Menikah Dengan Nona Kim

Menikah Dengan Nona Kim
Angela


__ADS_3

Adam Weems melihat layar ponselnya dengan murka. Ia menatap foto yang dikirimkan oleh Nino kepadanya. Rahangnya mengeras. Sejurus kemudian Adam Weems melemparkan ponselnya ke lantai, hingga ponsel itu hancur berkeping-keping.


"Daddy sudah melihat?" Galvin tampak sudah tahu penyebab kemarahan ayahnya.


"Kurang ajar! Dia berani mengganggu putriku!" Adam bernafas cepat sebagai tanda jika dirinya benar-benar diliputi amarah yang besar.


"Ada apa?" Sabrina istri dari Adam datang ke ruang tengah menghampiri Adam dan putranya.


"Nino ingin mencelakai Renata!" Beri tahu Galvin kepada ibunya karena sedari tadi Adam tidak memberikan jawaban.


"Apa? Di mana Renata sekarang?" Sabrina bertanya dengan panik.


"Coba aku telfon!" Galvin mencari kontak adiknya dan menghubungi Renata. Di sebrang sana Renata menangis tergugu mengadu kepada Galvin atas apa yang ia alami.


"Cepatlah pulang! Kami menunggumu di rumah!" Perintah Galvin dengan lembut kepada adiknya.


Setengah jam menunggu, akhirnya yang dinanti pun pulang. Renata pulang dengan keadaan berantakan. Matanya terlihat membengkak karena sepanjang perjalanan ia terus menangis.


"Putriku!" Sabrina langsung berhambur memeluk Renata. Mereka pun menangis tersedu.


"Aku takut, Mom!" Renata semakin menangis.


"Mereka tidak menyentuhmu kan?" Sabrina memeriksa tubuh putrinya.


"Tidak. Mereka hanya menakutiku dan memotretku. Aku takut esok-esok aku mengalami lebih dari ini. Bagaimana jika mereka berbuat jahat padaku?" Rengek Renata dengan manja.


"Tidak akan. Tidak akan aku biarkan," Adam berkata dengan geram.


"Apa rencana kita?" Galvin menunggu perintah ayahnya.


"Rencana apa?" Renata tampak tidak mengerti.


"Sudahlah. Kita masuk kamar dulu. Ganti bajumu dan beristirahatlah!" Sabrina memapah putri kesayangannya ke dalam kamar.


Adam tampak terdiam lama, kemudian ia tersenyum licik.


"Terus ganggu Lily!" Perintah Adam.


"Dad, kau cari mati?" Galvin tampak tidak setuju.


"Turuti saja perintahku. Aku punya ide cemerlang," putus Adam dengan seringai di wajahnya.


Galvin hanya menuruti apa kata ayahnya, walaupun ia sendiri takut dengan keselamatan adiknya, Renata. Ia tak mungkin membantah ayahnya.

__ADS_1


****


Pagi hari Lily terlihat sedang menghirup udara segar di pekarangan rumahnya. Ia meregangkan otot-ototnya. Tak lama, seseorang datang menemui Lily.


"Hallo, Nona! Apa benar ini kediaman Tuan Elizabeth Merida Walsh?" Tanya seorang pria yang memakai jaket hitam.


"Iya. Aku Elizabeth," jawab Lily tenang.


"Ini ada kiriman dari Tuan Adam," pria itu memberikan sebuah kotak kepada Lily.


"Tuan Adam?" Lily mengerutkan keningnya. Ia merasa tidak mempunyai kenalan yang bernama Adam.


"Saya pamit kalau begitu," orang itu tampak terburu-buru.


"Iya, terima kasih," jawab Lily kemudian.


Lily begitu penasaran dengan apa yang ada di dalam kotak yang sudah dihias oleh bungkus kado itu.


"Perasaan aku sedang tidak berulang tahun," gumam Lily sembari menyobek kertas kado yang membungkus kotak misterius itu.


"Aaaaaaa!!!" Teriak Lily histeris ketika ia membuka kotak. Gadis itu langsung melempar kotak itu. Semua orang yang ada di dalam rumah pun berlari mendengar jeritan Lily.


"Sayang, ada apa?" Nino berlari dengan khawatir.


"Papa, aku takut!" Lily menangis.


Nino mendekati kotak itu, ia membuka isinya. Isinya adalah boneka yang wajahnya di tempeli foto Lily. Boneka itu tampak berlumur darah. Serta ada secarcik kertas yang bertuliskan "Elizabeth Merida Walsh akan segera ma*ti."


"Kurang ajar!" Nino membanting kotak itu. Ia merasa Adam menantang dirinya.


"Adam!" Nino mengepalkan tangannya. Terlihat matanya memancarkan amarah yang begitu besar.


"Siapa dia, Pa?" Lily memeluk Tifanny dengan ketakutan.


