Menikah Dengan Nona Kim

Menikah Dengan Nona Kim
Menjemput Lily


__ADS_3

Kimmy diajak oleh Nino dan juga Tifanny untuk menjemput Elizabeth di bandara. Sebenarnya Kimmy enggan, tapi ia memaksakan diri untuk ikut karena dirinya merasa tidak enak kepada Nino dan juga Tifanny. Archie pun turut serta menjemput adik satu-satunya itu. Mereka kini sedang berada di perjalanan untuk menjemput Elizabeth atau yang kerap di sapa Lily atau El.


Diam-diam Kimmy merasa penasaran, seperti apa Elizabeth? Apakah dia mirip dengan suaminya? Kimmy hanya bisa menerka-nerka. Sementara Archie fokus menyetir. Sesekali ia melihat Kimmy dari pantulan cermin.


"Apa tanganmu sudah bisa digerakan?" Tanya Archie masih dengan pandangan melihat ke jalanan.


"Sudah," Kimmy yang terduduk di belakang menjawab dengan datar.


Nino yang duduk di samping Archie tersenyum, ia merasa ada peningkatan dalam hubungan Kimmy dan putranya. Tapi Nino masih merasa was-was. Apakah saat ini Archie benar-benar peduli atau hanya karena ingin Kimmy segera sembuh? Nino menjadi pusing sendiri. Ia merutuki sahabatnya karena sudah membuat perjanjian tanpa sepengetahuan darinya.


"Apa sekarang kau bisa makan sendiri?" Archie bertanya lagi. Ia seolah tidak menyadari jika ibunya sudah tersenyum-senyum sendiri.


"Bisa. Kau tenang saja! Aku tidak akan merepotkanmu lagi," Kimmy menjawab sembari mengalihkan tatapannya ke luar kaca.


"Bukan itu maksudku," Archie tampak salah tingkah. Archie memang murni peduli dengan gadis itu. Sebab, setiap malam Archie selalu melihat istrinya kesakitan.


"Jangan salah paham!" Archie merasa risau sendiri.


"Sudahlah. Tidak usah dibahas," pinta Kimmy yang membuat atmosfer di mobil menjadi canggung.


Mobil melaju terus menuju bandara, sementara semua penumpangnya diam dalam keheningan. Beberapa saat kemudian, mereka tiba di bandara. Archie memarkirkan mobilnya di area parkir.


"Ayo biar ku bantu! Luka di lututmu masih basah," Archie mengambil tangan kanan Kimmy.


"Aku bisa sendiri," Kimmy menepis tangan Archie pelan. Tapi Archie tidak ingin dibantah, ia mengambil tangan kiri istrinya dan di genggamnya dengan erat. Mereka pun berjalan menuju pintu masuk bandara.


"Romantisnya mereka!" Tifanny semakin sumringah.


Akan tetapi, Nino masih saja berperang dengan akal sehatnya. Ia masih memikirkan apakah Archie hanya berpura-pura agar Kimmy merasa di cintai dan sembuh dari traumanya, atau Archie memang bersikap natural? Kepala Nino semakin pusing dibuatnya. Nino tidak bisa membedakan sikap putranya saat ini.


Saat mereka berjalan hendak masuk ke dalam bandara, seorang gadis cantik bermata biru melambaikan tangannya ke arah mereka.


"El!" Seru Nino saat melihat putri bungsunya.


"Pa!" Elizabeth berlari cepat dan berhambur ke pelukan ayahnya.


"Anak papa!" Nino memeluk Elizabeth, mengangkat dan memutar-mutarnya di udara.


"Papa!" Elizabeth tertawa.


"Gadis kecilku!" Seru Nino lagi. Ia memeluk Elizabeth dengan sayang.


Kimny tampak memperhatikan adik iparnya itu. Ia terus menatap wajah Elizabeth yang sedikit banyak mirip dengan suaminya.

__ADS_1


"Papa, aku sudah dewasa!" Elizabeth tertawa geli. Ia merasa selalu di perlakukan sebagai anak kecil oleh ayahnya.


"Lepaskan aku, Pa!" Elizabeth meronta sambil tertawa renyah. Nino pun langsung menurunkan putrinya.


"Sayang?" Kali ini Tifanny yang memeluk putri bungsunya.


"Aku merindukanmu, Ma!" Elizabeth memeluk Tifanny dengan erat.


"Lily?" Giliran Archie yang mendekat ke arah adiknya. Ia mengelus rambut Elizabeth dengan sayang. Lily memang panggilan sayang dari Archie untuk adik semata wayangnya itu.


"Kau lebih tampan sekarang!" Elizabeth meninju pelan lengan kakaknya.


Kimmy hanya menatap keluarga itu dalam diam. Ia merasa bingung untuk bersikap, sebab dirinya pun belum pernah bertemu Elizabeth sebelumnya. Tak berapa lama, Elizabeth menatap ke arah Kimmy.


