
Archie menyuapi Kimmy dengan telaten. Kimmy sedikit meringis ketika ia membuka mulut, pasalnya sudut bibirnya terluka karena tamparan dari Galvin.
"Pasti ini perih!" Archie mengusap sudut bibir Kimmy yang terluka dan meninggalkan bekas memar.
"Iya. Perih sekali!" Kimmy meringis ketika Archie menyentuhnya.
"Maafkan aku! Maafkan aku yang tidak bisa menjagamu!" Archie menatap Kimmy dengan sendu. Perasaan bersalahnya begitu besar saat dirinya gagal menjaga Kimmy dan melihat beberapa luka di tubuh istrinya.
"Tidak apa. Ini semua di luar kendalimu. Siapa yang mengira Angela adalah kaki tangan Galvin?" Kimmy berusaha menghibur suaminya.
"Aku janji, aku tidak akan membiarkan seseorang menyakitimu lagi!" Janji Archie yang membuat Kimmy tersenyum kecil.
"Oh iya, Galvin berbohong. Dia tidak menyentuhku. Tubuh ini kupastikan masih suci dari jamahan pria mana pun," Kimmy menjelaskan. Ia perlu meluruskan hal itu agar tidak ada ganjalan dan keraguan di hati Archie.
"Apa dia berhasil menci*mmu?" Archie terlihat gusar.
"Tidak. Dia hanya menamparku, mencengkram leherku dan memaksaku menaiki mobilnya. Hanya itu kontak fisik yang kami lakukan."
"Aku percaya padamu," Archie tersenyum mendengar pengakuan Kimmy. Hatinya seketika lega mendengar pengakuan yang Kimmy ucapkan. Archie sangat mempercayai Kimmy. Entah mengapa, bagi Archie saat ini Kimmy adalah tempat dirinya untuk pulang.
"Aku sudah kenyang!" Ucap Kimmy dengan mengelus perut datarnya.
"Baru saja makan sedikit!" Archie mengerucutkan bibirnya. Archie nenyendok lagi makanan di piring dan hendak menyuapi Kimmy kembali.
"Tapi aku sudah kenyang," Kimmy menolak sendok yang di dekatkan Archie padanya.
"Yakin? Jika makanan ini habis, aku akan mengajakmu berjalan-jalan ke taman Rumah Sakit!" Archie seperti membujuk seorang anak kecil.
"Benar kau akan mengajakku berjalan-jalan ke taman?" Mata Kimmy berbinar.
"Tentu. Setelah makan, aku akan mengajakmu ke sana," Archie mengangguk.
"Tapi ini sudah malam. Taman tidak akan mengasyikan," Kimmy lagi-lagi mengerucutkan bibirnya.
"Ya sudah, jika jalan-jalannya besok pagi bagaimana? Tapi syaratnya tetap sama, kau harus menghabiskan makanan ini!" Tawar Archie lagi agar Kimmy mau menghabiskan makanan rumah sakit itu.
"Baiklah," Kimmy mengangguk setuju.
Archie pun kembali menyuapi Kimmy. Kimmy makan dengan lahap. Archie terus menceritakan sesuatu yang lucu kepada istrinya. Archie berharap candaan recehnya itu bisa sejenak melupakan kesedihan dan trauma yang Kimmy rasakan.
"Baiklah, saatnya kita tidur!" Archie menjauhkan nampan yang sudah bersih dari makanan dari ranjang perawatan Kimmy.
__ADS_1
"Ar?" Panggil Kimmy saat melihat Archie tengah menyimpan nampan itu di atas meja.
"Iya?" Archie berjalan kembali menghampiri ranjang istrinya.
"Ada apa? Kau perlu sesuatu? Katakanlah!" Archie mengusap rambut Kimmy dengan lembut.
"Bisakah kau menemaniku tidur?" Sorot mata Kimmy penuh dengan permohonan.
"Menemani tidur?" Archie mengulang.
"Iya. Aku ingin tidur bersamamu. Aku masih takut," mata Kimmy terlihat berkaca-kaca.
"Aku di sini. Tidak ada yang perlu ditakutkan," Archie menggenggam lembut tangan Kimmy.
Archie segera membuka sepatunya. Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang perawatan istrinya. Archie mendekap tubuh Kimmy dari belakang. Kimmy langsung mendekap tangan Archie yang tengah memeluknya dari belakang.
"Tidurlah!" Archie bergumam.
Perlahan ketakutan yang Kimmy rasakan sirna. Kini ia merasakan kenyamanan yang belum pernah Kimmy rasakan sebelumnya. Ingin sekali Kimmy berbalik dan meringkuk dengan nyaman di dada suaminya. Tapi tangan kanannya yang dipasang selang infus tidak memungkinkan untuk itu. Perlahan rasa kantuk menyergapnya. Mata Kimmy pun terpejam dan kemudian Kimmy tertidur di sisi suaminya.
