
Nino memberikan paket bulan madu keliling Eropa untuk Archie dan juga Kimberly. Sebelun keberangkatan, Archie dan Kimberly berdebat harus memulai tour dari mana. Archie keukeuh ingin pergi ke Barcelona terlebih dahulu untuk mendatangi stadion Camp Nou sebagai kandang tim Barcelona. Sedangkan Kimberly ingin memulai tour dari Islandia. Kimberly atau yang kerap disapa Kimmy ingin sekali mendatangi Blue Lagoon. Karena perdebatan semakin sengit, akhirnya Lily menyarankan agar Archie dan Kimmy memulai tour mereka dari negara Finlandia. Kimmy dan Archie pun hanya bisa pasrah dan setuju dengan pilihan adiknya itu.
Pagi-pagi semua keluarga Kimmy dan juga Archie berkumpul di halaman rumah keluarga Archie. Sementara Nino tidak ikut bergabung karena harus pergi ke klinik Psikologi milik menantunya. Nino harus datang pagi, karena setelah dari klinik menantunya, ia harus datang ke perusahaan Archie. Sedangkan Kai, ia masih berada di kota Cambridge untuk kepentingan pekerjaan.
"Hati-hati ya? Jangan lupa pulang harus segera garis dua!" Pinta Tifanny saat Archie dan Kimmy akan berangkat ke bandara untuk memulai bulan madu mereka. Archie dan Kimmy hanya saling berpandangan lalu tersenyum dengan kikuk.
"Sayang, hati-hati di sana ya? Jangan berpisah dari Archie!" Alula, ibu dari Kimmy mewanti-wanti putrinya. Gurat khawatir jelas terlihat dari mata Alula.
"Mama tenang saja!" Kimmy menc*ium pipi wanita yang telah melahirkannya itu.
"Bawakan aku keponakan, kalau bisa langsung dua!" Lily memperlihatkan dua jarinya.
"Jangan terlalu berharap!" Archie mengelus rambut adiknya.
"Kak Kimmy, peluk aku!" Lily melebarkan tangannya agar Kimmy bisa memeluknya. Kimmy tersenyum lembut kemudian memeluk adik ipar dan ibu mertuanya. Begitu pun sebaliknya, Archie memeluk Alula untuk berpamitan.
"Tidak salah membawa barang sebanyak itu? " Protes Archie saat melihat bawaan istrinya.
"Tidak. Ini sangat sedikit," jawab Kimmy datar. Padahal ia membawa 3 koper besar.
"Bagaimana nanti membawanya? Apalagi Finlandia sedang bersalju sekali," Archie tampak berpikir keras.
"Nanti saja kita pikirkan!" Kimmy masuk ke dalam mobil.
"Ya ampun!" Archie bergumam kemudian ikut masuk ke dalam mobil yang akan mengantarkan mereka ke bandara.
Setibanya di bandara, Kimmy dan Archie langsung check in dan juga mendaftarkan barang bagasi untuk selanjutnya di timbang. Kemudian pasangan suami istri itu diperiksa.
"Semoga di sana nanti ada Aurora," harap Archie yang kini tengah duduk di charging station.
"Aurora? Aurora anak dari tante Beverly?" Kimmy bertanya dengan ekspresi wajahnya yang dingin.
"Bukan, bukan Aurora itu. Maksudku Aurora yang ada di langit," Archie menjawab dengan nada gemas.
"Oh," Kimmy membulatkan bibirnya. Archie terpana melihat wajah istrinya. Hari ini Kimmy memang tampak sangat cantik dengan mantel berwarna pink dan juga dengan topi beanienya.
"Setelah pernikahan kita, aku belum melihat kakakmu. Aku telfon nomornya tidak aktif. Ke mana Jasper?" Archie bertanya dengan penasaran.
"Setelah pesta pernikahan, Jasper langsung kembali lagi ke Amerika. Dia tidak bisa berlama-lama karena istrinya sedang hamil," jelas Kimmy menjawab rasa penasaran Archie.
"Lalu, mengapa dia sulit dihubungi?"
