
"Kau tidak apa-apa?" Archie menyentuh pundak Kimmy. Kekhawatiran begitu terlihat jelas di wajahnya.
"Aku tidak apa-apa," Kimmy menjawab dengan raut wajah yang masih syok.
"Kalau begitu, ayo cepat kita pulang!" Archie menuntun lengan Kimmy keluar dari ruangan pemeriksaan.
"Angela, aku pulang. Kau juga segeralah pulang! Kimmy meyentuh tangan Angela.
"Iya. Aku akan segera pulang," Angela menganggukan kepalanya. Ia langsung mengambil tasnya dan juga mengikuti langkah Kimmy keluar.
Sebelum Kimmy pergi, ia mengucapkan terima kasih kepada petugas keamanan yang sudah sigap datang dan mengusir Galvin. Mereka berjalan ke arah parkiran dengan hening.
"Angela, aku pulang!" Kimmy berpamitan kepada Angela.
"Iya. Hati-hati di jalan," Angela tersenyum. Setelah Kimmy masuk ke dalam mobilnya, Angela pun masuk ke dalam mobil dan meninggalkan pelataran klinik psikologi itu.
"Jadi, sebenarnya dia yang akan menikahimu?" Archie bertanya sambil mengemudikan mobilnya menuju rumah.
"Iya," Kimmy menjawab pendek.
"Tenanglah! Kau aman," tangan kiri Archie menggenggam tangan Kimmy.
"Tanganmu dingin sekali! Kau tidak apa-apa?" Archie langsung menepikan mobilnya. Ia menoleh ke arah istrinya dengan raut wajah khawatir.
"Aku baik-baik saja," Kimmy lagi-lagi berbohong.
Kimmy sebenarnya ketakutan. Ia jadi mengingat peristiwa kelam yang pernah terjadi di dalam hidupnya. Kejadian yang membuat dirinya menjadi trauma untuk memulai sebuah hubungan bersama seorang pria.
"Kau harus tenang! Ada aku di sini," Archie menggosokan tangannya ke telapak tangan Kimmy.
"Aku, aku takut," Kimmy akhirnya menumpahkan tangisnya.
Archie menatap wajah Kimmy yang berlinang air mata. Archie menarik Kimmy ke dalam pelukannya. Ia memeluk Kimmy begitu erat untuk menguatkan. Kimmy terus tersedu di dekapan suaminya. Dalam hatinya, Archie bertanya-tanya, sebenarnya mengapa Kimmy begitu ketakutan? Apakah ini berkaitan dengan traumanya? Archie begitu penasaran. Diam-diam Kimmy sudah menarik perhatian dan juga menarik rasa penasarannya.
"Tenanglah! Aku tidak akan membiarkan dia menyentuhmu walau seujung rambut," Archie berbisik.
Kimmy pun merasa jauh lebih tenang. Ia melepaskan pelukannya. Kimmy menghapus air matanya dengan tisu yang ada di dashboard mobil.
"Ehm," Kimmy berdehem untuk mengusir rasa canggung.
__ADS_1
Archie tak kalah canggung. Dia membuka kaca mobil dan berpura-pura menghirup udara malam.
"Kita pulang," ucap Kimmy yang hanya dibalas anggukan oleh Archie. Archie pun segera melajukan mobilnya kembali untuk melanjutkan perjalanan.
Mobil memasuki pelataran rumah Nino, mata Kimmy melihat ke arah rumah kedua orang tuanya. Masih sepi. Kimmy hanya menghembuskan nafasnya pelan. Di saat seperti ini, ia begitu merindukan kedua orang tuanya. Kimmy berharap Alula dan Kai bisa segera pulang.
"Papa Kai dan Mama Alula tidak tahu jika kita sudah pulang berbulan madu. Jangan bersedih! Sebentar lagi mereka akan pulang," Archie seakan tahu apa yang dipikirkan oleh Kimmy.
"Jika mereka pulang, kau bisa menginap di sana," ucap Archie lagi yang sebenarnya itu adalah kata-kata hiburan untuk Kimmy.
"Semoga mereka bisa segera pulang," harap Kimmy.
Mereka turun dari mobil. Archie merangkul pundak Kimmy. Ia tidak ingin istri kecilnya itu masih ketakutan. Mereka tidak menyadari jika pintu telah dibuka sejak tadi. Archie melihat kedua orang tuanya dan juga adiknya tengah tersenyum-senyum melihat dirinya dan juga Kimmy.
"Ciee! Pasti kakak tidak mau jauh dari kak Kimmy," Lily menggoda kakaknya.
"Dasar anak kecil!" Archie menggerutu pelan.
