
Sementara Tiffany yang mengetuk pintu merasa khawatir karena tak ada sahutan dari Kimmy atau pun Archie. Dia langsung membuka pintu. Ia merasa heran karena pintu rumah putranya tidak terkunci. Saat membuka pintu, mata Tiffany membeliak. Lekas dengan cepat Tifanny menutupnya kembali.
"Ada apa, Fan?" Alula yang mengekori Tiffany dari belakang merasa heran melihat besannya itu tersenyum kikuk dan terlihat sangat salah tingkah.
Ya, hari ini Tiffany mengajak Nino, Kai, Alula, dan Alden untuk mengunjungi rumah Archie dan Kimmy. Rencananya Tiffany ingin makan bersama dengan Archie dan Kimmy, karena setelah kepindahannya Archie dan Kimmy sangat jarang datang ke ruma karena tuntutan pekerjaan mereka yang sangat sibuk. Tiffany pun membawakan masakan kesukaan Archie dan Kimmy. Namun wanita paruh baya yang masih sangat cantik itu segera membatalkan maksud kedatangannya. Tiffany menggiring semua orang untuk kembali ke halaman rumah.
"Kenapa, sayang?" Nino tampak khawatir melihat Tiffany yang tak kunjung bicara.
"Hm, sebaiknya kita pulang saja!" Jawab Tiffany dengan wajah yang masih shock.
"Memang ada apa, Fan? Wajahmu aneh seperti kucing yang ketahuan mencuri ikan! Kau membuat kami penasaran, Fan! Itu tidak lucu!" Alden menggerutu.
"Apa di rumah anak-anak kita ada maling? Biar aku hajar!" Kai akan melangkahkan kakinya untuk kembali ke teras. Namun Tiffany dengan cepat menggeleng untuk menahan besannya itu.
"Sebaiknya kita pulang! Ssst jangan berisik!" Tiffany berbicara pelan. Ia lalu meletakan jari telunjuknya di bibirnya yang tipis. Namun pipinya merona, membuat semua orang di sana semakin penasaran saja dengan tingkah tak biasa dari Tifanny.
"Ada apa sih? Aku penasaran!" Alula mencebik, merasa kesal karena Tiffany tak juga menjelaskan apa yang ia lihat.
Keheningan menyusul diantara mereka saat Tiffany meletakan jari telunjuknya di bibirnya. Semua orang saling berpandangan saat mendengar d*sahan suara wanita dan pria dari dalam. Mereka saling mengulum senyum. Pipi kelima orang itu tampak memerah. Mereka lalu berjalan meninggalkan rumah yang sangat mewah itu. Seolah mengerti apa yang sedang terjadi di dalam rumah itu, lebih tepatnya di ruangan ruang tamu.
"Anakmu hebat!" Alden tersenyum nakal ke arah Nino.
"Akhirnya Kai! Kita akan memiliki cucu!!" Nino memeluk Kai, namun Kai menepisnya membuat yang lain tertawa.
"Kau tak pernah berubah! Kau selalu memelukku sembarangan!" Sewot Kai.
"Sepertinya anakmu berguru padamu! Dia bisa melakukannya di mana saja, percis seperti dirimu sebelum mengenal Tiffany!" Alden tertawa tanpa dosa, mengabaikan semua orang yang menatapnya dengan jengkel.
__ADS_1
"Mengapa kalian melihatku seperti itu?" Alden menggaruk rambutnya, tak mengerti dengan semua tatapan sahabatnya yang menghunus tajam padanya.
Perhatian Alden teralih pada Tiffany yang sedang menatap Nino bak seekor elang yang menatap buruannya. Alden bergidik ngeri melihat mata Tifanny yang seakan ada kobaran api di dalamnya.
"Oh jadi begitu kelakuanmu saat kau masih lajang? Berapa wanita yang sudah kau tiduri?" Ketus Tiffany yang membuat wajah Nino pias.
"Katanya kau akan menerima masa laluku, Sayang? Sudahlah jangan dibahas!" Nino mengelak dengan wajah yang ketakutan saat melihat raut wajah istrinya.
Tiffany tak bergeming, ia masih menatap suaminya itu dengan tatapan gelap dan tak terbaca. Aura wanita kalem itu tiba-tiba saja berubah menjadi aura menakutkan. Lebih menakutkan dari hantu Valak atau pun Annabelle.
