
Semua sudah terduduk di ruang makan. Ini adalah hari pertama Kimmy makan bersama keluarga barunya. Semalam Kimmy dan Archie tidak tidur bersama. Kimmy tidur di kasur, sementara Archie memilih untuk tidur di sofa.
"Tambah ini, Kim!" Tifanny menyimpan Stoch Egg di piring menantunya.
Stoch Egg adalah makanan yang terbuat dari telur rebus yang dibungkus dengan daging dan tepung roti yang kemudian di goreng. Kimmy merasakan bagaimana kedua orang tua Archie sangat menyayangi dan memperhatikan dirinya.
"Terima kasih, Ma," Kimmy tersenyum tulus kepada Tifanny. Ia memakan Stoch Egg itu dengan lahap.
"Enak masakannya?" Nino bertanya sambil memotong-motong daging di piringnya dengan garpu dan pisau.
"Enak," Kimmy mengangguk dengan bibirnya yang masih di penuhi dengan Stoch Egg.
"Hari ini kalian akan langsung pergi bekerja? Apa kalian yakin?" Nino memandang Kimmy dan Archie bergantian.
"Tentu saja," jawab mereka berbarengan. Kimmy dan Archie pun saling menatap satu sama lain. Kimmy lebih dulu membuang wajahnya dari bersitatap dengan suaminya.
"Kalian yakin? Apa kalian tidak merasa lelah dengan resepsi tadi malam?" Tifanny tampak khawatir.
"Mama tidak usah khawatir! Kami berangkat bekerja, bukan untuk berangkat berperang," Kimmy menjawab Tifanny dengan suaranya yang datar. Nino terkekeh mendengar ucapan menantunya.
"Gadis ini pandai sekali bersilat lidah!" Archie bergumam sambil menatap Kimmy yang fokus dengan makanan miliknya.
"Bukan begitu, sayang. Kami khawatir kalian kelelahan. Apa tidak bisa mengambil cuti?" Tifanny tampak membujuk. Ia ingin putranya dan Kimmy mengobrol lebiu banyak untuk saling mengenali diri masing-masing.
"Pasien-pasienku bisa mencari psikolog lain jika aku terlalu lama tidak bekerja, Ma," Kimmy menjawab dengan jujur.
"Anak ini," Nino tertawa. Ia merasa Kimmy adalah gadis apa adanya.
__ADS_1
"Kalau begitu, Archie kau harus mengantarkan Kimmy ke tempat kerjanya! Setelah itu kau bisa pergi ke kantor!" Nino memerintah. Lebih tepatnya memaksa Archie dengan nada suaranya.
"Pastikan Kimmy sampai di tempat kerjanya!" Tambah Tifanny.
"Baiklah, Pa, Ma," Archie langsung mengiyakan. Ia tidak ingin berdebat sepagi ini dengan orang tuanya sendiri gara-gara tidak ingin mengantarkan Kimmy. Sementara Kimmy tidak menjawab. Ia fokus menghabiskan makanan yang ada di piringnya.
"Aku sudah selesai. Ayo kita pergi!" Ajak Kimmy kepada Archie yang masih berusaha menghabiskan makanannya.
"Baiklah," Archie menyudahi makan paginya, lalu meneguk air di gelas miliknya hingga tandas. Kemudian mengambil tas kerjanya.
Kimmy dan Archie berpamitan kepada Nino dan Tifanny, lalu melangkah berjalan ke luar rumah. Kimmy tidak menunggu Archie masuk, ia sudah lebih dahulu masuk ke dalam mobil milik suaminya.
"Hey, mengapa kau duduk di kursi pengemudi?" Protes Archie yang melihat Kimmy membuka dan masuk ke pintu pengemudi.
"Aku yang menyetir," Kimmy memakai sabuk pengaman, lalu mengambil kaca mata hitam miliknya dan memakainya.
"Tapi ini mobilku dan aku tidak akan mau disupiri oleh seorang gadis," Archie masih tidak terima.
Archie tidak menjawab. Ia langsung masuk ke dalam mobil, tepatnya di samping Kimmy. Kimmy segera melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah mertuanya. Kimmy melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata.
