Menggapai Asa Dalam Doa

Menggapai Asa Dalam Doa
episode 60


__ADS_3

"bagaimana sekolah nya, lancar?", tanya Fadlu saat tiga cangkir teh mendarat di meja kayu yang banyak kenangan tersebut


"Alhamdulillah mas semuanya aman terkendali", jawab Fany menunduk


"Kebetulan kamu pulang dlu, biasanya Fany juga akan pulang saat lebaran hari raya saja, ini benar-benar kebetulan dan kesempatan", ucap Ibu sambil menatap manis sang putri yang masih menunduk


Fany semenjak masuk kelas satu SD sudah memilih masuk di sebuah pondok pesantren di desa Campa tersebut, awal nya Bu Hadi dan pak Hadi melarang karena terlalu banyak pertimbangan anak perempuan masih kecil sudah mau mandiri di pondok pesantren tapi Fany kecil Keukeh mau mondok dan akhir nya Bu Hadi dengan berat hati merelakan anak perempuan nya mondok


"Kenapa begitu betah berlama-lama di pondok pesantren?", tanya Fadlu sambil mendekati adik perempuan nya yang kini sudah tumbuh dewasa


"Di sana selalu rame mas, inti nya Fany suka dan nyaman"


"Memang di rumah enggak nyaman?", tanya Fadlu lagi


"Nyaman sih mas tapi Ndak ada kawan", Fany tersenyum simpul membenarkan jilbab nya yang tertarik oleh pelukan Fadlu


Fadlu menatap penuh kasih lalu sebagian hati kecil nya bertanya-tanya apa Fany malu karena bekas luka bakar tersebut


Ya Fany mempunyai bekas luka bakar di bagian kiri tubuh nya, lengan, perut, dada sampai paha nya, dulu sewaktu kecil Fany pernah berlari-lari saat Bu Hadi sedang menggoreng kerupuk, tiba-tiba Fany kecil berlari dan sedikit mendorong kuali dan mengenai bagian kiri tubuh nya


Semenjak kejadian itu Fany memilih sekolah ke pondok pesantren sehingga menyulitkan Fadlu untuk mengetahui bekas luka bakar tersebut, masih ada apa sudah pudar


"Fan ayo bantu ibu masak buat mas mu", ajak Bu Hadi sambil menuju dapur


Fany pun menunduk dan mengikuti ibu nya untuk masak di dapur, hati Fadlu tersentuh dengan sopan santun sang adik yang menunduk saat melewati nya, di jaman modern seperti ini rasa-rasanya jarang anak model Fany yang masih menggunakan tata Krama


"Mas, aku pamit ke rumah orang tua ku dulu ya?", Pamit Aldo yang sudah menghabiskan teh di gelas


"Enggak nunggu dulu, itu ibu masih masak loh"


"Nanti kesini lagi mas"


"Bawa lah mobil menuju rumah mu, enggak mungkin kan kamu mau jalan kaki, lumayan jauh loh, lagian ini panas banget", seru Fadlu


"Tapi enggak enak mas, nanti di kira mobil ku lagi, giliran di tanya duit kantong melompong", tawa Aldo


"Perduli sama pikiran orang do, kita makan enggak minta mereka kan, udah lah bawa saja enggak apa-apa", seru Fadlu dan Aldo pun akhirnya pulang ke rumah membawa mobil Fadlu


Fadlu masuk ke dapur dan berpamitan akan ke ladang menemui pak Hadi


"Bu aku ke ladang ya nyusul bapak?", Seru Fadlu


"Enggak usah di susul sebentar lagi juga pulang bapak mu tu dlu"


"Nanti hitam loh mas kalau panas-panasan", goda Fany pada Fadlu, tak di pungkiri kulit Fadlu kini putih bersih di banding kulit Fany yang kuning Langsat


"Kayak enggak pernah panas-panasan saja Fan, lagian cuma sebentar kangen kampung halaman tapi tahan dulu deh"

__ADS_1


"Sini bantuin ibu masak kalau enggak capek mah, kalau capek ya sana istirahat di kamar"


Fadlu pun mengernyit mendengar kamar, akhir nya Fadlu menuju kamar milik nya, Fadlu tersenyum saat mendapati kamar nya sudah berubah semua posisinya, sekarang jauh lebih rapi


Walau sedikit berubah tapi barang-barang nya enggak ada yang berubah masih di tempat yang sama


Fadlu membuka buku catatan dan buku-buku lawas nya seutas senyum jelas tergambar di bibir nya.


