Menggapai Asa Dalam Doa

Menggapai Asa Dalam Doa
episode 61


__ADS_3

Sesampai nya di rumah orang tua Aldo terkejut karena Aldo pulang enggak ngabari terlebih dulu


"Pulang kok enggak ngomong-ngomong, itu mobil siapa do yang kamu bawa?", Seru ibu nya Aldo penasaran sambil melirik ke mobil yang terparkir di halaman rumah


"Ya dadakan Bu, mas Fadlu pengen pulang kampung jadi ya Aldo ikut saja toh, menurut ibu mobil siapa?"


"Oh ada acara apa kok pulang, biasanya pulang kampung kan kalau pas mudik lebaran atau ada acara keluarga gitu, ya siapa tau mobil kamu do"


"Ih ibu kepo", seru Aldo dan di lempar gagang sapu oleh ibu nya


"Bukan kepo cuma tanya kalik", sungut ibu Aldo cengengesan setengah nyengir


"Mas Fadlu mau melamar mba Diva Bu", seru Aldo dan di tanggapi muka kaget oleh ibu Aldo yang gendut itu


"Diva yang mana, apa Diva anak nya pak Ilham itu?", Yakin Bu Aldo bersungguh-sungguh


"Lah iya lah Bu, emang di desa ini yang namanya Diva ada berapa orang?"


"Ya siapa tau ada Diva yang lain do, anak nya pak Mesran itu Diva, anak nya bude Ratmi itu juga bernama Diva"


"Diva nya pak Ilham Bu, bukan Diva yang lain", Aldo menyakin kan sang ibu


"Bukan kah dia jendes ya, mantan suami nya si Leon anak dari mantan pak Kades sepuluh tahun yang lalu itu", bisik ibu Aldo


"Iya Bu benar", jawab Aldo sambil berpikir, bahwa ibu nya tahu juga masalalu Diva


"Kenapa gitu dulu si Diva itu bisa cerai sama anak nya pak Kades?"


"mba Diva pernah mengalami KDRT oleh mas Leon, dan untuk tepat alasanya Aldo sendiri sudah tau Bu, jadi apapun status mereka sebelum nya doakan semoga mereka mendapat kan yang terbaik", seru Aldo sok bijak


"Baik lah ibu ngerti, tapi apa enggak sayang saja secara Fadlu kan lelaki mapan, ganteng iya, pekerjaan bagus iya, kok bisa-bisanya dapat jendes"


"Cinta Bu, lagian siapa sih di dunia yang mau menikah sampai dua kali begitu pun mba Diva, Aldo sendiri tau jika mba Diva itu orang baik yang di sia-sia kan oleh mantan suami nya"


"Sok tau kamu", ketus ibu Aldo


"Lah enggak percaya, aku ada disana menjadi saksi nya bu", seru Aldo yakin


"Maksud nya?", Kepo ibu Aldo


Aldo hampir saja keceplosan tentang Leon tempo hari menangkap Diva hingga membuat nya babak belur


"Enggak jadi, lupakan saja Bu, toh ini bukan urusan kita yang harus kita urusin, iya enggak Bu, buat apa kita ngurusin hidup orang toh hidup kita sendiri masih awut-awutan, yang penting kita doakan mereka yang baik-baik saja bu"


"Beh bijak kali anak ibu sekarang, oh iya kamu sudah makan apa belum, apa mau ibu masakin mi instan?", tawar Bu Aldo


"Bu... Bu... Anak nya pulang dari rantau bukan nya di masakin yang enak, eh malah di tawari mi instan, malas aku Bu"


"Mana duit jika mau makan enak, biar ibu belanja ke pasar lalu ibu masakin khusus untuk mu", tangan Bu Aldo menengadah meminta uang dari putra sulung nya


"Is pasti deh menjurus ke arah sana", Aldo mengeluarkan beberapa lembar uang merah dan menaruh nya tepat ke tangan ibu nya


"Aldo kan kerja baru satu bulan, gaji Aldo sendiri cuma Tiga juta lebih sedikit jadi ini uang buat belanja Ibu, sisanya Aldo simpan di Bank"


"Terima kasih do, ibu cuma bercanda eh kamu nya malah serius", Bu Aldo tersenyum senang