"Ponsel kakakku hilang saat di bandara," jawab Kimmy tanpa ekspresi.
"Oh begitu," Archie menganggukan kepalanya.
"Ayo waktunya kita naik ke pesawat!" Kimmy berdiri dari duduknya dan menggenggam tangan Archie. Archie pun terlihat kaget karena gerakan spontan Kimmy.
__ADS_1
"Maaf!" Kimmy segera melepaskan tangan Archie saat ia menyadari kekeliruannya.
"Tidak apa," Archie tertunduk malu.
Kimmy pun memilih untuk berjalan terlebih dahulu. Sedangkan Archie berjalan di belakangnya dengan menenteng koper yang lumayan banyak.
Mereka duduk di Bussines Class dengan bersisian. Kimmy lebih memilih untuk menonton film kesukaannya di layar berukuran 23 inchi yang bisa dikendalikan dengan layar sentuh.
"Kau menonton film apa?" Archie tampak penasaran.
"Aku menonton film Avatar The Way Of Water. Aku baru menonton 2 jam lebih 12 menit di rumah. Belum aku selesaikan karena aku keburu menikah," beri tahu Kimmy.
"Kau juga suka film itu?" Archie tampak bersemangat.
"Tentu saja. Aku fans dari film ini. Aku fans dari sutradara James Cameron," Kimmy juga menjawab dengan antusias.
"Ah, aku juga," Archie menjentikan jarinya senang.
"Aku suka sekali film yang digarap oleh James Cameron," Archie semakin bersemangat. Selama ini, ia memang tidak pernah membicarakan film, karena Flowi sangat tidak suka film-film seperti itu.
"Kalau begitu kau selesaikan dulu menonton filmya! Setelah itu, kita mengobrol lagi," perintah Archie dengan suka cita.
"Baiklah," Kimmy mengangguk dan langsung melanjutkan niatnya untuk membereskan menonton film Avatar.
"Sudah?" Tanya Archie ketika Kimmy mematikan layar dan meminum minumannya.
"Sudah. Itu benar-benar film yang keren! Kau tahu? Jika Pandora itu nyata, lebih baik kita pergi ke sana," Kimmy berandai-andai dengan senyum manis yang terulas di wajahnya.
"Kalau begitu, anggap saja jika Finlandia adalah negeri Pandora," Archie tersenyum menatap wajah Kimmy.
"Kau benar. Mari kita bersenang-senang di sana!" Kimmy bertepuk tangan. Archie pun semakin dibuat tertarik melihat keceriaan di wajah Kimmy.
****
Nino sengaja datang pagi-pagi ke klinik psikologi milik Kimmy. Ia masuk ke ruangan Kimmy dan duduk-duduk di sana.
"Bagaimana? Apa pasien kita sudah datang?" Tanya Nino kepada asisten Kimmy yang bernama Angela.
"Belum, tuan," jawab Angela yang sudah tahu bahwa di hadapannya ini adalah mertua dari Kimmy.
"Kau sudah membatalkan semua janji untuk pasien hari ini kan?" Tanya Nino lagi.
"Sudah kecuali pasien kita yang itu," jawab Angela lagi.
"Bagus," Nino tersenyum senang.
"Bagaimana dengan pasien-pasien kita yang lain? Apa tuan tidak takut mereka kabur dan mencari psikolog lain? Apalagi Nona Kimmy akan berlibur dalam waktu yang lumayan lama," Angela merasa resah.
__ADS_1
"Kau tidak perlu khawatir. Mulai esok hari, akan ada psikolog sementara yang menggantikan Kimmy selama dia pergi. Dan Kau juga tidak perlu risau! Karena aku mendatangkan psikolog terbaik dari kota Washington," jelas Nino yang membuat keresahan di wajah Angela hilang seketika.
"Aku melakukan ini agar pasien kita yang satu ini berhenti menganggu menantuku," beri tahu Nino lagi yang membuat Angela mengembangkan senyumnya dengan sempurna.
Kemudian tak lama, Angela memberitahu bahwa pasien yang dimaksud sudah sampai dan akan masuk ke dalam ruangan pemeriksaan.
