
Kimmy membaca rentetan pesan dari suaminya. Archie memberi tahu jika malam ini dirinya tidak akan menjemput Kimmy karena ada urusan mendadak di perusahaannya. Archie sudah menyuruh supir di rumah keluarganya untuk menjemput Kimmy. Akan tetapi, Kimmy belum juga melihat supir dari keluarga Archie datang menjemputnya.
Malam sudah semakin larut, Kimmy pun memutuskan untuk pulang dengan menaiki taksi. Kimmy khawatir supir keluarga Nino tidak menjemputnya. Kimmy menyetop salah satu taksi. Ia langsung masuk ketika taksi itu berhenti. Kimmy terduduk. Matanya menikmati pemandangan di luar. Kimmy bertanya-tanya apa yang dilakukan suaminya sekarang? Ah, Kimmy mengapa menjadi sangat penasaran dengan apa yang sedang dilakukan oleh suaminya. Ponselnya terdengar berbunyi, Kimmy langsung melihat ke layar siapa yang menelfon dirinya kini.
"Archie," Kimmy bergumam saat Archie menelfon dirinya.
"Sebaiknya aku tidak mengangkatnya sekarang. Aku angkat saja di rumah. Dia pasti khawatir jika tahu aku naik taksi sendirian," Kimmy memutuskan.
Kimmy kembali melihat pemandangan luar dari kaca taksi yang ia tumpangi. Kemudian matanya memperhatikan seorang anak kecil yang sedang dipaksa untuk di bawa oleh seseorang. Kimmy melihat anak itu memberontak dan menangis.
"Pak, tolong hentikan taksinya!" Kimmy meminta. Sang supir langsung menghentikan taksinya.
"Pak, tinggalkan saya saja! Sepertinya lama," Kimmy memberikan beberapa lembar pounds kepada supir taksi yang sudah cukup tua itu.
"Terima kasih," ucap sang supir. Kimmy dengan cepat keluar dan berjalan setengah berlari menghampiri anak yang sedang di seret itu.
"Hentikan! Apa yang kau lakukan?" Kimmy berteriak kepada pria yang tidak ia kenali.
"Hey, siapa kamu? Aku ayahnya! Jangan ikut campur!!!" Pria itu menatap Kimmy dengan mata memerah. Pasti pria di hadapannya ini sedang berada dalam pengaruh minuman beralkohol.
"Tolong aku takut!" Anak kecil itu menghempas tangan pria tadi dan berlari bersembunyi di belakang tubuh Kimmy.
"Tolong aku! Dia ingin menyiksaku!" Anak kecil itu terus menangis.
"Lihatlah dia ketakutan melihatmu! Jangan-jangan kau ini seorang penculik anak?" Kimmy menatap tajam. Ia seolah tidak gentar melihat pria berbadan besar itu.
"Serahkan anak itu kepadaku!" Teriak pria itu dengan amarah yang mulai menguasai dirinya.
"Aku tidak mau ikut dengan dia!" Anak di belakang Kimmy semakin menjerit histeris.
"Berikan anak itu!!" Sentak pria tadi dengan lebih tinggi.
"Aku akan membawanya ke kantor polisi!" Kimmy mencekal tangan anak kecil yang bersembunyi di belakangnya dan berjalan hendak pergi meninggalkan pria yang amarahnya sudah di ubun-ubun.
"Si*lan! Mau cari mati?" Pria itu mengeluarkan benda tajam mengkilat dari saku mantelnya. Dia berlari hendak menyerang Kimmy.
Kimmy yang pernah belajar bela diri pun tidak tinggal diam. Ia langsung mengeluarkan jurus karate yang ia pelajari semenjak duduk di bangku sekolah pertama. Kimmy menendang tangan pria itu hingga senjata yang ada di tangan pria itu jatuh.
__ADS_1
"Kau akan menyesal ikut campur urusanku!" Pria tadi hendak menyerang Kimmy kembali.
Kimmy dengan cepat menangkis tangan pria yang jauh lebih besar dari tangannya itu. Sementara anak kecil yang hendak Kimmy selamatkan semakin menangis histeris. Pria tadi semakin membabi buta menyerang Kimmy hingga tendangannya mengenai perut gadis itu. Kimmy jatuh tersungkur sambil memegangi perutnya.
"Sudah ku bilang jangan ikut campur urusanku, orang asing!" Pria itu meludah.
Tak lama, suara sirine polisi yang sedang berpatroli terdengar. Kimmy tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia langsung berdiri dan berteriak meminta pertolongan. Polisi itu pun melihat Kimmy. Mereka menepikan mobilnya.
"Kurang ajar!" Pria itu langsung berlari terbirit ketika polisi memutuskan menghentikan mobilnya.
"Ada apa, Nona?" Polisi itu bertanya kepada Kimmy yang masih memegangi perutnya.
"Pria tadi berusaha untuk menyeret gadis ini. Aku khawatir dia penculik anak," Kimmy melapor.
"Benarkah demikian?" Polisi meminta keterangan anak kecil yang masih menangis histeris.
"Aku takut! Ibu tolong aku!" Gadis itu menjerit.
"Di mana rumahmu?" Kimmy bersimpuh. Mensejajarkan tingginya dengan gadis kecil bermata cokelat yang sedang menangis di hadapannya.