__ADS_1


"Iya sama-sama, ibu tenang saja selanjut nya tiap bulan Aldo bakal kirim uang buat Ibu dan Adik-adik, tapi ya jangan mengharap banyak Bu, Karana Aldo di kota juga butuh beli rokok, bukan apa,. Mas Fadlu enggak merokok jadi Aldo beli rokok sendiri jika mau rokok, kalau masalah makan mah ibu jangan khawatir apa yang mas Fadlu makan Aldo ikut makan"


"Bekerja lah yang baik biar awet bekerja disana, cari kerja sekarang mah susah, apalagi kayak nya setelah ibu dengar cerita mu Fadlu itu orang yang baik"


"Iya Bu", jawab Aldo dan tidur di pangkuan sang Ibu, begitulah Aldo yang akan bermanja pada sang ibu jika merasa waktu nya untuk manja, karena bagaimana pun sebenar nya Aldo adalah anak yang begitu menyayangi sang Ibu


"Bu nanti malam kita di suruh ke rumah mas Fadlu?", Seru Aldo dan duduk kembali


"Ada apa memang nya?"


"Mas Fadlu mau datang ke rumah mba Diva, buat melamar kan, jadi kita di undang kesana juga"


"Oh baik lah, lumayan jadi saksi lamaran orang berduit mah, jam berapa kiranya kita kesana"


"Ya jam tujuh lah Bu, karena selepas Isya kita bakal on the way ke rumah mba Diva, enggak lucu kan kalau kita telat"


"Baik lah nanti Ibu bilang sama bapak mu selepas pulang dari ladang", jawab ibu Aldo sambil gegas keluar rumah untuk belanja


Bapak nya Aldo sendiri seorang buruh yang bekerja di Ladang pak Hadi, Aldo anak pertama dari empat saudara dan kesemuanya laki-laki


Dari itu Aldo tidak melanjutkan pendidikan karena ingin membantu perekonomian orang tua nya, setidak nya meringan kan walau hanya sedikit


*****


Fadlu masih tertidur di dalam kamar lama nya, Bu Hadi datang mengusap pucuk kepala Fadlu yang berkeringat karena tidak menyalakan kipas angin


"Bangun dlu", lirih Bu Hadi sambil mengoyangkan bahu Fadlu


"Ibu...", Fadlu terbangun dan duduk di samping sang Ibu, seulas senyum sang ibu nampak jelas disana


"Oh baik lah Bu", Bu Hadi berlalu keluar dari kamar Fadlu, Fadlu yang setengah mengantuk pun mengusap mata nya yang lelah, buku yang di baca nya kembali ia taruh di meja yang tersusun rapi


Fadlu keluar kamar dan mendapati bapak nya sedang duduk disana, Fadlu mengambil dan mencium punggung tangan pak Hadi takdzim


"Bagaimana kabar nya pak?", Ucap Fadlu dan duduk di samping pak Hadi


"Alhamdulillah baik, kamu sendiri bagaimana kabar nya bapak lihat kamu sudah jauh lebih baik sekarang"


"Alhamdulillah pak", Fadlu menampilkan senyum manis


"Syukur lah, bapak senang saat bisa melihat mu kembali ceria dan semangat, bapak begitu bersyukur baru satu bulan bapak tinggal kaki mu sudah sembuh, ini keajaiban yang luar biasa"


"Iya pak ini tidak lepas dari doa kalian semua"


Pak Hadi mengangguk dan tersenyum hangat


"Ayo pak kita makan?", Ajak Bu Hadi dan mengambil kan nasi ke dalam piring pak Hadi


"Cukup Bu, jangan terlalu banyak takut tidak habis dan jadi mubazir", seru pak Hadi


"Makan yang banyak, biar gendut jangan takut enggak habis, masakan ibu ini lezat sekali loh pak", jawab Bu Hadi, Fany dan Fadlu hanya tersenyum mendapati keromantisan kedua orang tuanya


"Ayo Fadlu juga harus makan yang banyak, biar pemulihan kaki nya cepet sembuh total dan bisa kembali kerja menolong banyak orang di luar sana sebagai perantara Allah tentunya", Bu Hadi menaruh secentong nasi dan lauk pauk lalu mengisi nasi di piring Fany


"Ibu Aku enggak makan", lirih Fany, kening Fadlu mengernyit dan sang ibu menepuk jidat nya sendiri