"Papa akan membereskan semuanya! Kalian semua masuklah!" Perintah Nino yang langsung dilakukan oleh Tifanny dan Lily.


****


Sudah tiga hari ini ini Lily mendapatkan teror terus menerus. Ia kerap di telfon oleh orang misterius. Kaca kamarnya pun dipecahkan oleh orang misterius.


"Adam kau salah sudah bermain-main denganku! Aku menunggu kau berhenti untuk memberikanmu kesempatan. Tapi kau malah semakin menggila. Sekarang aku benar-benar marah dan jangan salahkan aku jika aku menghancurkanmu!" Nino hanya tersenyum sembari melihat percakapannya bersama Alden.


Pagi berlalu, kini matahari sudah digantikan tugasnya oleh sang rembulan. Malam ini Archie terlambat kembali untuk menjemput Kimmy karena urusan kantor yang memang benar-benar penting. Archie meminta agar Kimmy tidak keluar dari klinik sebelum dirinya datang. Archie begitu khawatir setelah peristiwa Kimmy berada di kantor polisi. Saat itu Archie berpikir buruk jika Kimmy dicelakai oleh Galvin, tapi ternyata Kimmy menolong anak yang akan dibawa pergi paksa oleh ayahnya. Anak itu jelas tidak mau dibawa karena ayahnya kerap menganiaya dirinya.

__ADS_1


"Kau masih menunggu Archie?" Tanya Angela, asisten dari Kimmy saat klinik sudah akan tutup.


"Iya," Kimmy menjawab sembari memainkan ponselnya.


"Bagaimana jika ikut aku? Aku akan mengantarkan," Angela menawarkan.


"Aku menunggu suamiku saja, Angela!" Kimmy berusaha menolak halus.


"Bagaimana jika Tuan Archie masih lama menjemput? Apalagi klinik ini sudah sepi. Aku khawatir ada orang jahat masuk. Aku mengantarkanmu saja ya?" Angela memaksa.


"Aku takut merepotkan," Kimmy menatap wajah asistennya itu.


"Tentu saja tidak. Tidak ada yang direpotkan," Angela tersenyum.


"Baiklah kalau begitu. Terima kasih ya, Angela!" Kimmy berdiri dari duduknya. Mereka kemudian keluar dari gedung klinik dan berjalan ke arah mobil Angela.


"Tidak, Kimmy. Aku yang terima kasih," Angela bergumam dengan seringai licik di wajahnya.


Mereka masuk ke dalam mobil. Sebelum menyetir, Angela meminum air mineral yang ada di dalam mobilnya.


"Minum dulu! Sedari tadi aku melihat kau jarang minum," Angela menawarkan air mineral botol.


"Iya. Aku mau minum, Angela."


"Ini. Biar aku buka ya. Kau pasti kesusahan membukanya," Angela mengambil sebotol air lagi dan berpura-pura memutar botol mineral itu.


"Terima kasih, Angela. Kau tahu saja jika aku selalu kesulitan membuka botol air mineral," Kimmy tertawa kecil. Angela memperhatikan Kimmy yang meneguk air mineral itu sampai setengah.


"Sudah?" Tanya Angela.


"Sudah. Ayo kita pulang, Angela!" Jawab Kimmy. Kemudian gadis itu terlihat menguap beberapa kali. Angela tersenyum senang melihatnya.


"Angela, aku mengantuk sekali!" Kimmy dengan lemah memakaikan sabuk pengaman di tubuhnya. Tak lama, gadis itu pun tak sadarkan diri.


Angela langsung mengambil ponselnya dan menghubungi nomor kontak seseorang.


"Hallo, Galvin! Kimmy sudah tidak berdaya. Ke hotel mana aku harus mengantarkannya?" Ucap Angela sembari menatap Kimmy dengan wajah jahatnya.


"Antarkan dia ke Grand Hotel yang ada di tengah kota," jawab Galvin dengan penuh semangat.


"Baiklah. Tapi sebelumnya segera transfer uang yang aku minta. Aku juga harus pergi dari kota ini sesudah rencana ini bukan?"


"Oke. Aku transfer sekarang," Galvin memutus telfonnya.

__ADS_1


Tak lama Angela membuka pesan yang masuk ke dalam ponselnya. Ia tersenyum kala melihat angka fantastis yang diberikan Galvin kepadanya.


"Nona Kimmy, maafkan aku! Aku butuh uang untuk operasi papaku di Irlandia. Lagi pula, kau ini gadis menyebalkan! Aku begitu tidak menyukai sifat sok polosmu itu! Kau harus tahu, aku pula yang menceritakan jika kau dan suamimu belum tidur bersama. Tapi tenang saja, Nona Kimmy! Malam ini kau akan melepaskan keg*disanmu itu!" Angela tertawa.


__ADS_2