
"Tolong hentikan! Biarkan polisi yang menghukum mereka!" Mohon Alula lagi dengan tersedu.
Alula segera memeluk suaminya dengan erat. Bagai api yang di siram oleh air, kemarahan Kai langsung reda dengan sendirinya. Hanya Alula yang bisa meredam emosi suaminya. Alula lah tempat ternyaman untuknya.
"Putri kita lebih membutuhkan kita!" Ucap Alula lagi dengan terisak.
"Maafkan aku! Kau harus melihat kemarahanku lagi!" Kai menjauhkan tubuhnya. Mengelus pipi istrinya dengan penuh sayang.
"Tidak apa-apa. Aku selalu bangga padamu, tapi jangan pernah mengotori tanganmu untuk manusia macam mereka!" Alula melihat Galvin yang masih meringis kesakitan dengan wajah penuh amarah.
"Ayo kita lihat putri kita!" Alula menggenggam tangan suaminya dan mendekat ke arah mobil yang berisi Kimmy di dalamnya.
"Alden telfon polisi sekarang!" Perintah Nino kepada Alden yang masih menatap Alula dan Kai.
"Iya," Alden segera mengambil ponselnya. Sementara anak buah Kai mengamankan Galvin, Adam dan juga anak buahnya sebelum polisi tiba.
"Pergilah!" Nino melepaskan cengkraman tangannya di leher Renata. Renata pun berlari mendekati kakaknya yang terbaring di tanah.
"Kakak!" Renata menangis tergugu.
"Maafkan kakak!" Galvin bergumam seraya menahan nyeri luar biasa di beberapa bagian tubuhnya.
"Kakak, mengapa kakak nekat?" Renata menyeka keringat yang memenuhi wajah kakak laki-lakinya itu.
"Kakak hanya ingin membalas dendam!" Galvin menjawab dengan terengah.
"Inikah akhir dendam yang kakak rasakan? Penderitaan yang luar biasa? Bahkan rumah kita sudah habis terbakar! Rumah penuh kenangan itu sudah lenyap! Dendam mu menghancurkan hidup kita semua!" Renata semakin tersedu.
Air mata lolos begitu saja dari netra Galvin. Di samping menahan nyeri yang amat sangat menyiksa, Galvin juga harus menerima kenyataan bahwa kini hidupnya yang tertata rapi pasca bebas dari penjara akan hancur berkeping. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Bubur tidak akan bisa menjadi nasi lagi. Galvin harus siap dengan semua akibat dari perbuatan yang ia lakukan.
Kimmy keluar dari dalam mobil. Ia langsung memeluk Kai dan Alula bergantian dengan isak tangis.
"Maafkan papa yang tidak bisa menjagamu!" Air mata lolos dari mata cokelat Kai yang merasa sangat bersalah melihat keadaan putri bungsunya.
"Jika saja kami tidak lama di Amerika. Pasti ini tidak akan terjadi," Alula menangis melihat keadaan putrinya. Sementara Kimmy hanya terus menangis di dekapan ibunya.
"Tidak. Ini bukan salah kalian. Akulah yang gagal menjaga Kimmy," sela Archie. Ia melihat Kai dan Alula dengan rasa bersalah yang besar. Perlahan Alula melepaskan pelukannya di tubuh Kimmy.
__ADS_1
"Maafkan aku, Ma, Pa!" Archie menatap Kai dan Alula bergantian.
"Tolong jaga Kimmy lebih keras lagi!" Pinta Kai kepada Archie.
"Iya. Aku akan menjaga Kimmy dengan segenap jiwaku!" Janji Archie di hadapan ayah mertuanya.
"Maafkan aku karena terlalu sibuk dengan pekerjaanku! Aku berjanji akan lebih menjagamu," bulir air mata lolos dari mata Archie. Ia menarik Kimmy ke dalam pelukannya. Rasanya Archie ingin selalu terus melindungi Kimmy. Entah perasaan macam apa yang Archie rasakan kini. Archie pun belum bisa memahaminya.
Tak lama, suara mobil polisi terdengar bersahut-sahutan. Polisi yang ditelfon oleh Alden tiba di sana untuk menjemput Galvin dan Adam, serta anak buahnya.
"Tidak, Pak! Jangan!" Renata berteriak ketika Galvin dan Adam diringkus oleh kepolisian.
"Jangan tangkap kakak dan ayahku! Lihatlah keadaan mereka seperti itu! Biarkan mereka mendapatkan perawatan dulu!" Renata semakin berteriak.
