
Nino mengambil ponselnya. Ia harus segera meminta penjelasan kepada Kai mengenai perjanjian yang Kai buat dengan Archie.
"Hallo, Kai!" Sapa Nino saat sahabat karibnya ktu mengangkat telfon darinya.
"Kau tidak bekerja sehingga usil menelfonku?" Kai menjawab. Mereka memang sahabat karib yang sudah sangat tahu kehidupan masing-masing.
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu."
"Bicara saja! Jangan sok misterius!" Jawab Kai.
"Kai, perjanjian apa yang kau buat bersama putraku?" Nino langsung bertanya pada intinya.
"Oh itu. Aku hanya melihat bahwa putramu berusaha untuk lepas dari pernikahannya. Aku melihat wajah tidak bahagia menantuku. Lalu, aku menawarkan sebuah penawaran agar Archie bisa membantu Kimmy sembuh dari traumanya. Jika dia berhasil membuat Kimmy sembuh, dia bisa bebas menentukan pilihannya," jelas Kai panjang lebar.
"Kai, mengapa kau bisa begitu bodoh?" Nino tampak tal habis pikir dengan sahabat sekaligus besannya itu.
"Aku hanya sedang menjalankan suatu rencana. Aku yakin mereka akan saling mencintai seiring berjalannya waktu," Kai berkata dengan enteng.
"Kai, kau terlalu meremehkan! Aku mengenal putraku, Kai. Dia sangat sulit untuk jatuh cinta dengan seorang wanita. Bagaimana jika Archie hanya membuat trauma Kimmy semakin besar?" Nino berkata dengan kesal.
"Itu tidak akan terjadi. Kita lihat saja!" Kai tersenyum. Merasa yakin bahwa rencananya akan berhasil.
"Tapi Kai," Nino hendak membantah.
"Sudahlah. Nanti kita bahas masalah ini lebih lanjut di rumah. Aku harus menanda tangani dokumen penting," ucap Kai yang memang sedang berjibaku dengan laptop dan dokumen-dokumen penting.
__ADS_1
"Baiklah, Kai," Nino menutup telfonnya.
Pekerjaannya kini telah usai. Esok hari Nino bisa bersantai di rumah. Akan tetapi, jika tidak melakukan hal apapun, Nino merasa bosan. Sebuah ide pun melintas di kepalanya.
****
Keesokan harinya, Nino mendatangi rumah Flowi bersama dengan beberapa pria bertubuh tinggi besar. Mereka masuk tanpa permisi. Nino melihat rumah Flowi sudah tertata rapi. Archie memang langsung memberikan uang agar Flowi dan ibunya segera memesan perabotan rumah baru. Tentu saja Archie juga membayar beberapa orang untuk membereskan kekacauan yang memang sengaja Flowi dan ibunya buat.
"Hallo!" Ucap Nino saat melihat ibu dan anak itu tengah menonton televisi bersama. Ia masuk seorang diri, sementara beberapa orang suruhannya tampak menunggu aba-aba darinya.
"Kau? Sedang apa kau di sini? Mengapa kau tidak mengetuk pintu?" Flowi memelototkan matanya ke arah Nino. Ia benar-benar sudah kehilangan tata kramanya.
"Untuk apa kau datang lagi ke sini?" Fiona berteriak. Ia berani karena perintah dari Flowi. Keinginannya untuk menjadikan Archie sebagai suami putrinya membuat keberanian dalam diri Fiona timbul.
"Aku ingin mengabulkan semua mimpi kalian," Nino tersenyum penuh arti.
"Oh tentu bukan," Nino memasukan tangannya di saku-saku celana.
"Lantas untuk apa kau datang ke rumahku lagi?" Flowi berkata dengan nada tinggi.
"Aku bilang, aku ke sini untuk mengabulkan impian dan angan-angan kalian! Semuanya masuk lah!" Nino tersenyum menyeringai.
Beberapa orang pria bertubuh tinggi besar dan menyeramkan layaknya anggota geng masuk ke dalam rumah Flowi. Masing-masing dari mereka membawa tongkat baseball di tangannya masing-masing.
"Mau apa kalian?" Fiona maju ke depan tubuh Flowi. Ia berusaha untuk melindungi putrinya.
__ADS_1
"Hancurkan semua barang di rumah ini tanpa tersisa! Dan ambil semua barang yang telah putraku berikan untuk wanita itu!" Nino memberikan perintah.
Semua orang-orang suruhannya langsung menghancurkan perabotan rumah dengan memb*bi buta menggunakan tongkat baseball.
"Apa yang kalian lakukan?" Fiona berteriak saat pria-pria itu mulai menghancurkan guci-guci, pajangan, meja yang terbuat dari kaca dan yang lainnya. Sementara dua orang lain mendapatkan tugas untuk mengambil barang-barang Flowi yang diberikan oleh Archie.
"Hentikan!" Flowi mendekati pria yang tengah memukul lemari kaca miliknya. Flowi berusaha untuk menghentikan aksi br*tal pria berpenampilan menyeramkan itu.
Sementara itu, Nino hanya tersenyum melihat rumah Flowi porak poranda. Ia melihat Fiona dan Flowi terus berteriak mencoba menghentikan orang-orang suruhannya untuk berhenti.
"Semuanya sudah hancur, Tuan!" Lapor pria berkepala plontos kepada Nino.
"Semuanya?" Nino menyilangkan tangannya di dada.
"Iya."
"Ini semua barang-barang yang diberikan tuan Archie untuk wanita itu!" Lapor dua pria berambut gondrong yang turun dari tangga dengan menenteng banyak barang-barang branded. Barang-barang itu adalah pemberian dari Archie. Tentunya mereka tidak asal mengambil, karena Nino sebelumnya sudah membuat daftar-daftar barang yang Flowi peroleh dari putranya.
"Kau!!!" Fiona maju dan hendak memukul Nino. Tapi orang suruhan Nino langsung menghempaskan tubuh Fiona.
"Mengapa kau sangat tega? Kau benar-benar manusia berwujud ibl*s!!" Flowi menatap nyalang ke arah Nino.
"Aku hanya mengabulkan angan-angan kalian. Bukankah kalian yang ingin rumah ini dibuat porak poranda olehku? Bukankah kau mengatakan bahwa semua barang yang telah kau dapat dari anakku telah ku ambil? Aku hanya mewujudkan perkataan kalian menjadi kenyataan. Berterima kasihlah kepadaku!" Nino menatap Flowi dengan tatapan mengintimidasi. Mata biru itu seolah sulit untuk Flowi lawan. Ia hanya bisa mengepalkan tangannya menahan amarah.
Nino berjalan hendak meninggalkan rumah Flowi dan ibunya. Tapi langkahnya kemudian berhenti. Nino pun berbalik dan mencapit pipi Flowi dengan tangannya.
__ADS_1
"Jangan pernah bermain-main denganku!" Nino memperingatkan.