Menikah Dengan Nona Kim

Menikah Dengan Nona Kim
Keputusan Archie


__ADS_3

"Sayang?" Lirih Archie. Ia mendaratkan bibirnya di bibir Kimmy dengan pandangan berkabut.


Kimmy berusaha memberontak. Dia menggerak-gerakan kepalanya agar ci-uman dari Archie terlepas. Bukannya lepas, Archie malah semakin memperdalam ci-umannya. Kimmy tidak membalas ci-uman panas itu. Ia terus berontak agar Archie melepaskan pagutannya. Archie baru melepaskan ci-umannya setelah ia kehilangan oksigen.


"Ar, mengapa kau melakukan ini? Ini salah, Ar!" Kimmy menatap Archie yang berada di atasnya dengan sendu.


"Apa yang salah? Aku suamimu dan kau adalah istriku. Sudah seharusnya dan sepantasnya kita melakukan ini," Archie menjawab dengan sorot mata yang tajam.


"Aku tahu, tapi bukankah aku sudah mengajukan syarat?" Kimmy berusaha mendorong tubuh Archie. Tapi Archie tak bergeming dari tempatnya.


"Aku akan memastikan jika kita sudah melakukannya," Archie hendak menyerang Kimmy kembali. Tapi Archie kalah cepat, Kimmy langsung memalingkan wajahnya dan menatap sisi kiri.


"Kim? Kau menolakku?" Archie seakan tidak terima.


"Bukan begitu. Aku hanya merasa kau hanya butuh tempat melampiaskan hasr-atmu saja," Kimmy memberanikan diri menjawab.


"Aku seorang pria normal, Kim. Aku seorang pria dewasa yang juga membutuhkan kehangatan di atas ranjang. Apa itu salah?" Archie masih menatap Kimmy tajam dan itu semakin membuat tubuh Kimmy meremang.


"Tidak. Tidak ada yang salah. Tapi aku mohon berikan aku waktu!" Kimmy meminta dengan suara parau.


"Sampai kapan? Sampai kapan kau akan meminta waktu?" Archie terdengar tidak sabar.


"Aku hanya ingin memastikan jika kau sudah melepaskan Flowi sepenuhnya dari hidupmu," Kimmy berbicara masih dengan memalingkan wajahnya.


"Aku tidak suka jika seseorang tidak menatapku ketika aku berbicara," tangan Archie menyentuh dagu Kimmy. Ia memalingkan wajah Kimmy dengan tangannya agar wajah gadis itu kembali menghadap ke arahnya.


"Jangan bawa-bawa Flowi dari tindakan penolakan yang kau lakukan!" Archie menautkan alisnya.


"Aku tidak membawa-bawa Flowi. Realitanya memang seperti itu. Aku tidak ingin ada bayang-bayang wanita itu di kehidupan rumah tangga kita," Kimmy menatap lekat mata Archie.


"Tapi aku ingin melakukannya sekarang!" Archie hendak kembali men-ciumi Kimmy.

__ADS_1


"Hentikan, Ar!" Dengan sekuat tenaga Kimmy mendorong tubuh Archie. Archie pun bangun dengan sendirinya saat menyadari jika Kimmy benar-benar sudah menolaknya dengan keras.


"Kim, kau akan menyesal karena telah menolakku!" Archie langsung mengambil kembali bajunya dan keluar dari dalam kamar hotel meninggalkan Kimmy seorang diri. Archie butuh angin segar dan pengalihan dari hasr-atnya yang tengah memuncak.


Kimmy langsung terbangun dari posisi berbaringnya. Ia mengusap bibirnya. Kimmy menatap nanar bunga yang Archie berikan tadi saat mereka tengah makan malam.


"Ar, aku baru melihat sisi lain dari dirimu," Kimmy menghela nafasnya.


Kimmy tak berusaha mengejar suaminya. Dirinya cukup paham jika Archie membutuhkan waktu seorang diri untuk mendinginkan dirinya. Kimmy pun berbaring kembali di atas kasur. Ia memejamkan matanya dan berusaha untuk tidur. Sementara itu, Archie baru kembali ke kamar hotel tepat pukul satu malam. Ia melihat Kimmy sudah terlelap dalam tidurnya. Archie mengambil selimut dan menyelimuti istrinya itu.


