bisa masuk ke area kampung


"Iya Dil apapun itu asal kamu sembuh", Anis tersenyum hangat ke arah Aidil


Hari ini Anis dan Aidil baru saja pulang dari berobat ala tradisional di sebuah kampung yang ada di Kalimantan


Mereka sudah di Kalimantan kurang lebih tiga hari dan hari ini rencananya mereka akan pulang ke kota


Setidak nya sudah mulai ada perubahan dan kemajuan pada Aidil


"Jangan lupa obat nya di bawa Dil?", Seru Anis saat mereka berkemas akan segera pulang ke kota


"Iya sayang", jawab Aidil yang sudah lengkap dengan koper di tangan nya


Setelah selesai berkemas mereka segera menuju bandara untuk melakukan penerbangan


Ramuan tradisional yang telah di racik dari salah satu orang Datuk yang ada di Kalimantan bisa di pakai sekitar tiga Minggu.


Setelah tiga Minggu Anis dan Aidil akan datang ke Kalimantan lagi


Alasan yang mereka sampaikan pada Bu Aini adalah liburan menyambut hari raya sebuah agama padahal mereka sedang melakukan misi penting


Misi dimana Aidil harus bisa sembuh dan kembali menjadi lelaki yang normal seutuh nya


Anis menyimpan rapat penyakit yang menempel pada diri Aidil agar suaminya tidak malu dan jatuh harga dirinya sebagai seorang lelaki di hadapan umum


Anis juga sudah menyakinkan diri untuk tidak berselingkuh, Anis akan membantu Aidil sembuh seperti janji nya


****


"Hay Sky....", Teriak Anis setelah keluar dari mobil yang di tumpangi nya


Sky pun menoleh padahal masih asyik main sepak bola di halaman rumah


"Tante Anis... Bu... Ibu... Tante Anis sudah pulang", teriak Sky memanggil ibu nya yang sedang menyiram bunga di sore hari


Sky berlari memeluk Anis dan Aidil bergantian


"Mana adek bayi nya?", Tanya Sky setelah menoleh ke kanan dan ke kiri


"Adek bayi siapa Sky?", Tanya Aidil bingung


"Ya adek bayi nya paman sama Tante lah, kata ibu Tante sama Paman pergi untuk mengambil adek bayi makanya Sky gak di ajakin", sungut Sky merasa di bohongi


"Wah ibu mu itu ya!", Seru Anis saat melihat Diva mendekat

__ADS_1


"Kenapa sih pulang-pulang malah sewot gitu?", Diva menggoda dan mengambil koper dari tangan Anis dan membawanya masuk kedalam rumah


"Ya kamu ngomong apaan coba sama Sky, kan aku jadi riweh sendiri jawab nya, dasar kamu tu va is menyebalkan", Anis menyamai langkah kaki Diva menuju ruang keluarga


"Iya maaf nis, soalnya aku bingung mau jawab apa, Sky merasa kamu tinggal pas lagi sayang-sayang nya jadi aku bilang saja begitu"


"Gak lucu ah", Anis memberikan koper di tangan Diva pada bik Ira


"Oh iya bik, ini ada oleh-oleh boleh di bagi sama pak sopir di depan", Aidil memberikan sebuah paper bag pada bik Ira


"Makasih mas", bik Ira menerima dan kembali berlalu


"Lagian kalian liburan kok ke Kalimantan sih, kenapa gak ke luar negeri saja?", Tanya Diva sambil menuang teh hangat ke dalam gelas


"Ya suka-suka kita dong, iya gak sayang?", Anis menatap Aidil yang masoh sibuk dengan ponsel di tangan nya


"Iya iya pengantin baru mah bebas", Diva duduk di sofa dengan mengambil teh hangat dan menyesap nya


"Jadi Tante sama Paman belum jadi bawa adek bayi ya?", Tanya Sky lagi yang kini sudah segar karena habis mandi sore


"Iya Sky, nanti kalau sudah ada baru paman bawa adek bayi untuk Sky okay", Aidil mengusap rambut Sky yang basah karena habis keramas


"Baik paman"


"Mba ibu kemana?", Tanya Aidil


"Oh ... Oh iya mba bagaimana kabar Fadlu apa sudah lebih baik keadaan nya, setelah dokter Ardi menyatakan lumpuh tempo hari?"