"Aku sudah berubah, Sayang! Jangan dengarkan Alden! Dia memang senang sekali mengompori kita!" Nino meninju lengan Alden, gemas sekali. Ingin rasanya Nino menyumpal mulut sahabatnya itu dengan kaos kaki.
"Aku mengatakan apa adanya! Mengapa kau marah?" Tanya Alden tak terima.
"Hish, diam kau! Atau aku akan mengungkit hubungan masa lalumu dengan Viona pada Bianca!" Gertak Nino yang seketika membuat Alden membelalakan matanya.
Sementara Alula, dan Kai mengulum senyum. Mereka ingin tertawa mendengar perdebatan dua mantan playboy itu, tapi sebisa mungkin mereka tahan ketika melihat wajah Tifanny yang semakin ditekuk.
"Sudahlah, Fan! Semua sudah berlalu. Nino sangat mencintaimu. Dia sudah berubah," Kai buka suara untuk membela sahabatnya.
"Mengapa kau tidak membelaku, Kai? Kau pilih kasih!" Alden mengerucutkan bibirnya.
Kai hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Alden yang masih saja belum berubah. Pria itu masih saja suka bersikap kekanakan dan semaunya.
"Ya sudah, mari kita pulang!" Ajak Alula menggandeng lengan Tiffany. Tiffany menurut namun wajahnya masih menyiratkan kekesalan..
Di dalam mobil mereka tak henti-hentinya mengobrol. Mereka tak sabar Kimmy hamil dan memomong seorang cucu. Apalagi Tiffany dan Nino, ini adalah penantian mereka. Mereka ingin sekali menggendong cucu pertama mereka.
__ADS_1
"Akhirnya mereka saling mencintai," Alula tersenyum simpul, ia mengingat nasibnya yang sama seperti Kimmy menikah dengan orang yang tak dicintainya, namun akhirnya kehidupan rumah tangganya berbuah manis.
"Sama sepertimu, Al! Dulu kau sangat membenci Kai, tapi sekarang jauh sedikit saja seperti anak ayam yang kehilangan induknya!" Cicit Alden
"Walaupun anak kita menikah karena paksaan, semoga mereka berakhir bahagia. Saling mencintai satu sama lain sampai akhir hayat mereka. Semoga di kehidupan selanjutnya mereka bertemu lagi dan saling mencintai kembali," Tiffany tersenyum kecil, ia mengerjapkan matanya yang basah. Merasa terharu akhirnya Kimmy dan Archie saling mencintai, karena itulah harapan terbesarnya saat ini.
"Semoga kita pun begitu, Sayang! Semoga di kehidupan selanjutnya kita bertemu kembali dan aku menjadi suamimu lagi!" Harap Nino tulus.
"Ck! Mengapa jadi bahas cinta sih? Sudah kalian diam! Jangan terus tebar kemesraan, aku tak bisa mengikutinya karena Bianca ku tidak ada di sini!" Cebik Alden menyedekapkan kedua tangannya di dada.
Mereka kemudian tertawa mentertawakan ocehan Alden yang selalu saja konyol. Akhirnya Kai melajukan mobilnya, meninggalkan kawasan perumahan elite itu dengan perasaan bahagia.
Sementara itu di dalam rumah, suasana panas masih saja berlangsung. Kimmy terus bergerak menguasai permainan. Archie memeluk Kimmy erat saat pelepasannya datang. Nafas mereka saling memburu, saling berebut menghirup oksigen.
"Sayang?" Archie memeluk Kimmy yang sedang duduk di pangkuannya.
"Hm?" Kimmy bergumam, ia merapikan rambut Archie yang berantakan.
"Aku mencintaimu!" Suara bariton Archie terdengar, matanya lekat memandang wajah istri yang sangat dicintainya itu.
"Aku juga mencintaimu," Kimmy tersenyum, ia lalu mencium bibir Archie sekilas.
"Aku harap setelah ini kau hamil" Harap Archie yang membuat hati Kimmy berdesir. Sebenarnya ia pun mengharapkan hal yang sama.
Kimmy segera bangkit dari pangkuan Archie, ia akan mengambil pakaiannya yang tercecer di lantai. Namun Archie menahannya, ia tersenyum nakal..
"Ayo kita lakukan sekali lagi!"
__ADS_1