
Sementara di tempat lain, Galvin tengah mengemudikan mobilnya menjauh dari hotel. Kimmy dengan tangan terikat terduduk di kursi penumpang sembari menangis. Tak tinggal diam, Archie di belakang membuntutinya dengan taksi.
Galvin menatap tajam taksi yang sedari tadi membuntutinya. Ia tahu Archie ada di dalam. Archie mengklakson mobil yang ada di depannya beberapa kali. Jalan raya terlihat ramai, membuat mobil Galvin susah untuk bergerak. Ponsel Galvin berbunyi menandakan ada panggilan masuk. Ia segera mengangkatnya dan memakaikan handsfree ke telinganya.
"Hallo, Dad!" Ucap Galvin saat suara Adam terdengar di seberang sana.
"Kau di mana? Bawa sekarang juga wanita itu ke Villa keluarga kita!" Perintah Adam yang langsung diiyakan Galvin.
Galvin menatap kaca spion tengah. Ia melihat taksi yang ditumpangi Archie sudah tak terlihat. Galvin tersenyum sinis. Ternyata hanya sampai sana Archie mempertahankan Kimmy.
"Kau akan membawaku ke mana? Turunkan aku!" Kimmy berteriak di kursi penumpang.
"Aku hanya kasihan sekali, kau dan ayahmu melakukan hal bodoh seperti ini. Lihatlah kehancuran yang akan kalian rasakan! Ayahku akan menghancurkan kalian sampai berkeping-keping!!!" Kimny terus megintimidasi.
"Bahkan jika aku harus mati, aku tidak keberatan. Kau tidak tahu bagaimana menderitanya aku di balik jeruji besi dan itu semua karena keluarga kalian!" Galvin berteriak
"Aku tidak akan melewatkan hari ini. Aku akan menikmati masa-masa penderitaan darimu. Haha!!" Galvin terkeukeuh. Ia sudah tidak ingat apapun, yang ada di dalam pikirannya adalah balas dendam kepada orang-orang yang sudah berurusan dengannya. Tapi Galvin tidak tahu, seperti apa Kai dan Nino.
Dengan bebas, Galvin melajukan mobilnya menuju villa mewah milik keluarganya yang tak jauh di tempat hotel tadi. Ia bernafas lega tatkala melihat Adam dan orang-orangnya berdiri di depan villa mereka lengkap dengan senjata api.
Galvin keluar dari mobilnya. Ia pun membuka pintu samping kemudi dan mengeluarkan Kimmy dengan paksa.
"Lepaskan aku, si*lan!" Maki Kimmy, tapi tak oleh dihiraukan Galvin.
"Diamlah! Atau aku bungkam mulutmu selamanya!!" Galvin segera mengambil lakban hitam, dan menempelkannya di mulut Kimmy hingga membuat Kimmy diam seketika.
Air mata Kimmy meleleh begitu saja. Ia sangat berharap Archie ada di sini dan menyelamatkannya. Kimmy ingin sekali memeluk Archie dan menangis sejadi-jadinya. Perlahan pandangan Kimmy berputar, memorynya terbayang oleh kilasan masa lalu saat Kimmy diculik oleh keluarga Aaron.
Kepala Kimmy terasa pusing, jantungnya berdebar kencang. Tenggorokannya terasa tercekat dan tangannya menggigil kedinginan. Kimmy dilanda serangan panik. Namun Galvin tak mempedulikannya. Ia masih saja menyeret Kimmy tanpa belas kasihan.
__ADS_1
Galvin terhenyak saat melihat beberapa mobil mendekat ke arah villa. Matanya membeliak saat melihat taksi yang tadi di kendarai Archie. Ia juga melihat Kai dan Alden keluar dari mobil sport berwarna hitam. Beberapa detik kemudian, tiga mobil lagi datang dan memperlihatkan pria berwajah sangar keluar dari kuda besi itu.
Anak buah Adam dengan spontan mengarahkan senjata api milik mereka ke arah Archie, Kai, dan juga Alden. Namun Kai tak mau kalah, ia melempar senjata api koleksinya ke arah Archie dan Alden. Mereka saling menodongkan senjata hingga membuat situasi semakin mencekam.
"Turunkan senjatamu atau aku akan menghabisi Kimmy!!" Teriak Galvin. Dengan spontan, ia mengalungkan tangan kirinya di leher Kimmy. Sementara tangan kanannya menodongkan senjata ke arah kepala Kimmy yang sudah tak berdaya.
"Tidak, kau yang turunkan senjatamu, b*jingan!" Hardik Kai. Ia menarik pelatuk senjata apinya dan mengarahkannya tepat ke arah Adam.
Adam sempat panik. Namun anak buah Adam dengan spontan melindungi Adam dengan tubuhnya. Adam langsung mengambil senjata yang tersimpan di saku jasnya. Ia pun mengarahkan senjatanya ke arah Kai.