Fadlu merebahkan diri di atas kasur, sambil membaca beberapa buku kesukaan nya semasa sekolah dahulu


****


Siang hari selepas Sky pulang dari sekolah Diva langsung pulang ke desa Campa di antar oleh sopir


Kali ini si cerewet Anis tidak ikut karena sedang menjumpai bapak mertua nya yang sakit di Singapura


Sepanjang perjalanan Sky riang dan bernyanyi karena gembira akan segera bertemu dengan kakek dan nenek buyut nya


Diva sendiri menggunakan waktu dengan tidur di sepanjang perjalanan


Setelah kurang lebih lima jam akhir nya Diva sampai di depan rumah pak Ilham ayah kandung nya


Mobil yang terparkir di halaman membuat pak Ilham menebak-nebak siapa yang datang


Dengan setengah berlari pak Ilham mengendong dan menciumi Sky yang sangat ceria saat tau jika yang datang adalah Sky


"Cucu kakek pasti capek banget ya?", Seru pak Ilham sambil mengendong Sky menuju dalam rumah


"Enggak capek kok kek, soalnya Sky senang banget bisa berkunjung ke rumah kakek"


Nenek Diva yang sudah sepuh pun menangis melihat kedatangan Diva dan Sky


Walau sudah sepuh tapi penglihatan dan pendengaran nenek Diva masih bagus, bahkan nenek Diva belum pikun loh


"Nek....", Diva memeluk nenek yang sedang duduk di kursi rotan sambil terisak, bahagia saat bertemu dengan orang yang kita rindukan, apalagi beliau masih sehat dan di panjangkan umur


"Mana Sky, buyut ku?", Seru nenek sambil menoleh ke belakang Diva


"Nenek buyut", seru Sky sambil memeluk


"Sudah besar sekarang ya?"


"Sudah kelas lima SD nek, jadi sudah besar lah", jawab Sky sambil melepas pelukan


Dan menghapus bulir bening di wajah keriput nenek buyut


Bu Aini pun bersalaman pada nenek Diva

__ADS_1


"Terima kasih Bu sudah menjaga dan merawat cucu saya dengan begitu baik", seru nenek Diva


"Iya nek sama-sama, aku sendiri senang bisa memiliki keluarga seperti Diva"


"Ini teh nya Bu", seru seorang Asisten rumah tangga yang bekerja di rumah pak Ilham dan menaruh nya di meja tamu


"Terima kasih", jawab Diva pelan


"Oh iya mba itu di mobil ada sedikit makanan boleh tolong ambilkan dan bawa kesini?, Ayo Sky bantu mba nya ambil makanan yang ada di bagasi", titah Diva


"Ayo mba", ajak Sky


"Namanya siapa mba?", tanya Sky lamat-lamat tapi terdengar oleh Diva, Diva pun tersenyum melihat keramahan putra nya


"Nama mba Nina, nama kamu siapa?


"Nama ku Sky mba, oh iya berarti mba sudah besar ya?", tanya Sky


"Maksud Sky bagaimana?"


"Nina bobok... Oh Nina bobok kalau enggak bobok di gigit nyamuk, namun nyatanya sekarang mba Nina sudah besar"


Nina pun tertawa menanggapi ocehan Sky yang masuk akal itu di pikiran anak sekecil dan sepolos Sky


Sky pun membuka bagasi mobil dan mengambil beberapa kardus untuk turun kebawah


"Banyak sekali", seru Nina


"Iya dong, nanti kan bisa di kasih tetangga juga mba", ujar Sky sambil membawa satu kardus


"Emang apaan isi nya?"


"Kue dari kota mba, tadi kita beli di supermarket sana"


"Wah pasti enak"


"Tentu enak, kalau enggak enak jangan di makan ya mba, apalagi di beli, sayang uang nya buat beli pizza saja"


"Disini jauh kalau mau beli pizza mah Sky"


"Iya apa mba, berarti mba belum pernah makan pizza dong?", Celetuk Sky


"Belum", Nina menggeleng


"Nanti kalau ada waktu aku belikan ya mba",


Janji Sky pada Nina dan di angguki oleh Nina

__ADS_1


__ADS_2