"Kim, mengapa aku seakan menggebu ingin memiliki dirimu seutuhnya? Tapi penolakan yang kau lakukan membuat harga diriku begitu terluka. Kau seakan menginjak-injak harga diriku. Padahal aku hanya meminta sesuatu yang memang seharusnya kau memberikannya untukku," Archie menatap wajah Kimmy. Ia pun memutuskan untuk tidur di samping Kimmy.


Pagi harinya Kimmy terbangun terlambat. Ia melihat Archie tengah membereskan semua barang bawaannya.


"Ayo pulang!" Ucapnya dengan dingin.


"Aku ke toilet sebentar," Kimmy menguap kemudian berjalan ke arah kamar mandi. Archie terlihat tidak menjawab ucapan istrinya.


"Bagus, Ar! Akhirnya kau bisa mengubah mobil ini dari siput menjadi cheetah," Kimmy bersorak senang. Sementara Archie semakin menautkan alisnya mendengar ocehan istrinya itu.


Sesampainya di halaman rumah, Archie langsung masuk ke dalam rumah tanpa menunggu Kimmy turun dari mobil. Saat Archie akan naik ke atas tangga, Nino menahan putranya itu.


"Ar, kau sudah pulang? Bagaimana semalam?" Goda Nino yang membuat Archie semakin kesal saja.


Kimmy pun ikut masuk ke dalam rumah sambil melepas headset yang ada di telinganya. Ekspresi wajah Kimmy datar dan tidak menunjukan apapun.


"Kim, bagaimana?" Nino bertanya dengan riang.


"Bagaimana apanya, Pa?" Kimmy malah bertanya balik.


Nino yang peka terhadap sesuatu langsung menyadari jika putranya tengah terlibat perang dingin dengan Kimmy. Nino pun mendekat ke arah Archie dan menepuk bahunya.

__ADS_1


"Ar, pertengkaran suami istri itu biasa. Jangan lama-lama saling diam dengan Kimmy! Itu tidak baik," Nino memberikan petuah.


"Papa selalu saja mengatur hidupku. Kali ini aku tidak tahan!" Archie dengan cepat naik ke atas tangga dan langsung masuk ke dalam kamarnya.


"Sebenarnya ada apa, Kim?" Nino dengan lembut bertanya kepada menantunya. Sementara yang ditanya hanya mengangkat bahunya.


"Ar?" Nino berteriak saat terdengar suara berisik di atas, tepatnya di kamar Archie dan Kimmy.


Kimmy dan Nino pun naik ke lantai atas. Di sana ia melihat Archie tengah membereskan semua pakaian miliknya dan milik Kimmy ke dalam koper.


"Ar, ada apa?" Tifanny yang baru sampai di depan kamar Archie dibuat heran.


"Mulai hari ini aku dan Kimmy keluar dari rumah ini. Aku sudah membeli sebuah rumah untuk kami tempati," Archie berkata dengan aura menyeramkan.


"Apa maksudnya? Kau marah kepada papa?" Nino tampak marah mendengar ucapan putranya.


Archie menghela nafasnya dengan berat. Tangannya yang sibuk memasukan pakaian ke dalam koper seketika berhenti. Ia menatap ke arah ayahnya dengan tajam.


"Pa, papa selalu mengatur rumah tanggaku. Aku seakan tidak memiliki pendirian sebagai seorang pria. Kali ini izinkan aku membawa istriku untuk hidup mandiri. Agar kami bisa lebih bijak dan dewasa untuk menentukan sikap kami dalam berumah tangga," Archie melunak. Ia melembutkan intonasi suaranya.


"Biarkan, sayang!" Tifanny menatap suaminya.


"Baiklah, Ar. Papa mengizinkan. Tapi apa harus secepat ini?" Nino masih saja menahan Archie dengan kata-katanya.


"Pa, Archie hanya membawa pakaian saja. Di sana barang sudah lengkap tersedia," ucap Archie lagi.


"Baiklah kalau begitu," Nino menyetujui walau sebenarnya hatinya berat. Berat karena tidak bisa lagi memantau bagaimana perkembangan rumah tangga antara putranya dengan Kimmy.


"Ar, kita akan pindah ke mana? Aku tidak mau jauh dari rumah papa," Kimmy seakan keberatan.


"Semua keputusan ada di tanganku. Kimmy sekarang kau milikku bukan milik papa Kai lagi. Jadi mau tidak mau, suka atau tidak suka kau harus ikut denganku," desis Archie dengan tajam.

__ADS_1


__ADS_2