
Setelah mengantarkan Kimmy ke klinik psikolog, Archie langsung mengemudikan mobilnya menuju kantor miliknya. Kantor perusahaan Archie kebetulan tak terlalu jauh dengan klinik psikologi milik Kimmy. Saat ini, semua karyawannya tengah membicarakan Archie. Hal itu karena berita jika Archie sudah menikah tersebar dengan sangat cepat. Mereka tidak menyangka jika bosnya yang tampan dan sukses itu sudah melepas masa lajang.
Tentunya yang lebih membuat mereka terkejut adalah mempelai wanitanya bukanlah Flowi. Flowi memang dikenal oleh semua karyawan Archie. Mereka tahu wanita itu karena Flowi sering keluar masuk ke dalam perusahaan bosnya. Banyak yang patah hati atas kabar pernikahan Archie dan Kimmy. Memang karyawan wanita menaruh hati kepada bosnya yang sukses dan menawan itu.
"Beruntungnya Nona Kimmy!" Kira-kira begitulah komentar para karyawan wanita saat seseorang membagikan foto pernikahan Archie dan Kimmy di grup whatsapp kantor.
Archie sampai di depan kantor. Semua karyawan membicarakan pernikahan pemilik perusahaan. Archie seolah tak memperdulikan karyawannya yang tengah berbisik-bisik membicarakan dirinya. Ia terus melangkah masuk ke dalam gedung perusahaan yang mencakar langit itu. Saat Archie sampai di lobi hotel, ia melihat ayah mertuanya tengah terduduk di sofa lobby sembari membaca sebuah majalah edisi terbaru.
"Pa?" Archie merasa heran mengapa ayah mertuanya itu berada di kantor miliknya. Memang Archie sangat mengenal Kai dengan baik, karena dari SMA, Archie memang bersahabat dengan Jasper, anak pertama Kai atau kakak dari Kimberly.
"Archie," Kai langsung berdiri dari duduknya.
"Sedang apa papa di sini? Kenapa tidak menunggu di ruanganku?" Archie merasa tidak enak melihat Kai terduduk sendirian di kursi yang ada di lobby.
"Maaf, tuan! Saya sudah menyuruh tuan Kai untuk menunggu di ruangan tuan," seorang pegawai resepsionis langsung mendatangi Archie. Ia takut bosnya itu akan memarahinya, terlebih mereka tahu status Kai saat ini adalah ayah mertua Archie.
"Mengapa kau tidak mengarahkan papa ke dalam ruanganku?" Archie bertanya dengan kesal.
"Sudah. Papa yang tidak mau. Papa tidak ingin lancang masuk ke dalam ruanganmu, sementara kau belum datang," Kai menengahi.
"Lain kali jangan bersikap tidak sopan terhadap papa!" Archie memberikan ultimatum kepada resepsionis itu.
"Sudah. Bukan salahnya," Kai membela.
"Kalau begitu ayo kita pergi ke ruanganku, Pa!" Ajak Archie kepada ayah mertuanya.
Kai mengangguk. Archie langsung menebak kedatangan ayah mertuanya itu. Pasti tidak lain adalah untuk membicarakan Kimmy. Tapi Archie tidak tahu apa yang akan Kai bahas. Apakah itu begitu penting? Sampai seorang pebisnis handal yang hampir tidak punya waktu luang seperti Kai datang sendiri ke kantor perusahaan miliknya? Archie jadi penasaran.
"Silahkan masuk, Pa!" Archie mempersilahkan Kai untuk masuk ke dalam ruangannya.
Kai masuk ke dalam ruangan kerja milik Archie yang tampak estetik dan kekinian. Suasana ruang kerja menantunya sangat menyenangkan. Terlebih ada balkon yang biasa dipakai oleh Archie untuk beristirahat sejenak dan menghirup udara kota.
__ADS_1
"Ada apa papa ke sini?" Archie langsung bertanya pada intinya.
"Ada yang ingin papa bicarakan," Kai menjawab dengan wajah berwibawanya. Walau sudah setengah baya, akan tetapi ketampanan tidak pudar dari wajahnya.
"Silahkan duduk, Pa!" Archie mempersilahkan.
Kai pun langsung terduduk di kursi yang menghadap ke arah menantunya. Sekilas ia melihat bingkai foto yang ada di atas meja menantunya. Foto itu adalah foto Archie dan Flowi saat tengah berada di kota London.
"Maaf, Pa!" Archie mengambil bingkai foto itu. Ia merasa sangat bodoh tidak menyingkirkan foto itu tadi. Jantungnya berdegup kencang. Apakah ayah mertuanya akan marah?
"Tidak apa-apa. Papa memakluminya," Kai tampak mengerti.
"Maaf, Pa!" Archie sekali lagi meminta maaf. Ia merasa sudah bertindak tidak sopan dengan memajang foto wanita lain, sementara ayah mertuanya datang berkunjung dan melihat foto itu.
"Papa mengerti. Papa pun pernah merasakan hal yang sama dengan yang kau rasakan sekarang," Kai bercerita. Archie membulatkan matanya karena terkejut.
"Jadi, papa?" Archie tampak penasaran.
"Iya. Dulu papa dan Mama dari Kimmy tidak saling mencintai dan papa sudah memiliki kekasih saat itu," Kai menjawab rasa penasaran Archie.
Sejenak Archie melihat perbedaan ekspresi wajah ayah mertuanya. Kini tatapan Kai berubah menjadi sendu.
"Ar, papa melakukan itu karena papa berpikir kau bisa menyembuhkan trauma yang dialami Kimmy," mata Kai berubah menjadi penuh kesedihan.
"Trauma? Trauma apa, Pa?" Archie bertanya dengan bingung.