"Pak, mungkin dia masih trauma. Kita bisa menanyai dia jika anak ini sudah tenang," Kimmy membaca raut wajah gadis kecil di hadapannya.
"Baiklah. Kalau begitu saya bawa anak ini ke kantor polisi," polisi itu memutuskan.
"Iya, aku setuju," Kimmy mengangguk. Lagi pula dirinya adalah orang asing. Tidak mungkin bisa membawa gadis kecil itu. Apalagi Kimmy tidak tahu harus mencari kedua orang tuanya di mana.
"Mari, Nona! Anda juga harus ikut karena anda yang menjadi saksi atas kejadian tadi," Polisi itu menatap Kimmy. Kimmy mengangguk paham. Dia pun ikut masuk ke dalam mobil polisi untuk di mintai keterangan di kantor polisi setempat.
***
Archie sampai di rumahnya. Ia langsung memutuskan untuk pulang cepat karena teringat dengan Kimmy. Entah mengapa belakangan ini yang ada di pikirannya hanya Kimmy, Kimmy dan Kimmy. Archie bahkan membelikan Kimmy sebuah mantel hangat saat ia melewati sebuah butik. Ia pikir Kimmy akan menyukainya.
Archie terus tersenyum seraya menenteng tas belanjaan yang berisikan mantel berwarna cokelat muda yang baru saja ia beli untuk Kimmy.
"Mana Kimmy?" Mata Nino menyipit melihat kedatangan putranya seorang diri.
"Bukankah dia sudah pulang?" Archie bertanya dengan bingung.
__ADS_1
"Kau tidak menjemput istrimu?" Terlihat ekspresi marah dan khawatir bersamaan dalam raut wajah ayahnya.
"Tidak. Aku tadi memberi tahu Kimmy jika aku pulang terlambat. Aku juga sudah menyuruh supir di rumah ini untuk menjemput Kimmy," tanpa sadar pegangan tas yang di genggam oleh Archie mengendur. Tas belanja berisi mantel untuk Kimmy jatuh dari tangannya. Archie terlihat khawatir.
"Ar, mengapa kau sangat ceroboh?" Nino berteriak.
"Papa sudah memberi tahu jika kau harus menjaga istrimu. Adam Weems dan keluarganya mengincar Kimmy. Bahkan Galvin terang-terangan berkata akan mengambil kehormatan Kimmy," Nino berteriak. Ia sangat marah kepada putranya itu karena sudah lalai dalam menjaga Kimmy.
Suara Archie tercekat di tenggorokan. Dadanya bergemuruh hebat. Pikiran buruk mengenai Kimmy menari-nari di kepalanya. Mengapa bisa dia begitu lalai? Archie begitu merutuki keteledorannya hari ini. Dengan tangan gemetar, Archie mengambil ponselnya. Tentu sebuah kabar baik yang ia harapkan. Archie menelfon istrinya.
"Kamu di mana, Kim?" Archie langsung bertanya cepat saat Kimmy mengangkat telfon darinya.
"Aku di kantor polisi, Ar," Kimmy menjawab.
"Apa? Kantor polisi? Sedang apa kau di sana?" Archie bertanya dengan nada begitu tinggi.
"Aku tidak bisa menjelaskan."
"Kantor polisi mana? Aku ke sana sekarang," Archie tampak tidak sabar. Sementara Nino tak kalah panik dengan putra sulungnya. Bagaimana jika terjadi hal buruk dengan Kimmy? Sudah pasti Kai akan langsung melenyapkan dirinya karena gagal menjaga putrinya.
"Kantor polisi sekitar Digbeth," beri tahu Kimny.
Archie langsung menutup telfonnya. Ia berlari ke halaman rumah dan masuk kembali ke dalam mobilnya. Nino pun sama, ia langsung masuk ke dalam mobil milik dirinya sendiri dan mengikuti jejak mobil putranya.
"Kimmy, mengapa kau ada di kantor polisi? Semoga kau baik-baik saja," Archie mencengkeram kemudi. Terlihat kuku-kukunya memutih. Berbagai pikiran buruk sudah menari-nari di dalam kepalanya. Apa Kimmy ditemukan oleh polisi dalam keadaan sudah ternoda oleh Galvin?
"Si*l!!!!" Archie terus memukul-mukul setir.
Archie melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Begitu ia melihat kantor polisi yang Kimmy maksud, Archie segera keluar dari dalam mobil dan berlari ke dalam.
"Mana Kimmy? Mana istriku?" Archie setengah berteriak.
"Ar, kau sudah sampai?" Tanya Kimmy yang baru muncul dari arah kamar mandi."
Archie melihat Kimmy dari ujung kaki sampai ujung kepala. Archie langsung berjalan ke arah Kimmy. Ia langsung menarik Kimmy ke dalam pelukannya.
"Aku begitu mengkhawatirkanmu. Apa kau baik-baik saja?" Archie memeluk Kimmy erat. Seolah tidak ingin hal buruk apapun terjadi pada istrinya. Kimmy hanya diam mematung. Ia sangat bingung mengapa Archie sangat mencemaskannya dan memeluknya erat seperti ini.
__ADS_1