
Renata Weems adalah adik bungsu dari Galvin Weems. Wanita cantik bermata biru itu adalah seorang desainer yang cukup terkenal di kotanya, walaupun tidak sepopuler Butik Chelsea Olsen. Tiga hari yang lalu, ia mendapatkan pesanan baju dari kerajaan Inggris. Seorang pria yang bergelar Duke akan menikah. Duke itu bernama George. Duke George dan istrinya ingin sekali di rancangkan gaun yang mewah dan berkelas. Tadinya mereka memesan di butik Chelsea Olsen. Tapi karena tidak mendapat antrian, akhirnya Duke George beralih kepada Renata.
Pesanan yang mendadak itu membuat semua karyawan yang bekerja di butik Renata ketar-ketir, mengingat calon istri Duke George adalah orang yang perfeksionis. Ia sangat suka pakaian yang sederhana namun memiliki bahan yang mewah dan berkelas. Apalagi istri dari Duke George menginginkan gaunnya selesai dalam waktu dua hari.
Akhirnya Renata ikut lembur bersama karyawannya. Ia ikut memasangkan renda, memasangkan butiran-butiran berlian dan mutiara di sekitar gaun. Ia beberapa kali menguap karena matanya yang sudah mulai mengantuk. Tapi Renata tak boleh sembarangan. Pesanannya ini tentu akan mengangkat namanya.
"Lebih baik Nona Renata pulang! Nona pasti mengantuk sekali" Asistennya yang bernama Lucy merasa kasihan melihat Wajah Renata yang sangat lelah. Kantung matanya menghitam, terlihat sekali jika ia kurang tidur.
"Aku ingin menemani kalian. Tidak apa-apa!" Renata tersenyum, walaupun di hatinya ia mengiyakan perkataan Lucy.
"Tidak apa-apa, Nona. Pulanglah! Aku tidak mau Nona sakit," Lucy masih saja bersikeras menyuruh majikannya untuk beristirahat.
"Jika Nona sakit, nanti kami juga yang susah Nona, karena tidak ada yang bisa mendesain gaun secantik Nona," lanjut Lucy lagi yang membuat Renata senang dengan pujiannya.
"Baiklah, aku akan pulang Lucy! Benar katamu, aku butuh istirahat!" Renata tersenyum simpul. Wanita itu lalu membereskan meja kerjanya dan memasukan ponsel miliknya ke dalam tasnya yang bermerk.
"Kalau begitu, aku pulang ya semua!" Pamit Renata pada semua karyawannya yang langsung di iyakan oleh semuanya tak terkecuali dengan Lucy.
Renata menjinjing tasnya yang bermerk Pr*ada itu. Ia lalu menghampiri mobilnya. Renata merapatkan mantelnya. Cuaca malam ini sangatlah dingin. Ia menggosokan kedua tangannya, lalu segera menaiki mobilnya dan melajukannya.
Jalanan sangatlah sepi. Maklum ini sudah waktu dini hari. Renata merasa takut, namun ia memberanikan diri. Lagi pula siapa yang berani pada putri Adam Weems? Adam Weems terkenal sebagai pengusaha dengan tangan besi. Dia tak segan-segan untuk menghukum orang yang sudah mengusik hidup dan keturunannya dengan cara yang begitu kejam. Ditambah pamannya berprofesi sebagai polisi yang mempunyai jabatan yang cukup tinggi. Maka dari itu, Renata merasa tak perlu takut dengan siapa pun.
Renata melajukan mobilnya dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Desaigner itu sangat lelah. Ia tak sabar untuk pulang ke rumahnya, lalu menyalakan perapian dan meminum cokelat dengan nyaman. Ah, Rasanya Renata tak sabar untuk sampai rumah.
Namun suara klakson mobil sport berwarna hitam mengalihkan perhatiannya. Mobil itu berusaha menyelip mobil Renata. Renata segera memberikan jalan pada sang pemilik mobil. Namun pengemudi malah menyenggolkan mobilnya kepada mobil miliknya.
__ADS_1
Beberapa menit posisi mereka seperti itu, nyali Renata menciut. Ia segera melajukan mobilnya dengan kecepatan yang lebih tinggi. Berusaha menghindar dari pengemudi mobil sport itu. Namun sang pengemudi tak mau berhenti, ia terus saja mengejar Renata dan membunyikan klakson yang memekakan telinga.
"Si*lan! Siapa mereka?" Gerutu Renata sambil terus menginjak pedal gas dan sesekali melihat dari kaca spionnya.
