
"Menjauh atau aku akan menembak istrimu!" Ancam Galvin seraya tersenyum mengerikan.
"Kau benar-benar manusia biadab!" Geram Archie dengan menggertakan giginya. Ingin sekali ia menghabisi pria yang ada di hadapannya ini. Namun ia tak boleh gegabah. Kimmy sedang ada dalam bahaya besar.
"Haha. Kau baru tahu siapa aku, hm? makanya peringatkan ayahmu untuk tidak bermain-main denganku!!!" Galvin tersenyum menyeringai.
Galvin melangkah mundur dengan mengalungkan tangannya di leher Kimmy. Sedangkan tangan kanannya masih menodongkan senjata api itu ke arah kepala Kimmy.
"Lepaskan istriku si*lan!" Archie melangkahkan kakinya mendekat ke arah Galvin.
"Jangan dekati aku, Ar! Aku takut pria jahat ini menembakmu! Tak apa, aku baik-baik saja!" Lirih Kimmy meyakinkan. Ia takut pria yang sedang menawannya menyakiti Archie, mengingat Galvin begitu dendam pada keluarga Archie.
"Diam!" Bentak Galvin pada Kimmy, ia lalu mengeratkan tangannya di leher Kimmy hingga membuat Kimmy kesulitan bernafas.
"Galvin!" Teriak Archie.
Matanya memerah menahan tangis. Apalagi ia melihat wajah Kimmy penuh dengan memar. Demi apapun ia ingin sekali menghabisi Galvin. Tak pernah ia mencemaskan Kimmy sebesar ini, jika sesuatu yang buruk terjadi pada Kimmy, Archie tak akan memaafkan dirinya sendiri.
Archie memaki dirinya yang telah lalai menjaga Kimmy. Dengan perlahan ia mendekat pada Galvin. Namun pria itu menarik pelatuk senjata apinya, hingga membuat Archie begitu takut Galvin benar-benar akan menembak istrinya.
"Aku tidak pernah main-main dengan ancamanku! Mundur atau aku akan menghabisi Kimmy sekarang juga di hadapanmu! Akan aku pastikan isi kepalanya m*ledak di depanmu!" Ancamnya lagi yang seketika membuat Archie panik.
Galvin perlahan mundur. Tangan kanannya yang memegang senjata segera menekan tombol lift. Pintu lift terbuka. Masih dengan mengalungkan tangannya dileher Kimmy, Galvin memasuki lift itu bersama Kimmy meninggalkan Archie seorang diri.
Sementara di rumah, Nino memberitahukan kabar diculiknya Kimmy oleh Galvin kepada Kaivan Allen, ayah dari Kimmy. Kai dan Alula memang baru tiba di rumahnya sesudah perjalanan mereka ke Amerika. Ketika di hotel Galvin, mata-mata utusan Nino memberitahukan apa yang terjadi pada anak dan menantunya. Nino kecolongan, ia tak pernah berpikir Galvin akan senekat itu. Selama ini dirinya fokus kepada Lily karena ia ketap di teror. Tapi itu adalah tujuan Adam dan Galvin untuk memecah konsentrasi Nino.
"Si*lan!" Teriak Kai murka, ia menghancurkan semua barang yang ada di meja ruang tamunya.
Alula dan Tiffany menangis. Mereka saling berpelukan mengkhawatirkan anak-anak mereka. Sedangkan Alden dan Nino, ia menatap kemarahan Kai dengan diam, karena untuk pertama kalinya, mereka melihat lagi kemarahan Kai setelah kemarahannya dulu meledak pada mantan kekasih Kai.
"Ayo kita datangi Adam Weems! Kita buat perhitungan padanya!" Aura gelap dari wajah Kai terpancar. Pria itu benar-benar murka.
__ADS_1
"Yess! Setelah belasan tahun kita tak seperti ini. Akhirnya kita merasa muda lagi!!" Alden kegirangan. Namun ia langsung menutup mulutnya dengan telapak tangannya saat Nino memelototkan matanya.
"Berjuanglah, sayang! Dapatkan anak dan menantu kita dalam keadaan sehat!!" kali ini Alula mendukung rencana suaminya. Biasanya Allula sangat benci dengan kekerasan. Namun tidak untuk yang ini, keluarga Adam Weems memang keterlaluan dan mereka perlu diberikan pelajaran.
"Tapi berhati-hatilah! Adam Weems sangat licik!" Tiffany mengingatkan.
Kai, Nino, dan Alden berjalan menuju mobil mereka. Namun mereka kompak menaiki mobil Kai. Sementara orang-orang suruhan Kai mengekori mobil mereka di belakang.
"Kai, bukannya Galvin ada di hotel?" Tanya Alden kepada Kai yang sedang fokus mengemudi.