"Kim, ini 120 km/jam. Kau gila?" Archie memegang sabuk pengaman yang melingkar di tubuhnya.
"Lalu?" Kimmy menjawab dengan santai.
"Ini berbahaya, Kim! Turunkan kecepatan mobilnya sekarang!" Archie berkata dengan kesal.
"Pegangan! Aku terlambat," bukannya menurut, Kimmy malah menaikan kecepatan mobil sport milik Archie.
__ADS_1
"Kim, kau gila!!!" Archie berteriak. Akan tetapi, teriakannya itu sia-sia karena sang istri tidak menuruti perintahnya.
15 menit sudah Archie berada di dalam ketakutan. Mobil Kimmy akhirnya berhenti tepat di depan sebuah klinik psikologi yang sangat terkenal.
"Kim, kau berniat membunuhku?" Archie memegangi dadanya.
"Anggap saja seperti itu. Jika kau mati, aku bisa lepas dari pernikahan bodoh ini!" Kimmy menatap Archie dengan tajam.
"Kim!!" Archie tampak tidak suka dengan perkataan istrinya.
"Apa? Kau ingin di konseling olehku? Hmmm?" Kimmy menoleh ke arah Archie. Bibirnya mengulas senyuman manis dengan tatapan matanya yang sekaan menghipnotis Archie. Archie terpana melihat senyuman itu.
"S*ial, mengapa dia sangat cantik?" Archie menatap mata Kimmy yang ia lihat begitu teduh hari ini.
"Aku turun ya? Kau bekerja yang giat ya! Ada selingkuhanmu yang harus kau nafkahi!" Kimmy membenarkan dasi Archie yang sedikit berantakan.
"Maksudmu? Flowi?" Archie bertanya-tanya.
"Mungkin," Kimmy menjawab pendek kemudian ia keluar dari dalam mobil suaminya.
Bukan tanpa alasan Kimmy berkata seperti itu. Tadi malam saat akan tidur, Kimmy melihat nota belanja yang berserakan di kasur Archie. Kimmy melihat semua nota itu. Semua itu adalah nota pembelian tas, pakaian dan sepatu wanita branded.
Kimmy langsung masuk ke dalam klinik psikologi miliknya. Ia menyapa beberapa staff dengan senyuman ramah. Kakinya langsung melangkah ke arah ruangannya yang ada di lantai 2. Sampai di lantai dua, Kimmy langsung masuk ke dalam ruangan miliknya. Ia mendudukan dirinya dan menyenderkan tubuhnya di kursi itu.
Kimmy memijat pelipisnya. Kepalanya terasa sangat berat. Kimmy memikirkan tentang status dirinya kini. Di mana saat ini ia adalah seorang nyonya dari Archie Walls, pemilik perusahaan penyedia jasa asuransi terbesar di negaranya. Kimmy merasa tidak percaya jika hari ini dirinya sudah menikah dengan pria itu. Kimmy mulai memikirkan komitmen dan pernikahan yang sedang ia bangun. Bagaimanakah dirinya harus bersikap saat ini?
Saat memikirkan pernikahan dirinya, tiba-tiba Kimmy berkeringat, jantungnya berdebar-debar dan nafasnya tidak beraturan. Kimmy segera mengambil Nebulizer dari dalam laci kerjanya saat udara seakan terus menipis. Kimmy segera menghirup obat itu untuk meredakan sesaknya. Sesaat kemudian nafasnya kembali beraturan. Kimmy menyeka keringat yang sedikit membasahi dahi dan rambutnya.
__ADS_1
Kimmy memang mengalami sebuah ketakutan yang parah apalabila menyangkut sebuah hubungan dengan lawan jenis. Hal itu terjadi semenjak dirinya mengalami trauma akan hubungan masa lalunya. Ya, Kimmy memang pernah terlibat suatu hubungan yang membuat dirinya trauma akan suatu hubungan dan komitmen.
"Huh," Kimmy menghembuskan nafasnya kasar. Ia tidak mau lagi mengingat tentang masa lalunya yang menyakitkan.