
Archie dan Kimberly sampai di Kittila International Airport. Tujuan pertama mereka memang Kittila. Rencananya Archie dan Kimmy akan mencoba hotel Iglo yang sangat terkenal di Finlandia. Kebetulan mereka datang saat musim dingin. Tentu saja menikmati hotel berbentuk Iglo adalah pilihan yang paling tepat.
...Bentuk hotel Iglo...
Archie membawa koper-koper milik Kimmy dan miliknya sendiri dengan kepayahan. Nino memang telah memesan hotel itu jauh-jauh hari secara online. Setelah Archie melakukan reservasi ulang, mereka pun segera berjalan menuju hotel estetik itu. Jalan mereka sedikit terhambat karena salju yang kian menebal menutupi jalanan. Tanpa kata, Kimmy merebut koper-koper miliknya dari tangan Archie.
"Hey, biar aku yang bawa!" Archie tampak keberatan.
"Tidak apa-apa. Udara semakin dingin," Kimmy tampak khawatir melihat wajah suaminya.
"Tidak. Aku baik-baik saja," Archie merebut kembali koper yang sudah ada di tangan istrinya.
"Tapi," Kimmy hendak membantah.
"Menurutlah! Ini begitu dingin," ucapan Archie langsung membuat Kimmy patuh. Kimmy pun akhirnya mengekor di belakang Archie agar mereka tidak menghabiskan waktu dan segera masuk ke dalam hotel.
Akhirnya mereka sampai di hotel Iglo yang telah mereka reservasi. Archie dan Kimmy memang hanya akan menghabiskan waktu dua hari di Finlandia. Archie segera menyimpan koper-koper itu. Kimmy melihat wajah kedinginan dari Archie. Kimmy berjalan mendekat ke arah suaminya dan menyentuh pipi pria itu.
"Pipimu sedingin es!" Kimmy masih menempelkan tangannya. Archie begitu terkejut dengan apa yang dilakukan Kimmy, tapi kemudian ia bersikap santai. Archie tidak ingin Kimmy melihat dirinya salah tingkah.
"Kemarikan tanganmu!" Kimmy langsung mengambil kedua telapak tangan Archie. Ia meniup-niup tangan Archie dengan raut wajah yang khawatir.
"Kau kuat dingin juga ya? Oh iya aku lupa, kau kan princess ice," Archie tertawa yang membuat Kimmy memanyunkan bibirnya.
"Kenapa? Memang benar kan?" Archie masih tertawa kecil sambil melihat wajah Kimmy yang semakin hari semakin menawan saja di matanya.
"Terserah kau saja," Kimmy masih fokus menggosok-gosokan telapak tangannya ke telapak tangan Archie.
__ADS_1
"Aku heran, mengapa kau sangat berbeda dengan kakakmu? Jasper sangat tidak tahan dingin. Tapi kau bagai manusia salju. Suhu minus 20 drajat seperti ini kau terlihat tidak kedinginan," Archie berkata sambil melihat Kimmy yang masih menggosokan tangannya.
"Aku suka musim dingin. Selain itu, aku suka bermaim ice skating, hiking di tengah salju. Mungkin saja itu yang menyebabkan aku sedikit kuat dingin," Kimmy bercerita.
"Begitu? Kalau begitu, mari kita bermain ice skating di Gunung Materhorn!" Ajak Archie.
"Aku pikirkan dulu," jawab Kimmy dengan ekspresi datarnya.
"Tanganmu sudah mulai menghangat. Lepaskan mantelmu sekarang!" Kimmy menyentuh mantel Archie dan membuka sletingnya.
"Hey, apa yang akan kau lakukan?" Pipi Archie seketika bersemu merah. Bagaimana pun ia adalah seorang pria normal. Berdekatan dengan wanita secantik Kimmy tentu membuat dirinya salah tingkah.
"Aku membantu melepaskan mantelmu agar kau tidak kedinginan," timpal Kimmy dengan polosnya.
"Aku bisa melepaskannya sendiri," Archie menundukan kepalanya karena malu.
Kimmy pun langsung mengarahkan tatapannya ke penghangat ruangan. Kimmy langsung mengatur heather itu agar dapat menghangatkan Archie dengan dirinya. Kimmy segera masuk ke dalam kamar mandi. Ia langsung mengganti bajunya dengan baju piyama panjang. Saat Kimmy keluar, ia melihat Archie sudah mengganti bajunya dan saat ini tengah berbaring di atas kasur.
"Aku duduk di sofa saja," Kimmy menjawab dengan gugup.
"Di sini saja. Diponselku ada notifikasi jika sebentar lagi akan ada Aurora. Akan sangat menakjubkan jika kita melihatnya sambil berbaring. Kemarilah!" Archie tersenyum.
"Baiklah," Kimmy setuju. Ia langsung naik ke atas kasur dan dengan pelan berbaring di samping suaminya.