"Kalian! Habisi mereka!" Perintah Adam memekakan telinga.
"Jika kalian memang pria! Buang senjata api kalian, mari kita selesaikan ini dengan tangan kosong! Itu juga jika kau berani Adam! Tunjukan jika kau seorang pria!" Alden tersenyum sinis. Ia lalu menyimpan senjata apinya di jasnya yang berwarna hitam.
"Turunkan senjata kalian!" Adam yang terpancing perkataan Alden pun memasukan senjatanya.
Archie dan Alden menghajar anak buah Adam dengan membabi buta. Bahkan salah satu dari mereka tergeletak pingsan karena tak sanggup menerima serangan dari Archie yang mematikan. Kai terkesima melihat kemampuan bela diri Archie. Ia tersenyum Kecil. Kai pun sama. Ia berusaha melumpuhkan anak buah Adam yang sangat banyak.
Kai, Alden, dan Archie melawan anak buah Adam dengan tendangan, pukulan seolah tanpa rasa ampun. Hingga mereka saling bergelung dan berjatuhan di aspal. Sementara anak buah Kai pun tak kalah sibuknya, mereka ikut berkelahi dengan anak buah Adam yang mempunyai jumlah lebih banyak.
Kai tak ingin kehilangan kesempatan, ia menerjang tubuh Adam yang sedang panik karena melihat anak buahnya terdesak. Kai meninju wajah Adam, hingga hidung pria paruh baya itu mengeluarkan banyak darah. Kai menghajar Adam dengan kalap. Adam sudah tak berdaya dengan wajahnya yang babak belur. Ia hanya mampu menutup wajahnya dengan telapak tangannya.
Dorrr...
Suara senjata api menghentikan pertarungan mereka. Tatapan mereka teralihkan ke arah Galvin. Rupanya Galvin melepaskan tembakan ke udara untuk menghentikan perkelahian karena melihat anak buah dan ayahnya yang kalah telak.
"Hentikan perkelahian kalian! Atau aku tak segan akan menembak wanita ini!!" Galvin seolah kehilangan kewarasannya.
Adam yang pintar memanfaatkan keadaan berlari ke arah Galvin. Ia pun berdiri di samping Kimmy dan berseringai ke arah Kai dengan wajah yang memuakan.
__ADS_1
"Menjauhlah dari villaku!" Peringat Galvin lagi.
"Tidak, kau yang menjauh! Lepaskan anakku!" Kai kini menarik pistol dari saku jasnya dan menodongkan senjatanya ke arah Galvin. Archie dan Alden pun mengarahkan senjata milik mereka dengan serempak ke arah ayah dan anak itu.
Anak buah Kai melakukan hal yang sama, mereka kompak mengarahkan senjata mereka ke arah Galvin. Posisi Galvin terkepung sekarang.
"Silahkan tembak aku! Tapi jangan salahkan aku, jika wanita kesayangan kalian pun akan bernasib sama denganku!!" Ledek Galvin dengan tawa yang menggelegar.
"Bi*dab! Aku akan membunuhmu dengan tanganku!" Maki Kai dengan emosi yang sudah sampai ubun-ubun.
"Oh ya? Apa kau berani? Jika kau mendekat satu langkah saja, ku pastikan akan ku kirim putrimu ke alam baka!" Galvin tersenyum sinis.
"Mundur! Ku perintahkan kalian mundur!" Teriak Adam. Matanya membidik ke arah Kai dengan emosi yang membara.
"Kai, kau mundur dulu! Aku takut mereka bersungguh-sungguh akan menembak Kimmy," Alden kini bersuara.
"Tidak, aku tidak akan mundur!" Kai masih bersikeras.
Mata Kai memerah menatap penampilan Kimmy yang sangat kacau dan menyedihkan. Putrinya yang ia rawat dan jaga dengan segenap jiwanya diperlakukan semena-mena oleh orang jahat seperti Galvin dan Adam. Bahkan seumur hidupnya, Kai tidak pernah mencubit atau memukul Kimmy. Putri bungsunya amat ia jaga dengan sepenuh hati. Tapi kini seseorang yang bukan keluarganya melukai Kimmy hingga seperti itu.
"Kai, kumohon!" Lirih Alden yang melihat Galvin semakin erat mencengkram leher Kimmy.
Akhirnya mereka berjalan mundur, namun masih dengan mengarahkan pistol mereka.
"Turunkan senjata kalian!!" Perintah Galvin lagi yang merasa jumawa saat Kai menuruti permintaannya.
"Turunkan atau putrimu aku lenyapkan!!" Kekeh Adam yang terdengar menjijikan di telinga Kai.
"Tidak. Kalian yang mundur dan turunkan senjata kalian atau aku akan menembak wanita tak berguna ini!" Nino tiba-tiba datang dengan menyeret Renata. Ia pun menodongkan senjatanya ke arah kepala Renata yang sedang menangis ketakutan.
__ADS_1