"Aku akan selalu menjagamu," ucap Archie. Ia pun ikut memejamkan matanya. Hari ini merupakan hari yang cukup menyita tenaganya.
Kai, Alula, Alden, Bianca serta Nino dan Tifanny yang baru tiba dari kantor polisi pun membuka pintu ruang perawatan Kimmy. Mereka saling berpandangan ketika melihat adegan di depan mata.
"Kai, ku rasa sebentar lagi kita akan memiliki cucu!" Nino melirik ke arah besannya dengan wajah berbinar.
"Semoga saja," Kai tersenyum senang.
"Ya ampun! Sebentar lagi Kimmy dan Archie akan berkembang biak," seloroh Alden dengan wajah polosnya.
"Berkembang biak? Kau kira anak-anakku ayam?" Nino menggetok kepala Alden dengan tangannya.
"Memang ada yang salah dengan ucapanku?" Alden mengelus kepalanya.
"Ucapanmu itu selalu membuatku kesal!" Nino menggerutu.
"Kimmy sudah mendapat jodohnya. Tapi putriku belum ada tanda-tanda akan menikah," Alden berkata dengan sedih.
"Jodohkan saja putrimu!" Nino menyuruh dengan enteng.
"Dengan siapa? Terakhir kali dia kabur dari rumah karena aku mempertemukan dia dengan pria di aplikasi kencan tind*r," Alden berkata dengan tidak bersemangat.
__ADS_1
"Mengapa putrimu bisa kabur?" Tifanny tampak penasaran.
"Ya, ternyata pria yang kupilih diaplikasi itu adalah seorang pria tua. Kira-kira usianya sama dengan kakek Kimmy," beri tahu Alden lagi.
"Dasar b0doh!" Nino lagi-lagi menggetuk kepala Alden.
"Dia memang menyebalkan!" Sewot Bianca melihat tingkah suaminya.
"Sudah. Ayo kita keluar dari sini! Aku takut mereka akan bangun karena suara bising dari kita," Alula memelankan suaranya. Kai dan yang lain pun segera keluar dan menutup pintu.
****
Angela yang melihat Kimmy dibawa kabur oleh Galvin pun langsung kabur dari hotel. Ia tahu ayah dari Kimmy adalah orang yang memiliki kuasa dan materi yang besar. Angela langsung kabur dari sana dengan menaiki mobilnya. Angela langsung pulang ke rumahnya dan segera pergi ke bandara untuk terbang menuju Irlandia.
Sesampainya di Irlandia, Angela langsung datang ke rumah ayahnya. Ia berencana untuk bersembunyi di sana. Rumah tampak kosong karena ayah Angela masih di rawat di rumah sakit. Beberapa keluarganya pun turut berjaga di sana.
"Bukan ini yang ku harapkan!" Angela menghisap r*kok di tangannya. Wajahnya jelas menunjukan kegelisahan dan ketakutan yang luar biasa.
"Tenang, Angela! Tuan Kai tidak akan menemukanmu di sini," Angela terus menenangkan dirinya.
"Tapi aku akan ketahuan jika aku diam di sini terus," Angela terus menghisap benda yang mengeluarkan asap nikotin itu dengan resah. Penampilannya terlihat kacau.
"Aku harus pergi dari rumah ini!" Angela langsung menyabet kembali kopernya dan hendak meninggalkan kediaman ayahnya.
Saat Angela membuka pintu, dua orang pria berbadan tinggi besar sudah ada di depan pintu.
"Siapa kalian?" Hardik Angela saat melihat kedua orang asing bertampang sangar.
"Ikut kami!" Kedua orang itu langsung menarik tangan Angela.
"Mau apa kalian?" Angela terua berontak meskipun kini tubuhnya diapit dua orang pria itu.
"Ikut kami!!" Bentak salah satu dari mereka.
Mereka hendak memasukan Angela secara paksa ke dalam mobil.
"Apa kalian suruhan Tuan Kai?" Angela menatap tajam pria yang ada di sisi kiri dan kanannya.
"Kau akan tahu sendiri!" Jawab pria itu dengan wajah bengisnya.
"Tolong!" Angela berteriak sekencang mungkin agar ada beberapa orang yang datang menolongnya.
__ADS_1
Seorang pria berkepala plontos langsung memukul punuk Angela. Wanita itu langsung kehilangan kesadaran karena pukulan itu. Mereka pun memasukan Angela ke dalam mobil untuk diserahkan kepada Kai.