
"Aku sudah pulang ke rumah. Jangan jemput ke klinik!"
Archie merasa heran ketika membaca sebuah pesan dari istrinya. Archie yang baru selesai dengan pekerjaaannya lekas menelfon Kimmy dengan cepat, tapi panggilan telfonnya di reject. Tak mau semakin penasaran, akhirnya Archie langsung mengambil mobil miliknya yang ia simpan di basement kantornya. Ya, selama ia bersandiwara jatuh miskin, Archie memang menyimpan mobilnya di area parkir kantor.
Archie dengan cepat melajukan mobilnya ke area kediaman yang ia tempati bersama Kimmy. Archie rasanya tidak sabar melihat wajah Kimmy yang selalu terbayang-bayang di benaknya. Tak berapa lama, mobil Archie memasuki pekarangan rumah, ia dengan cepat langsung keluar dari dalam mobil dan masuk ke dalam rumah. Archie melihat Kimmy tengah duduk di sofa dengan ekspresi tak terbaca. Sementara tangannya sedang memegang sebuah majalah.
"Kenapa kau pulang lebih dulu? Kau kan bisa menungguku?" Archie langsung duduk di samping istrinya. Tidak ada jawaban dari Kimmy.
"Kim? Kau sakit?" Archie menyentuh dahi istrinya. Kimmy dengan cepat menipis tangan itu.
"Apa maksudnya ini?" Kimmy berdiri dari duduknya. Ia melempar sebuah majalah.
"Ini apa?" Tanya Archie dengan bingung.
"Ambilah dan lihatlah!" Kimmy memperlihatkan wajah penuh dengan amarah.
Archie mengambil majalah yang berisi orang-orang crazy rich di seluruh dunia itu. Matanya membola ketika melihat di salah satu halaman ada ulasan mengenai dirinya dan perusahaannya yang diganjar sebagai pengusaha inspiratif dan perusahaan asuransi tersukses karena membawa perusahaan asuransi miliknya merajai di kawasan Eropa Barat.
"Kim, aku bisa jelaskan!" Archie mencekal tangan Kimmy yang akan berlalu dari hadapannya.
"Lepaskan, Ar! Aku tahu kau berpura-pura bangkrut agar bisa melarikan uangmu kepada wanitamu itu kan?" Tuduh Kimmy dengan mata tajamnya.
"Memberikan bagaimana? Kim, aku mempunyai alasan yang jelas mengapa aku melakukan itu," Archie berusaha memberikan penjelasan walau sepertinya akan sia-sia. Kimmy sedang di liputi amarah yang siap untuk di ledakan.
"Alasan yang jelas? Maksudmu alasan yang jelas untuk ini?" Kimmy merogoh tasnya. Ia mengeluarkan beberapa lembar foto dan melemparnya ke wajah Archie.
Archie mengambil foto-foto yang kini tercecer di keramik. Archie mengusap wajahnya kasar ketika melihat foto-foto itu. Ya, foto itu adalah foto dirinya dengan Flowi tengah sarapan bersama. Tentunya ketika Archie hendak mengetes apakah benar Flowi matrealistis atau tidak. Sedari kecil, Archie memang selalu memggunakan akal sehatnya. Ia harus mempunyai sebuah bukti terhadap suatu analisa tertentu. Itu berlaku untuk Flowi. Archie hanya bermaksud untuk membuktikan ucapan Nino dengan sendiri.
"Kimmy, ini tidak seperti yang kau lihat!" Archie berdiri dari duduknya.
"Ar, jika memang kau masih mencintai wanita itu, kenapa kau tidak ceraikan saja aku dan kembali padanya?" Kimmy berkata dengan sendu. Tentu saja ia sudah mencintai Archie yang begitu pandai mengambil hatinya dan membuat Kimmy tidak takut kembali dengan sebuah komitmen.
"Ceraikan? Aku tidak akan pernah melakukan hal itu karena aku mencintaimu!!!" Archie setengah berteriak.
"Mencintai?" Kimmy tertawa terbahak-bahak.