"Hallo, Flo!" Nino tersenyum memperlihatkan gigi-giginya yang rapi.
Flowi yang masuk dengan percaya diri pun seketika melemah. Ia terlihat datang bersama ibunya, tentunya dengan sejuta rencana untuk membuat Kimmy menyerah dengan pernikahannya. Wajah Flowi mendadak pias seperti tidak dialiri darah di sana.
"Kau?' Bibir Fiona bergetar kala melihat Nino tengah terduduk.
"Silahkan duduk pasienku!" Nino tertawa renyah.
Flowi menoleh ke arah ibunya yang kini berdiri di sampingnya. Mereka bertanya-tanya di mana Kimmy dan mengapa ada Nino di sana?
"Kau bukan seorang psikolog, mengapa kau ada di sini?" Flowi terduduk di hadapan Nino. Ia ingin melawan ayah dari mantan kekasihnya itu. Flowi tidak ingin terlihat lemah apalagi kalah di hadapan Nino.
"Oh tentu untuk memberikan konseling kepada seorang wanita yang tidak tahu diri," jawab Nino dengan santai.
"Kau tidak mempunyai kredibilitas untuk memeriksaku! Aku seorang reporter. Aku bisa memberitakan mengenai kelakuanmu dan menantumu ini. Aku bisa memviralkan kalian ke seluruh dunia," ancam Flowi.
"Ow, aku takut!" Nino berpura-pura ketakutan.
"Lakukanlah, sayang! Dan aku bukan hanya akan menghancurkan kariermu, tapi aku akan membuat kau merengek dan memohon kepadaku untuk dilenyapkan dari negara ini," ancam Nino dengan senyumnya yang terlihat mengerikan.
Degg..
Flowi dan ibunya langsung diam saat mendengar ucapan Nino. Fiona menggenggam tangan Flowi sebagai isyarat agar mereka mundur. Ia amat tahu siapa itu Nino.
"Jadi, apa yang bisa aku lakukan untukmu, Flo? Apa yang kau rasakan?" Nino berpura-pura mencatat keluhan Flowi.
"Aku depresi," Flowi memutuskan tidak akan mundur.
"Aku depresi karena kehilangan kekasihku. Mari kita bicara dari hati ke hati! Bagaimana perasaanmu jika orang yang kau cintai dipaksa untuk meninggalkan kekasihnya dan menikah dengan orang lain?" Flowi menatap tajam ke arah Nino. Ia sudah terlanjur basah. Lebih baik melawan sekalian dan menggunakan taktik yang halus.
"Perasaanku? Tentu akan biasa saja. Mungkin ada penyebab dari keputusan orang tuanya untuk memaksanya menikahi wanita lain."
"Bagaimana jika kau kehilangan Tifanny?" Fiona sekarang yang berbicara.
"Aku tidak akan kehilangan orang yang memang pantas berada di sisiku. Dan kau!" Nino menunjuk Flowi.
"Kau tidak pantas bersama dengan putraku. Kau pikir aku tidak mengetahui tentang semua perbuatanmu? Kau menguras uang putraku. Dan satu lagi, aku begitu tidak menyukaimu karena satu hal. Kau menduakan putraku, bukan begitu?" Nino menyedekapkan tangannya di atas meja.
"Menduakan? Apa maksudmu?" Flowi tampak tidak terima.
"Amsterdam, setahun yang lalu, tgl 20 oktober, jam 11 malam kau check in di sebuah hotel bersama seorang pria yang bekerja sebagai pengusaha di Amerika. Bukankah ini kau?" Nino mengeluarkan foto-foto Flowi dari saku jasnya.
__ADS_1
Mata Flowi membola. Ia begitu terkejut melihat foto-foto yang diberikan oleh Nino. Dan yang membuat dia semakin terkesiap adalah, bagaimana bisa Nino mengetahui semuanya?
"Jauhi putraku jika kau tidak tidak ingin foto-foto ini berakhir di tangannya!!" Nino berkata dengan tegas yang membuat seorang Flowi langsung tidak berdaya.