__ADS_1


"Kenapa enggak makan, makan lah lihat badan mu kurus begitu", seru Fadlu


"Fany lagi puasa Senin Kamis dlu, biarkan saja, mungkin ibu mu juga lupa kalau Fany tengah puasa", jawab pak Hadi dan di sambut tawa oleh Bu Hadi


"Pak, Bu, ada hal penting yang ingin Fadlu sampaikan", Fadlu masih termangu belum memakan nasi di hadapan nya


"Hal apa kiranya dlu", pak Hadi menimpali


"Aku ingin melamar Diva anak nya pak Ilham pak", jawab Fadlu pelan namun mampu membuat Bu Hadi dan pak Hadi menghentikan kunyahan di dalam mulut nya


"Kita bisa bicarakan nanti setelah selesai makan", usul pak Hadi


"Tapi hari ini Diva sudah menyiapkan untuk kedatangan kita ke rumah pak Ilham pak"


"Kenapa mendadak, ada apa sampai begitu mendadak tidak di katakan jauh-jauh hari"


Fadlu menunduk dalam, banyak ke was-was an yang disimpan di relung hati


"Ibu memang menyukai Diva, tapi status nya itu apa tidak memberatkan mu dlu, Diva sudah mempunyai anak, jika kamu mencintai ibu nya kamu juga harus siap menerima anak nya", Bu Hadi turut berbicara


"Fadlu sudah pikir kan itu Bu", seru Fadlu lirih


"Lalu bagaimana dengan Sherina?", Bu Hadi kembali bersuara


"Sherina memutuskan hubungan kami Bu, alasanya jelas Sherina tidak mau hidup dengan pria lumpuh seperti ku"


"Itu bagus, Tuhan menunjukan jalan sebelum kamu masuk kedalam bahtera rumah tangga, lebih baik kandas sebelum mulai dari pada kandas saat tengah berlayar"


"Bapak belum bisa memberi keputusan sekarang dlu, ini bukan hal untuk main-main, ini serius dan harus di pikir kan matang", pak Hadi menghentikan aktivitas makan dan menyudahi nya


"Aku sudah yakin dengan segenap jiwa dan pikiran pak, jangan lah status menjadi penghambat diantara hubungan kami"


"Baik lah jika keputusan mu sudah bulat, bapak dan ibu hanya bisa memberi restu dan mendoakan, karena yang akan menjalani kan dirimu sendiri, jika kamu sudah yakin dan siap kami bisa apa selain menyetujui nya", pak Hadi menepuk bahu Fadlu


"Terima kasih pak?", Fadlu memeluk pak Hadi sebagai rasa terimakasih yang dalam, Fadlu tidak menyangka semudah itu mendapat restu dari bapak kesayangan nya


"Bapak tau kalian saling mencintai dan itu sudah terlihat dari kalian masih kecil, hanya keadaan menjadi penghalang hingga membutuhkan waktu yang lumayan lama"


"Iya pak", jawab Fadlu lirih


"Rasulullah menikah dengan wanita yang datang melamar nya, saat itu Nabi Muhamad masih berusia Dua puluh lima tahun sedang Khadijah sudah berusia empat puluh tahun, apakah mas terinspirasi dari kisah beliau?", Fany bersuara


"Ah tidak, bahkan mas baru ingat saat kamu bilang Fan", jawab Fadlu tersenyum lalu memberi pertanyaan pada Fany


"Lalu pernikahan seperti apa yang kamu impikan adik ku sayang?"


Fany tersenyum mendapat pertanyaan dari Fadlu lalu menjawab "aku ingin kisah cintaku seperti kisah Sayidah Fatimah dan Sayidina Ali yang mencintai dalam diam, bahkan setan sendiri tidak tau jika mereka saling mencintai"


"Hah...", Fadlu mengernyit


"Tapi mungkin akan sulit mas, jadi aku akan lebih memilih tidak pacaran dan langsung menikah saja"


Fadlu masih bengong dengan jawaban adik perempuan nya tersebut


"Apa lebih baik aku meminta jodoh lewat bapak dan ibu saja, di jodoh kan gitu yah walau sudah bukan jaman nya lagi", seru Fany lagi dan Fadlu ssmakin terpesona dengan ungkapan hati sang adik

__ADS_1


__ADS_2