"Jika kau mencintai seseorang, kau tidak akan pernah membohonginya dan kau pun tidak akan menduakannya dengan wanita lain, apalagi wanita itu adalah mantan kekasihmu sendiri!" Kimmy menatap Archie dengan tajam.
"Kau harus mendengar semua penjelasanku!"
"Tidak ada yang perlu dijelaskan!" Kimmy langsung berjalan meninggalkan Archie.
Baru beberapa langkah berjalan, tubuh Kimmy melayang. Archie memang tengah menggendongnya dengan cepat menuju kamar mereka. Kimmy meronta di gendongan suaminya. Archie berhasil membawa Kimmy ke dalam kamar. Archie langsung mengunci pintu kamar. Takut jika Kimmy akan melarikan diri.
__ADS_1
"Apa yang kau inginkan?" Kimmy menantang.
"Aku hanya ingin kau mendengar semua penjelasanku. Kau tidak akan pernah keluar dari kamar ini sebelum mendengar penjelasanku," Archie memasukan kunci itu ke dalam saku celananya.
"Aku tidak ingin mendengar apapun!" Kimmy menutup telinganya dengan tangan.
"Kim, ku mohon dengarkan aku!" Archie mengambil kedua tangan Kimmy.
Kimmy mencoba menghempaskan tangan suaminya. Tapi cekalan itu terlalu kuat. Kimmy tidak bisa melepaskannya.
"Kau pikir aku takut?" Kimmy langsung menendang sesuatu yang berharga dari tubuh suaminya. Ia kemudian meninju wajah Archie sampai suaminya itu terjungkal ke atas lantai.
"Sakit, Kim!" Archie menyentuh aset berharganya.
"Jika ini rusak, kau tidak akan mendapat penerus Allen dan Walsh," Archie masih meringis.
"Kau salah bermain-main denganku! Aku pemilik sabuk hitam di karate!" Kimmy menginjak perut Archie dengan kakinya.
"Kim, ampun!" Archie meringis. Menahan sakit di area pipi dan area yang lainnya.
"Kemarikan kuncinya!" Kimmy berusaha mengambil kunci di saku celana Archie.
"Tidak akan aku berikan, Wlee!" Archie menelungkupkan tubuhnya sehingga Kimmy tidak akan bisa merogoh sakunya.
"Archie, kemarikan!" Kimmy naik ke punggung Archie. Gadis itu menjambak rambut suaminya dengan brutal.
"Berikan kuncinya!" Kimmy tak patah arang.
Archie bangkit dari posisi telungkupnya, ia langsung berdiri. Refleks Kimmy yang ada di atas punggungnya langsung terjatuh.
"Aww!" Kimmy berpura-pura kesakitan.
"Kim, kau tidak apa-apa? Mana yang sakit?" Archie hendak memeriksa tubuh istrinya.
Saat Archie lengah, Kimmy langsung menggigit tangan Archie dan hendak mengambil kunci pintu. Tapi Archie tidak kalah. Ia langsung memeluk Kimmy agar gadis itu berhenti memberontak.
"Kau ini keturunan Edward Cullen atau Van Helsing, hah?" Archie sedikit meringis melihat bekas gigitan Kimmy.
"Aku keturunan William Allen. Jadi, pria sepertimu tidak akan bisa mengalahkanku!" Kimmy berusaha melepaskan diri.
"Tenanglah! Kau ini kesurupan Valak atau kesurupan Blood Mary?" Archie masih memegangi Kimmy.
"Lepaskan!" Kimmy masih berontak.
__ADS_1
"Tidak akan sebelum kau mendengar penjelasanku."
Kimmy berusaha sekuat tenaga melepaskan pelukan Archie di tubuhnya. Tapi semakin lama, malah tenaganya yang terkuras habis. Kimmy akhirnya hanya mendecakan lidahnya dengan kesal.
"Sudah mau mendengarkan penjelasanku?" Archie tersenyum penuh kemenangan.
"Baiklah. Aku akan mendengar semua penjelasanmu, tapi lepaskan aku dulu!" Pinta Kimmy dengan suara pasrah.