"Tapi menurut informanku dia sudah kabur di hotel itu. Sebaiknya kita mencari kerumahnya terlebih dahulu!" Usul Nino yang disetujui oleh Kai.
Kai melajukan mobilnya dengan sangat kencang. Hingga tak terasa mereka sudah sampai di kediaman keluarga Adam Weems.
"Adam, k*parat keluar kau!" Teriak Kai bagai orang kesetanan.
"Keluar atau aku hancurkan rumahmu!" Ancam Kai, ia lalu mengambil batu di halaman rumah Adam dan melemparkannya ke kaca rumah Adam hingga kaca itu pecah.
Mereka sangat tahu Kai. Kai adalah pengusaha tersukses di Eropa barat. Tidak ada yang berani mengusik Kai mengingat Kai orang yang sangat berpengaruh di Eropa. Namun mereka juga bingung, ada masalah apa antara Kai dan Adam? Mungkin Sabrina sedikitnya tahu. Tapi bagi Renata, ia tidak mengetahui apapun.
"Mana suamimu yang tak berguna itu?" Teriak Kai pada Sabrina.
"Aku tidak tahu kemana perginya suamiku! Sungguh!" Lirih Sabrina ketakutan.
"Memang ada masalah apa kalian dengan ayahku?" Renata kali ini yang berbicara, ia sudah tak tahan dengan rasa penasarannya.
"Ayah dan kakakmu menculik anakku! Awas saja jika aku temukan mereka, aku akan bunuh mereka dengan tanganku!!" Kilat Amarah memancar dari manik mata Kai membuat nyali Sabrina dan Renata langsung menciut
"Tapi dari mana tuan tahu ayah dan kakakku menculik putri tuan?" Tanya Renata yang tak percaya dengan perkataan Kai
"Aku tidak perlu membuang waktuku untuk menjelaskannya padamu!!" Jawab Kai seraya memasang wajah arogan dan tak ingin dibantah.
__ADS_1
"Cepat geledah rumah mereka!!" Perintah Kai pada orang-orangnya yang berpenampilan menyeramkan.
Mereka mengangguk lalu segera menjalankan tugasnya. Sementara Sabrina dan Renata saling memeluk ketakutan. Mereka melihat orang-orang Kai mencari Adam dengan brutal, mereka juga menghancurkan barang yang ada di dalam rumah tanpa ampun.
"Tak ada Adam dan Galvin di rumah itu, Tuan!" Lapor Pria bertubuh gempal penuh dengan tato saat keluar dari rumah.
"Si*lan!" Hardik Kai.
"Bakar rumah mereka!" Perintah Kai dengan bengis.
"Jangan keterlaluan, Tuan! Kau melanggar hukum!" Renata kali ini bersuara, ia mengesampingkan rasa takutnya.
Kai mendekat dengan aura menakutkan, ia mengapit pipi Renata dengan kuat hingga membuat gadis itu meringis kesakitan.
"Aku tahu pamanmu seorang polisi. Tapi aku tidak peduli! Aku seseorang yang berkuasa, dengan mudah aku bisa bebas dari hukum yang menjeratku!" Senyum menakutkan tersungging dari bibir Kai.
"Bagus, Kai! Kaivan Allen comeback!!" Alden bertepuk tangan, refleks Nino menyikut lengan Alden dengan kesal.
"Kau ikut kami ingin membantu atau hanya menjadi cheerleaders?" Geram Nino pada Alden, Alden hanya tersenyum dengan gaya nyengir kuda.
"Bakar rumah mereka sekarang juga!" Perintah Kai lagi.
Orang-orang suruhan Kai segera melakukan perintahnya. Mereka menyiramkan bensin di kediaman keluarga Adam Weems hingga membuat Sabrina dan Renata menangis ketakutan. Mereka memohon pada Kai, namun Kai menghiraukannya.
"Ayo Kai kita harus ke hotel milik Galvin! Kimmy pasti masih disana!" Alden memperingatkan, ia lalu menarik lengan Kai.
Setelah api berkobar di rumah Adam, Kai meninggalkan tempat itu. Tak dipedulikannya Sabrina dan Renata yang menangis meraung. Baginya tak ada ampun untuk orang yang sudah mengusiknya dan keluarganya.
"Nino, kau tidak ikut?" Tanya Alden saat Alden akan masuk ke dalam mobilnya.
"Kau duluan saja, aku masih ada urusan" Nino tersenyum samar.
__ADS_1
Sementara di tempat lain, Galvin tengah mengemudikan mobilnya menjauh dari hotel. Kimmy dengan tangan terikat terduduk di kursi penumpang sembari menangis. Tak tinggal diam, Archie di belakang membuntutinya dengan taksi.