"Lihatlah! Auroranya sudah mulai ada," Archie tersenyum menatap atap hotel yang memang terbuat dari kaca.
"Iya. Ini aurora bordealis," jawab Kimmy takjub melihat Aurora yang semakin jelas.
"Kau pernah melihat sebelumnya?" Archie bertanya sembari terus melihat kenampakan alam yang indah itu.
"Pernah. Dulu aku dan papa pernah hunting aurora di Norwegia. Sedangkan mama dan Jasper memilih untuk tinggal di hotel," jawab Kimmy dengan tersenyum. Terbesit kerinduan di hati Kimmy kepada keluarganya. Kira-kira sedang apa mereka?
__ADS_1
"Pasti mereka juga sedang merindukanmu," Archie menoleh ke arah gadis yang tengah berbaring di sampingnya.
"Kau ini sedang meramal?" Kimmy menyipitkan matanya.
"Pikiranmu sangat mudah ditebak," Archie tertawa.
"Dugaanmu salah!" Kimmy membantah.
"Benarkah? Mengaku saja kau sedang rindu dengan keluargamu!" Archie menjaili Kimmy.
"Ya. Aku merindukan mereka. Selama ini aku dibesarkan oleh Grandfa. Saat Jasper menikah, aku pindah dengan kedua orang tuaku. Tapi saat itu, aku jarang sekali mengobrol lama dengan kedua orang tuaku. Aku jadi menyesal mengapa dulu aku tidak melewati hari-hari bersama mereka setiap hari. Andaikan aku tahu akan menikah, pasti aku lebih banyak menghabiskan waktu bersama mereka," Kimmy bercerita mengenai perasaannya.
"Hey, mengapa kau jadi sedih? Seperti kau menikah dengan monster saja. Aku tidak akan membuatmu jauh dengan keluargamu. Setelah pulang berbulan madu, ayo kita menginap di rumah kedua orang tuamu! Atau kalau perlu, kita bisa pindah ke sana," Archie menghadapkan tubuhnya ke arah Kimmy.
"Benarkah? Kau tidak malu nanti?" Kimmy pun refleks menghadapkan tubuhnya ke arah Archie. Kini mereka berbaring sembari bertatapan.
"Malu? Papa Kai dan Mama Alula sudah seperti orang tua kandungku," Archie membuat hati Kimmy langsung menghangat.
"Bukan itu. Tapi, apa kau tidak gengsi tinggal di rumah papa? Secara kau ini pengusaha penyedia asuransi paling sukses di UK," Kimmy menatap mata Archie dengan serius.
"Tentu saja tidak. Untuk apa gengsi? Lagi pula orang-orang tidak akan peduli mengenai kehidupan kita," Archie merapikan rambut Kimmy yang tergerai ke wajahnya.
"Kau benar. Nanti kita bicarakan bersama keluarga kita," Kimmy terlihat bersemangat.
"Kim, apa sekarang kau sudah menerima pernikahan kita?" Archie bertanya dengan wajah serius.
"Tentu saja. Awalnya memang berat. Disangkal pun ini memang kenyataan dan sudah terjadi. Aku istrimu, kau suamiku. Kita sudah menikah sah secara hukum dan agama. Pernikahan itu adalah hal yang sakral dan tidak bisa menjadi mainan. Awalnya hati dan pikiranku berontak. Tapi aku mulai menerima semua kenyataan ini. Hal yang dapat melegakan hatiku adalah dengan cara ikhlas menerima ini semua. Pernikahan kita memang sudah digariskan. Sekuat apapun kita menghindar, akhirnya pasti kita menikah," Kimmy mengeluarkan perasaannya selama ini.
Archie pun terdiam mendengar ucapan istrinya. Dirinya seperti ditampar keras oleh ucapan Kimmy. Ya, Kimmy benar, pernikahan mereka adalah pernikahan yang sakral. Akan tetapi, mengapa Archie bisa terbuai melakukan perjanjian dengan ayahnya? Archie mulai merasa bersalah. Akan tetapi, sebagian hatinya yang lain memberontak. Memberontak karena ada Flowi, wanita yang menjadi korban dari pernikahan mereka.
Archie semakin kalut. Ia bingung dengan perasaannya kali ini. Ia mencoba untuk mempertahankan Flowi yang merupakan cintanya. Tapi di satu sisi, Archie sadar jika yang dilakukannya adalah salah dan merusak ikatan suci yang telah terjalin. Archie semakin kalut, apa yang harus ia ambil? Haruskah Archie menyelesaikan sepenuhnya hubungan dengan Flowi, lalu berusaha mencintai istrinya? Atau Archie tetap mempertahankan Flowi dengan membuat Kimmy sembuh dari traumanya dan Archie bisa meninggalkan Kimmy sesuai perjanjiannya bersama Kai.
__ADS_1
Source Images : Google.