"Baiklah. Duduklah di sini!" Archie melepaskan pelukannya. Ia membawa Kimmy duduk di atas kasur. Sedangkan Archie duduk di sofa yang mengarah kepada Kimmy.
"Kim, aku berpura-pura bangkrut adalah agar bisa memastikan apa kau hanya mengincar hartaku atau tidak. Flowi mengatakan jika kau mengincar seluruh hartaku," Archie memulai penjelasannya.
"Mengincar hartamu?" Kimmy tertawa.
"Ar, aku tidaklah kekurangan uang. Dari bayi aku tidak pernah kekurangan materi. Kau tahu kan siapa ayah dan kakekku?" Kimmy tersenyum sinis.
Archie hanya diam. Ia melihat Kimmy yang tersenyum mengejeknya.
"Jika aku mengincar hartamu, tentu aku akan meminta apapun darimu. Lihatlah selama aku menikah denganmu! Apa aku meminta uang padamu? Bukankah kau yang memberikan semua penghasilanmu kepadaku tanpa aku meminta? Bahkan aku terkadang lupa meminta uang kepadamu, karena uang di rekeningku pun berlebih," Kimmy lagi-lagi tersenyum sinis.
Archie merutuki kebo-dohannya sendiri. Apa yang Kimmy katakan memanglah benar. Archie teringat ketika dia memberitahukan jika dirinya sudah mentransfer uang, Kimmy bertanya untuk apa uang itu. Kimmy benar-benar tidak pernah meminta apapun darinya. Tapi walaupun Kimmy tidak meminta, setiap bulan Archie selalu mentransferkan penghasilannya dengan jumlah yang besar.
"Oke aku tahu aku salah dan aku minta maaf. Maafkan aku yang sudah membohongimu. Tapi percayalah untuk masalah kedua, aku bertemu dengan Flowi kebetulan saja. Kami bertemu di restoran itu karena kantor stasiun tempat Flowi bekerja pindah ke dekat perusahaanku."
"Kebetulan? Sampai dua kali? Kebetulan yang cukup sempurna!" Kimmy lagi-lagi tertawa. Archie merinding mendengar tawa melengking Kimmy yang seolah mengejeknya habis-habisan.
"Yang pertama karena kebetulan. Jika yang kedua, dia menyapaku saat aku turun dari taksi. Aku ikuti saja permainannya. Aku berpura-pura jika aku jatuh miskin untuk melihat bagaimana reaksinya."
"Melihat bagaimana reaksinya? Seandainya jika wanita itu menerima kemiskinan pura-puramu itu, kau akan berlari kembali padanya?" Kimmy menatap mata Archie dengan dingin. Archie dibuat terpaku dengan tatapan itu.
"Tidak, Kim. Tujuan lainnya adalah agar dia berhenti mendekatiku. Hanya dengan cara itu dia benar-benar pergi dari hidupku. Kim, demi apapun, aku sudah jatuh cinta padamu!" Archie berdiri dari duduknya. Ia menunduk, mensejajarkan kepalanya dengan kepala Kimmy.
"Aku mencintaimu. Sungguh aku sudah tidak menginginkan Flowi," Archie mengusap pipi Kimmy. Ia memiringkan wajahnya.
"Kau percaya padaku kan? Mari kita bangun rumah tangga kita dari awal! Aku hanya menginginkanmu!" Wajah Archie semakin mendekat.
Bahkan kini mata Archie sudah terpejam sempurna. Hidung Kimmy dan Archie sudah bersentuhan. Kimmy langsung mendorong tubuh Archie dengan sekali dorongan hingga pria itu terjerembab di atas keramik.
"Cinta? Makan itu cinta! Aku butuh pembuktian, bukan hanya kata-kata!" Kimmy bangkit dari duduknya. Ia langsung merogoh saku Archie dan mengambil kunci pintu. Bergegas Kimmy langsung keluar dari kamar, meninggalkan Archie yang meringis kesakitan.
"Kim, kau akan berdosa memperlakukan suamimu seperti ini!" Archie berteriak.
"Aku tidak peduli!" Kimmy balas berteriak.
__ADS_1
"Kim, aku cinta padamu!" Archie berteriak lagi.
"Ya, ya, ya!"