"Gadis itu siapa?" tanya Elizabeth dengan berbisik sambil melihat ke arah Kimmy.


"Dia istri dari kakakmu," jelas Nino dengan wajah datarnya.


"Hah? Maksud papa?" Elizabeth terlihat sangat terkejut.


"Iya. Dia kakak iparmu. Kakakmu baru saja menikah," Tifanny ikut menjelaskan.


"Mengapa kalian tidak memberitahuku jika kakak menikah?" Elizabeth berkata dengan kesal.


"Begitu," Elizabeth mengangguk-angguk paham. Ingin meminta penjelasan lanjut, tapi ia merasa ini bukanlah waktu yang tepat, karena mereka semua masih ada di bandara.


"Baiklah. Ayo kita pulang!" Ajak Nino kepada keluarganya.


"Kak, seleramu bagus juga! Dia cantik sekali!" Elizabeth berbisik di telinga kakaknya yang membuat Archie langsung memperhatikan Kimmy yang sudah berjalan memunggunginya.


****


Pagi ini keadaan Kimmy sudah lebih membaik. Tangannya sudah bisa digerakan dengan leluasa. Hari ini ia juga memutuskan untuk pergi bekerja setelah beberapa hari absen. Semalam Kimmy memang belum mengobrol dengan Elizabeth, hal itu karena gadis yang baru wisuda itu lelah dan langsung beristirahat.


"Kau yakin akan berangkat bekerja?" Archie melihat Kimmy yang sedang bercermin.


"Iya. Aku sudah lama meninggalkan pekerjaanku," jawab Kimmy tanpa menoleh ke arah suaminya.


"Kalau kau merasa tidak enak, kau bisa hubungi aku!" Archie menawarkan.


Kimmy berbalik ke arah suaminya. Ia menatap dalam mata Archie.


"Baiklah, terima kasih," Kimmy tersenyum tulus.

__ADS_1


Archie terlihat gelagapan saat Kimmy tersenyum padanya.


"Sama-sama," Archie akhirnya menjawab.


Mereka pun turun dari kamar untuk berangkat bekerja.


"Pa, Ma, Lily? Kimmy langsung berangkat bekerja. Nanti sarapan di sana," Kimmy menatap Nino, Tifanny dan Elizabeth bergantian.


"Mengapa tidak sarapan dengan kami dulu?" Elizabeth tampak kecewa. Ia memang ingin mengobrol bersama Kimmy.


"Ada pekerjaan yang harus segera dimulai," ucap Kimmy ramah.


"Biar mama siapkan bekal untukmu," Tifanny hendak bangkit dari duduknya.


"Archie sudah menyiapkan!" Archie memperlihatkan bekal yang sudah ia kantongi untuk istrinya.


"Sejak kapan kakak jadi begitu romantis?" Elizabeth menggoda.


Tanpa tersadar Kimmy tersenyum dengan perhatian yang Archie berikan.


"Ayo cepat kita berangkat!" Archie menoleh ke arah Kimmy.


"Kimmy berangkat ya Pa, Ma, Ly?" Kimmy berpamitan.


Setelah berpamitan, sepasang suami istri itu segera berangkat ke klinik psikologi yang lumayan jauh dari rumah Nino. Mereka terlibat obrolan ringan di dalam mobil, hingga tidak terasa mobil yang dikemudikan Archie telah sampai di halaman klinik.


"Terima kasih," Kimmy tersenyum.


"Sama-sama. Ini bekalmu," Archie menyerahkan bekal yang ia buat untuk Kimmy.


"Hati-hati di jalan!" Kimmy mengatakan dengan canggung.


"Iya. Selamat bekerja," Archie tak kalah canggung.


Kimmy pun berjalan dan masuk ke dalam klinik. Sementara Archie menatap punggung Kimmy sampai gadis itu mengecil dan tidak terlihat.


"Aku tidak boleh terbawa suasana. Tugasku adalah menyembuhkan traumanya dan kembali kepada Flowi," Archie mewanti-wanti dirinya agar tidak terjebak di dalam rencana yang ia buat.


Kimmy masuk ke dalam ruangannya. Ia sudah sangat merindukan pekerjaannya. Sebelum memulai praktek, Kimmy memakan bekal yang Archie berikan kepadanya. Kemudian ia bermain ponsel sebentar, lalu bersiap karena pasien nomor satu akan segera masuk.


"Nona Flowi Brandie, silahkan masuk!" Panggil asisten Kimmy yang seketika membuat Kimmy langsung menoleh ke arah pintu.


Seorang wanita pun masuk. Kimmy sangat mengenali wanita itu, karena saat dirinya menikah, wanita itu hampir saja menamparnya.

__ADS_1


"Kau?" Ucap Kimmy saat melihat Flowi masuk dengan senyum sinisnya.


__ADS_2