"Walau kamu tidak mengenal Kimmy, tapi papa yakin sedikitnya kamu pasti sedikit tahu mengenai Kimmy yang tidak mau membuka hati atau menjalin sebuah hubungan dengan pria mana pun?"
"Iya. Archie memang tidak pernah mendengar jika Kimmy berkencan. Lalu, tentang trauma itu?" Archie tampak tidak sabar.
"Dulu saat Kimmy berada di sekolah menengah atas, dia jatuh cinta dengan seorang laki-laki. Laki-laki itu bernama Aaron. Dia adalah teman di sekolah Kimmy. Kimmy tampaknya sangat menyukai Aaron. Setiap hari, hari Kimmy selalu penuh dengan keceriaan. Bahkan Aaron berjanji akan selalu ada untuk Kimmy," Kai menghentikan ceritanya. Ia tampak menghirup udara untuk melegakan dadanya yang sedikit sesak.
__ADS_1
"Lalu, Pa?"
"Kimmy percaya sepenuhnya dengan pria itu. Bahkan Aaron menjanjikan sebuah hubungan jika mereka sudah dewasa kelak. Hingga suatu hari, Aaron membawa Kimmy ke suatu tempat. Aaron membawa Kimmy dan menyerahkan Kimmy kepada seorang pria tua," ada nada amarah saat Kai mengatakan akhir kalimatnya.
"Pria tua? Maksud papa Kimmy dijual untuk menjadi wanita panggilan?" Archie hampir berteriak.
"Bukan," Kai tertawa kemudian wajahnya kembali serius.
"Aaorn menyerahkan Kimmy sebagai alat balas dendam ayahnya."
"Alat balas dendam? Maksud papa?" Archie semakin tertarik mendengar cerita dari Kai.
"Jadi, Aaron di suruh oleh ayahnya untuk mendekati Kimmy untuk balas dendam. Ayah Aaron adalah seorang pemilik perusahaan besar. Suatu hari, perusahaannya bangkrut karena kalah bersaing dengan kakek Kimmy. Seperti yang kau tahu, dari kecil Kimmy hidup bersama kakeknya. Kakek William begitu menyayangi dan memanjakan Kimmy. Hal itu diketahui oleh keluarga Aaron. Mereka ingin membuat kakek William kesakitan dan menjadikan Kimmy sebagai alat balas dendam," Kai bercerita panjang lebar.
"Picik sekali! Bukankah perusahaan keluarga mereka bangkrut karena kalah bersaing dengan perusahaan kakek William? Lalu, mengapa harus balas dendam?" Archie tampak kesal mendengar cerita dari ayah mertuanya.
"Pemikiran orang berbeda, Ar. Inilah dunia. Ada orang baik dan orang jahat. Mereka memerankan peran di dunia ini sesuai dengan porsinya. Jika tidak ada orang jahat, tentu dunia ini tidak akan berwarna."
"Lalu, apa yang mereka perbuat kepada Kimmy? Apa mereka melecehkan Kimmy?" Ada nada khawatir di dalam suaranya.
"Tentu saja tidak. Sesampainya di sana, mereka mengikat Kimmy dan menelfon kakek William untuk memberikan setengah saham perusahaan kakek William sebagai jaminan. Jika tidak, Kimmy akan mereka b*nuh. Kakek William datang untuk menyelamatkan Kimmy. Di sana ayah Aaron memukuli Kimmy dan Aaron pun ikut menyiksa Kimmy di hadapan ayahku. Tapi mereka salah, walau sudah tua tapi kakek William tidak selemah yang mereka pikirkan. Dia melawan dan menghajar ayah dan anak itu. Sejak saat itu, Kimmy jadi tidak percaya dengan sebuah hubungan dan yang lainnya."
Archie diam. Ia tidak menyangka jika istrinya mengalami trauma seperti itu.
"Papa memang salah," mata Kai berkaca-kaca.
"Papa salah karena memaksa Kimmy menikah. Papa hampir saja menikahkan dia dengan pria-pria tidak baik. Papa melakukan itu agar trauma Kimmy segera sembuh dan tentunya untuk menjaga hubungan dengan kolega papa yang sudah baik. Ar, Kimmy mengalami trauma yang parah. Jika ia mengingat peristiwa itu, Kimmy akan merasa sesak nafas, ia sering memegangi dadanya seperti kesakitan dan itu membuat papa terluka. Kata seorang psikiater yang menghandle Kimmy, Kimmy bisa disembuhkan dengan menemukan pasangan yang bisa mengalihkan dari traumanya. Pada akhirnya, kamu yang menikah dengan Kimmy. Hati papa sangat bahagia ketika ayahmu menawarkanmu sebagai pengantin pengganti. Akan tetapi, papa juga harus berkecil hati karena kamu sudah memiliki kekasih," Kai menahan agar air mata tidak merembes dari matanya. Ia masih menjaga wibawa di hadapan menantunya.
"Maaf, Pa. Tapi Archie mencintai Flowi," walau berat, Archie memang harus mengatakan yang sejujurnya.
"Apakah kau tidak bisa berusaha untuk membuka hati untuk Kimmy dan belajar mencintainya?" Ada nada permohonan dari pertanyaan Kai. Itu semua ia lakukan untuk putri tercintanya.
__ADS_1
"Sepertinya tidak, Pa. Aku begitu mencintai kekasihku," Archie berterus terang. Ia merasa tidak perlu ada yang ditutupi dari Kai.
"Kalau begitu, papa membuat suatu penawaran. Tolong dampingi Kimmy sebentar dan sembuhkan rasa trauma yang dia alami. Setelah Kimmy sembuh, kau bisa mengambil keputusan untuk jalan hidupmu," Kai memberikan suatu penawaran.