Menikah Dengan Nona Kim

Menikah Dengan Nona Kim
Sebuah Ide Baru


__ADS_3

Sikap Archie menjadi lebih dingin kepada istrinya. Sudah dua hari ia membiarkan Kimny melakukan tugasnya sendiri. Seperti akhir pekan ini, Archie berada di dalam kamarnya sembari meneliti buku-buku yang akan ia baca. Matanya menangkap Kimmy yang sedang berusaha untuk makan. Archie melihat istrinya begitu kesusahan untuk memakan makanan yang ada di atas nampan. Tangan gadis cantik itu memang masih sakit akibat terkilir karena melompat dari dalam mobil.


Selama dua hari ini, Archie memang mendiamkan Kimmy. Akan tetapi, Kimmy seolah tidak terganggu sedikit pun dengan sikap Archie. Malah Archie yang tersiksa karena harus berada di dalam ruangan yang sama di dalam keheningan. Pada akhirnya Archie yang dibuat mati kutu karena sikap dingin Kimmy tidaklah dibuat-buat. Archie terus memperhatikan Kimmy yang berusaha untuk memakan makanannya. Kimmy tidak pernah sekali pun meminta tolong kepada dirinya. Archie mengusap wajahnya dengan kasar. Ia merasa bersalah karena Kimmy terkena imbas dari kemarahannya kepada Nino. Padahal gadis itu sama sekali tidaklah bersalah.


"Biar aku suapi!" Archie mengambil sendok itu dari tangan Kimmy.


Kimmy tidak menolak, karena dirinya memang benar-benar sangat lapar. Kimmy juga tidak merasa sungkan, karena ia berpikir Archie memang suaminya yang pantas untuk membantunya.


"Apa tanganmu masih sakit?" Archie mulai menyendokan makanan dan menyuapi Kimmy. Pria itu berusaha memecahkan keheningan di antara mereka.


"Masih," jawaban singkat dari Kimmy membuat Archie kembali mati kutu.


"Kapan rencananya kau akan mulai bekerja?" Archie memutar otaknya agar ada pembahasan yang lain. Ia tidak ingin keheningan mendera.


"Besok," jawab gadis itu singkat sambil terus mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya.


"Kau yakin? Apa tidak apa-apa? Tubuhmu belum begitu pulih," Archie merasa khawatir.


"Ya," Kimmy lagi-lagi menjawab singkat hingga membuat kepala Archie pusing untuk mengganti topik.


"Besok aku akan mengantarkanmu bekerja," Archie tersenyum melihat mulut Kimmy yang sedikit belepotan.


"Terima kasih," Kimmy masih mengunyah makanan di mulutnya tanpa ada rasa canggung atau pun sungkan.


"Kau ini seperti anak kecil!" Archie membersihkan sudut bibir Kimmy dengan jemarinya. Mata mereka bertemu. Archie tampak salah tingkah dan buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah lain.

__ADS_1


Archie menyuapi Kimmy kembali dengan hening. Tiba-tiba Kimmy menadahkan tangan kiri kepadanya.


"Apa?" Archie tampak kebingungan saat Kimmy menggerak-gerakan tangannya.


"Mana ATMku? Bukankah kau harus memberikanku nafkah?" Kimmy bertanya dengan wajah polosnya.


"Aku hampir lupa," Archie berdiri kemudian ia berjalan ke arah laci lemarinya. Pria itu mengeluarkan beberapa kartu di sana.


"Ini! Pergunakanlah untuk semua kebutuhanmu," Archie memberikan kartu debit maupun kartu kredit tanpa batas kepada istrinya.


"Selama aku menjadi istrimu, aku berhak tahu ke mana uangmu mengalir dan dipergunakan untuk apa," Kimmy menatap tajam suaminya.


"Baiklah," Archie menurut. Tapi diam-diam, ia merasa gelisah. Archie takut Flowi meminta kembali uangnya dan membuat Kimmy tersinggung. Bagaimana pun, Archie sangat menghargai Kai dan keluarganya.


"Sayang, sebenarnya ada apa?" Tifanny bertanya kepada suaminya. Ia melepaskan jas dari tubuh suaminya. Sebagai ibu, Tifanny begitu tahu dengan suasana hati putranya.


"Tidak ada. Hanya saja putramu sedikit membuatku kesal," Nino melepaskan arloji dari tangannya.


"Membuat kesal? Apa yang dia lakukan?" Tifanny tampak ingin tahu.


"Seperti biasa. Dia membela reporter itu," Nino mendudukan dirinya.


"Lantas apa yang akan kita lakukan? Aku khawatir dia menganggu Kimmy," Tifanny merasa resah.


"Jangan khawatir! Aku bisa mengurus semuanya," Nino mengelus sayang rambut wanita yang sudah menemaninya selama puluhan tahun.

__ADS_1


"Oh iya, hari ini putri kita akan pulang," Tifanny memberitahukan.


"Benarkah? Mengapa tidak kau katakan sebelumnya? Jam berapa kita harus menjemputnya?" Nino terlihat bersemangat.


Nino dan Tifanny memang memiliki dua orang anak. Anak pertama adalah Archi Walsh. Anak kedua mereka bernama Elizabeth Merida Walsh. Selama ini, Elizabeth memang sedang menempuh pendidikan S1 di Finlandia. Gadis itu tidak tahu jika kakaknya sudah menikah, karena memang Archie yang menjadi pengantin pengganti untuk Galvin. Hal itu membuat tidak ada keluarga atau kerabat Nino yang di undang.


"Nanti malam kita menjemputnya ke bandara. Kalau begitu aku harus ke dapur. Aku harus membantu memasak untuk El, Kimmy dan Archie," tukas Tifanny. Kemudian wanita itu segera keluar dari kamar menuju dapur.


Sementara di tempat lain...


"Bagaimana ini, Flo?" Fiona terisak melihat isi rumahnya yang sudah berantakan tak berbentuk.


"Aku juga bingung, Mom," Flowi berkata dengan kesal kepada ibunya.


"Mommy sudah bilang agar kau tidak berurusan langsung dengan Nino. Mommy sangat tahu pria itu," Fiona berdecak kesal.


"Mengapa mommy menyalahkanku?" Flowi tampak semakin kesal saja disudutkan oleh ibunya.


"Kalau begitu telfon Archie! Telfon dia dan minta uang untuk membeli semua peralatan rumah yang baru!" Titah Fiona kepada putrinya.


"Tapi, Mom. Archie baru saja memberi uang kemarin," Flowi merasa keberatan. Di tengah situasi genting seperti sekarang, ia memang harus menjaga imagenya di hadapan Archie, agar Flowi dinilai sebagai wanita yang tulus tanpa memandang harta dari Archie.


"Tidak ada tapi-tapi an," Fiona tidak mau tahu.


Flowi memijit keningnya yang terasa berdenyut. Akan tetapi, itu tidaklah lama. Karena detik selanjutnya Flowi tersenyum, mendapat sebuah ide untuk menyerang Nino tanpa berhadapan langsung denganmya.

__ADS_1


__ADS_2