"Ya sudah lebih baik, dalam arti kata Fadlu dapat menerima kelumpuhan itu dengan hati yang ikhlas"


"Syukur lah kalau begitu, jadi sekarang Fadlu sudah pulang kerumah nya mba?"


"Iya Dil"


Aidil mengambil sebuah paper bag dan berjalan kedepan


"Aku pergi dulu mau kerumah Fadlu, kamu istirahat lah pasti kamu capek?", Seru Aidil menatap Anis penuh bahagia dengan seutas senyum yang nyata di sudut bibir nya dan berlalu hilang di balik pintu


"Istirahat lah dulu nis, pasti kamu capek?", Diva menepuk bahu Anis


Dan mengambil ponsel di atas meja


"Capek sih tapi nanti dulu lah aku masih pengen cerita-cerita sama kamu va?"


"Kan bisa nanti lagi cerita nya, lihat lah kamu belum mandi juga sudah sore ini, apa gak capek coba dari perjalanan jauh?", Diva masih fokus ke layar handphone nya

__ADS_1


"Ih menyebalkan kamu tuh...


Aku bilang nanti ya nanti dong, aku ada oleh-oleh untuk mu loh va, pasti kamu suka!", Anis berlalu dan mengambil sesuatu barang dari dalam tas punggung milik nya


Tampak sebuah gelang terbuat dari akar yang di potong kecil-kecil dan di ukir dengan begitu indah


"Gak ada pilihan warna adanya hanya ini, terima ya?", Anis menyodorkan gelang tersebut


"Terimakasih nis gelang nya begitu cantik", Diva mengambil gelang dan langsung memakainya


"Ini juga ada buat Sky", Anis mengeluarkan sebuah gelang yang sama dengan milik Diva hanya beda motif saja


"Makasih banyak loh nis, Sky pasti senang dapat hadiah dari kamu", Diva mengambil gelang itu pada tangan Diva namun Diva mengenggam nya terlalu erat


"Kenapa?", Tanya Diva


"Biar aku sendiri yang kasih ke Sky"


Diva pun menyenderkan bahu ke dinding sofa


"Baik lah up to you"


"Va aku boleh tanya sesuatu hal tidak, tapi jangan marah ya?"


"Tanya apa kenapa aku gak boleh marah", Diva menatap Anis dengan serius


"Kamu normal kan?"


"Mak...sud kamu apa nis?"


"Iya kamu normal kan, kamu bukan penyuka sesama jenis kan?"


"Ya ampun bagaimana mungkin kamu ada pikiran macam itu nis, astaga buruk sekali pikiran mu, gak nyangka aku", Diva menghembuskan nafas kasar


"Ya kirain soalnya semenjak kamu resmi bercerai dengan mas Leon tak sekalipun aku lihat kamu bersama pria walau satu pun, kamu wanita dewasa bukan gadis kecil lagi lalu bagaimana cara agar kamu gak kepengen itu-ituan?"


"Tergantung seberapa besar iman di dada mu nis, kamu ini ada-ada saja, inti nya aku normal nis jangan khawatirkan aku, suatu hari nanti pasti akan aku temukan cinta sejati ku, jodoh yang memang Tuhan kirim untuk ku"


"Kapan va, apa kamu gak ada keinginan untuk mencoba mencari dan mendapatkan nya, Sky sudah besar va dan kamu pun berhak hidup bahagia"


"Aku tau nis tapi untuk saat ini biarlah aku mencintai nya dalam doa saja aku masih belum siap jika harus menghadapi perihal yang rumit"


"Jadi... sebenar nya Kamu sudah ada idaman hati, kenapa gak pernah bilang ke aku, siapa dia va, apa pekerjaan nya terus bagaimana wajah nya apa lebih cakep dari suami ku?", Cerocos Anis bertubi-tubi


"Ya ya ya suatu hari nanti kamu tau tapi sekarang rahasia dulu ya!", Diva menepuk pundak Anis dan berlalu kedalam kamar untuk mengecas handphone milik nya

__ADS_1


"Ih dasar gaje loe va!", Pekik Anis yang di tinggal di ruang keluarga sendirian


__ADS_2