Sementara Nino dan Tifanny tidak bersuara. Jika mereka bersuara, pasti Archie akan melepaskan pegangannya di pundak Kimmy. Mereka hanya tersenyum senang melihat hubungan Kimmy dan Archie yang sudah semakin dekat.
"Ma, Archie dan Kimmy makan malam di kamar saja," Archie menoleh ke arah Nino.
"Terima kasih, Pa," Kimmy tersenyum.
"Ma, Ly? Kimmy langsung masuk ke kamar ya," Kimmy berpamitan.
"Beristirahatlah, sayang! Kau pasti lelah," Tifanny tersenyum lembut.
Archie memapah Kimmy ke kamar. Mereka langsung berganti baju dan menunggu makan malam datang. Tak lama, pintu diketuk. Makan malam Kimmy dan Archie sudah datang. Mereka makan dalam hening.
"Makanlah yang banyak!" Archie terus menyimpan banyak makanan di piring Kimmy.
"Terima kasih," hanya itu kata yang di ucapkan oleh Kimmy. Ia begitu larut dengan pikirannya sendiri.
Archie langsung membereskan piring, gelas dan menyimpannya di atas nampan. Ia menatap Kimmy yang masih diam.
"Tidurlah! Aku akan menjagamu," lagi-lagi Archie berkata dengan suaranya yang lembut.
Kimmy seolah terhipnotis. Ia merebahkan tubuhnya sembari membelakangi suaminya.
__ADS_1
"Ar?"
"Iya?" Jawab Archie yang juga sudah merebahkan tubuhnya.
"Bolehkah aku memelukmu?" Tanya Kimmy.
"Tidak," jawab Archie yang langsung membuat hati Kimmy menceos.
"Tidak, karena aku yang akan memelukmu," tambah Archie.
Tanpa menunggu persetujuan istrinya, Archie langsung memeluk Kimmy dari belakang. Ia seolah ingin melindungi gadis itu dari siapa pun. Archie pun merasa terusik ketika sesuatu dari hatinya memberontak saat melihat ada pria lain yang berusaha untuk merebut Kimmy. Sementara itu, Kimmy merasa nyaman dengan dekapan suaminya. Kimmy langsung memejamkan matanya. Berusaha untuk tidur, hingga ia benar-benar sudah terlelap di dekapan suaminya.
"Kimmy, aku tidak tahu bagaimana perasaanku saat ini kepadamu. Aku tidak munafik. Aku merasakan sesuatu yang berbeda. Aku sudah memutuskan untuk belajar mencintaimu," gumam Archie sembari ikut memejamkan matanya.
****
Mata Nino memerah menahan emosi yang meluap di dadanya. Ia baru saja menerima telfon ancamam dari Galvin dan juga Adam. Nino sudah memperhitungkan segalanya dan perkiraannya benar, hari ini adalah hari yang ia tunggu. Hari di mana Galvin dan keluarganya akan menuntut balas kepadanya.
Akan tetapi, yang membuat Nino murka adalah ketika Adam dan Galvin mengirimkan foto-foto Lily, putri bungsunya. Mereka berdua menyerang sisi kelemahan Nino, yaitu putri bungsu mereka yang masih polos. Adam bahkan mengirimkan ancaman jika mereka akan merusak Lily dan menghancurkan harga dirinya.
"Kurang ajar!" Nino mengepalkan tangannya. Nino mengambil ponsel miliknya dan menelfon sahabat karibnya.
"Alden, aku perlu bantuanmu!" Ucap Nino kepada Alden.
"Pasti tentang Adam Weems?" Tebak sahabatnya itu tepat sasaran.
"Iya."
"Lily dijadikan ancaman?" Lagi-lagi Alden menebak dengan benar.
"Hey, sejak kapan otakmu itu lebih encer dari pada otakku?" Nino berkata dengan kesal.
"Sejak barusan. Tadinya aku hanya menebak, ternyata benar. Haha!" Alden tergelak yang membuat Nino semakin kesal.
"Apa yang bisa aku bantu?" Alden bertanya dengan serius.
"Bantu aku untuk menumpas Galvin dan keluarganya," jawab Nino yang langsung di iyakan oleh Alden.
Sementara itu di tempat lain, Galvin mendapatkan informasi dari informannya. Ia tersenyum menyeringai kala membaca informasi berharga itu.
__ADS_1
"Jadi, Kimmy dan Archie belum pernah melakukan hubungan suami istri? Informasi bagus. Baiklah, aku pria pertama yang akan tidur dengan Kimmy. Dengan begitu, aku bisa menghancurkan semuanya sekaligus. Aku menghancurkan Kimmy dan keluarganya. Menghancurkan Archie dan keluarganya dan tentu saja menghancurkan pernikahan mereka," Galvin menyeringai bersama ide kotor yang ada di dalam otaknya.