"Maaf, Nona! Mereka bisa dilakukan perawatan di rumah sakit kepolisian!" Jawab seorang polisi. Tak lupa, Nino pun dibawa untuk menjadi saksi atas peristiwa hari ini.
"Aku serahkan semuanya kepadamu!" Kai menepuk bahu Nino. Nino hanya tersenyum menatap besannya itu. Tak lama, pria bermata biru itu masuk ke dalam mobil miliknya dan mengikuti mobil polisi yang membawa Adam dan juga Galvin.
****
Kimmy sedang menatap pemandangan kota dari kaca kamar perawatannya. Ya, Kai memang langsung membawa putrinya itu ke sebuah rumah sakit untuk memastikan kondisi putrinya.
"Lukamu harus diobati terlebih dahulu, sayang!" Kai mencium rambut putrinya dengan posesif.
"Lukaku bisa di obati di rumah. Ma, aku ingin pulang ya?" Kimmy menatap ibunya.
"Baiklah. Tapi jika dokter sudah bisa mengizinkanmu pulang!" Alula menutup tirai jendela kamar perawatan karena malam sudah menjelang datang.
"Berbaringlah lagi! Kau butuh banyak istirahat dan makan!" Archie membawa nampan berisi makanan. Ia berniat untuk menyuapi Kimmy.
"Ehm!" Alula tampak memberi kode kepada Kai agar mereka keluar dan memberikan privasi kepada sepasang suami istri itu.
"Apa?" Kai berkata dengan bingung. Alula hanya mendecakan lidahnya.
"Aku lapar. Ayo kita cari makanan!" Alula menarik tangan suaminya untuk keluar dari kamar perawatan Kimmy.
"Cari makan ke mana?" Kai masih belum mengerti.
__ADS_1
"Sayang, apa yang kau pikirkan, hmm? Mengapa kau tidak peka?" Alula tertawa sembari terus menarik tangan suaminya keluar dari kamar VIP putrinya.
"Kau yang ku pikirkan," Kai menghentikan langkahnya saat mereka sudah keluar dari kamar putrinya.
"Aku? Mengapa memikirkanku?" Alula bertanya dengan bingung.
"Aku khawatir kau membenciku. Puluhan tahun kita hidup bersama, kau melihat lagi kemarahanku!" Kai menatap Alula dengan sendu.
"Membenci? Sedetik pun aku tidak pernah membencimu!" Alula mengelus pipi suaminya.
"Benarkah?" Kai memastikan.
"Tentu saja. Perasaan ini akan selalu kuat. Tidak ada rasa benci di dalamnya."
"Aku sangat mencintaimu!" Kai merengkuh Alula dan mencium bibirnya dengan lembut.
"Hey, hey! Kalian tidak tahu tempat ya?" Alden dan istrinya tiba-tiba datang dengan bunga dan buah-buahan di tangan mereka. Refleks Alula mendorong dada suaminya pelan.
"Yang harus romantis-romantisan itu Kimmy dan Archie, bukan kalian! Sebenarnya siapa sih pengantin barunya?" Sewot Alden lagi. Istrinya yang bernama Bianca hanya tertawa kecil melihat tingkah kekanakan suaminya.
"Kau iri ya?" Kai mendelik.
"Iri? Tentu saja tidak!" Alden menbantah.
"Padahal dia lebih darimu, Kai! Setiap malam dia selalu minta aku tepuk-tepuk!" Beri tahu Bianca, Alden langsung membungkam bibir istrinya itu.
"Mengapa kau memberitahunya?" Alden berbisik di telinga Bianca. Refleks, Bianca menggigit tangan suaminya itu.
"Aww! Kebarbaranmu belum juga menghilang!" Alden mengibaskan tangannya.
"Kalian!" Alula tertawa.
"Aku mau melihat Kimmy!" Alden berjalan melewati Kai dan Alula. Ia hendak membuka pintu ruang perawatan Kimmy.
"Jangan dulu! Biarkan mereka ngobrol terlebih dahulu! Kurasa ada yang perlu mereka bicarakan!" Alula mencegah.
"Tapi aku ingin melihat putriku!" Alden masih keukeuh.
__ADS_1
"Ayo kita makan dulu! Pasti hari ini energi kita lumayan terkuras habis!" Kai mencengkram leher Alden dan menggusurnya dari sana. Sementara itu, Bianca dan Alula hanya tertawa di belakang.