Renata menyadari pria yang mengemudikan mobil sport itu mengincar dirinya, ia terus saja mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang tinggi. Renata berharap terlepas dari kejaran mereka. Mengingat Renata melihat penumpang mobil terdiri dari beberapa pria.
"Aaaaa!!!" Teriak Renata kala mobil itu berhasil menyalipnya.
Sang supir memberhentikan mobilnya persis di depan mobil milik Renata hingga membuat wanita itu tak bisa ke mana-mana.
"Buka mobilnya!" Hardik seorang pria yang berwajah sangar.
Lalu ke empat pria lain ikut keluar. Membuat nyali Renata semakin menciut. Renata berusaha mengambil ponsel dari dalam tasnya, namun s*alnya ponsel itu malah terjatuh ke bawah sebelum ia berhasil menghubungi ayahnya. Adam Weems.
"Apa yang kalian inginkan?" Teriak Renata ketakutan. Terlihat sekali semua tubuhnya menggigil ketakutan. Air matanya menetes membasahi pipinya yang mulus. Ia begitu ketakutan sekarang. Ayah yang sering ia banggakan tidak ada saat kini Renata membutuhkannya.
"Kami hanya ingin bersenang-senang denganmu, Nona manis!" Salah seorang pria itu tersenyum jahat. Berusaha menggapai tangan Renata, namun Renata menepisnya.
"Pergi! Pergi kalian! Papa tolong aku!! Kak Galvin!!" Teriak Renata histeris, ia berjongkok dan menutup wajahnya dengan telapak tangannya.
"Kami hanya ingin bersenang-senang denganmu! Kebetulan udaranya sangat dingin. Kami butuh kamu untuk menghangatkan udara malam ini," pria yang bertubuh atletis mengambil rambut Renata dan memaikannya. Pria itu bernama Andrew
"Jangan! Pergi kalian! Aku mohon" Renata terus saja berteriak.
"Pegangi tubuhnya! Ayo kita nikmati dia!" Andrew tertawa mengerikan, ia lalu menarik Renata dan membaringkannya di trotoar. Andrew mengacak-ngacak rambut Renata dan memotretnya.
__ADS_1
"Aku mohon lepaskan aku!" Renata menggigil ketakutan.
"Heh, bodoh! Kau jangan menyentuhnya! Kalian hanya menakutinya saja!" Salah satu pria keluar dari mobil tadi. Menonton adegan dramatis tadi. Ya, dia adalah Alden. Ia disuruh Nino untuk melakukan tugasnya.
"Tapi dia cantik, Bos!" Andrew menekuk wajahnya seolah tak suka dengan larangan Alden.
"Aku hanya meminta kalian menakutinya. Dasar bodoh!" Alden menyedekapkan kedua tangannya di dada.
"Maafkan kami, Bos! Kami terlalu mendalami," salah satu pria tadi menyenggol lengan Andrew, karena berani menjawab perintah bosnya itu.
"Apa kalian berhasil mengambil videonya?' Tanya Alden dengan wajah yang dibuat sesangar mungkin.
"Sudah, Bos!" Andrew menjawab dengan semangat. Andrew menyerahkan ponsel yang berisi video Renata sedang menangis ketakutan ke tangan Alden. Alden tersenyum puas dengan kinerja anak buahnya itu.
"Siapa kamu?" Hardik Renata ketika melihat Alden sedari tadi.
Alden mendekati Renata, ia lalu memegang dagu Renata dengan tajam.
"Aku? Aku seorang pria tampan yang lebih ditakuti dari pada ayahmu itu. Bicaralah pada ayahmu! Untuk tidak mengancam temanku! Karena apa yang ia rencanakan, akan aku lakukan secara nyata," Alden menghempaskan dagu Renata dengan kasar.
Alden lalu menaiki mobil itu bersama ke empat pria tadi meninggalkan Renata yang ketakutan. Renata langsung berlari ke dalam mobilnya, dengan tangan gemetar ia melajukan mobilnya meninggalkan TKP. Ia harus meminta penjelasan pada ayahnya.
Sementara di tempat lain, Nino tersenyum puas ketika memutar video yang Alden kirim ke ponselnya. Tak berapa lama, Nino mengirimkan video itu pada Adam Weems dan mulai mengetik teks.
"Sebelum kau melakukannya pada lily putri kecilku, aku akan melakukannya terlebih dahulu pada putrimu! Oh ya, aku juga tahu tentang rencana putramu yang menjijikan itu. Aku beri kau pilihan, tetap dengan rencanamu atau membatalkannya! Jika kau memilih melanjutkan, bersiap-siaplah semua anggota keluargamu berada dalam masalah! Ini hanya video awalan saja. Aku sedang tidak ingin terburu-buru."
__ADS_1