
Akhir pekan adalah hari yang paling di tunggu oleh Kimmy karena hari ini dirinya memutuskan untuk meliburkan diri. Kimmy harus beristirahat sejenak dari pekerjaannya. Lagi pula kini ada seorang psikolog baru di kliniknya. Kimmy sengaja merekrut lagi psikolog agar dirinya tidak terlalu lelah.
Kimmy baru saja selesai mandi. Archie sudah berangkat sedari tadi. Kimmy memilih untuk turun ke bawah dan bertemu dengan Nino, Tifanny dan juga Lily.
"Kim?" Sapa Tifanny dengan ramah.
"Mama," Kimmy membalas sapaan itu dengan hangat.
Ia terduduk di tengah-tengah keluarga harmonis itu. Nino sangat senang karena kini menantunya itu sering menghabiskan waktu bersama.
"Kim, papa senang kamu meliburkan diri seperti ini. Seorang psikolog pun perlu rehat dari pekerjaannya," Nino menatap senang ke arah menantunya.
"Iya, Pa. Kimmy butuh istirahat," Kimmy mengiyakan ucapan mertuanya.
"Bagus, kak Kim! Sering-seringlah libur agar keponakanku segera launching!" Lily menggoda.
"Lily benar, Kim. Kalian sudah matang untuk memiliki anak. Mama pun ingin segera menimang cucu," harap Tifanny. Kimmy menatap bergantian kepada keluarga keduanya itu. Ia melihat pengharapan yang besar dari mereka.
"Doakan saja!" Kimmy hanya mampu berucap demikian.
"Oh iya, ini kak Archie menitipkan ini padaku, Kak!" Lily memberikan sebuah surat kepada Kimmy yang dititipkan Archie padanya.
__ADS_1
"Apa ini?" Kimmy tersenyum berseri ketika mendapatkan sepucuk surat itu.
"Apa itu?" Nino tampak penasaran.
"Kenapa mama tidak diberi tahu?" Tifanny berkata kepada putri bungsunya dengan sedikit kesal.
"Kak Archie bilang aku harus memberikannya langsung kepada kak Kimmy," Lily berkata dengan enteng.
"Kalau begitu, Kimmy naik dulu ya Pa, Ma, Ly?" Kimmy memutuskan untuk naik kembali ke kamarnya. Ia begitu tidak sabar untuk membaca pesan dari suaminya.
Nino, Tifanny dan Lily mengangguk. Kimmy segera naik ke kamarnya dan membaca surat yang diberikan oleh suaminya.
"Ada-ada saja. Padahal ada ponsel," Kimmy menggelengkan kepalanya dengan kelakuan suaminya.
Archie, suamimu.
Kimmy tersenyum membaca surat yang diberikan suaminya. Kimmy segera membuka lemari miliknya. Benar saja. Di sana sudah tergantung sebuah gaun indah berwarna pink lembut. Kimmy mengambil gaun itu. Ia memperhatikan gaun yang sepertinya memiliki harga fantastis itu.
"Rasanya aku tidak sabar menunggu jam delapan malam!" Kimmy melirik arloji di kamarnya dengan senyum yang tak hilang dari wajahnya.
Waktu semakin berputar, tak terasa sang mentari sudah digantikan dengan sang rembulan. Kimmy saat ini tengah bersiap secantik mungkin menunggu kedatangan suaminya yang akan membawanya makan malam yang romantis.
__ADS_1
Setelah berdandan secukupnya, Kimmy segera turun ke bawah karena sudah mendengar suara mobil Archie memasuki pekarangan rumah.
"Kak Kim?" Lily membelalakan matanya saat melihat kakak iparnya itu turun dari tangga dengan penampilan yang begitu cantik.
"Oh my God, Kim! Kau cantik sekali!" Tifanny terpesona melihat menantunya yang berdandan lain dari biasanya.
"Kimmy?" Archie yang baru masuk ke dalam rumah tersenyum melihat wajah Kimmy yang begitu mempesona di matanya.
"Kalian mau ke mana?" Nino yang terpukau pun bertanya langsung kepada Kimmy.
"Malam ini aku akan mengajak Kimmy makan malam di hotel bintang enam," jawab Archie santai.
"Aku ikut!" Lily berseru dengan gembira. Nino langsung membekap putri bungsunya itu.
"Nikmati makan malam romantis kalian malam ini ya!" Nino berkata dengan riang sembari masih menutup bibir putrinya.
"Cepatlah pergi! Jangan sia-siakan waktu kalian!" Tifanny tak kalah antusias.
"Baiklah. Aku dan Kimmy akan menginap di hotel. Jadi, malam ini kami tidak akan pulang," Archie memberi tahu.
"Mau seminggu tidak pulang pun kami tidak keberatan," Tifanny menjawab ucapan putranya.
__ADS_1
"Baiklah, kami pergi!" Archie menggandeng tangan Kimmy. Sementara Kimmy tampak sedikit tak tenang ketika mendengar tujuan mereka adalah hotel.